cerita tentang 3 cerita

2 minutes, 26 seconds

Cerita Pertama.

Tahun 2000, aku lupa bulannya apalagi tanggalnya. Seorang senior, teman dan kemudian menjadi seperti Abangku sendiri mengunjungi ku di Bandar Lampung kota tempat tinggal ku saat itu. Puas ngobrol disuatu tempat kami keliling kota yang nggak segitu besar, dimobil dia bertanya : “kamu tinggal dimana”. aku menjawab : “Way Halim”. “kamu beli atau bagaimana?” dia meneruskan. “masih kontrak” jawabku. “yuk main kerumahmu” beliau meneruskan.

Sesampai dirumah, kami lanjut ngobrol lagi diruang tamu dan kali ini istriku ikutan ngobrol. Seru karena kami berdua memang sudah mengenalnya dengan baik. Lalu tiba-tiba dia meneruskan perbincangan tentang topik rumah tadi, kali ini didominasi oleh petuah-petuah, sedikit marah dan kotbah ini itu ini itu. menurutnya cara pandangku tentang rumah dan bagaimana cara kami merencanakan untuk membelinya salah dimata senior ini 🙁 . “Kamu nggak bakal punya rumah dan akan seumur hidup ngontrak kalau cara pikirmu begitu. Begitu uangmu terkumpul, rumah yang kamu inginkan sudah akan berubah lagi. Beli sekarang dengan uangmu yang ada”….. itu kalimat yang menusuk hatiku dan kupikirkan berhari-hari.

Kupikirkan masak-masak berhari-hari, dan akhirnya kusadari nasehat, petuah dan kotbah temanku ini benar. Singkat cerita dengan uang yang ada kami memutuskan membeli rumah, tahun itu juga di Bandar Lampung. Itulah rumah pertama kami.

Cerita Kedua.

Suatu ketika Nokia Communicator menjadi salah satu symbol self-esteem para pria – walau segede gaban dan bisa untuk nimpuk anjing 🙂 aku tergoda untuk memilikinya. Kemudian dengan segala macam rasional dan argumen untuk membenarkan diri sendiri bahwa memang aku membutuhkan barang itu, aku akhirnya membelinya 🙂

Serasa jadi manusia paling keren. Kutenteng kemana-mana 🙂 Nokia Communicator di kota kecil Bandar Lampung 🙂 Gubernur juga belum tentu pake tuh 🙂

Suatu ketika Bos ku dari Jakarta berkunjung ke kantorku dan mengetahui aku menggunakan Nokia itu, lalu dengan gaya khasnya beliau berkata : “roy teleponnya bagus” …… mati nih kupikir dalam hati, dan sambil bingung mau merespon bagaimana aku hanya nyengir 🙁 aku tahu bos ku sedang menyindir 🙁

“roy, walaupun kamu punya uang untuk beli Mercedes tetapi jika yang kamu butuhkan hanya Toyota Kijang ya belilah Toyota Kijang. Tidak perlu beli sesuatu yang kamu tidak butuhkan. Hidup kita ini bukan hanya untuk hari ini, kamu harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya” begitu beliau menasehatiku disela-sela kami makan malam.

Cerita Ketiga.

Hari ini dunia berkicau Twitter dihebohkan dengan  sebuah postingan.

Yang lebih heboh lagi adalah semua komen yang mengikuti postingan tersebut. Tetapi aku tidak tertarik mengomentarinya mengingat ketidak tahuanku mengenai sebab musababnya. Daripada akhirnya menghakimi dan sotoy, akhirnya aku memutuskan memikirkannya seorang diri ….sambil membawa jalan-jalan sore bersama Mike dan Milo aku memikirkan postingan itu sampai akhirnya aku teringat kedua peristiwa yang kuceritakan diatas.

( Alm ) Elvis Selawa ….. terima kasih banyak atas nasehat-nasehatnya. Terima kasih sudah mendukung ku di awal karir dan rumah tanggaku. I missed you Bro ….

Teng Beniarto …. Terima kasih banyak sudah mengajariku tentang hidup apa adanya, sederhana, harus punya cita-cita tetapi tetap bersahaja, serta tidak ngoyo.

Aku begitu bersyukur bertemu dengan orang-orang baik, yang sudi menginvestasikan diri mereka untuk membangunku dan mengawasiku disaat aku mulai belajar bertumbuh menjadi dewasa.

There is 1 comment .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *