untuk siapa?

1 minutes, 18 seconds

selesai makan malam home made spaghetti made by istriku, kami duduk-duduk diruang tengah yang hanya geser 1 meter dari meja makan 🙂 lalu anak gadisku memperhatikan lengan tanganku sambil komentar : dad, tanganmu kenapa jadi tambah hitam kayak ayam goreng 🙂

memang bener, aku yang sudah hitam berubah lebih legam sejak kami tinggal di Bogor. bahkan karena selalu mengenakan celana pendek maka kentara sekali kulihat sewaktu mandi, betapa paha kebawah menjadi jelaga sementara paha keatas lumayan sedikit ada terang 🙂

padahal jujur aku hanya seminggu sanggup mengikuti saran istriku untuk berjemur, selebihnya selama jam kerja WFH dengan online meeting ini itu aku hanya berpindah dari kursi dihalaman belakang lalu pindah ke gazebo saat matahari sudah mulai garang. tapi entah mengapa kulitku menjadi lebih legam dari sebelumnya.

mungkin karena sinar UV matahari yang seperti jalan tol menembus atmosfir lalu kekulitku. berbeda dengan Jakarta sebelum pandemic, sinar matahari harus berjuang menembus pekatnya polusi udara untuk bisa singgah ke kulitku. belum lagi hampir saban hari terkurung diruang kantor yang ber AC.

tapi jika itu persoalannya mengapa banyak sekali penduduk Bogor yang berkulit putih ya? 🙂

tapi siapa yang peduli juga dengan kulit yang seperti ayam goreng? bahkan untuk bercukurpun tidak lagi kulakukan setiap hari seperti biasanya. tapi siapa pula yang peduli, toh nggak kemana-mana juga, nggak ada orang lain yang lihat kan? 🙂

kupikir lucu juga ya … jadi selama ini kalau aku setiap pagi bercukur, pakai lotion ini itu setelah mandi, semprot wangi-wangian ini itu setelah berpakaian, mematut diri dengan ikat pinggang, sepatu dan jam tangan sebenarnya untuk apa dan untuk siapa ya? 🙂 untuk diri sendiri atau untuk orang lain?

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *