written by Roy Hekekire
September 8, 2019 0

Olimpiade sudah diadakan sejak jaman Yunani kuno sampai kemudian pada tahun 393 dihentikan oleh Theodosius seorang Kaisar Romawi pada masa itu.

Ada banyak cerita tentang apa, mengapa dan bagaimana Olimpiade kuno ini diselenggarakan pada jamannya tetapi salah satu cerita yang menarik adalah bahwa Olimpiade diselenggarakan supaya terjadi gencatan senjata, berhenti sejenak dari peperangan antar kelompok di Yunani yang memang seringkali terjadi. Para prajurit ‘libur’ sejenak dari peperangan dan menikmati festival keagamaan dan atletik yang diperlombakan dalam Olimpiade tersebut.

Jumat, 6 September 2019 untuk ke 2 kalinya Olimpiade Jakarta Zone diselenggarakan. Mirip dengan alasan dan latar belakang Olimpiade kuno dahulu, Olimpiade Jakarta diselenggarakan untuk berhenti sejenak dari kesibukkan, ‘peperangan’ di area masing2, bergembira bersama sebagai suatu keluarga, menikmati dan merayakan kehidupan.

Melihat raut – raut wajah penuh expressi kesenangan, gembira tetapi tetap gigih berkompetisi membuatku berpikir dan merenung bahwa kehidupan setiap manusia pada dasarnya adalah kompetisi. Tetapi bukannya kompetisi mengakibatkan tekanan, stress tetapi malahan sebaliknya. Mengapa?

Satu hal yang sering terlupa bahwa manusia pada awalnya adalah mahluk yang gembira, selalu ingin merayakan sesuatu. Tetapi jaman berubah menjadikan kompetisi menjadi sesuatu yang menakutkan, mengalahkan, membunuh satu sama lain. Kompetisi tidak lagi dilihat dan dihargai sebagai bentuk perayaan dari eksistensi dasar manusia. Apa itu?

Jauh sebelum 6 September 2019, kulihat dari beberapa posting di berbagai platform social media, setiap area dengan cara nya mempersiapkan diri, membentuk team dan merancang strategy tetapi hanya wajah-wajah penuh tawa yang selalu kulihat dari posting-posting tersebut. Perayaan bahkan sudah dinikmati jauh sebelum hari Jumat itu.

Bagiku kompetisi adalah sebuah perayaan tentang hidup. Sebuah perayaan bahwa kehidupan masing-masing harusnya menjadi lebih baik setiap harinya, setiap waktunya.

Kompetisi bukanlah event untuk mengalahkan, membinasakan pihak lain. Kompetisi adalah proses untuk menjadi lebih baik dari diri sendiri setiap hari, setiap waktu.

Wajah-wajah gembira hari Jumat itu mengingatkan dan mengajarku tentang siapa kita sesungguhnya sebagai manusia.

written by Roy Hekekire
September 4, 2019 0

suatu pagi, hari Senin, bulan Agustus 1997. Dengan menumpang CN235 Sempati Air almarhum 🙂 untuk pertama kalinya kaki ku menginjak Bengkulu, ibu kota propinsi Bengkulu yang belum banyak dikenal kecuali bagi para penikmat sejarah.

Bagaimana tidak, dikota inilah salah satu founding father kita di “buang”. Di kota inilah Jenderal Raffles asal Inggris menemukan sebuah flora yang kemudian dikenal dengan nama Rafllesia Arnoldi.

Kota Bengkulu terletak tepat di pinggir pesisir Samudra Hindia dengan bibir pantainya yang panjang tetapi mematikan karena dalam dan curam. Melihat begitu strategis nya titik ini bagi Kerajaan Inggris, maka kemudian Raffles mendirikan sebuah Benteng yang dikenal dengan nama Marlborough – benteng ini masih ada dan terpelihara dengan baik hingga saat ini.

Tetapi kemudian Jenderal Raffles menemukan sebuah kenyataan baru bahwa titik strategis Bengkulu tidak akan berumur panjang mengingat hampir semua perjalanan laut kala itu melewati sebuah selat yang dikenal dengan Selat Malaka.

Dengan siasat ini dan itu, Raffles berhasil menukar guling Bengkulu dengan Kota Singa – Singapura yang kala itu dikuasai Kerajaan Belanda.

Perkiraan Raffles ternyata benar, Singapura menjelma menjadi salah satu negara paling kaya di dunia.

Dikota kecil Bengkulu inilah aku menghabiskan 2,5 tahun perjalanan karir dan hidupku.

Tidak banyak yang bisa aku, istriku dan anak sulungku yang berumur kurang dari 1 tahun lakukan. Pusat keramaian kota ini kala itu hanyalah sederet ruko sepanjang jalan Suprapto 🙂

Tidak ada mall, tetapi ada bisokop yang aku kurang mempunyai keberanian untuk masuk dan nonton disitu 🙂

Ke pantai hanya sesekali sambil mengajari anak sulungku berjalan, itupun sesekali berdisko di goyang gempa-gempa kecil yang memang sering terjadi disana.

Tracking ….. hanya sekali kulakukan. Menggendong anak sulungku dengan baby carrier mendaki salah bukit di Curup. Hanya sekali kulakukan karena aku kepayahan …. maklum saat itu berat badanku hanya 48 kilogram …. seperti tulang belulang berbalut kulit hitam, kucel tak terurus ….. dekil.

Sebagai anak muda, miskin pengalaman, pengertian dan kebijaksaan, Bengkulu memberiku, mengajarku dan melatihku banyak hal.

Challenge pertamaku saat itu adalah mengangkat kembali moral team yang hancur lebur karena suatu hal.

Dan karena moral team rendah demikian pun dengan disiplin. Demikian pula hubungan dengan pihak eksternal sampai dititik yang paling rendah.

Pusing 7 keliling aku dibuatnya 🙂

Pagi ini, saat aku memasuki ruangan kerjaku, diatas meja kerja kulihat sebuah paket. Kubuka dengan rasa tak sabar, isinya 3 packs kopi Bengkulu dan sebuah amplop putih yang saat kubuka berisi sebuah kartu ucapan yang bertuliskan : Sebagai ungkapan rasa syukur dan ikut bahagia nya kami, atas pencapaian 25 tahun masa kerja. Semoga Bapak selalu dilimpahkan berkat dari Tuhan dan terus memberikan inspirasi bagi kami semua. dari kami semua TEAM BENGKULU. 

Kuperkirakan hanya kurang dari 10 orang dari teman-teman di Bengkulu yang masih ada saat ini, selebihnya tentu teman-teman baru yang masuk bekerja setelah aku pindah dari kota itu. Aku nggak paham bagaimana mungkin ada kalimat di ucapan tersebut ……. dari kami semua TEAM BENGKULU.

Sebagian besar dari teman-teman di Bengkulu saat ini  tidak kukenal secara personal, bahkan mungkin belum pernah berjumpa tatap muka.

Merinding aku …. rasanya tidak ada hal besar yang aku lakukan. Rasanya aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Karena aku ini bukan siapa-siapa, hanya seorang anak muda sedikit naif, emosional, kurang berpengalaman, pengertian dan kebijaksanaan.

Entah apa yang mereka pikirkan tentang aku.

Kufoto kartu ucapan dan 3 packs kopi Bengkulu itu lalu ku posting di IG Story.

Tak lama kemudian kuterima sebuah pesan dari seorang bernama @Inasafria berbunyi  : Tahun 1997 saat masih jadi anak bocah kelas 1 SMP Bengkulu dan mengenal  pak Roy dan sudah mengidolakan bapak yang humble dengan semua orang 🙂 tetap jadi idola saya sampai sekarang pak.

Maaf @Inasafria, ingatan saya amat sangat terbatas, sehingga saya tidak lagi mengingat kapan dan dimana saya mengenalmu saat kamu kelas 1 SMP Bengkulu. Dan saya tidak tahu bagaimana semua cerita tentang saya kamu dengar, sampai kamu mengirimkan pesan seperti itu? 🙂

Tak lama kemudiam sebuah pesan WhatsApp dari Hadi Sustyo kuterima. Dia menuliskan begini : …. Moga berkenan Pak Roy. 3 Mantra : Learning, Challenge Status Quo, Show me the result, masih terus diingat dan dijalankan Pak

Lain lagi yang Evan kirimkan ke saya. Dia bilang begini : Pak Roy, nanti dikomen ya pak. Kopi nya hasil olahan anak-anak P2P Magnum. Makanya namanya Coffee Mag 🙂

Ini bukan cerita tentang saya. Ini cerita tentang semua manusia, bahwa yang kita lakukan, perkatakan akan selalu meninggalkan jejak, menjadi cerita dan menginspirasi orang atau mungkin sebaliknya.

Bahkan setelah 22 tahun jejak seorang anak muda kurang berpengalaman, pengertian dan kebijaksanaan masih tersimpan di sana.

Bencoolen terima kasih banyak.

note :

* matur nuwun Mas Hadi Susatyo, thanks a lot Evan Dewabrata

* Jajang, Buiston, Itraneldi, Reswan dan …… ah maaf maaf tak mampu lagi kuingat satu persatu nama kalian …… terima kasih banyak

written by Roy Hekekire
September 2, 2019 0

Orang mengenal sebagai Mak Item.

Karena segan bertanya kepada anak sekaligus penjaga warung makan itu maka kutanyakan kepada Chandra dan Dhimas yang menemaniku siang tadi mengapa namanya begitu.

Mungkin karena kulitnya yang memang benar2 hitam, atau istilah Dhimas eksotis jawab mereka berdua.

Warung Mak Item berlokasi di dekat area loading dock Electronic City – SCBD. Tidak begitu besar memang. Disana hanya ada 1 tempat display dari alumunium tempat segala macam lauk-pauk, sayur – mayur, rokok dan beberapa barang dagangan lain yang hanya dijejalkan disana dan disini.

Ada juga 2 buah meja tempat 2 container plastic bermuatan segala macam gorengan dan diujung sebelahnya lagi tempat bersemayam deretan gelas plastik siap untuk menampung apapun minuman pesanan dari para pengunjung warung itu yang sebagian besar para pekerja diseputaran SCBD.

Sungguh kontras antara warung Mak Item diantara segala “kemewahan” kawasan SCBD.

Siang tadi panas sekali, panas sekali. entah sudah berapa botol air mineral yang berusaha mendinginkan tubuhku yang sudah banjir keringat.

Sambil bertanya dan mencari informasi ini dan itu, tiba-tiba Chandra bilang : pak …. ini dalam sehari, rata-rata di warung ini terjual 1.000 gelas, campur ada es teh, kopi panas, kopi dingin.

Berapa? 1.000? kataku kurang sedikit paham. Iya pak …. 1.000 gelas sehari kata Chandra menegaskan.

Di sebelah luar etalase alumunium milik Mak Item terdapat 2 kertas putih yang sdh dilapis laminating. 1 buah berisi daftar rokok dan harganya, sedangkan 1 lainnya berisi daftar makanan dan minuman yang tersedia.

Dari daftar harga makanan dan minuman muncul lah Nasi Uduk sebagai peringkat pertama kemahalannya ….. Rp.6.000. Dan Es Teh Manis sebagai juru kunci dengan harga Rp. 3.000.

Langsung kalkulator Karce 🙂 yang terinstal di otakku yang nggak seberapa ini mulai menghitung.

Taruhlah hanya Es Teh Manis yang terjual seharga Rp.3.000 x 1.000 gelas …… bukankah itu berarti Rp. 3.000.000 ……. hah Rp. 3.000.000 sehari…… yang benar aja, hanya untuk urusan Es Teh?

Untuk menghindari blog ini sebagai soal cerita ujian matematika, maka kusederhanakan saja. Anggap modal untuk beli teh, gula, gelas plastik dan es semahal-mahalnya separo dari harga jual yang Rp.3.000 itu, sehingga Mak Item menghasilkan Rp.1.500.000 setiap hari dari gelas-gelas minuman.

Jika dalam sebulan warung Mak Item buka 25 hari maka setiap bulannya dari urusan es teh manis beliau bisa menghasilkan Rp. 75.000.000 gross !!! atau paling tidak setelah potong modal, ongkos ini dan itu Mak Item bisa membawa penghasilan sebesar Rp. 37.500.000 / bulan !!!

Langsung jadi ingat yang sempat viral beberapa waktu yang lalu, saat seseorang berkicau tentang kepantasan “harga” fresh graduate jebolan universitas ternama 🙂

Mak Item bisa jadi tidak lulus dari mana-mana tetapi dari kesederhanaan warung dan usahanya aku belajar …… bahwa kenyataan seringkali berbeda dibandingkan oleh apa yang tertangkap oleh mata.

written by Roy Hekekire
September 1, 2019 0

sehari-hari terutama dimalam hari ketika aku sedang terbangun dari tidur untuk toilet, aku selalu melihat anak sulungku sibuk dengan iPhone ditangannya.

rasanya hampir setiap malam aku melihatnya begitu. entah apa yang membuat begitu setia dengan gadget ditangannya.

sampai suatu ketika aku menegur dia. Bang …. apakah ada gunanya malam-malammu kau habiskan dengan scroll social media dan main games? bukankah lebih baik kamu tidur supaya besok pagi kamu bangun segar dan bisa produktif?

bukannya merespon dengan positif seperti harapanku tetapi dia malah berkata : Dad, don’t judge me … you kan nggak tahu aku ngapain dengan iPhone ku? benar aku sesekali main games, benar aku sesekali scroll social media, tapi you tahu kan nggak aku sedang baca dan belajar dari beberapa artikel dan ebook tentang beberapa hal yang aku perlukan untuk melengkapi pengetahuanku tentang usaha yang sedang aku mulai. aku sudah baca ini, itu, ini, itu, ini dan itu …….you kan nggak tahu kan Dad?

duer …. merah mukaku, bukan karena marah tetapi malu.

suatu foto yang menarik kulihat di sebuah social media, yang menampakkan seorang pangeran Inggris turun dari mobil dan tampak dari angle si pewarta foto sang pangeran menunjukkan jari tengah nya kepada para kerumunan yang menyambutnya.

dari social media yang sama pula akhirnya aku mengetahui bahwa dari angle pewarta foto yang lain ternyata sang pangeran sedang melambaikan tanggannya dan bukan sedang menunjukkan jari tengahnya 🙂

seorang bijak mengatakan 1 fakta yang kita ketahui tidak bisa menjelaskan secara keseluruhan dari sebuah kebenaran cerita yang sesunguhnya.

praduga, atau presumption dalam bahasa Inggris juga diartikan sebagai anggapan, dugaan, kesombongan, sangkaan, kepongahan.

itulah yang kualami dengan anak sulungku yang selalu ada iPhone ditangannya. dengan kesombongan seorang bapak, dugaan bahwa aku mengetahui semua tentang anakku lalu dengan mudahnya menegur bahwa dia hanya main games dan scroll social media.

kebenaran fakta yang kuketahui ternyata bukan satu-satunya fakta, masih ada fakta lain yang tak kuketahui.

sang pangeran Inggris ternyata benar-benar sedang melambaikan tangannya dan bukan sedang menunjukkan jari tengahnya.

praduga memang sungguh berbahaya. asumsi itu menjerumuskan. 1 fakta yang kita ketahui mempunyai banyak sekali keterbatasan untuk ditarik menjadi sebuah kesimpulan.

kata bijak yang kubaca berkata : don’t assume – just ask ! jangan berasumsi – tanya.

asumsi atau dugaan adalah awal mula segala “drama” yang terjadi. banyak hubungan rusak karena nya.

sebuah “like” dengan symbol jempol di sebuah platform social media mungkin terlihat netral, tetapi bagaimana dengan “like” dengan symbol “cinta” ….. apakah bisa diartikan apresiasi yang diberikan adalah ungkapan dari cinta? konyol bukan? kalau memang benar begitu berapa kali sekali kita jatuh cinta hanya karena memberikan “like” di sebuah platform social media. Konyol dan bahkan mungkin terlihat bodoh bukan? 🙂

lebih gawatnya lagi keterbatasan fakta yang mampu diperoleh tetap tidak menyurutkan nyali untuk men judge atau menghakimi.

karena malas bertanya, gengsi bertanya, malu bertanya, segan bertanya atau segudang alasan lain pertanyaan tak juga kunjung disampaikan. dikombinasikan dengan rasa kesombongan diri : aku sudah tahu, biasanya juga begitu, dulu juga begitu … langsung menyimpulkan, melemparkan tuduhan dan makin runyam rusaklah hubungan.

bahkan seandainyapun semua fakta sudah terkumpul dan kesimpulan sudah dihasilkan apakah tuduhan tetap akan di suarakan?

sebuah kata bijak berkata : judge others ONLY if you are perfect.

written by Roy Hekekire
September 1, 2019 0

Beberapa tahun setelah kami menunggu cukup lama, akhirnya seorang anak perempuan datang melengkapi anggota keluarga kami.

Memiliki anak perempuan sontak membuat saya dan istri – seperti keluarga lain juga rasaya J – lupa diri dan lapar mata membeli ini dan itu untuk mempercantik anak perempuan kami. Baju berwarna ini dan itu, sepatu model ini dan itu, pita, jepit rambut, kaos kaki motif ini dan itu dan juga perhiasan.

Memang kupikir berlebihan, tetapi tetap saja godaan itu sedemkian besar nya …. Teman2 yang mempunyai anak perempuan pasti paham situasi iniJ

Sampai suatu ketika bahkan bahkan saat anak ini belum becus jalan sendiri di kedua daun telinga terselip sepasang anting keluaran merk dunia ternama yang amat sangat berlebihan dipakai seorang anak balita. Dan benar suatu ketika kami berlibur di sebuah pantai di Bali salah satu antingnya lenyap entah kemana. Suster perawatnya kalang kabut dibuatnya, Ibunya sewot nggak tahu sama siapa J

Beberapa saat anak kami hanya menggunakan 1 anting disalah satu daun telinganya dan …….. lagi-lagi godaan datang menghampiri ….. ganti anting. Rupanya lagi kami berdua tidak cukup belajar dari peristiwa sebelumnya, anting pengganti dibeli, serupa tidak wajarnya untuk dikenakan untuk seorang anak perempuan yang masih mengompol J

Beberapa saat di kedua daun telinganya bertengger indah sepasang anting dengan kilau, semakin mempercantik anak perempuan kami tentu saja J

Tetapi benar peristwa Bali terulang kembali tetapi kali ini kami bahkan tidak tahu dimana hilangnya.

Akhirnya kami menyerah dan mengganti dengan anting ala kadarnya.

Suatu ketika, Jasmine – demikian kami memanggil gadis kecil kami – panas dan makin panas saja tampaknya. Tidak pilek, tidak batuk, tidak jatuh, tidak salah makan tetapi badannya panas, panas tinggi. Setelah kami teliti perlahan-lahan kami melihat antingnya hanya tinggal 1 yang menempel di telinganya. Kami periksa lagi dengan lebih teliti ternyata di daun telinga yang tidak ada antingnya terlihat memerah dan dia menjerit kesakitan saat disentuh. Ya ampun rupanya entah bagaimana anting yang model tusuk tersebut masuk terbenam di cuping daun telinganya.

Kami kalang kabut dan segera membawa Jasmine ke dokter untuk “menyelesaikan” dengan cara adat urusan anting yang terus menerus menteror kami berdua J. And done ….. selesai, infeksi disembuhkan, beres seberes beresnya tetapi ……. anak kami ini jadi kapok memakai anting.

Sejak saat itu bahkan sampai menyelesaikan high school di kedua daun telinga tidak pernah terlihat ada anting yang dipakainya -apalagi segala macam perhiasan seperti kalung dan gelang. Anak gadis kami bertumbuh menjadi remaja dan masuk ke usia 17 tahun tanpa embel-embel perhiasan yang sewajarnya digunakan remaja seusianya.

Karena semakin remaja dan suatu ketika tentu akan menjadi dewasa – kami sering mengingatkan nya …. dek nggak mau pakai anting? Belum juga kering bibirku bicara dia sudah menjawab … nggak J dia menjawab galak – mirip gayaku kalo sedang sebel J

Suatu ketika dimalam yang kudus J istriku memeriksa beberapa gelintir perhiasannya, mana yang akan disimpan dirumah dan mana yang akan disimpan di SDB. Aku melihat ada gelang dan kalung, ku ambil kedua benda itu dan langsung kabur ke kamar anak gadisku.

Dek…coba pakai ini, kutunjukkan sebuah gelang dan langsung kupakaikan di tangannya. Bagus dad, katanya. Aku tersenyum.

Kalo ini bagaimana, sambil kutunjukkan sebuah kalung. Lalu aku bercerita, dek ini kalung dulu dibeli almarhum Oma buat Papa supaya dipakai sebelum Papa pergi merantau dari kota ke kota. Oma bilang supaya dengan kalung ini Papa ingat dari mana Papa berasal. Kamu mau pakai kalung ini? Dia mengangguk dan segera kubantu dia memasang kalung itu dilehernya.

Woila ….. gadisku sudah memakai perhiasan sederhana – sebuah tanda umum dari seorang gadis remaja.

Tetapi tetap saja sewaktu kusinggung tentang anting, Jasmine masih juga menggelengkan kepalanya tanda belum berminat J

Sekitar bulan April, anakku ini – hanya bersama Ibunya dan beberapa sepupu yang semuanya perempuan – jalan-jalan ke beberapa kota di Korea Selatan. Tidak lama sejak dia pulang dari negaranya BTS dan Black Pink, anakku ini tanpa didahului dengan tanda-tanda semacam angin keras, mendung dan geledek halilintar tiba-tiba saja bilang ….. aku mau pakai anting J. Tentu saja aku bertanya ada cerita apa rupanya? Dan Jasmine cerita bahwa Tania, Gabby dan Audrey ke 3 sepupunya heboh berburu anting dll selama jalan-jalan tersebut tetapi Jasmine hanya bengong nggak tahu harus ngapain dan dia berpikir coba masih ada lobang tindik di telinganya? J

Hanya beberapa hari sebelum Jasmine pergi ke Boston untuk masuk ke universitas pilihannya, untuk kedua kalinya Jasmine di piercing dan mulailah dia mengenakan anting sederhana melengkapi sebuah gelang dan kalung.

Saat kupandangi dia lekat-lekat di airport sewaktu aku mengantarnya pergi ke Amerika aku baru menyadari gadis kecilku sudah tumbuh sempurna menjadi gadis remaja. Cantik, periang, bersahaja tetapi pemikir dan sesekali galak. Kombinasi sempurna antara Ibu nya dan aku J

written by Roy Hekekire
August 28, 2019 0

2 orang anak muda, keduanya berumur 22 tahun. keduanya adalah mahasiswa di salah satu institut teknik di kawasan Bekasi. mereka berdua duduk tepat didepanku. yg disebelah kiri dengan sedikit berewok tak rapi adalah seorang pengemudi ojek daring.

yang satunya, berperawakan kurus tinggi adalah buruh di salah satu pabrik minuman murah di sebuah kawasan industry ternama di Bekasi.

seorang pengemudi ojek daring yang mahasiswa dan seorang buruh yang mahasiswa. siang mereka bekerja, malam mereka belajar.

lalu aku bertemu dan berkenalan dengan seorang Ibu separoh baya, beranak 2 tetapi menjadi 5 karena 3 orang anak kakaknya sudah tinggal bersamanya sejak kecil. seorang janda, ditinggal mati suaminya dengan cicilan ini dan itu setiap bulannya Rp. 30.000.000.

dari kondisi sedih, putus asa karena beban cicilan peninggalan suami, Ibu ini bangkit dan mengembangkan usaha warungnya yang dengan cepat tadi kuhitung perputaran dan penghasilannya sudah cukup menarik bagi penarik pajak untuk melirik 🙂

Ibu Siti tinggal di gang kecil di kawasan Pulogadung, saluran air beberapa meter dari warungnya luar biasa busuk baunya. beranak 3, bersuami. mereka tinggal di warung yang merangkap tempat tinggal mereka. 24 jam terus menerus warungnya buka.

dengan antusias Ibu yang sederhana ini bercerita awal perkenalannya dengan perusahaan tempatku bekerja dan bagaimana semua usaha yang dirintisnya berubah menjadi seperti saat ini sejak terlibat dan belajar dalam usaha pengembangan usaha kecil dan mikro yang digagas perusahaan kami.

Dalam bahasa Jawa yang aku mengerti Siti berarti tanah atau bumi.

2 orang anak muda dan 2 orang Ibu separoh baya yang benar2 menginjak tanah, sadar dan menerima kenyataan hidup tetapi kaki2 mereka tidak terpaku diam, kaku tak bergerak di tanah yang mereka injak masing2.

mereka bergerak, sedang melangkah ke tanah yang sedikit berumput, mungkin ada beberapa pohon tempat berlindung dari panas, dari hujan.

dari 4 manusia sederhana yang kutemui hari ini aku melihat mimpi2 yang sedang diperjuangkan.

written by Roy Hekekire
August 27, 2019 0

kira2 jam 2 siang, matahari Jakarta sedang panas2nya, membakarku dari ujung kepalaku yang tak berambut sampai ke ujung kaki yang tertutup rapat sepatu. basah kuyub pakaian sampai kedalam2.

sekumpulan para pengendara ojek daring berkumpul.

ada yang sekedar melepas lelah sambil memesan dan menikmati makan siang mereka yang terlambat, ala kadarnya hanya dengan telor dadar yang setipis helai kain dan sejumput terong dimasak cabai.

ada yang hanya duduk2 sambil mengisi kembali batere telepon selular masing2.

beberapa diantaranya ada yang mengantri menukar jaket warna hijau yang mulai pudar lusuh dengan yang baru.

disuatu sudut, stand kredit motor tampak sepi.

wajah2 kelelahan menguasai lokasi istirahat mereka, panas, tanpa AC, hanya beberapa kipas besar yang disediakan provider layanan ojek daring tersebut.

tak tampak terlihat obrolan apalagi senda gurau. masing2 sibuk melepaskan penat sejenak, mendinginkan diri dari ganasnya matahari Jakarta dan serbuan debu yang tak berhenti siang itu.

kira2 berumur sedikit lewat 30 tahun. berasal dari Sumenep – Madura. seorang ex perawat di salah satu rumah sakit di Jakarta Utara. seorang Bapak beranak 2. hari ini kutemui dia di warung kelontong miliknya yang baru dirintis sejak 3 tahun yang lalu.

kutanyai dia mengapa memilih berhenti menjadi perawat dan membuka usaha warung kelontong. lalu dia bercerita bahwa para perawat senior di rumah sakit tempatnya dulu bekerja kurang sukses hidupnya tatkala tua membuatnya berpikir.

lalu laki2 ini memutuskan berhenti dan membuka warung kelontong di sebuah jalan tidak begitu besar di wilayah Jakarta Barat. saat ini warung kelontongnya sudah beranak 3 ….. ya 3!

didalam mobil, dalam perjalanan kembali ke kantor aku berpikir dan merenung betapa hidup manusia, membanting tulang, berupa segala daya.

ada yang hanya sekedar menyambung hidup, bertahan tak tergoda banyak pilihan pekerjaan yang bisa menghasilkan puluhan ratusan kali lipat dengan cara tak wajar tetapi ada pula yang sudah mulai menemukan jalan memperbaiki hidup seperti laki2 dari Sumenap yang kutemui siang tadi.

beberapa waktu yang lalu dari sebuah media aku membaca seorang perempuan muda yang segera setelah diwisuda dari universitas negeri ternama di Semarang Jawa Tengah berfoto dengan mengenakan jaket hijau salah satu ojek daring terkemuka. gadis muda ini rupanya sudah menekuni sebagai pengemudi ojek daring disela2 jadwal kuliah sekedar memastikan biaya pendidikannya tercukupi. foto dengan jaket hijaunya tepat setelah acara wisuda seperti hendak mengatakan sesuatu kepadaku.

namanya Sellha Purba, seorang gadis cantik yang kulihat fotonya dari media online yang beberapa waktu lalu menjadi viral karena pekerjaannya sebagai petugas penyapu jalan sekitar Kelapa Gading Jakarta. antara paras cantik dan penyapu jalan …. suatu kombinasi yang sulit dipahami saat ini, lalu jadilah viral.

masih banyak lagi cerita serupa yang tak akan habis dituliskan dan diceritakan.

hidup memang selalu menyediakan pilihan dan menuntut kegigihan. selalu ada pilihan. selalu ada pilihan.

hari ini aku belajar dari para ojek daring tentang arti kegigihan dan seorang laki2 dari Sumenep tentang menentukan sebuah pilihan.

di Daan Mogot jam 2 siang aku belajar tentang kegigihan dan menentukan sebuah pilihan.

written by Roy Hekekire
August 19, 2019 0

kembali ke sebuah gedung kantor tempat ku bekerja beberapa tahun yang lalu, tidak lama hanya 2 tahun disini. tetapi bukan sembarang gedung kerena tempat ini adalah salah satu tempat darimana salah satu perusahaan raksasa di negeri ini dibangun dan berkembang.

sudah banyak perubahan dari sisi design interiornya dibanding sebelumnya. lebih modern dengan warna warni disana sini, susunan meja kerja yang lebih terbuka dan woila ….. ada cukup banyak spot-spot untuk duduk lebih santai sambal berdiskusi dengan lebih rileks. kantor ini sudah berubah.

berusia 106 tahun dan berubah …. bukan hal yang mudah dilakukan tentunya mengingat sejarah yang panjang dengan segudang cerita dan peristiwa penuh nostalgia  menguras emosi dan cenderung membawa kita kembali ke masa itu.

tadi pagi berangkat dari hotel tempatku menginap menuju ke kantor legendaris ini aku menumpang sebuah taksi yang dikemudikan pak Hadi Ramono, kutaksir berusia mendekati 60 tahun. pak Hadi tidak banyak bicara sepanjang perjalanan, hanya fokus mengemudi, sangat cekatan dan cenderung mengebut 🙂

tidak tahu bagaimana asal mulanya karena aku asyik memeriksa beberapa pesan masuk di cell phone ku, tiba2 mobil di rem dengan sangat mendadak, aku tersontak dan mobil zig zag beberapa saat dan terdengar derit ban yang lumayan kencang lalu kemudian pak Hadi membanting setir ke kiri untuk menghindari benturan dengan mobil didepan yang hanya beberapa meter jauhnya setelah sebelumnya dengan cepat beliau menengok ke kaca spion untuk melihat apakah ada mobil dari belakang yang melaju kencang.  selamat kami dari kecelakan pagi itu.

kaca spion yang kecil itu menjadi salah satu perangkat vital pagi itu.

sesekali melihat kebelakang untuk sejenak melihat apa yang sudah aku lewati, belajar dari peristiwa2 yang terjadi dan bersyukur untuk semua peristiwa baik dan buruk untuk selanjutnya melanjutnya perjalanan.

benar, melanjutkan perjalanan, berpikir kedepan dan melangkah maju, terus maju.

karena terus menerus menoleh kebelakang hanya akan menjebak diriku sendiri pada semua peristiwa nostalgia.

easier said than done ….. untuk berubah memang jauh lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. itu sebabnya seringkali aku berkeinginan untuk berubah tetapi tetap saja diam ditempat atau bahkan terus kembali dalam kehidupan masa lalu.

aku belajar bahwa komitmen saja tidak cukup TETAPI perlu melangkah untuk melakukan sesuatu yang benar2 baru. doing my first step over and over again until become my habit.

kalimat bijak berkata : melakukan hal yang sama tetapi mengharapkan sesuatu hasil yang berbeda sejatinya adalah sebuah kebodohan besar.

lalu aku bertanya pada diriku sendiri : aku sudah banyak melakukan kesalahan, banyak sekali jalan salah yang ku pilih dan rasanya tak bisa lagi kuhapus semua kesalahan itu. lalu aku harus bagaimana?

tentu saja masa lalu tak mungkin bisa dihapus. justru dari masa lalu lah aku bisa berkaca untuk menentukan langkah kedepan selanjutnya bukan? lagipula bukankah setiap orang mempunyai masa lalu dan kesalahannya masing2?

seperti kaca spion yang selalu lebih kecil dibanding kaca depan pada sebuah mobil tentu ada maksudnya.

pertanyaan utamanya adalah : apakah ingin maju, diam ditempat atau bahkan mungkin kembali kemasa lalu? tidak ada pilihan lain kurasa.

jika ingin maju kedepan tak ada pilihan lain selain melihat kaca depan lebih fokus dan lebih sering dibanding melihat kaca spion.

gimana kalo kaca spion nya rusak karena disenggol atau ditabrak kendaraan lain? 🙂

(1) tentu perlu ku review bagaimana caraku mengemudi? teledor kah, ugal2an kah? tidak disiplinkah? jika jawabannya ya tentu saja aku harus merubah caraku mengemudi dengan lebih baik dan hati2.

(2) segera ganti kaca spion. dan memastikan kaca spionku tidak lebih besar dari kaca depan

bagaimana menurutmu?

written by Roy Hekekire
August 18, 2019 0

dari lantai 2 dia turun ketika dilihatnya aku duduk sendiri di ruang tengah.

seketika dia bertanya : you ngapain Dad? ….. beberapa saat aku hanya diam dan kujawab : Papa sedih.

dia menghampiriku, ikut duduk bersamaku. dia diam, aku diam. dan dia terus diam.

cukup lama kami berdua duduk dalam diam……sunyi, tidak ada yang berbicara.

anak sulungku memang irit bicara – kecuali saat ada ide besar yang dia akan diskusikan, bahkan kami pernah bicara berdua, berdiskusi berjam2 diteras rumah tepat dimalam tahun baru :).

dalam diamnya, dalam perasaan sedih yang pasti dirasakannya juga, anakku ini berusaha menolongku, menolong bapaknya….hanya dengan duduk disampingku dan diam tak bersuara.

begitu juga Mikey dan Milo….tak seperti biasanya  yang selalu ribut berebut botol plastik kosong atau keset rumah….malam itu mereka juga diam, tidak ada yang berisik.

2 orang laki2 dan 2 ekor anjing jantan …… semua terdiam dengan pikiran dan perasaan masing2.

laki2 memang punya caranya sendiri mengatasi perasan. tidak dengan bicara, tetapi dalam diam.

written by Roy Hekekire
August 17, 2019 0

hari itu akhirnya tiba juga. kuantar dia ke airport. gadis kecilku sudah melangkah menuju sebuah kota 15.980 km jauhnya dari Jakarta.

sebelum berangkat, kupanggil dia ke kamar tidurku, kupeluk dia yg duduk disampingku, kuciumi rambutnya, kupegang erat tangannya.

tak kuat juga aku menahan perasaanku – sambil aku berkata : hanya 1 hal yang Papa minta dari kamu, ingat selalu dari mana kamu berasal. pikirkan itu baik2 ya dek.

gadis kecilku tidak berkata apa2, dia hanya menganguk dan kulihat air mata menetes dari kedua buah matanya.

lalu kuajak dia berdoa.

tujuh belas tahun lalu kujemput dia dari rumah sakit. kurawat dia, kujaga dia, kubesarkan dia dengan sebaik yang aku bisa lakukan.

hari ini kulepas dia pergi. tak bisa lagi kujagai dia setiap hari. memenuhi permintaannya di tengah malam supaya dibelikan ice cream, atau mengantar nya makan kuetiaw kesukaannya, memijat tangan dan betisnya kalo datang manjanya.

sesampai dari airport, rumah terasa berbeda sama sekali……sepi. kumasuki kamarnya…bau khas kamar anak yang beranjak gadis…wangi. kupandangi sekeliling, kubuka lemari bajunya, kupegangi beberapa bajunya dan selimut yang dipakainya siang tadi……runtuh pertahananku….aku menangis, antara bahagia dan sedih. anakku benar-benar sudah pergi.

benar-benar tak kusangka seperti ini rasanya. tak ada kata yang bisa kurangkai menjadi kalimat untuk menggambarkan perasaanku.

Jasmine, bunga melati ku terus bertumbuhlah anak ku …. mewangi seperti nama mu.

written by Roy Hekekire
August 1, 2019 0

25

selesai makan siang, sebuah email masuk ke Inbox. kubuka dan ternyata sebuah undangan untuk datang dan menerima Peniti Emas – sebuah penghargaan bagi setiap karyawan dengan masa kerja 25 tahun yang diberikan setiap kali perusahaanku memperingati hari jadinya di bulan Agustus.

lumayan kaget, campur aduk perasaan, nggak jelas mana yang lebih dominan karena setiap tahun aku pun juga menerima undangan serupa tetapi biasanya salah satu atau beberapa anggota team ku yang menerima penghargaan ini, tetapi kali ini aku harus datang sendiri karena salah satu penerimanya adalah aku.

25 tahun? really? selama itukah sudah aku di company ini?

rasanya baru kemarin di recruit, ditraining, dikirim kesana kemari. tahun ini sudah 25 tahun? ah yang bener? salah hitung kali ya? – denial mode on 🙂

karena bingung nggak tahu bagaimana harus bereaksi langsung kukirim message ke istriku dan salah satu group yang berisi 3 orang teman – kami menyebutnya Boy Band – nggak jelas kapan juga kami main band :), boy? tambah nggak jelas lagi …. 🙂

ada yang menarik dari salah satu response yang kuterima ….. jadi separo umur di company ya? ….. u la la …… benar juga ya separo dari umurku ada di company ini. dan itu juga berarti aku tumbuh menjadi dewasa di company ini.

langsung ingatan terlempar January 1994, tanggal 17, hari Senin, hari dimana aku sign contract dalam program Management Trainee.

sejak saat itu bersama company ini aku merasakan pahit dan manis, suka dan duka, dari satu perubahan ke perubahan lainnya ….. sebuah company yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, yang mengajariku banyak hal, yang memberiku ruang dan kesempatan untuk berbuat salah dan memperbaikinya, sebuah company yang memberiku kebebasan untuk berkembang sesuai dengan potensiku, sebuah company yang membuatku bertemu dengan orang-orang yang kemudian menjadi keluarga ke 2 ku.

apakah hanya itu? tentu saja tidak!

ada kalanya frustasi, putus asa dan berpikir untuk keluar bahkan sudah sampai tahap serius. but again family is family ….. sometimes we argue, bahkan bertengkar, marah, dll dll …. but in the end family stick together to face and solve our problem.

company ini memang bukan yang paling sempurna tetapi sudah menjadi DNA kami untuk Striving for Excellence …. bukankah itu lebih menarik dan menantang?

ditengah proses transformasi yang sedang terjadi di company ini baik di level global atau local Indonesia, tentu saja aku menjadi penasaran apa yang akan terjadi, proses apa yang akan dilalui dan akhirnya akan menjadi seperti apa kelak … disaat itulah aku disadarkan bahwa 25 tahun sudah aku disini!

memang pengalaman bukanlah segala BUT dengan jam terbang segitu lama, pengetahuan tentang market, bisnis, organisasi dan orang2 yang ada disini masak iya tidak ada yang bisa aku lakukan lagi untuk terlibat aktif dalam proses perubahan ini? masak iya cuma jadi penonton dan jadi objek dari perubahan?

yang ada dipikiranku saat ini cuma 1 yaitu : aku ingin melihat akan seperti apa company ini 5 tahun dari sekarang? akan seberapa transform dibandingkan tahun 1994 tahun aku bergabung disini?

lebih dari sekedar penasaran karena keterlibatanku tentu sedikit banyak akan juga mempengaruhi bagaimana organisasi ini akan berjalan dan berubah.

