Cookies

2 minutes, 32 seconds

istriku memang tidak terlalu bisa memasak dan tidak suka memasak :).

kerumitan urusan dapur ini sudah berlangsung sejak hari2 pertama kami menikah.

suatu hari di tahun 1997, kulihat istriku ini heboh mondar-mandir dapur dan posisi telepon rumah. awalnya aku tidak terlalu memperhatikan. tetapi karena aku makin dibuat resah dengan kesibukkan yang aku nggak terlalu jelas lalu kutajamkan indera pendengaran untuk menyelidiki apa yang sebenarnya sedang terjadi.

rupanya istriku sedang tutorial masak dengan mertuanya – ibuku 🙂

lalu sup itu pun jadi, dia hidangkan dan kumakan. baru suap pertama, istriku tanya : gimana? 🙂 …. tentu saja kujawab : wah enak sekali, sambil aku mengendalikan syaraf2 indera pengecapku yang memberontak karena memang rasanya tidak terlalu jelas 🙂

urusan menjadi makin rumit setelah kami mempunyai 2 orang anak. si sulung begitu pemilih, lidahnya sangat tajam untuk mengenali balancing rasa dan ingredient dalam makanan, kritikus makanan nomor wahid sementara adiknya makan apa saja yang ada di depannya 🙂

sementara aku, berusaha memainkan peran supaya keseimbangan urusan dapur ini tidak menjadi awal mula huru hara dalam rumah tangga.

jika kulihat istriku sedang enak hatinya aku akan merespon dengan jujur bagaimana kualitas rasa dan makanan yang disiapkan. tetapi jika kulihat sebaliknya maka aku akan mengatakan masakannya enak sekali dan kupaksa diriku untuk minta extra 🙂

situasi menjadi berubah saat si bungsu sudah pergi jauh sejak sebulan lebih yang lalu.

sebelumnya istriku tidak terlalu cemas apa yang akan dimasak untuk dimakan setiap harinya – tentu saja karena ada si bungsu yang selalu makan apa yang ada.

sejak kembali dari beberapa minggu pergi mengantar si bungsu, istriku sudah mulai waspada dan mengatur rencana supaya rumah tangga aman tentram dalam urusan dapur dan meja makan. sebab si kritikus makanan nomor Wahid apalagi jenis seperti yang anak sulungku miliki cenderung membahayakan rumah tangga 🙂

jika grocery shopping hanya si sulung fokus nya. masakan apa yang akan menjadi menu si sulung rujukannya.

semalam, sekitar jam 930 pm aku sampai dirumah. kulihat istriku sedang berjibaku di dapurnya. ini pemandangan super aneh, tidak pernah terjadi sebelumnya. aroma cookies mendominasi seisi rumah. hanya istriku ditemani si berisik Mikey dan Milo – kedua anjing milik kami – di dapur sementara si sulung entah sibuk apa dikamarnya.

istriku sedang sibuk dengan adonan dan memanggang cookies choco chips. aku tambah heran karena baru 2 hari sebelumnya dia melakukan hal yang sama, ada beberapa plastik container besar berisi hasil baking annya kulihat 2 hari lalu.

kok bikin lagi aku berbasi basi bertanya. sudah habis dimakan sama anakku jawabnya 🙂 ….. bangga sekali dia rupanya 🙂

emang minta lagi dia? aku meneruskan bertanya. tidak .. aku hanya mau siapkan saja, kan Esa suka 🙂 jawab istriku.

aku langsung mandi, ke kamar dan langsung tertidur karena efek gin tonic yang kuminum sebelum pulang ke rumah :).

pagi saat aku bangun, berderet plastik container berisi penuh cookies buatan istriku berjajar di pantry :)…… siap untuk ‘dihajar’ si sulung

memang kuingat dalam 2 minggu terakhir ini, si sulung lebih sering makan masakan Ibu nya dibandingkan sebelumnya.

rupanya FOKUS juga bermanfaat tidak hanya di pekerjaan tetapi di rumah tangga. dan bahkan FOKUS menjadi salah satu kunci utama untuk mewujudkan perdamaian dunia di rumah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 🙂

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *