Cuma Koma, Bukan Titik

2 minutes, 11 seconds

sebuah kisah entah fiksi atau beneran yang kubaca beberapa tahun lalu.

seorang petani miskin berkaki pincang bertetangga dengan seorang muda, gagah, kaya raya. si kaya berkata dalam hatinya : beruntung sekali aku, hidup berkelebihan, fisikku sempurna dan aku masih muda. betapa menyedihkannya hidup tetanggaku, sudah miskin, tua, pincang pula.

pada suatu hari desa yang dihuni keduanya kedatangan gerombolan perampok, membabi buta menggasak segala macam harta benda. ludes, habis tak bersisa harta si pemuda yang gagah perkasa.

malam hari setelah peristiwa perampokan didesa itu, sang pemuda berkata dalam hatinya : sungguh alangkah malangnya nasibku, habis sudah harta yang kukumpulkan dengan susah payah.

sementara si miskin pincang berpikir : betapa mujurnya nasibku, bebas dari perampokan karena tak ada hartaku yang bisa mereka bawa.

beberapa waktu kemudian, sampailah di desa tersebut sepasukan tentara yang menyampaikan maklumat sang raja : barang siapa yang yang cacat dan tidak mampu bertani dan beternak dengan baik harus dibunuh. kerajaan sedang menghadapi masa sulit. lalu dibunuhlah si miskin pincang.

lalu pemuda yang gagah tadipun berkata lagi dalam hatinya : kasihan sekali nasib si pincang. masih lebih baik nasibku, walaupun aku sekarang kembali miskin tetapi karena badan dan tubuhku yang sehat aku tidak dibunuh oleh raja.

tak lama berselang, kerajaan tersebut diserang oleh kerajaan lain dan sang raja memerlukan pasukan tambahan sehingga barang siapa yang muda, gagah harus menjadi tentara untuk ikut maju ke medan pertempuran. kemudian pemuda gagah tadipun menjadi tentara, maju berperang dan mati terpenggal kepalanya oleh musuh.

setelah hiruk pikuk rivalitas pemilihan pemimpin tertinggi di negeri ini, begitu dasyatnya sehingga membuat polarisasi sampai membuat simpul-simpul kehidupan bermasyarakat menjadi longgar bahkan terlepas disana-sini.

hanya ada aku atau kamu. aku dan kelompokku yang paling benar. kelompokmu pasti salah. dan begitu pula sebaliknya.

ide dari kelompok tertentu betapapun baiknya selalu salah dimata kelompok lainnya. menjengkelkan mengamatinya sampai hubungan pertemanan rusak, persaudaran menjadi permusuhan. padahal kenal juga tidak dengan para calon yang berkontestasi itu.

lalu sang pemenangpun diumumkan, sorak sorai berkumandang seantero negeri dari para pendukung. ejekan, ledekan kepada pendukung lawan bertaburan di laman media sosial.

si pecundang tak kalah sengit, dengan para pendukungnya mulai menebar ancaman ini dan itu, keriuhan menjadi liar selama berminggu-minggu lalu kerusuhan.

tak lama kemudian, sang pemenang berpadu dengan bekas lawan menyusun rencana untuk langkah negeri kedepan. kompak, berseri-seri dengan hidangan nasi goreng istimewa.

para pendukungpun geleng-geleng kepala tanda tak paham. apa yang sedang terjadi?

aku belajar bahwa segala sesuatu selalu dibatasi oleh berbagai dimensi sehingga tak ada hal yang final adalah final.

menginsyafi pengertian ini bukankah sebaiknya kita tidak terlalu mudah bahagia atau bersedih, tidak cepat tertawa atau menangis, tidak cepat mengatakan salah atau benar.

bukankah akhir dari setiap peristiwa sesungguhnya hanya sebuah koma, bukan titik.

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *