Tag: #gayahidup

written by Roy Hekekire
November 20, 2019 0

suatu pagi, begitu sampai dikantor aku terlibat dalam sebuah perbincangan menarik dengan 2 orang teman mengenai sebuah never ending topik dalam kehidupan pekerjaan di korporasi … turn over karyawan 🙂

ceritanya, salah satu dari anggota team temanku tadi mengajukan permintaan pengunduran diri karena ini dan itu. lalu temanku dan salah satu anggota team yang kusebut saja Bunga 🙂 berbincang cukup lama. selidik punya selidik, Bunga belum lama pulang dari berlibur bersama teman2 nya, dan Bunga merasa kehidupan teman2 nya begitu mengasyikkan. dari berlibur ke suatu tempat lalu tidak lama kemudian berlibur lagi ketempat lain, tanpa memikirkan kerja, berbisnis atau kegiatan produktif lain.

Lalu Bunga berfikir enak sekali y kehidupan mereka? mengapa aku tidak berusaha menikmati kehidupan masa muda ku seperti mereka?

Bunga bukan tidak berprestasi di pekerjaan. aku tahu berapa ratingnya, bagaimana attitude dan behavior nya di kantor. singkatnya Bunga punya kapabilitas yang lebih dari cukup untuk terus berkontribusi dan perform.

setiap kali kembali ke rumah dari bepergian, aku selalu melewati sebuah jalan dan setiap kali pula kujumpai seorang Ibu berumur 60 tahunan sedang duduk bersantai, kakinya diangkat sambil menikmati sebatang rokok.

suatu ketika aku berpikir, apa ya pekerjaan Ibu itu? pensiunankah? investorkah? orang kaya kah? masak iya tidak ada kegiatan lain sehingga pemandangan serupa selalu kulihat setiap kali aku melewati depan rumahnya?

enak sekali ya hidupnya, nikmat sekali 🙂

di spot yang berbeda menuju rumah, sekumpulan ojek daring berkumpul, bukan ngobrol tapi semua sibuk dengan telepon pintar masing2, kemungkinan besar mereka sedang mabar game online 🙂

jam berapapun ku lewati spot tersebut hanya pemandangan itu yang mendominasi. enak sekali ya hidupnya bisa main game online bersama di pagi hari, siang bolong atau malam hari?

ditengah gempuran kesibukkan, tekanan hidup, dan ketidak pastian menghadapi masa depan, tema tentang “Menikmati Hidup” muncul mendominasi laman social media.

lihat saja posting2 tentang travelling dan tempat2 indah nan eksostis di seluruh penjuru dunia, hotel2 mewah dan villa2 romantik di daerah tropis yang sexy, makanan2 yang tersaji indah, Fisrt Class atau bahkan private jet  menjadi ‘jualan’ pengguna media social dewasa ini.

beberapa account bahkan dikhususkan oleh pemiliknya untuk mengunggah “Kenikmatan Hidup” yang dijalani nya keseluruh dunia 🙂

tapi apakah sebenarnya “Kenikmatan Hidup” itu ya?

apakah travelling terus menerus, keluar masuk tempat2 eksotis, makanana mewah atau se sederhana bermain game online berjam-jam adalah manifestasi dari “Menikmati Hidup” ?

ah tentu masing2 orang mempunyai caranya sendiri2 tapi kalau kubaca dari beberapa artikel orang2 super kaya dunia mendonasikan sebagian besar kekayaannya untuk orang lain.

lalu aku bertanya apakah mereka menjadi filantropis karena sudah terlalu kaya atau karena mengetahui bahwa menjadi berarti untuk orang lain adalah sejatinya kemanusian manusia?

apakah untuk menjadi berarti bagi orang lain adalah hak istimewa orang2 super kaya?

para bapak yang seumur hidup dimasa produktifnya mendedikasikan hidup untuk istri dan anak2 atau para ibu walau bukan jenis sosialita yang berderma kesana kemari diliput media tetapi sampai akhir hidup memberikan dirinya untuk membesarkan anak2 dan mendampingi suami dan bahkan ada banyak ibu yang merangkap tugas sebagai pencari nafkah.

bukankah itu cerita biasa tentang menjadi berarti untuk orang lain?

saking biasanya cerita tersebut sampai sering terlewat dan terlupakan hingga membuat kita cenderung hidup untuk diri sendiri dan mengabaikan contoh sehari-hari.

menjadi berarti untuk orang lain adalah hak istimewa setiap manusia, it’s just a matter of choice!

sehingga “Menikmati Hidup” dengan menjadi berarti untuk manusia lain adalah the ultimate of human achievement.

bagaimana menurutmu?

written by Roy Hekekire
November 11, 2019 0

minggu siang sepulang gereja 21 tahun yang lalu di ibukota sebuah propinsi di Sumatera bagian Selatan aku menghabiskan waktu ku dengan berjalan-jalan di seputar pertokoan paling hits saat itu.

mataku terpukau ke sebuah jam tangan dan seketika itu pula aku masuk dan melihat, bertanya ini itu mengenainya.

setelah puas melihat dan bertanya, mata nakalku terhipnotis ke sebuah jam dilemari display yang lain dan seketika aku bertanya : boleh lihat yang itu?

tanpa gerakan sama sekali untuk mengambil jam yang aku maksud, si penjaga yang kemungkinan besar sipemilik malah menjawab : Mas, yang itu harganya mahal …… hahaahahahahaha tampang kucelku, badan cungkring 48 kg, gelap tak terurus seketika diidentifikasi sebagai calon pembeli yang tidak potensial sama sekali 🙂

sekitar tahun 2003 seorang teman kantorku berkunjung ke sebuah rumah sakit mata paling top di Jakarta karena merasa ada ini dan itu dimatanya. sesampai di lobby ditemuilah Mbak receptionist meladeni pertanyaan mengenai : siapa dokter yang paling bagus dll dll. setelah berusaha menjawab, diujung kalimat si Mbak mengeluarkan kalimat sakti : Mas, tapi disini mahal …… hahahahaha padahal yakin teman ku ini tidak termasuk cungkring … malah sedikit overweight, tidak kucel …. lalu hal apa yang mendasari si Mbak receptionist untuk menilai temanku ini sebagai calon pasien yang tidak potensial? 🙂

belum lama, disela break meeting aku dan beberapa teman berbagai cerita kesana dan kemari. lalu seorang teman bercerita bahwa suatu pagi dia menabrak mobil didepannya secara tidak disengaja. temanku ini mengendarai sendiri Toyota Alphardnya. si pengemudi mobil yang ditabrak seketika turun dari mobilnya menghampiri Alphard si biang rusuh. lalu terjadinya perbincangan sedikit ngotot khas Jakarta 🙂

“saya minta ganti, dimana bos mu?” tanya si korban

“bos saya di kantor pak” : kata si pemilik Alphard temanku ini

“telpon bos mu sekarang juga, saya minta ganti” : lanjut sang korban

“buat apa saya harus telpon bos saya pak?” : tanya temanku berlagak bego

“y kamu harus jelaskan sama bosmu dan bilang saya mau kerusakan ini diganti” : masih juga ngotot si korban Alphard pagi itu

“saya akan ganti pak, bapak bawa saja kebengkel dan ini KTP saya, saya akan ganti penuh berapa biaya untuk memperbaiki mobil bapak, tapi saya nggak perlu telpon bos saya karena ini mobil saya sendiri”…….. hahahahahahahaha disangka sopir rupanya teman ku ini 🙂

mungkin itu sebabnya sekarang ini segala daya di upayakan untuk memperbaiki, memoles dan mengupgrade penampilan diri, dari ujung kepala sampai ujung kaki bahkan sampai kedalam-dalam …. entah sedalam apa 🙂

urusan telpon genggam bermerk buah misalkan …. seberapa sering orang melakukan hal-hal dramatis hanya untuk memperolehnya? jual ginjal lah, jual ini lah itu lah

sehigga pekerjaan – apapun pekerjaan itu – yang kemudian ditukar dengan upah dilakukan lebih banyak untuk ditukar lagi dengan bungkus dibandingkan isi atau esensi.

lucu rasanya kita hanya dipuaskan dengan bungkus dan bukan isi.

beberapa saat yang lalu semua ribut karena pemerintah berencana menaikkan iuran BPJS. asuransi kesehatan versi pemerintah dan pemerintah sebagai regulator dimaki2 tidak becuslah inilah itulah.

setahuku iuran tertinggi akan bergerak dari 90 ribu menjadi 180 ribu.

mungkin angka tersebut memang besar. tetapi dengan kepala yang rasional mari sedikit saja berpikir dan membandingkan berapa rata2 spending untuk pulsa telepon? berapa rata2 pengeluaran untuk minum kopi dan café, nge bir, nonton bioskop, beli parfum ber juta-juta, sneakers, tas ini itu kulit sapi sapi kulit buaya dll dll.

langsung teringat foto2 nya Mark Facebook, Opa Warren Buffet, Oom Bill Gates yang hanya pake tshirt, sneakers dan jeans.

yang bener2 tajir, covernya biasa cenderung nyampah. eh kok  yang biasa2 aja covernya terlihat tajir.

tapi nggak apa2 jugalah toh masing2 mempunyai cara hidup dan prioritasnya sendiri. kenapa aku resek? 🙂

maaf kan …. maaf kan