…… kita BISA

3 minutes, 47 seconds

Pagi tadi kulihat sebuah posting dari akun IG seperti ini ….

Tindakan yang sederhana, sangat sederhana bahkan, tidak ada inteleknya sama sekali. Seorang Ibu yang mengorder makanan secara online dan langsung diberikan kepada pengemudi ojol yang merespon ordernya.

Sepintas terpikir olehku tindakan Ibu ini yang lumayan naif. Memberi makan hanya kepada 1 orang driver ojol yang memang dalam beberapa hari ini sudah sepi order karena situasi dan kondisi kota Jakarta.

Lalu aku bandingkan dengan banyak postingan hari-hari ini dari ahli-ahli musiman, komentator-komentator kelas social media di beberapa platform tentang situasi terkini dan bagaimana otoritas menanganinya.

Coba tengok …. saran tata cara ibadah dari lembaga yang berasal dari para alim ulama dan para ahli agama dikomentari, otoritas di desak untuk lock down, shut down atau apapun namanya …. padahal aku lebih suka sundown 🙂 Lalu saran dan encouragement dari otoritas untuk bekerja dari rumah dan social distancing pun di puter kiri kanan. Disarankan tidak berjabat tangan dipandang sebagai cara baru untuk menghilangkan tata cara tertentu yang selama ini menjadi budaya 🙁 are you kidding …. Gerakan bekerja dari rumah diboost sedemikian rupa sehingga menimbulkan praduga dan men discourage bagi para pekerja yang masih belum bisa bekerja dari rumah baik karena nature pekerjaannya atau karena sebab lain.

Bagiku itu sebuah kontras …. tindakan “naif” si Ibu dibandingkan dengan para komentator serta para ahli kelas social media yang bertebaran yang disupport dengan teori dan konsep kelas apa adanya.

Sebagai bagian dari komunitas sosial di kota dan bangsa ini tentu wajar jika aku miris. Bagaimana mungkin sebuah bangsa besar yang mengaku beragama, bahkan Tuhan dipanggil dimana-mana, bahkan juga Tuhan dipanggil-panggil kapanpun, mempunyai sikap dan perilaku sedemikian dalam menghadapi situasi yang begitu sulit serta dampaknya yang akan luar biasa super besar ini? …….. sebuah Twit dari seseorang jauh di Eropa seperti ini : Most of the world have no idea what’s going to happen with this situation!

Ini situasi dan kondisi yang serius …. siapapun didunia belum mempunyai jawaban untuk mengatasi virus yang sudah menjadi pandemic ini, demikian juga beserta dampak yang ditimbulkannya baik secara social, ekonomi dst.

Bukankah dalam situasi sulit seperti yang dunia alami saat ini akan lebih berguna jika semua saling mensupport, saling mengencourage, memberi semangat dibandingkan berdebat, membiarkan jemari merangkai kata liar lalu mempostingnya dan kemudian menimbulkan perdebatan dst?

Senin menjelang siang sekitar pukul 11.30, sebuah text dari Senior Pastor di sebuah gereja tempat kami sekeluarga menjadi bagian muncul : pagi pak Roy. kami doa buat perlindungan Tuhan buat bapak dan keluarga. Bgm dg Jasmine pak? stay di US atau balik Jkt?

yakin, text itu dibuat tidak lebih dari 1 menit, tetapi begitu besar artinya buat istri ku dan aku sendiri yang selama seminggu penuh kami gelisah memikirkan anak perempuan kami yang kuatir dan takut menghadapi situasi ini di kota tempatnya belajar.

Kemarin sekitar jam 7 malam saat mengambil kunci mobil dari pos security, kulihat 2 orang petugas piket sedang duduk bersampingan hampir tidak ada jarak. Lalu sambil kuterima kunci dari salah satu pak security aku berkata : pak, sebaiknya ambil jarak antara 2-3 meter y, ini untuk menjaga bapak-bapak sendiri dan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kita semua.

Tadi siang kulihat salah posting di whatsapp group kantor, seorang Area Manager yang melakukan video call dengan semua teamnya yang sedang di lapangan sekedar untuk memastikan apakah mereka mengenakan masker dan secara rutin membersihkan tangan dengan hand sanitizer. Sebuah tindakan sangat sederhana tetapi sangat menyentuh hatiku.

Belum lagi Bossku, sampe pegel jempolku meladeni text beliau menanyakan ini dan itu kondisi teamku dilapangan. Apakah mereka nervous, apakah mereka sudah diprovide oleh extra tools untuk menghambat penyebaran, apalagi yang kantor pusat bisa bantu, dll dll? …. Jempol boleh pegel tapi aku menjadi bersemangat dan besar hati mengetahui pak Boss selalu memperhatikan dan ada untuk kami semua.

Beberapa teman di kantor pusat yang karena nature pekerjaannya memungkinkan work from home juga banting tulang dipepet deadline super ketat untuk mempersiapkan ini dan itu supaya team field mendapat support yang baik dan segera dapat meminimalkan resiko dilapangan.

Tadi siang iseng aku memposting di IG story situasi lantai 3 di gedung tempat aku berkantor yang lengang, hanya aku seorang diri …. benar-benar seorang diri – dan mungkin beberapa hantu 🙂 – di seluruh lantai. Tidak lama kemudian puluhan teman yang bekerja dari rumah mengirimkan pesan : semangat pak!

Bayangkan jika apa yang kualami juga terjadi di komunitas kita masing-masing, bahkan di laman social media kita masing-masing? Saling memberikan semangat dan memberikan jalan keluar bagi orang lain?

Jika masing-masing dari kita telah menerima encouragement dari orang lain, mengapa kita tidak memberikan encouragement kepada orang lain?

Tindakan sederhana dan naif kita memang tidak akan mengubah dunia … tetapi paling tidak mengubah diri kita masing-masing.

Together we are stronger!

Indonesia kamu Bisa!

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *