Tag: #attitude

written by Roy Hekekire
October 30, 2019 0

setiap kira-kira jam 5 pagi si krucil bawel Milo – toy poddle jantan milik kami – memulai aktivitasnya dengan bertingkah menjengkelkan dengan menggigit dan menarik telapak kaki, menggapai wajah istriku dan jika tetap tidak ada respon maka dia akan merengek-rengek memecah kedamaian pagi hari di kamar tidur kami sampai istriku terbangun.

sederhana saja keinginannya, dia ingin keluar dari kamar. setelah pintu terbuka lalu dia akan memastikan istriku tidur di sofa lalu Milo melanjutkan tidurnya di bawah sofa.

sesekali istriku pura-pura keluar dan setelah memastikan si krucil nyempil di bawah sofa, istriku kembali kekamar. belum juga semenit berlalu dia sudah mulai merengek-rengek tepat di depan pintu kamar tidur. Milo selalu ingin ditemani, dia dibawah sofa, istriku melanjutkan tidurnya di sofa.

beberapa kali aku mencoba mengambil alih tanggungjawab itu. aku yang bangun dan mengajak Milo keluar. bukannya dia segera keluar, Milo malah sibuk berlari memutari kamar tidur kami menunggu istriku terbangun πŸ™‚

sewaktu ke 2 anak kami beranjak remaja, aku memperhatikan komunikasi kami berjalan menjadi tidak efektif. setiap perbincangan – kemudian hari aku menyadari bahwa itu bukan perbincangan tetapi komunikasi 1 arah, aku bicara, anak-anak mendengarkan :), setiap kali keluar nasehat petuah petatah petitih hanya debat nggak jelas sebagai akhirnya.

lalu aku mencari tahu sebab ini dan itunya, mencoba teknik-teknik baru siapa tahu ada cara yang efektif dalam kami berkomunikasi. sampai akhirnya kutemukan cara tertentu yaitu : datangi kamarnya setelah memastikan mereka santai dan nyaman, ajak bicara, tanyakan ini dan itu lalu kemudian sampaikan concern kita sebagai orang tua. done !

ya, benar ada pola tertentu dalam segala sesuatu. pola atau bentuk/struktur yang tetap sebagai hasil dari perilaku yang dilakukan terus menerus.

dalam dunia digital urusan pola ini menjadi sumber utama dalam memprediksi perilaku manusia.

karena ada yang bilang : past behavior predict future behavior πŸ™‚

tindakan tertentu yang sudah ter pola atau terstruktur secara tetap sebagai respons terhadap sebuah peristiwa akan dengan mudah digunakan untuk memperkirakan tindakan apa yang akan diberikan sebagai respon jika peristiwa tersebut terjadi lagi di kemudian hari.

contoh sederhana, seseorang yang kecewa dengan sesuatu akan mempunyai pola yang berbeda-beda untuk merespon nya. ada yang ngambek, tidak mau diajak bicara, memblock applikasi komunikasi di telepon pintar. ada pula yang langsung marah, bicara dengan nada tinggi. ada pula yang secara frontal mengajak adu argument. dan tentu saja ada banyak sekali pola yang terjadi.

dengan mengobservasi dan mempelajari pola-pola ini tentu akan sangat membantu untuk memperbaiki komunikasi dan memperbaiki diri.

jika pola si Milo tidak baik dan mengganggu kami tentu kami akan memberikan respon yang berbeda. misal kami mengabaikan ulah tengilnya di pagi subuh tersebut. setelah beberapa saat pasti keributan di pagi hari akan berhenti. pola yang Milo miliki disebabkan karena dilakukan berulang-ulang dan respon kami selalu sama.

karena kami anggap Milo adalah alarm pagi kami sehingga kami melihat ini pola yang baik yang terus harus di pelihara πŸ™‚

bagaimana dengan pola yang negatif misalkan? contoh : setiap kali makan ayam geprek level neraka selalu mules dipagi hari. mudah saja stop makan ayam geprek.

masalahnya masih suka ayam geprek level neraka tapi nggak mau mules dipagi hari. ada sih caranya : ganti perut dengan gallon air minum πŸ™‚

written by Roy Hekekire
October 27, 2019 0

suatu malam, dengan kebijaksaan seorang bapak yang mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk membantu ke dua anak nya tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang utuh, mulailah aku bercerita tentang bagaimana dulu bapaknya hidup, dibesarkan dan menjalani hari-harinya. tentu saja ini hal yang lumrah dilakukan oleh para orang tua kepada anak-anaknya.

siapa tahu dengan cerita-cerita masa lalu anak-anak mendapatkan inspirasi atau motivasi yang membantu mereka menjadi dewasa.

lalu mulailah aku bercerita …… dulu kalau Papa harus berangkat sekolah, Papa harus berjalan kaki dulu sekian kilometer ke terminal Bus Kota. dengan Bus Kota itu Papa baru bisa sampai ke sekolah. karena kalau Papa naik angkutan dari rumah sampai ke terminal Bus berarti Papa tidak bisa jajan.

coba bandingkan dengan kalian berdua, dari rumah cuma perlu jalan 5 langkah, masuk mobil, di mobil kalian sibuk dengan head set masing-masing, mobil jalan sendiri karena kalau bukan sama pak sopir ya Mama yang antar. hidup kalian jauh lebih enak dibanding Papa dulu.

jadi kalian harus lebih semangat sekolah, cari pengetahuan yang banyak, bla bla bla bla πŸ™‚

setelah mulutku berhenti bicara aku berharap ke dua anakku akan terdiam, berpikir mungkin sedikit terharu karena perjuangan Papa nya yang tidak mudah untuk bisa sampai sekolah πŸ™‚

tetapi sekonyong-konyong si sulung pun menyambar : o….jadi dulu Opa miskin sekali ya? si bungsu menambahkan : iya Pa, Opa miskin y? πŸ™‚

aku terdiam dan lalu aku tertawa … lalu kami semua tertawa. nggak jelas ini cerita motivasi atau stand up comedy πŸ™‚

dunia kerjaku memungkinkan dan memberikan aku kesempatan untuk bisa berbicara, membagi cerita, berbincang dengan banyak orang. terkadang dalam format yang lumayan besar tapi terkadang juga lumayan private.

aku amati ada beragam respon, ada yang serius mendengarkan, dahinya berkerut, ada yang kepalanya mengangguk-angguk tapi ada juga yang bersandar santai di kursi masing-masing dengan mata seperti bola lampu 5 watt πŸ™‚

tentu saja aku bukan dukun yang mampu mendeteksi isi pikiran tetapi aku juga bukan bodoh-bodoh amat untuk memperkirakan isi pikiran dari bahasa tubuh masing-masing bukan?

tentu saja itu bukan soal, apakah respon diberikan negatif, netral atau positif itu urusan masing-masing orang.

cerita tertentu akan ditangkap, dipahami dan diresponse sebagai cerita yang bermutu, menginspirasi, memotivasi dan memberikan dorongan untuk berubah menjadi lebih baik.

tetapi cerita yang sama akan dipahami orang yang berbeda hanya sebagai bla bla bla, seperti angin, sebentar berhembus lalu hilang tak berbekas.

memang masing-masing orang mempunyai cara belajarnya sendiri-sendiri. ada yang mau belajar dari cerita pengalaman orang lain, tetapi banyak pula yang tidak.

itu juga tidak jadi soal sepanjang manusia terus menerus belajar untuk menjadi lebih baik itu sudah lebih dari cukup, tidak perlu risau dengan caranya.

yang jadi masalah adalah, tidak mau belajar tetapi mau menjadi lebih baik πŸ™‚

written by Roy Hekekire
October 24, 2019 0

dalam beberapa bulan terakhir ini hampir setiap kali aku pergi ketempat-tempat hang out, entah itu karena urusan makan bareng istri dan anak, entah itu bicara urusan pekerjaan dengan beberapa teman, atau hanya sekedar bersantai dan melepas penat sebuah lagu lama yang dipopulerkan oleh Reza Arthamevia awal tahun 2000 – hampir 20 tahun yang lalu, selalu saja dimainkan, dinyanyikan dan floor menjadi hiruk pikuk, hingar bingar karena hampir semua mulut bibir pengunjung sing along dengan suara ala kadarnya πŸ™‚ ….. pecah.

tentu tidak aneh jika pengunjung tempat-tempat itu berusia sepantaran denganku tetapi bagaimana jika anakku sendiri yang baru berumur awal 20 an juga paham dan tahu dengan lagu ini?

bahkan sebuah movement sekelompok anak muda yang memperdengarkan lagu-lagu lawas era 80 an dengan sentuhan disko selalu menarik pengunjung anak-anak 20 tahunan sampai meluber mengantri?

produk lama yang meng attract anak-anak muda hanya dengan membuatnya menjadi relevan hanya dengan  memainkannya dengan sedikit sentuhan aransemen masa kini.

awal tahun ini aku berdiskusi dengan salah seorang teman mengenai situasi dan kondisi terkini di organisasiku. sebuah data menunjukkan bahwa sudah lebih dari separo orang-orang di organisasiku adalah generasi yang beken dengan sebutan generasi milenial, sebuah generasi yang lahir bersamaan dengan kemunculan internet. mereka lahir di akhir era 90 an awal 2000……mudahnya anak-anak yang berbeda usia minimal 20 sampai 30 tahun dari umurku πŸ™‚

sebenarnya sudah kusadari situasi ini sejak beberapa tahun yang lalu tetapi melihat angkanya sudah lebih dari 50% tentu saja sedikit banyak ini cukup mengagetkan.

kuamati sejak si sulung memasuki jenjang junior high school, hampir setiap saat kulihat ditelinganya selalu tersumpal dengan head set, entah apa yang di dengarkan.

lama kelamaan tak tahan juga aku dibuatnya, lalu aku mulai ajak dia bicara untuk mencari tahu apa yang dia dengarkan melalui kupingnya yang selalu tersumpal itu πŸ™‚

rupanya anakku ini sedang mendengarkan music, menikmati lagu-lagu yang menarik minatnya – dan tidak menarik minatku.

suatu sore di hari minggu karena gabut nggak jelas, aku dan istriku mulai mengakses YouTube dan kami lihat dan mainkan sebuah lagu yang super ngetop pada jamannya.

karena Mac terletak di living room tentulah suara dari lagu tersebut mendominasi seisi rumah menginvasi kamar tidur ke dua anakku.

belum juga sampai chorus kedua anakku serempak keluar dari sarangnya dan semua bertanya dengan suara lantang : kalian sedang dengarin lagu apa sih?

istri ku dan aku saat itu sedang memutar sebuah lagu dari one of Indonesia legend : Chrisye ! πŸ™‚

ditambah beberapa kejadian dan hasil observasi sehari-hari aku menjadi makin sadar bahwa perbedaan generasi antara kami berdua dan anak-anak menjadi salah satu challenge untuk kami bisa berkomunikasi secara lebih efektif.

lalu mulailah aku secara sadar dan dengan tujuan mulia tertentu mencari tahu bagaimana caranya bisa mengetahui trend terkini yang sedang diperbincangkan dan disukai oleh kedua anakku.

thanks to teknologi informasi yang memungkinkan ku berselancar mencari informasi ini itu, membuka account social media mulai dari Twitter di jaman itu sampai denga IG. kumanfaatkan juga iTunes untuk mencari tahu lagu dan music yang sedang trending πŸ™‚

long story short akhirnya aku paling tidak mulai mengetahui dan belajar memahami hal-hal yang menjadi interest kedua anakku dan woila ….. kami mulai bisa bicara dengan lebih connect di hal-hal tertentu. atau paling tidak kedua anakku mengetahui Bapaknya tidak ketinggalan jaman, update dan bisa diajak ngobrol hal-hal even yang remeh temeh seperti lagu yang sedang happening, fashion trend, dll πŸ™‚

‘keberhasilan’ ini membuatku menjadi lebih percaya diri karena sudah mulai menemukan cara untuk bisa lebih connect ke generasi anakku. lalu kupraktekkan ini di kehidupan profesionalku.

aku mulai merubah caraku berbicara, caraku berinteraksi bahkan caraku berpakaian. tentu saja itu semua kulakukan purposely and intentionally πŸ™‚ eeeeaaaaaaaaaa πŸ™‚

cukup sering anak-anak muda di organisasiku ini ‘berkomunikasi’ denganku melalui social media, melalui direct message untuk beberapa hal atau melalui wall jika sekedar ha ha hi hi, atau bahkan saling berbalas komen sampah πŸ™‚

ketika masing-masing sudah mulai merasa nyaman maka jangan heran jika sometimes bercandaan mereka bisa masuk kualifikasi “less teach” jika diukur dari value dan tata cara sopan santun generasiku πŸ™‚

benar, menjadi relevan ada key word nya. menjadi relevan dengan siapa kita akan berinteraksi menjadi starting point supaya komunikasi bisa nyambung.

but easier said than done. ada harga yang harus dibayar untuk stay and keep relevan, bahkan harga nya bisa semahal harga diri πŸ™‚

suatu ketika kuajak beberapa area manager untuk makan siang bersama. begitu masuk ke mobilku secara otomatis play list di iPhoneku langsung terconnect dengan audio yang ada di mobil ….. dan terdengarlah Location Unknown dan Day 1 dari Honne πŸ™‚ ….. tak lama kemudian salah satu dari area manager ku berkata : serius Bapak dengerin Honne? ini Bapak tahu dari mana? πŸ™‚

“penghinaan” ini masih belum berhenti, di fotonya audioku dan diupload di social media area manager ku yang usil dan masuk kategori “less teach” ini…….Bapakku dengerin Honne demikian kira-kira tulisannya di IG storynya πŸ™‚

ah, rupanya dia mengumumkan ke suluruh dunia Bapaknya dengerin lagu yang tidak cocok dengan umurnya yang sudah separo abad πŸ™

jaman sudah berubah, tentu saja cara-cara lama sudah tidak relevan lagi, harus diganti dengan cara-cara baru.

sepanjang value atau nilai yang baik yang diyakini dari generasi sebelumnya masih bisa konsisten dipegang maka perubahan cara bukanlah hal besar.

generasi lama yang memegang kuat disiplin waktu misalnya tidak perlu lagi marah-marah, ngotot sampai urat leher keluar hanya untuk meminta generasi baru untuk on time.

kasih saja contoh….selesai!

jika generasi lama ingin disapa oleh generasi milenial ya sapa aja duluan…. simple!

kalau generasi lama ingin diajak ngobrol generasi milenial ya ajak aja ngrobrol duluan….mudah!

kalau nggak bisa juga menyapa atau ngobrol duluan mungkin kalian sedang sakit gigi……kalau benar begitu pergi aja ke dentist! πŸ™‚