lebih baik

5 minutes, 12 seconds

Di tulisanku sebelumnya, aku mengatakan hanya ada 2 juta investor di Indonesia alias hanya 0,8% saja, menguasai 49% dari total investasi di pasar bursa. Bahkan jika dibandingkan dengan jumlah kelas menengah yang sebesar 59 juta maka angka 2 juta itu hanya 3,4% saja.

Pertanyaannya adalah apakah 57 juta orang kelas menengah lainnya tidak menginvestasikan uangnya? Jika jawabannya tidak maka tentu saja mengerikan sekali? Middle income trap atau apa?

Secara sederhana Middle Income Trap ditandai dengan peningkatan pengeluaran/belanja seiring dengan peningkatan pendapatan. Contoh : Pendapatan 10 juta/bulan. Pengeluaran 9 juta/bulan – Investasi 1 juta/bulan. Tahun berikutnya Pendapatan naik 10% menjadi 11 juta perbulan. Pengeluaran menjadi 10 juta/bulan – Investasi tetap 1 juta/bulan.

Apakah itu yang terjadi? Saya nggak ngerti, perlu research yang lebih mendalam dan rasanya juga nggak cocok dituliskan di blog ku ini πŸ™‚

Dan mungkin akan sangat menarik untuk mengetahui Financial Literacy masyarakat kita, baik kelas menengah ke atas atau masyarakat keseluruhan.

Financial Literacy atau melek finansial atau kecerdasan finansial perlu dimiliki oleh seseorang yang menghendaki kehidupan yang berkecukupan dan terhindar dari Permanent Poverty atau kemiskinan permanen.

Paling tidak ada 3 hal dalam Financial Literacy yang harus diketahui yaitu, (1) making money skills alias pinter cari duit (2) investing skills alias menghasilkan uang dengan uang (3) spending money skills alias β€œjago” belanja πŸ™‚ ……. BUT yang point no.3 jangan sampai salah paham y guys πŸ™‚

Sayangnya ke 3 hal tersebut kayaknya nggak pernah kita pelajari di sekolah kita dulu. Tetapi nggak ada gunanya mencari siapa yang salah, siapa kambing hitamnya. Akan jauh lebih produktif kalau belajar aja sendiri.

Setiap orang yang bekerja, anggap aja masing-masing sudah mempunyai making money skills. Jadi tulisanku ini tidak akan buang waktu berbicara tentang poin ini ya? πŸ™‚ besar atau kecil uang yang dihasilkan bukan masalah. At least kita sudah menghasilkan terlebih dulu. Itu adalah starting poin.

Sebelum berbicara tentang investing skills ada baiknya aku lompat dulu ke poin spending money skills. Tetapi sebelumnya aku ada pertanyaan nih : siapa yang selama 1 bulan ini lebih banyak mengeluarkan uang untuk berbelanja dibandingkan uang yang dihasilkan dari investing? Pertanyaan selanjutnya : apa sih yang kalian beli? Kebutuhan premier kah? secondary kah? tertiary kah? Pertanyaan terakhir : apakah sesuatu yang kalian beli tersebut akan menghasilkan gain atau return dalam jumlah tertentu dimasa depan?

Supaya nggak terdengar seperti kotbah atau menggurui, rasanya kalian sudah mulai nangkap maksud ke 3 pertanyaanku di atas kan ya? πŸ™‚ jadi aku stop sampai di sini saja πŸ™‚

Spending skills sangat dipengaruhi oleh self-dicipline alias mengekang godaan hawa nafsu berbelanja πŸ™‚ Belanja apa pun itu termasuk berbelanja kebutuhan premier pun tak lepas dari godaan hawa nafsu. Semakin nafsu berbelanja tak terkontrol semakin memperbesar kemungkinan untuk tidak bisa masuk ke investing skills. Mengapa? Ya jelas lah …. Untuk investing kan perlu modal. Modal tentu saja didapat dari saving. Dan saving adalah uang yang tidak dibelanjakan! …… oh tapi bisa juga sih modal didapat dari warisan atau pampasan perang πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Tentang investing skills sebenarnya nggak ribet-ribet amat. Skills ini nggak lebih dari sekedar mencari cara dan jalan yang paling memungkinkan untuk mendapatkan sesuatu dimasa depan dengan modal yang dimililki saat ini.

Contoh : dalam 2 tahun ke depan si Alex ingin liburan ke Bali. Biaya flight, hotel, beer  dll dianggarkan IDR20 juta. Saat ini Alex mempunyai modal IDR10 juta. Sehingga Alex harus mencari cara untuk menutup gap sebesar IDR10 juta, alias Alex harus mencari 50% sisanya.

Lalu Alex mencoba mencari tahu instrument investasi apa yang paling memungkinkan dan β€œmenjanjikan” gain 50% selama 2 tahun. Jika tabungan atau deposito di Bank hanya memungkinkan mendapatkan return 6-7% setahun gross maka tentu tabungan atau deposito tidak layak untuk dipilih.

Alex tentu saja harus mencari informasi instrument apa yang paling memungkinkan untuk mendapatkan gain seperti yang dia inginkan sebelum dia memutuskan untuk menginvestasikan uangnya.

Itu adalah skill paling mendasar dari investing.

Selebihnya Alex harus mempelajari bagaimana proses atau cara kerja investasi yang dia pilih itu bekerja supaya tidak terjebak pada money game yang menjanjikan puluhan hingga ratusan % gain tetapi cara kerjanya tidak masuk akal sehat. Banyak lho orang berduit dan terpelajar yang tertipu jebakan money game ini? itu menunjukkan financial literacy yang sangat rendah.

Ada banyak instrument investasi yang bisa dipilih. Semua tergantung dari tujuan investasinya, profile investor terhadap sebuah resiko dll.

Yang berikutnya rumus yang sudah diketahui umum : don’t put your eggs in one basket. Alias investasilah ke berbagai macam instrument. Maksudnya selain membagi resiko juga supaya portfolio investasi bisa diorkestrasikan menghasilkan gain/return yang paling optimal.

Misal : jika investasi di sebuah saham menghasilkan deviden, maka deviden tersebut bisa dibelikan saham yang sama, dibelikan saham yang lain atau diinvestasikan ke instrument yang berbeda seperti LM atau property dll.

Misal : deviden digunakan untuk mencicil property, maka setelah property tersebut jadi tentu bisa disewakan atau dijual dengan harga tertentu. Uang sewa property tersebut bisa digunakan untuk kembali mencicil property yang lain dst.

Itulah investing skills. Menghasilkan uang dengan uang! Beda kan dengan investasi si Alex tadi yang untuk pergi ke Bali? πŸ™‚

Bener deh, investing skills hanya terlihat ribet tapi sebenarnya nggak segitunya. Kita hanya perlu dikelilingi oleh teman-teman yang tepat, yang setiap kali ngobrol salah satu topiknya investasi dibandingkan hal-hal ini. Motivasi itu perlu, dorongan dari orang lain itu penting, inspirasi dari orang-orang sukses yang ada di sekitar kita itu besar pengaruhnya.

Aku beruntung sih mempunyai teman-teman, bos-bos yang memberikan inspirasi dan tentu aku contoh dan ikuti teladannya.

Nggak usah kejauhan ngelihat Warren Buffet …. Lihat saja sekeliling masing-masing, banyak kok contoh hidup yang bisa diteladani. Pintar cari uang, ngerti investasi dan β€œjago” berbelanja!

Pasar saham memang sedang jeblok karena index sudah turun lebih 30% sejak awal tahun – tapi itu kan artinya harga sedang murah. Tetapi masih ada juga beberapa emiten yang dapat membantu pertumbuhan portfolio investornya. Silahkan lihat sendiri deh siapa-siapa aja mereka πŸ™‚

Aku beruntung sih selama hampir 6 bulan ini berinvestasi saham di @RHBTradeSmart. Selain belajar trading yang sebelumnya nggak pernah aku lakukan, aku juga bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang memberikan inspirasi untuk terus berinvestasi. Didukung oleh biaya Sell & Buy nya yang tergolong murah juga features aplikasinya yang sangat convenience sangat cocok sekali bagi ku. Selain features Market untuk mengetahui pergerakan index, juga ada ARO atau Assisted Robo Optimization yang membantu investor serta trader untuk mengambil keputusan dalam bertransaksi kapan saja dan dimana saja.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik.

Dan bagi teman-teman yang tertarik berinvestasi, sekaranglah waktu yang paling tepat.

Hanya dengan 1 click saja sebenarnya teman-teman sedang melangkah menuju masa depan yang lebih baik https://www.rhbtradesmart.co.id/tradesmart/tradesmart-product

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *