Peluang ( jangan dibuang )

4 minutes, 4 seconds

“Luck is what happens when preparation meets opportunity”. Keberuntungan adalah bertemunya persiapan dengan kesempatan.

Ada 2 komponen besar, yaitu: Preparation atau persiapan DAN Opportunity atau kesempatan.

Opportunity atau Kesempatan.

Walau ada juga yang bilang bahwa opportunity adalah faktor internal sehingga ada quote yang bilang: the best way to have opportunity is by creating it, tetapi faktanya kesempatan lebih menjadi faktor external atau faktor yang tidak bisa dikontrol kapan datangnya oleh setiap individu.

Karena tidak bisa dikontrol lah maka opportunity sering datang dan pergi sesuka hati. Saat kita mau serasa nggak nongol-nongol. Tetapi saat kita sedang dalam ‘tiarap’ mode on eeeee malah datang bagai gelombang.

Persiapan.

Mike Phelps pemegang 28 medali Olimpiade asal AS, kelahiran Baltimore, Maryland, June,30, 1985 mendedikasikan 7-8 jam per hari untuk berlatih termasuk Winter. Alhasil pada saat ada kesempatan ikut serta dalam ajang Olimpiade, Mike bagai kesetanan dan mencatatkan dirinya sebagai The Most Successful and Most Decorated Olympian of All Time ….. sadis ya?

As the same context maka pada Sabtu, June,11, 2020, #RHBTradeSmart mengadakan online live event Smart Talk : Peluang Jangan Dibuang . Dalam acara sepanjang 60 menit tersebut Merry Riana memandu talk show dengan narasumber Inarno – Direktur BEJ, dan beberapa petinggi RHB Securitas.

Walau hanya sekitar 1 jam saja tetapi talk show tersebut cukup memberikan enlightment, membuka wawasan dan mendorong kita semua untuk segera berinvestasi ditengah situasi ekomoni dan khususnya di pasar bursa yang sedang turun ini. Gimana itu, pasar sedang turun kok malah investasi? Sabar …. Sabar ntar kusenggol sedikit argument nya?

Aku mau cerita dulu tentang Andre Taulany si penggemar otomotif yang katanya semua koleksi mobil-mobil lawasnya tidak semata-mata untuk memuaskan hobby tetapi juga untung mendapatkan laba alias investasi. Benarkah mobil lawas bisa dianggap sebagai investasi?

Prinsip investasi sebenarnya sederhana saja, yaitu mendapatkan keuntungan, laba, gain atau apapun namanya di masa depan dari sebuah usaha atau kepemilikan dalam instrument tertentu.

Contoh: Rare collectible sneaker tertentu. Dibeli dengan harga IDR X. lalu disimpan, dikoleksi dan beberapa saat kemudian di jual kembali dengan harga IDR X+.

Sehingga dengan demikian maka kepemilikan sneakers, mobil, lukisan, barang antik dan beberapa barang sejenis bisa dianggap sebagai investasi.

Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu dicermati lebih lanjut, semisal seberapa likuid, apakah ada harga pasar yang terbuka dan diketahui banyak orang serta bisa dipantau secara statistik atau alat bantu ilmiah lain?

Contoh: collectible sneaker tertentu saat akan dijual apakah bisa langsung terjual? Dimana dijual? kepada siapa dijual? Berapa banyak yang akan jual?, berapa banyak yang akan beli? Seberapa besar pasarnya? Siapa yang menentukan patokan harga, dll dll.

Barang-barang hobby dikenal mempunyai market tertentu di komunitas tertentu sehingga marketnya ( peluangnya ) relative kecil. Bicara tentang harga pun tindak ada patokan. Artinya kalau sudah suka berapa harganyapun dibayar. Unsur psikologi sedikit banyak mempengaruhi dibandingkan murni perhitungan ilmiah yang bisa dikontrol.

Nah, tentu akan panjang urusannya saat perlu uang lalu mau jual salah satu collectible items ternyata nggak cukup likuid. Masih harus cari pembeli. Begitu ada pembeli nawarnya sampai bikin sakit perut karena si pembeli sebenarnya sedang cari barang B dibanding A yang sedang ditawarkan.

Tentu saja jadi ribet karena pasarnya tidak terbuka.

Coba ya, sneakers tertentu sebenarnya ada berapa sih yang diproduksi? Berapa banyak yang dijual? Siapa-siapa aja tuh yang punya? Berapa banyak yang akan beli? Patokan harga jual kembalinya berapa? Siapa yang menentukan harga? dll dll 🙂 🙂 🙂

Oleh karena itu kepemilikan-kepemilikan seperti contoh-contoh diatas walaupun bisa dianggap investasi tetapi karena ada variable hobby sehingga tidak bisa murni dibilang investasi.

Sehingga diacara talk show tersebut Andre Taulany sebagai bintang tamu lumayan juga mendapat informasi dan pencerahan bahwa ada instrument investasi lain yang lebih mumpuni dibandingkan semua koleksi otomotifnya.

Bagi teman-teman yang tertarik menontong silahkan click ya

Now, apakah instrument investasi yang lebih mumpuni dibandingkan koleksi-koleksi barang seperti contoh diatas? ya bener …. Saham. Mengapa saham?

Firstly, lihatlah IHSG sbb :

2016: terendah 4400 an

2017: terendah 5100 an

2018: terendah 5700 an

2019: terendah 5800 an

2020: terendah 3900 an

Penutupan pasar June,15,2020 : 5075,08

Mulai jelas ya?

Sekarang kita ambil contoh salah satu emiten BEI, yaitu BBRI

2016: terendah 2000 an

2017: terendah 2100 an

2018: terendah  2700an

2019: terendah 3700 an

2020: terendah 2100 an

Penutupan pasar July,22,2020 : 3100 an

Yuk, simak sedikit ttg IHSG … dari 2016 sampai dengan 2019 terlihat IHSG konsisten naik tetapi seketika di 2020 turun vs previous year atau dengan kata lain dari poin terendah IHSG mengalami diskon sebesar 32% karena Covid-19.

Bagaimana dengan BBRI …  lebih dasyat lagi karena jika di compare dengan angka terendah 2019 maka BBRI ‘menawarkan’ 43% diskon per lembar sahamnya.

Coba bayangkan jika kalian Buy BBRI di harga 2100 berapa tuh gain yang kalian dapat? Correct …. 47%. Darimana angka tersebut?  Lihat saja penutupan pasar 22 Juli 2020 BBRI sudah diharga 3100 per lembar saham.

Nah, biasanya kan hanya pertokoan di Mal atau Online shopping yang pasang advertising gede-gede : Sale, Diskon or whatever you call it, and dengan segala macam argumentasi dan justifikasi penawaran tersebut mendorong kalian untuk membelanjakan uang.

Nah, kali ini harga saham di bursa mengalami ‘sale’, ‘diskon’ sebesar hitungan diatas.

Bagi penggemar Sale atau Diskon kapan lagi ketemu beginian?

2/7 serial tulisan #InvestSmarterInvestNow; #RHBTradeSmart; #SahamIsEasy; #TradeEasier

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *