Tag: #dirumahsaja

written by Roy Hekekire
April 17, 2020 1

informasi mendadak bahwa aku bisa mengambil liburan singkat di awal tahun menyebabkan kami sekeluarga memutuskan akan mengunjungi Vietnam. selain dekat juga eksotis karena sejarah, alam dan makanannya. tiket sudah dbeli, hotel sudah dipesan dan tanpa visa pula …. easy.

tgl 31 Desember 2018 subuh setelah acara di rumah orangtua istriku selesai, kami memutuskan pulang ke rumah untuk bisa beristirahat barang beberapa jam.

jam 8 pagi dengan mengendarai taxi kami ber-empat melesat ke airport. langsung ke counter Vietnam Airlines. lancar ……

sewaktu kami masih bergurau tiba-tiba namaku disebut oleh petugas ticket counter : pak, ini passportnya tinggal beberapa minggu validitasnya sehingga lebih baik diperpanjang dulu sebelum berangkat supaya bapak tidak mendapatkan masalah di negara tujuan. duer ……… 🙁

istriku langsung ribut khas ibu-ibu :), anak laki-laki ku seperti biasa cool and calm, anak gadisku langsung nangis sambil berkata : y udah kita nggak usah pergi semua, nggak enak nggak ada Papa 🙂 🙁

setelah shock teratasi, kewarasan mulai take control, aku memutuskan supaya mereka bertiga tetap berangkat dan aku akan menyusul setelah beres urusan passport. setelah dibujuk-bujuk akhirnya anak gadisku dengan terpaksa mengikuti keputusanku dan didukung oleh anak laki-laki ku yang memang selalu rasional.

long story short mereka ber-tiga berangkat dan aku pulang.

rupanya perpanjangan passport tidak semudah yang kubayangkan, apalagi saat itu adalah awal-awal pembuatan passport online. kuubek-ubek semua kantor imigrasi di Jakarta untuk mencari jadwal tetapi ternyata yang tercepat hanya tersisa seminggu kedepan 🙁

akhirnya aku menyerah untuk memperpanjang passport. hanya diam dirumah, bener-bener diam dirumah sendirian sambil sesekali melihat kiriman foto-foto istri dan anak-anakku seminggu disana.

sendiri seminggu dirumah 🙁

tadi malam kira-kira pukul 10 malam, istriku mendapat kabar salah seorang Udanya masuk ke rumah sakit. dan karena tinggal sendiri sehingga tetangga rumah mengantarkan ke rumah sakit. Uda ini memang tinggal sendiri setelah istrinya meninggal beberapa tahun lalu dan anak semata wayangnya menetap di Canberra.

singkat kami berdiskusi apakah akan mengengok dan mengurus ini itu? tetapi kami juga kuatir saat-saat seperti ini kerumah sakit apakah merupakan keputusan yang tepat? belum lagi kesimpang siuran mengapa Uda sampai harus kerumah sakit. apakah karena penyakit ginjal yang memang sudah lama diidapnya atau karena sebab lain?

sejam kemudian kami mendapat kabar bahwa Uda sudah meninggal, sendirian tanpa ada satupun sanak saudara yang berada disisinya saat nafasnya berhenti. kemudian kami mendapat kabar bahwa protocol yang dipakai rumah sakit adalah protocol penanganan jenazah korban Covid-19.

suasana menjadi tidak karu-karuan. kami semua tidak tahu harus bagaimana.

ternyata protokol nya memang ketat, semua dihandle oleh petugas rumah sakit dan pemerintah daerah setempat.

ada salah seorang saudara sepasang suami istri dan seorang anaknya yang tinggal paling dekat dari lokasi rumah sakit yang datang pagi ini dan melihat dari jarak jauh sambil merekam video bagaimana peti jenasah dibawa dari kamar mayat ke ambulance, bagaimana peti yang terbungkus plastik dan ambulance di semprot di disinfectant dan kemudian ambulance berjalan menuju pemakaman.

video yang lain yang diterima istriku melalui whatsapps nya menunjukkan Uda sudah dikubur, dilokasi khusus korban pandemic.

sejak semalam sampai pagi ini istriku terus menangis, terisak-isak. menerima panggilan telpon atau text lalu menangis lagi …. begitu berulang-ulang.

memang sih setiap orang pasti akan mati. tapi membayangkan sendirian di rumah sakit, sendirian menghadapi maut tanpa seorangpun yang dikenal berada didekat bukan perkara mudah.

sendirian dirumah karena passport mati dan sendirian menghadapi maut tentu beda sekali. nggak bisa dibandingkan. itu sebabnya #dirumahaja itu bukan main-main, harus disiplin diikuti. jauh lebih mudah sendirian terisolasi dirumah daripada mati sendirian di rumah sakit karena memang protokolnya tidak memungkinkan sanak saudara menemani bahkan mengurus jenasah sekalipun.

written by Roy Hekekire
April 4, 2020 3

namanya juga tinggal di Kota Hujan, Buitenzorg istilah masa penjajahan dulu atau sekarang dikenal dengan nama Bogor. hampir tidak ada hari tanpa tidak hujan. beberapa hari terakhir ini kira-kira sore hari ketika pintu dan jendela rumah dibuka dinginnya angin yang menyerbu rumah hanya sanggup kami tahan tidak lebih selama 15 menit ….. bbbrrrrrrr dingin ….23- 24 derajat celcius menurut pengukuran suhu di iPhoneku.

beberapa hari yang lalu salah seorang anakku berkata : kok hujan terus ya sampai nggak bisa ngapa-ngapain di halaman 🙂 dan memang benar-benar kami terkurung didalam rumah, bukan saja karena self isolation tetapi juga karena hujan!

beda sangat dengan Jakarta tempat tinggal kami sehari-hari, berdebu, panas, hanya ada langit yang seakan mendung walau itu sebenarnya adalah selimut tebal polusi yang menutupi sinar panas matahari.

pada saat di Jakarta aku menantikan suasana Bogor. pada saat di Bogor aku merindukan panasnya Jakarta.

beberapa hari yang lalu aku mendapatkan sebuah video berdurasi 59 detik. tentu tidak akan ada kata yang kurangkai menjadi kalimat untuk menceritakan kembali isi video yang membuatku terjaga semalaman karena memikirkan dan merenungkan isinya yang mengkoreksi isi pikiran dan hatiku itu. aku akan membiarkan teman-teman semua menontonnya.

Apa yang terbaik dalam hidup ini? ???

Dikirim oleh Dhamma kehidupan pada Jumat, 16 Agustus 2019

#dirumahsaja membuat populasi dunia dipaksa untuk kembali kepada hal-hal yang paling esensial tanpa atribut-atribut lain yang selama ini membuat kehidupan menjadi ribet, kompleks, dan mahal.

tidak ada lagi ngopi di café – kalau mau minum kopi seduh sendiri. tidak ada lagi lunch, dinner di restaurant atau ditempat-tempat favorite – kalau lapar y masak sendiri, atau order dan dikirim ke rumah. tidak ada lagi bioskop – kalau mau nonton y melalui tv cable. tidak ada lagi fitness centre – kalau mau exercise y sambil sekalian menyapu, mengepel atau mencuci baju. tidak ada lagi hang out bersama teman-teman – kalau mau mengobrol y bersama pasangan dan anak-anak. tidak ada lagi rekreasi ketempat-tempat eksotis – kalau mau resfreshing y cukup dihalaman atau didalam rumah. tidak ada lagi keruwetan memilih sneaker, tshirt atau baju dan celana apa yang mau dikenakan. tidak ada lagi matching tas apa, sepatu apa dan gaun apa karena percuma juga kerepotan itu jika tidak ada orang lain yang melihat. semua benar-benar kembali kepada hal-hal yang paling mendasar dari kehidupan manusia.

#dirumahsaja mengajarkan dan mengingatkan manusia arti sebuah kata CUKUP.

#dirumahsaja mengajarkan dan mengingatkan kembali banyak hal mendasar manusia yang selama ini terlupakan.

written by Roy Hekekire
March 28, 2020 0

sudah seminggu ini aku fully kerja dari rumah, minggu sebelumnya masih sesekali dirumah tapi lebih sering dikantor. Ini semua karena urusan Covid-19 ….btw sudah eneg atau belum dengar Mr. C ini?

tadinya kupikir lumayan enak bisa kerja dari rumah, bisa dikit nyantai, sesekali bisa nyolong-nyolong nonton tv atau dengerin music dan mulut nggak berhenti mengunyah macam sapi yang memamah biak 🙂

tapi kenyataan tak seindah rembulan 🙂 …. Online meeting tak henti-hentinya, sambung menyambung seperti gugusan pulau di Indonesia, notifikasi Whatsapp dan Telegram tang ting tung bikin pekak telinga.

Ribet … super ribet, sesekali frustasi kapan semua ini akan berakhir.

Bicara produktivitas walau sudah jungkir balik menggunakan teknologi yang tersedia tetap saja karena most of our bisnis masih didesign dengan cara lama tentu saja menghambat. Mau tetap kerja takut tertular lalu mati …. serba repot 🙁

Jadi pilihannya tetap produktif alias kerja seperti biasa dengan resiko tertular lalu mati ATAU diem dirumah, stay away from the crowd, cuci tangan lebih sering dengan resiko bisnis mati, nggak bisa kerja, lapar karena nggak ada uang buat belanja dst dst, lalu mati kelaparan ….. iya bener jangan protes dulu ini juga dramatisasi ah …. tapi lihat logic nya aja y 🙂

Tapi masak iya pilihannya cuma 2 itu? nggak ada pilihan ke 3 kah? misal : tetap produktif walau diem dirumah? Ah ini dia ……. Gimana itu?

Setelah 3 jam online meeting, semalaman aku berpikir begini : ini situasi yang unknown, kita semua nggak ngerti, belum pernah ada sebelumnya, situasi yang tidak biasa makanya kita semua harus berpikir mencari cara-cara baru yang tidak biasa yang bahkan nggak pernah terpikir sebelumnya. Mengapa kita perlu mencari cara-cara baru, ya karena bisnis tetap harus berjalan. Mengapa bisnis harus tetap berjalan? Ya supaya tidak terjadi efek domino lanjutan.

Berpikir bukan saja untuk survive dari Mr. C tapi setelah semua kehebohan ini selesai akan seperti apa bisnis, akan seperti apa hidup setiap individu?

Mungkin akan ada yang survive – and trust me most of us will survive from this BUT the question is : apakah kita masih punya kerja setelah huru hara ini, apakah penghasilan tidak berubah turun setelah semua mereda? Atau hal-hal baru apa yang bisa dipelajari atau dilakukan untuk menambah produktifitas selama work from home? Coba pikirkan itu, seperti bermain catur kita semua harus berpikir dan mempunyai pemahaman untuk beberapa langkah kedepan! Karena hidup masih akan terus berjalan bahkan setelah pandemic ini!

Situasi ini memang serius, jaman perang dulu cerita kakek saya almarhum yang tentara, kita tahu siapa lawan kita karena kelihatan. Urusan Covid-19 ini runyam urusannya karena kita nggak ngerti siapa yang dalam tubuhnya sudah bermukim si C atau siapa pula yang menjadi transporter 🙁 Karena serius maka study para expert ya didengerin baik-baik dan dijalankan, bukannya malah bikin teori-teori baru yang nggak jelas. Pagi ini kubaca di twitter : setelah semua ini berakhir akan banyak ahli virus lulusan universitas Whatspps 🙂

Dengerin juga otoritas alias pemerintah, bukannya bikin aturan masing-masing. Belajar juga dari negara-negara lain – apa yang sudah terjadi dinegara lain dipelajari. Hal-hal baik ditiru, yang jelek buang jauh-jauh. Jangan dibalik-balik 🙂

Bukan mau kasih kuliah atau kotbah blab la bla …. But this is serius : work from home IS NOT a holiday. Justru sebaliknya ini adalah extra work yang harus kita pikul sama-sama. Supaya makin banyak orang yang selamat, makan cepat ini berlalu dan bisnis juga bisa berjalan se” normal “ mungkin. Sehingga saat ini semua berlalu kehidupan setiap individu tidak perlu lagi start from Zero!

Dengan mengisi pikiran dan waktu dengan hal-hal yang baik dan produktif maka cara memahami situasi hari ini juga akan berubah. Dijamin nggak ada waktu lagi untuk baca-baca berita-berita bohong dan menyebarkan ketakutan di populasi yang lebih besar.

#Be_safe

#Be_productive