25 tahun hanyalah sekedar angka karena aku #menolaktua 🙂

Sampoerna terima kasih!

written by Roy Hekekire
July 26, 2019 0

namanya Dewi Febriyanti, seorang gadis siswi sebuah SMP di Tangerang yang berjualan bakpao di Pompa Bensin sebelah Perubahan Ubud, Tangerang, sepulang sekolah hingga tengah malam. bahkan apabila ada pekerjaan rumah dari sekolahnya maka Dewi akan mengerjakannya sambil berjualan.

kisah Dewi mengetuk hati banyak pihak hingga muncul sebuah gerakan untuk menggalang dana untuk mensupport gadis remaja ini untuk meneruskan sekolahnya.

namanya pak Catur, driver yang menemaniku setiap hari menempuh macetnya jalanan Jakarta. rumah pak Catur berjarak 40 km dari tempat tinggal ku. yang artinya beliau harus menempuh 80 km setiap hari pergi dan pulang dengan menaiki sepeda motornya yang sederhana.

jam 5 pagi pak Catur sdh harus berangkat dari rumah dan kembali lagi sampai ke rumahnya di Cileungsi jam 10 malam. tentu saja dengan keadaan capek luar biasa.

beliau mempunyai 3 orang anak, yang terkecil baru di level PAUD. sehingga saban hari beliau hanya mempunyai beberapa jam saja bertemu, berbincang, bermain dengan ketiga orang anaknya.

tidak ada yang aneh dengan kedua ceritaku tadi. hal sangat biasa yang terjadi dalam kehidupan sebagian kita.

kisah inspiratif Dewi tentu bukan satu2nya cerita. terlalu banyak cerita seperti ini. seseorang yang mengorbankan masa kecil, masa remajanya untuk mendukung cita2 yg mereka miliki masing2.

masa bermain dan berexplorasi dengan sengaja dilepaskan untuk mendapatkan sesuatu yang lain – uang, yang kemudian uang tersebut akan juga mereka lepaskan supaya  mendapatkan pendidikan, kesehatan atau sesuatu yang lain.

pak Catur melepaskan waktu yang dimiliki untuk mendapatkan sesuatu supaya ke tiga orang anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik, termasuk sekolah dan pendidikan mereka.

kehidupan memang aneh. kehidupan pada hakekatnya adalah sebuah proses untuk melepaskan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang pada waktu nya akan dilepaskan juga.

tidak satupun yang diperoleh dalam hidup yang tidak akan dilepaskan.

itu lah hidup

written by Roy Hekekire
July 25, 2019 0

rasanya baru kemarin Almarhum Ibu Mertuaku menggendongnya dari kamar bersalin dan ditunjukkannya padaku seorang anak perempuan merah dan gosh …. keningnya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.

ketika tumbuh menjadi kanak-kanak rambutnya yang ikal, kegemarannya menyanyi dan menari menjadi magnet utama yang membuatku ingin cepat-cepat pulang kerumah.

lambat laun gadis kecilku ini menjadi begitu doyan bicara, bercanda dan masih konsisten dengan kegemarannya menyanyi dan menari.

High Scholl Musical dan Glee adalah favoritnya yang ditontonnya setiap kali gadisku ini pulang dari sekolah.

tanpa aku tahu dari mana asal mulanya Jasmine – begitu kami memanggilnya begitu getol belajar Bahasa Inggris dari video-video yang dia tonton.

Jasmine berkembang menjadi remaja yang periang, suka bercanda tetapi disisi lain seorang serius dan pemikir.

kesukaannya menyanyi dan menari serta sifat periangnya menjadikan membawa keceriaan dan keriaan di rumah kami.

sehari saja Jasmine tidak dirumah, rasanya sepi dan aneh sekali.

beberapa hari lalu, beberapa kopor ukuran besar dibawa turun dari tempat penyimpanan. baju2 nya sudah mulai dikeluarkan dari lemari.

anak gadisku yg 2 bulan lalu baru genap 17 tahun sedang berkemas untuk pergi jauh 23 jam penerbangan dari Jakarta.

antara bahagia, haru dan sedih aku melihat pemandangan sedikit berantakan kopor-kopor dan baju-bajunya.

bahagia ketika akhirnya Jasmine sebentar lagi akan pergi kesuatu tempat yang menjadi cita-citanya sejak kecil …… Amerika Serikat!

haru karena ke muda annya tidak menyurutkan nyali dan ketabahannya pergi jauh, tinggal sendiri jauh dari semua kemanjaan yang dia peroleh sebagai anak bungsu.

Jasmine memang dimanja bahkan oleh Esa, abangnya. begitu sayangnya sama sang adik semata wayangnya bahkan anak sulungku ini selalu membawakan tas-tas belanjaan Jasmine saat kami pergi ke mall untuk berbelanja. laksana putri saja … Jasmine hanya melenggang sementara sang Abang berjuang membawa bungkusan-bungkusan belanjaan si adik.

sedih saat aku membayangkan bagaimana rumah dimana abangnya, istriku dan aku akan tinggal bertiga ditinggal si cerewet pergi jauh.

Lovena Jasmine Theodore ….. Bunga Melati Tercinta Pemberian Tuhan …. pergi lah anakku, gapai cita-citamu.

walau juga kamu belum pergi, Papa sudah rindu.