personal conviction

2 minutes, 55 seconds

sampai dengan beberapa minggu yang lalu, terasa pandemik hanya sebatas kehebohan di media masa, media sosial dibarengi segala debat atau sumpah serapah dari satu kubu ke kubu lainnya. terasa begitu berjarak karena penderita bahkan kematian hanya sebatas angka2 statistik semata.

beberapa minggu terakhir, pandemik tiba2 menjadi begitu dekat dan semakin dekat. hampir setiap hari aku menerima pesan pribadi dan di beberapa group tentang teman2 yg terinfeksi, dirawat bahkan sampai meninggal. aku gemetar, takut.

terlepas dari keyakinan pribadi masing2 individu tentang tentang ada atau tidak adanya virus, tepat atau tidak tepatnya langkah otoritas dalam menangani situasi, treatment2 apa yg membuat si anu sembuh dan lainnya tidak berhasil, satu hal yang pasti dan menjadi realitas adalah banyak orang yg terjangkit bahkan semakin banyak, angka kematian terus menerus bertambah dan juga para penyintas yang tidak kalah besar pula jumlahnya.

tulisan ini tentu saja hasil pemikiran personal yang jauh dari kaidah2 ilmiah sehingga patut dibaca otoritas lalu dijalankan – sama sekali tidak. ini hanyalah ungkapan keresahan yang menjadi personal note ku. sebagai pengingatku menghadapi situasi ini saat ini dan kelak.

seorang pesohor bahkan sampai perlu tinggal beberapa bulan di jeruji besi karena mengungkapkan personal conviction nya. belum lama seorang yang mengaku dokter ( not sure apakah benar2 dokter karena konon sejak beberapa tahun yang lalu sudah tidak mempunyai ijin sebagai dokter ) dengan lantang juga sama menyampaikan keyakinan pribadinya. lalu publik heboh!

personal conviction adalah keyakinan seorang individu terhadap sesuatu topik. tentu saja setiap individu yang normal mempunyai keyakinan tertentu akan hal tertentu. itu tidak jadi soal, karena lumrah dan memang seharusnya begitu.

akan menjadi masalah dan kemudian perdebatan ( yang tidak perlu ) dan bahkan di beberapa kasus menjadi panjang dan lebar ketika personal conviction tersebut dengan lantang, mungkin ngotot di ungkapkan di depan publik dengan menggunakan ranah publik dan dengan saluran2 publik.

namanya juga keyakinan pribadi tentu saja wilayahnya hanya sebatas pada seorang individu yang mempunyai keyakinan tertentu. dan namanya juga conviction yang tentunya jauh dari kaidah2 ilmiah. bukan berarti membaca beberapa buku dan beberapa artikel mengenai suatu topik tertentu yang mendukung keyakinannya kemudian bisa di claim bahwa keyakinan tersebut ilmiah bukan?

namanya juga keyakinan pribadi sehingga tentu saja saat membacanya reaksi kita tidak perlu berlebihan. biasa saja sekonyol dan seaneh apapun keyakinan seseorang terhadap sesuatu. dengan sikap seperti itu perdebatan panjang yang tidak perlu, yang sering kali bahkan kontra produktif bisa di hindari.

beberapa waktu yang lalu, sebuah kelompok berkeyakinan bahwa merekalah penguasa dunia dan seisinya. masalah kemudian muncul saat kelompok tersebut mem ‘publikasi’ kannya di saluran publik.

mengapa menjadi masalah?

publik singkatnya adalah kumpulan individu, artinya lebih dari 1 individu. karena lebih dari 1 individu tentu saja keyakinan dan kepentingannya pun akan sebanyak individu itu sendiri.

dalam konteks masyarakat, supaya kumpulan individu mampu hidup bersama, berdampingan dst disepakatilah yang namanya etika, norma, adat istiadat dan hukum. itulah yang ‘membatasi’ seorang individu dalam kehidupan publik sehingga masing2 individu dimungkinkan hidup bebas dalam masyarakatnya.

kembali ke urusan pandemi. sekeren apapun personal conviction seorang individu tetap saja itu personal sifatnya. sampai ada kaidah2 ilmiah yang dilalui, sebuah conviction tetaplah menjadi dirinya sendiri, tidak lebih. jadi jangan ngotot. mau ada keyakinan bahwa virus ini adalah hasil dari Batman yg gagal berubah menjadi Robin dan bisa sembuh hanya dengan makan semur jengkol silahkan saja. yang baca keyakinan seperti diatas ya biasa saja. pikirkan dengan akal sehat, periksa apakah keyakinan tersebut muncul setelah melalui kaidah2 ilmiah atau hanya karena membaca beberapa buku lalu kelamaan tidur siang?

buatku sendiri, hanya 2 source yang aku percaya: hasil research para scientist dan otoritas. sedangkan yang lain kuanggap para SJW dadakan.

There are 2 comments .

  1. Nice story pak Roy
    Personal Conviction: setiap individu bertanggung jawab thd diri sendiri & society krn setiap kita hidup bermasyarakat. Seorang publik figur, influencer (selegram, artis, musisi, dll) seharusnya menyadari bahwa jalan pikiran atau pendapatnya akan berimpact atau mempengaruhi para fans atau pengikutnya. Itulah konsekuensi dr seorang publi figur/influencer. Oleh krn itu mereka akan dianggap bertanggung jawab bila membuat suatu statement yang menimbulkan keresahan di masyarakat.

    My Personal opinion about C19:

    Virus C19 ada, nyata & berbahaya. Impact nya kemana2 dibadan penderita.dan berbeda-beda pada setiap orang (jangan pernah menyamaratakan antara si-A & si-B, dst)

    Doa kepada semua: semoga terhindar & tidak terpapar oleh virus C19

    What to do: tetap berdoa kpd Tuhan agar selalu diberikan kesehatan lahir batin, ikhtiar dg divaksin bagi yg belum pernah terpapar, ikuti anjuran pemerintah/otoritas terkait mengenai prokes dll, tetap berkarya, bekerja, krn kerja adalah ibadah.

    Last but not least, pandemi atau wabah pny periode waktu, dia tidak akan berlangsung selamanya. Mari sama2 kita berdoa agar pandemi C19 segera berakhir & kehidupan berjalan normal kembali, amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *