Spion

2 minutes, 46 seconds

kembali ke sebuah gedung kantor tempat ku bekerja beberapa tahun yang lalu, tidak lama hanya 2 tahun disini. tetapi bukan sembarang gedung kerena tempat ini adalah salah satu tempat darimana salah satu perusahaan raksasa di negeri ini dibangun dan berkembang.

sudah banyak perubahan dari sisi design interiornya dibanding sebelumnya. lebih modern dengan warna warni disana sini, susunan meja kerja yang lebih terbuka dan woila ….. ada cukup banyak spot-spot untuk duduk lebih santai sambal berdiskusi dengan lebih rileks. kantor ini sudah berubah.

berusia 106 tahun dan berubah …. bukan hal yang mudah dilakukan tentunya mengingat sejarah yang panjang dengan segudang cerita dan peristiwa penuh nostalgia  menguras emosi dan cenderung membawa kita kembali ke masa itu.

tadi pagi berangkat dari hotel tempatku menginap menuju ke kantor legendaris ini aku menumpang sebuah taksi yang dikemudikan pak Hadi Ramono, kutaksir berusia mendekati 60 tahun. pak Hadi tidak banyak bicara sepanjang perjalanan, hanya fokus mengemudi, sangat cekatan dan cenderung mengebut 🙂

tidak tahu bagaimana asal mulanya karena aku asyik memeriksa beberapa pesan masuk di cell phone ku, tiba2 mobil di rem dengan sangat mendadak, aku tersontak dan mobil zig zag beberapa saat dan terdengar derit ban yang lumayan kencang lalu kemudian pak Hadi membanting setir ke kiri untuk menghindari benturan dengan mobil didepan yang hanya beberapa meter jauhnya setelah sebelumnya dengan cepat beliau menengok ke kaca spion untuk melihat apakah ada mobil dari belakang yang melaju kencang.  selamat kami dari kecelakan pagi itu.

kaca spion yang kecil itu menjadi salah satu perangkat vital pagi itu.

sesekali melihat kebelakang untuk sejenak melihat apa yang sudah aku lewati, belajar dari peristiwa2 yang terjadi dan bersyukur untuk semua peristiwa baik dan buruk untuk selanjutnya melanjutnya perjalanan.

benar, melanjutkan perjalanan, berpikir kedepan dan melangkah maju, terus maju.

karena terus menerus menoleh kebelakang hanya akan menjebak diriku sendiri pada semua peristiwa nostalgia.

easier said than done ….. untuk berubah memang jauh lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. itu sebabnya seringkali aku berkeinginan untuk berubah tetapi tetap saja diam ditempat atau bahkan terus kembali dalam kehidupan masa lalu.

aku belajar bahwa komitmen saja tidak cukup TETAPI perlu melangkah untuk melakukan sesuatu yang benar2 baru. doing my first step over and over again until become my habit.

kalimat bijak berkata : melakukan hal yang sama tetapi mengharapkan sesuatu hasil yang berbeda sejatinya adalah sebuah kebodohan besar.

lalu aku bertanya pada diriku sendiri : aku sudah banyak melakukan kesalahan, banyak sekali jalan salah yang ku pilih dan rasanya tak bisa lagi kuhapus semua kesalahan itu. lalu aku harus bagaimana?

tentu saja masa lalu tak mungkin bisa dihapus. justru dari masa lalu lah aku bisa berkaca untuk menentukan langkah kedepan selanjutnya bukan? lagipula bukankah setiap orang mempunyai masa lalu dan kesalahannya masing2?

seperti kaca spion yang selalu lebih kecil dibanding kaca depan pada sebuah mobil tentu ada maksudnya.

pertanyaan utamanya adalah : apakah ingin maju, diam ditempat atau bahkan mungkin kembali kemasa lalu? tidak ada pilihan lain kurasa.

jika ingin maju kedepan tak ada pilihan lain selain melihat kaca depan lebih fokus dan lebih sering dibanding melihat kaca spion.

gimana kalo kaca spion nya rusak karena disenggol atau ditabrak kendaraan lain? 🙂

(1) tentu perlu ku review bagaimana caraku mengemudi? teledor kah, ugal2an kah? tidak disiplinkah? jika jawabannya ya tentu saja aku harus merubah caraku mengemudi dengan lebih baik dan hati2.

(2) segera ganti kaca spion. dan memastikan kaca spionku tidak lebih besar dari kaca depan

bagaimana menurutmu?

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *