Dad ..… Jasmine takut

4 minutes, 56 seconds

hari minggu subuh jam 330 pagi, kami antar anak gadis kami ke airport SHIA. pesawat ANA NH 836 akan membawanya ke Narita. transit 1,5 jam di Tokyo dari sana United Airlines akan mengantarnya ke JFK NY. dari JFK Jasmine harus pindah ke Newark Airport untuk seterusnya terbang ke Boston, kota tempatnya belajar. memang cukup merepotkan dengan beberapa kali transit apalagi bagi anak kami yang baru bulan Maret tahun ini akan mencapai 18 tahun.

penerbangan yang panjang puluhan jam tentu membuat tubuh capek dan penat, apalagi selama 3 minggu Christmas break nya di Jakarta acaranya begitu padat bersama kami sekeluarga pun dengan teman-temannya serta ditambah dengan deg2an karena Jasmine terbang seorang diri tanpa teman.

kira-kira jam 720 pagi waktu Jakarta atau 720 malam waktu NY, Jasmine telepon, dan dengan suara bergetar menahan tangis dia cerita :

“Dad, aku sudah ke terminal B tetapi orang counternya mengatakan aku harus balik ke C karena dari sana baru bisa diproses penerbanganku ke Boston. aku turuti dan aku balik ke C lagi tetapi setelah di counter mereka bilang aku harus ke B. ini waktunya sudah mepet dan hampir pasti I’ll miss my flight. and I don’t know why aku nggak bisa pake my BoA Debit Card mungkin rusak atau apa dan aku hanya pegang cash sedikit, ini gimana Dad…..Jasmine takut”

kalimat terakhirnya membuat pertahananku runtuh. membayangkan anak gadisku sendirian, capek dan menghadapi situasi tidak menentu sementara aku disini hampir nggak bisa berbuat apa-apa.

istriku seperti kebanyakan para ibu sudah panik walau aku tahu dia mencoba mengendalikan dirinya supaya tidak menambah kalang kabut situasi.

dengan sekuat tenaga dan emosi aku berusaha mengendalikan diri dan mengembalikan fungsi otak supaya bekerja normal dan rasional. lalu aku berdoa singkat saja : “Tuhan, tolong anakku” kemudian kutarik nafas panjang sambil terus memegang telepon selularku yang terhubung dengan anak gadis ku semata wayang yang sedang ketakutan.

“dek …. sudah lupakan flight mu. sekarang kamu cari bagian informasi, kamu ceritakan masalahmu dan bilang bahwa kamu perlu flight ke Boston secepatnya. kalau kamu perlu beli tiket lagi kamu bisa gunakan kartu kredit. bahkan dari kartu itu kamu bisa tarik cash ( o ya … sewaktu di Jakarta, Ibunya memberikan dia kartu kredit yang hanya boleh digunakan untuk situasi darurat. sehingga Jasmine belum tahu apa saja kegunaan kartu itu termasuk untuk menarik cash. dan mungkin juga dia tidak ingat dia memiliki kartu kredit dari Ibunya ). lakukan seperti yang Papa bilang ya nak”

sambil terus berpikir mencari cara untuk menolongnya, aku mengirim text ke Ibu Mimi Kurniawan – Ibu Mimi adalah orang Indonesia berkantor di NY yang menduduki posisi penting di perusahaan kami. text ku singkat saja : ” Bu, boleh saya call? ada emergency anak saya di bandara JFK”

bukannya menjawab text ku tetapi Ibu Mimi langsung meneleponku kurang dari semenit dari kukirim textku. lalu aku menceritakan situasinya dan meminta ijin beliau untuk menshare nomornya ke Jasmine just in case si adek tidak mendapatkan solusi untuk terbang ke Boston malam itu.

selesai berbicara dengan Ibu Mimi, kukirimkan text ke Jasmine : “dek, ini nomor telepon teman Papa di NY. Papa sudah call Ibu Mimi dan kamu boleh telepon untuk asking for help ya nak. be calm. pasti ada way outnya. kamu tidak sendiri nak and call me kalo kamu sudah senggang”

kira-kira 15 menit kemudian Jasmine telepon : “Dad, aku sudah ke information and mereka bilang counter di terminal C dan B salah kasih informasinya tetapi pesawatku memang sudah berangkat. mereka bilang ada flight terakhir jam 830 tetapi sudah full book. mereka suruh Jasmine tunggu, siapa tahu ada yang last minute cancel….e baru saja mereka bilang begitu, rupanya ada salah satu calon penumpang yang booknya 2 kali sehingga ada 1 seat sisa, jadi Jasmine bisa ikut flight ini dan karena maskapainya sama jadi Jasmine nggak perlu bayar lagi. Now, I can breath Dad. Ini Jasmine sedang duduk di gate untuk nunggu boarding yang sebentar lagi”

lalu aku mandi dan baru sampai kantor ketika jam sudah menunjukkan hampir jam 9 pagi 🙁

mungkin orang melihat ini sebagai keberuntungan anakku mendapatkan 1 seat left di last flight on that night but aku percaya ini jawaban dari doa orang tua yang meminta pertolongan untuk anaknya.

jam 1105 anakku mengabarkan sudah sampai di dorm dan sedang beberes dan bersiap mau tidur.

ada beberapa poin yang aku mau share dari ceritaku pagi tadi.

sebagai orangtua tentu tidak akan selamanya dan seterusnya menyelesaikan masalah untuk anak-anak kita. anak-anak harus dibiarkan mengatasi masalahnya sendiri karena dari situlah anak-anak belajar dan bertumbuh menjadi dewasa dan matang. tetapi tetap saja mendengar suara anak gadisku diselingi tangisnya berkata : “Dad, Jasmine takut”…. tentu tidak mudah bagiku. membayangkan dia seorang diri, tidak ada yang dia kenal, ribuan kilometer jauhnya dari her main supporting system – abangnya, ibunya dan aku -, dan tidak ada “uang” …. tentu saja sebagai bapak pertahananku jebol juga …. ya benar aku sempat menangis sendirian di ruang tengah. bukankah seharusnya aku ada disaat anak-anakku membutuhkan bapaknya?

walau banyak sekali keterbatasanku sebagai seorang bapak untuk menolong anak-anakku tetapi satu hal yang aku ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masalah mereka masing-masing. setiap saat pikiranku dan doa ku untuk masa depan yang baik dan jodoh yang tepat buat mereka. anak-anakku harus tahu bahwa semua yang ibunya dan aku lakukan adalah memberikan kehidupan terbaik yang kami bisa usahakan. bukankah demikian seharusnya tugas dan kewajiban sebagai orang tua?

a family is a family no matter what ….. benar tetapi aku melihat dalam dimensi yang berbeda.

Ibu Mimi seperti ceritaku diatas, salah satu orang penting di perusahaan tempatku bekerja. kami bertemu dan kenal awalnya memang dari urusan pekerjaan as professional. tetapi aku sungguh beruntung bekerja di tempat yang memungkinkan mengembangkan hubungan yang lebih dari sekedar professional …. ya kami ini keluarga, kami ini teman.

Ibu Mimi bahkan belum kenal Jasmine, mengenal wajah anakku pun belum. tetapi Ibu Mimi melalui text nya bahkan akan mengunjungi anakku saat beliau visit Boston.

terima kasih banyak Ibu Mimi Kurniawan.

tak sabar aku menunggu waktu. Jasmine pasti tertidur lelap tadi malam, paginya dia sudah harus bangun karena sudah ada kelas yang menantinya di semester ini. Miss you dek …. I’ll call you after your class.

There are 10 comments .

  1. A very brave girl.. you’ve got my respect Jasmine..

    Dan orang baik akan selalu ketemu orang baik..
    Saya percaya kebaikan orang tua kepada orang lain akan berbalas kebaikan dan kemudahan untuk anak anaknya..

    Salam hormat pak Roy ?

  2. Yang saya percaya adalah jika kita menabur kebaikan, disaat kita susah pun Tuhan akan menolong. Dan bisa memakai siapa saja untuk menolong kita. Tuhan baik. Dan akan jaga Jasmine kemana pun melangkah. Bahkan di belahan dunia manapun

  3. Melok mau mewek Pak Roy. Thanks for reminding us that we have God who handles many things that we can’t handle. Salam utk Jasmine.

  4. Feel nervous jg bacanya hehe. Setuju Pak Roy, sbg parent kita jg mendidik anak kita ada kalanya mrk hrs belajar menyelesaikan persoalannya sendiri. Waktu Lizzy masuk kuliah jg ada takutnya (pdhl dulu paling sangar di sekolah?), so sy bilang sama dia “gak usah kuatir itu hanya perlu adaptasi, ini saatnya kamu ber-experience with God. Mama papa gak bs selalu ada disamping kamu tp Tuhan selalu bersamamu kapan aja dan kamu bs mengandalkan Dia yg omnipresent anytime”

    Yg paling kuatir malah papanya, kl sy justru lbh cuek ??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *