judge others ONLY if you are perfect

2 minutes, 33 seconds

sehari-hari terutama dimalam hari ketika aku sedang terbangun dari tidur untuk toilet, aku selalu melihat anak sulungku sibuk dengan iPhone ditangannya.

rasanya hampir setiap malam aku melihatnya begitu. entah apa yang membuat begitu setia dengan gadget ditangannya.

sampai suatu ketika aku menegur dia. Bang …. apakah ada gunanya malam-malammu kau habiskan dengan scroll social media dan main games? bukankah lebih baik kamu tidur supaya besok pagi kamu bangun segar dan bisa produktif?

bukannya merespon dengan positif seperti harapanku tetapi dia malah berkata : Dad, don’t judge me … you kan nggak tahu aku ngapain dengan iPhone ku? benar aku sesekali main games, benar aku sesekali scroll social media, tapi you tahu kan nggak aku sedang baca dan belajar dari beberapa artikel dan ebook tentang beberapa hal yang aku perlukan untuk melengkapi pengetahuanku tentang usaha yang sedang aku mulai. aku sudah baca ini, itu, ini, itu, ini dan itu …….you kan nggak tahu kan Dad?

duer …. merah mukaku, bukan karena marah tetapi malu.

suatu foto yang menarik kulihat di sebuah social media, yang menampakkan seorang pangeran Inggris turun dari mobil dan tampak dari angle si pewarta foto sang pangeran menunjukkan jari tengah nya kepada para kerumunan yang menyambutnya.

dari social media yang sama pula akhirnya aku mengetahui bahwa dari angle pewarta foto yang lain ternyata sang pangeran sedang melambaikan tanggannya dan bukan sedang menunjukkan jari tengahnya 🙂

seorang bijak mengatakan 1 fakta yang kita ketahui tidak bisa menjelaskan secara keseluruhan dari sebuah kebenaran cerita yang sesunguhnya.

praduga, atau presumption dalam bahasa Inggris juga diartikan sebagai anggapan, dugaan, kesombongan, sangkaan, kepongahan.

itulah yang kualami dengan anak sulungku yang selalu ada iPhone ditangannya. dengan kesombongan seorang bapak, dugaan bahwa aku mengetahui semua tentang anakku lalu dengan mudahnya menegur bahwa dia hanya main games dan scroll social media.

kebenaran fakta yang kuketahui ternyata bukan satu-satunya fakta, masih ada fakta lain yang tak kuketahui.

sang pangeran Inggris ternyata benar-benar sedang melambaikan tangannya dan bukan sedang menunjukkan jari tengahnya.

praduga memang sungguh berbahaya. asumsi itu menjerumuskan. 1 fakta yang kita ketahui mempunyai banyak sekali keterbatasan untuk ditarik menjadi sebuah kesimpulan.

kata bijak yang kubaca berkata : don’t assume – just ask ! jangan berasumsi – tanya.

asumsi atau dugaan adalah awal mula segala “drama” yang terjadi. banyak hubungan rusak karena nya.

sebuah “like” dengan symbol jempol di sebuah platform social media mungkin terlihat netral, tetapi bagaimana dengan “like” dengan symbol “cinta” ….. apakah bisa diartikan apresiasi yang diberikan adalah ungkapan dari cinta? konyol bukan? kalau memang benar begitu berapa kali sekali kita jatuh cinta hanya karena memberikan “like” di sebuah platform social media. Konyol dan bahkan mungkin terlihat bodoh bukan? 🙂

lebih gawatnya lagi keterbatasan fakta yang mampu diperoleh tetap tidak menyurutkan nyali untuk men judge atau menghakimi.

karena malas bertanya, gengsi bertanya, malu bertanya, segan bertanya atau segudang alasan lain pertanyaan tak juga kunjung disampaikan. dikombinasikan dengan rasa kesombongan diri : aku sudah tahu, biasanya juga begitu, dulu juga begitu … langsung menyimpulkan, melemparkan tuduhan dan makin runyam rusaklah hubungan.

bahkan seandainyapun semua fakta sudah terkumpul dan kesimpulan sudah dihasilkan apakah tuduhan tetap akan di suarakan?

sebuah kata bijak berkata : judge others ONLY if you are perfect.

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *