super hero

3 minutes, 34 seconds

Dari sebuah feed di IG aku mengetahui sebuah pasar ikan hias di Jakarta, hari minggu pagi kemarin masih sesak dengan pengunjung. Dari media juga aku mengetahui beberapa restaurant dipaksa hanya untuk melayani online purchase atau take away. Dalam gambar terlihat satpol PP memaksa mengangkat kursi-kursi restaurant tersebut ke atas meja-meja yang kosong. Beberapa pengguna jalan raya juga masih banyak yang tidak mengikuti protocol kesehatan yang disyaratkan PSBB 🙁

Beberapa waktu yang lalu ketika diskursus tentang mudik boleh atau tidak merebak di media tiba-tiba saja beberapa teman ‘kehilangan’ para asisten rumah tangga – mereka mendadak pulang kampung. Terminal bus antar kota mengalami lonjakan penumpang. Dan pagi ini melalui media aku mengetahui beberapa data bahwa 7% masyarakat sudah mudik, 24% ngotot mau mudik, sisanya 69% memutuskan tidak mudik di tahun ini. Secara absolut kira-kira yang ngotot akan mudik dan telah mudik berkisar 20 juta orang! …….. ngeri sekali ya membayangkan sebanyak itu manusia berpotensi sangat tinggi terpapar virus yang aku sudah males nyebutin namanya itu 🙂

Dengan segala argumentasi mengapa tetap mudik dan akan mudik, masakan iya harus bertaruh resiko dan nyawa terjangkit virus? Punya nyawa serep kah? sudah punya anti virusnya kah? ….. aku nggak ngerti.

Sebuah artikel yang kubaca kuketahui bahwa Indonesia mempunyai 45.000 Undang-Undang. Itu belum termasuk PerGub dst dst. Dengan angka sebesar itu Indonesia diperkirakan menjadi negera dengan jumlah peraturan terbanyak dan terbesar di dunia!

Tetapi memiliki peraturan adalah satu hal. Pelaksanaan atau law enforcement dari peraturan adalah hal yang sama sekali berbeda.

Sebanyak dan sebaik apapun sebuah peraturan tidak akan ada manfaatnya jika tidak ada penegakkan hukum!

Cerita-cerita nggak enak diatas hanya sebagai analogi bahwa antara mempunyai atau mengetahui dan melakukan apa yang diketahui itu 2 urusan yang berbeda.

Sebagian kita dalam masa-masa ini mengisi waktu-waktu diselang seling bekerja dirumah dengan berbagai macam hal. Ada yang mencoba mengetahui hal-hal baru dengan mempelajari hal-hal tertentu, bisa dengan membaca, kursus online, dll. Ada sebagian juga yang meneruskan apa yang diketahui dengan mempraktekkan hal-hal baru tsb. Ada yang memasak, ada yang berkebun, ada yang berolahraga, ada yang menulis, dll dll. Itu semua baik dan memang seharusnya setiap kita mengambil peran dengan meng equip diri sendiri sehingga once this difficult time gone masing-masing sudah menjadi manusia yang berbeda baik secara pengetahuan, skills dll dll.

Menurut Kustodian Sentral Efek Indonesia ( KSEI ), per 9 Aug 2019, investor asing menguasai 51,46% dari total ekuitas atau sebesar IDR.1.907 T sementara investor domestik menguasai IDR. 1.799 T atau 48,54%. Investor asing didominasi oleh institusi sementara domestik lebih banyak investor individu.

Memang ada banyak diskusi, pendapat mengenai pro and cons investasi asing. Tidak aneh memang karena setiap aspek selalu ada multidimensional  aspek kan?

Tetapi jika porsi investasi asing terlalu besar pada sebuah bursa maka capital in-flight dan capital out-flight akan menjadi faktor dominan terbentuknya harga pada sebuah bursa.

Sejak awal tahun IHSG sudah drop 33,4%. Bersamaan waktunya dengan kaburnya dana asing dari pasar kita. Jika di rupiahkan kira-kira capital out-flight sudah hampir IDR.15 T …. Lumayan gede ya?

Hari gini memang tidak ada satu pasarpun yang steril dari modal asing, tetapi jika modal asing lebih menguasai maka tentu pasar sebuah bursa akan lebih dipengaruhi faktor itu dibandingkan faktor-faktor lain, seperti fundamental sebuah emiten.

Investor jaman now pun sudah well inform …. Mereka akan melihat dipasar mana, dengan instrumen apa akan menempatkan dananya …….. ya tentunya mana yang menjanjikan return yang lebih baik disitu dana akan mengalir.

Saat ini Indonesia hanya mempunyai 2 juta investor individu. 900 ribu diantaranya merupakan investor individu dipasar saham, sementara sisanya investor melalui reksadana. Jumlah yang sangat kecil bahkan jika dibandingkan jumlah kelas menengah Indonesia yang menurut Bank Dunia berkisar 52 juta orang.

Dari sedikit angka-angka diatas sebenarnya opportunity untuk makin mengkonsolidasi investasi dana dalam negeri ke pasar bursa sangatlah besar dan terbuka. Semakin banyak investor dalam negeri dan semakin besar investasi dari investor dalam negeri masuk ke pasar bursa Indonesia tentu akan makin memperkuat pasar bursa Indonesia.

Dengan kata lain, dengan index saat ini, IHSG masih mempunyai kesempatan yang luas dan terbuka dimasa depan apalagi pada saat selesainya urusan pandemik ini.

Tidak seperti para Super Heroes baik geng DC atau Marvel …. yang intensinya adalah menyelamatkan dunia. Dengan berinvestasi di pasar bursa lokal sesungguhnya masing-masing telah menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri dan secara tidak langsung menjadi pahlawan bagi ekonomi Indonesia.

Nah, kapan lagi mau rebahan tapi bisa jadi pahlawan? Cukup dengan click link ini kalian sudah mengarahkan langkah kaki untuk menjadi pahlawan!

https://www.rhbtradesmart.co.id/tradesmart/tradesmart-product

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *