P=F/A

3 minutes, 19 seconds

selesai makan siang dengan beberapa teman, kami pun ngobrol2 tentang bagaimana masing2 mengelola keuangan.

perbincangan menjadi sedikit riuh karena ada beberapa dari kami yang hanya mendapat “husband allowance” dari Finance Minister 🙂

lalu obrolan berganti topik ini dan itu.

dirumah, ketika jari2 tanganku scrolling IG dan Line, topik tentang mantan Direktur Utama salah satu BUMN besar masih mendominasi. kali ini beserta dengan orang2 yang terlibat dengannya dikuliti habis oleh para Netizen termasuk salah satunya adalah seorang awak kabin yang konon menjadi apanya dari pak Dirut.

di salah satu posting yang aku sendiri heran gimana bisa sampai didapat oleh sipemilik akun diunggahlah video si awak kabin sedang memamerkan ini itu termasuk segala macam operasi plastik yang dilakukannya di luar negeri. 

jujur sih agak gimana gitu melihat video itu …. tapi lucu juga melihat tingkah polah si embak menunjukkan segala harta karun dan semua benda berharga yang dengan matematika sederhana sangat tidak masuk akal jika hanya diperoleh dengan salary dan segala macam tunjangannya sebagai awak kabin.

lalu menyeruak berita dari Hongkong tentang seorang perempuan Indonesia bernama AL, yang konon seorang sosialita. masih menurut berita itu AL sedang diuber2 pihak berwewenang karena sang sosialita ternyata adalah seorang penipu. aktivitas yang dilakukannya untuk memenuhi gaya hidup. korbannya sudah banyak!

memang sih jaman sekarang godaan tentang gaya hidup sangat dasyat. gaya hidup sudah sedemikian jauh meninggalkan esensi dari hidup itu sendiri. manusia modern lebih cenderung melihat bungkus lebih berharga dari isinya.

suatu saat si Oom yang paling hobby bercelana pendek … Almarhum Bob Sadino berkata begini : “bergayalah sesuai isi dompetmu. yang beneran punya nggak akan banyak bicara seperti mereka yang berlagak sok punya”

Jay-Z si rapper kelas dunia mengatakan begini : “you can’t afford something unless you can buy it twice”

ya benar si Oom dan Jay-Z sedang bicara tentang fenomena Snob yang dengan begitu mudahnya dijumpai, dibaca dan dilihat melalui media apapun.

artis yang memamerkan saldo ATM misalkan ….. masih lumayan kalo itu hasil jerih payah si artis itu sendiri. gimana kalo bukan? 

atau si anu dan si anu yang memamerkan segala macam harta benda merk2 maut kelas dunia …… masih lumayan jika itu hasil keringat sendiri …. gimana kalo bukan?

atau cerita tentang Pemda DKI yang mengetahui bahwa ratusan pemilik super car telah menunggak pajak 🙂

aneh bukan? mobil berharga M mampu dibeli tetapi pajak paling hanya ratusan juta masih juga nggak mau bayar.

inilah fenomena ketika hasil – yang diukur dari kepemilikan terhadap sesuatu – meniadakan penghargaan terhadap proses. sehingga nowadays pamer menjadi sesuatu yang lumrah. pamer kepemilikan terhadap sesuatu dan bukan proses!

kepemilikan terhadap sesuatu akan menentukan termasuk golongan mana seseorang dalam kelas masyarakat.

pemilik dan pengguna barang2 dengan merk2 yang biasa dijumpai di London, Paris dan New York akan secara otomatis digolongkan dan mendapat stempel dan masuk dalam kelas atas, jet set, tajir dan kemudian mendapat “penghargaan” tersendiri dari society. 

sebaliknya pemilik dan pengguna barang2 bermerk juga tapi berjamaah penggunanya dianggap marginal alias kelas pinggiran :). nggak ngerti dech gimana yang hanya mampu beli di Manggu dan Tanah Abang y? dianggap apa y mereka?

kelas atas dan marginal. kaya dan miskin.

yang mau beli termasuk kaya, yang tidak mau beli langsung auto miskin 🙂

padahal kan belum tentu y? 🙂

sayup kudengar entah dari mana berkata : ah kamu cuma sirik aja …. kamu nggak bisa pamer karena kamu nggak punya dan kamu nggak punya karena kamu tidak lebih tajir dari mereka yang lain #automiskin

ah baiklah ….. maaf kan …. maafkan si miskin ini y 🙂

akhir minggu lalu dalam suatu pertemuan Boss ku bilang begini : value kita sebagai individu, sebagai pribadi tidak boleh diukur dari pencapaian terhadap angka2. jika angka kita rendah maka kita melihat diri kita sendiri less value dan begitu juga sebaliknya! jangan begitu!

ah si Boss tahu aja 🙂

supaya lebih intelek 🙂 closing dari cerita ini akan menggunakan salah satu rumus fisika yang terkenal.

Pressure = Force/Area atau Tekanan = Gaya/Area

Tekanan berbanding lurus dengan Gaya, tetapi berbanding terbalik dengan Area.

berdasarkan rumus tersebut maka : jika hidupmu penuh tekanan, berarti kamu kebanyakan gaya.

ngawur y? 🙂 kan aku sedang pamer masih ingat pelajaran Fisika 🙂

There are 2 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *