Tag: #HariIbu

written by Roy Hekekire
December 23, 2019 0

Ibu

dengan mengendari mobil kami, istriku dan 2 orang anak remaja kami berangkat ke Semarang, kota kelahiranku menengok Bapak dan merayakan malam Natal bersamanya.

memang tidak banyak waktu yang bisa kusediakan baginya, tetapi walau hanya beberapa hari saja kupikir kami tetap harus pergi mudik.

rumah Bapak masih seperti biasanya, tidak banyak perubahan sejak beberapa bulan lalu ketika kami datang mengantar anak gadisku sebelum pergi sekolah jauh. rumah khas orang tua, dinding rumah penuh dengan foto yang berjajar seperti pameran dari tukang foto ternama, barang-barang dari tahun entah kapan masih juga ditempatnya, mematung tak bergerak sedikit berdebu.

sesekali saat istriku menengok disempatkannya membuang barang-barang yang tidak terlalu jelas peruntukkannya. tentu saja itu dilakukannya ketika Bapak sedang tidur. dan pasti sedikit ada omelan sana sini saat diketahuinya beberapa barang pusaka raib dibuang 🙂

ini adalah Natal ke 8 dilaluinya seorang diri tanpa istri. dengan bersusah payah Bapakku berusaha sekuat sisa-sisa tenaganya untuk membuatnya sama. masih ada hiasan Natal yang didekornya, templok sana templok sini. pohon khas Natal yang muncul setahun sekali dipasang diteras rumah lengkap dengan pernak-pernik termasuk lampu kerlap-kerlip :).

pagi tadi ketika perut lapar minta diisi di meja makan sudah tersedia makanan khas keluarga kami saat Natal : sup kacang merah 🙂 dan daging woku lengkap. sejak dahulu ketika Ibu masih hidup itulah yang kami harapkan ketika pulang ke rumah.…..sup kacang merah.

walau beda rasa antara masakan almarhum Ibu dan masakan Bapak tapi aku tahu Bapak berusaha semampunya menjaga Natal menjadi tidak berbeda.

walau almarhum Ibu bukan orang yang banyak bicara dan bahkan cenderung diam tetapi tanpa kehadirannya memang rumah menjadi berbeda.

walau aku sendiri sulit menggambarkan dimana bedanya tapi aku merasa memang berbeda.

walau aku seringkali sebel dengan betapa ribetnya istriku dalam menangani urusan-urusan domestic ditambah dengan ribuan kata dan kalimat mengenai ini dan itu tetapi pada saat dia pergi dari rumah entah menengok Bapak, kondangan keluar kota atau sekedar berlibur bersama teman-temannya suasana rumah menjadi seperti kehilangan nyawanya. seperti ada sesuatu yang paling inti dari rumah hilang.

si sulung yang paling sering beradu argumentasi dengan ibunya yang selalu bertanya padaku : “Mama kapan pulang sih?” – padahal begitu Maknya pulang ya mereka berdua akan ribut lagi :). begitu juga dengan kedua anjing kami akan mendadak patuh dan menjadi anjing paling polite dan pendiam sedunia tatkala istriku bepergian.

masing-masing akan melihat seorang perempuan yang dipanggil ibu atau istri dengan predikat-predikat tertentu. itu semua benar. tapi bagiku Ibu dan Istriku adalah inti dan roh dari rumah kami.

Selamat Hari Ibu

Bu, Ar : thank you for loving me, thank you for being the center of our home