di Daan Mogot jam 2 Siang

2 minutes, 20 seconds

kira2 jam 2 siang, matahari Jakarta sedang panas2nya, membakarku dari ujung kepalaku yang tak berambut sampai ke ujung kaki yang tertutup rapat sepatu. basah kuyub pakaian sampai kedalam2.

sekumpulan para pengendara ojek daring berkumpul.

ada yang sekedar melepas lelah sambil memesan dan menikmati makan siang mereka yang terlambat, ala kadarnya hanya dengan telor dadar yang setipis helai kain dan sejumput terong dimasak cabai.

ada yang hanya duduk2 sambil mengisi kembali batere telepon selular masing2.

beberapa diantaranya ada yang mengantri menukar jaket warna hijau yang mulai pudar lusuh dengan yang baru.

disuatu sudut, stand kredit motor tampak sepi.

wajah2 kelelahan menguasai lokasi istirahat mereka, panas, tanpa AC, hanya beberapa kipas besar yang disediakan provider layanan ojek daring tersebut.

tak tampak terlihat obrolan apalagi senda gurau. masing2 sibuk melepaskan penat sejenak, mendinginkan diri dari ganasnya matahari Jakarta dan serbuan debu yang tak berhenti siang itu.

kira2 berumur sedikit lewat 30 tahun. berasal dari Sumenep – Madura. seorang ex perawat di salah satu rumah sakit di Jakarta Utara. seorang Bapak beranak 2. hari ini kutemui dia di warung kelontong miliknya yang baru dirintis sejak 3 tahun yang lalu.

kutanyai dia mengapa memilih berhenti menjadi perawat dan membuka usaha warung kelontong. lalu dia bercerita bahwa para perawat senior di rumah sakit tempatnya dulu bekerja kurang sukses hidupnya tatkala tua membuatnya berpikir.

lalu laki2 ini memutuskan berhenti dan membuka warung kelontong di sebuah jalan tidak begitu besar di wilayah Jakarta Barat. saat ini warung kelontongnya sudah beranak 3 ….. ya 3!

didalam mobil, dalam perjalanan kembali ke kantor aku berpikir dan merenung betapa hidup manusia, membanting tulang, berupa segala daya.

ada yang hanya sekedar menyambung hidup, bertahan tak tergoda banyak pilihan pekerjaan yang bisa menghasilkan puluhan ratusan kali lipat dengan cara tak wajar tetapi ada pula yang sudah mulai menemukan jalan memperbaiki hidup seperti laki2 dari Sumenap yang kutemui siang tadi.

beberapa waktu yang lalu dari sebuah media aku membaca seorang perempuan muda yang segera setelah diwisuda dari universitas negeri ternama di Semarang Jawa Tengah berfoto dengan mengenakan jaket hijau salah satu ojek daring terkemuka. gadis muda ini rupanya sudah menekuni sebagai pengemudi ojek daring disela2 jadwal kuliah sekedar memastikan biaya pendidikannya tercukupi. foto dengan jaket hijaunya tepat setelah acara wisuda seperti hendak mengatakan sesuatu kepadaku.

namanya Sellha Purba, seorang gadis cantik yang kulihat fotonya dari media online yang beberapa waktu lalu menjadi viral karena pekerjaannya sebagai petugas penyapu jalan sekitar Kelapa Gading Jakarta. antara paras cantik dan penyapu jalan …. suatu kombinasi yang sulit dipahami saat ini, lalu jadilah viral.

masih banyak lagi cerita serupa yang tak akan habis dituliskan dan diceritakan.

hidup memang selalu menyediakan pilihan dan menuntut kegigihan. selalu ada pilihan. selalu ada pilihan.

hari ini aku belajar dari para ojek daring tentang arti kegigihan dan seorang laki2 dari Sumenep tentang menentukan sebuah pilihan.

di Daan Mogot jam 2 siang aku belajar tentang kegigihan dan menentukan sebuah pilihan.

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *