Category: son

written by Roy Hekekire
March 16, 2020 1

Beberapa tahun lalu, dengan ditemani salah satu petinggi di perusahaan tempatku bekerja, aku mendapat kesempatan untuk presentasi di depan salah satu konglomerat Indonesia beserta teamnya.

Mendapat kesempatan tersebut tentu saja aku mempersiapkan diri sebaik-baiknya, materi dan termasuk penampilanku. Aku nggak mau gagal, harus sukses. Bukan hanya takut malu kalau gagal tapi juga takut di ”gantung” 🙂

Hari itu tiba, kami sampai di salah satu gedung pencakar langit di jalan Jend. Sudirman Jakarta. Sesampainya disana dengan menggunakan lift khusus kami diantar ke suatu lantai tempat pak Konglomerat berkantor.

Di meeting room tampak sudah hadir beberapa orang yang kemudian diperkenalkan sebagai bos ini, petinggi itu 🙂 Dan tak lama kemudian dengan ditemani sekretaris, pak Konglomerat datang, menyapa kami semua, sang sekretaris memberikan kartu nama dan tak lama kemudian aku mulai presentasi …. bla..bla…bla.

Sambil aku presentasi tentu saja tatapan mataku menyapu keseluruh ruangan …. Tak lama kemudian aku sadar bahwa ada sesuatu yang janggal dimeeting room tersebut. apa itu?

Pak Konglomerat ini sederhana sekali. Mengenakan kemeja batik lengan panjang yang digulung yang warnanya sudah tidak lagi cerah, tanpa arloji sebagai asesoris, tanpa cincin besar seperti bayanganku sebelumnya tentang penampakan orang tajir sekelas konglomerat! Dan u la la … rambutnya juga disisir kebelakang ala kadarnya, tanpa potongan khusus dan pomade 🙂 sederhana sekali.

Kubandingkan dengan orang-orang dekatnya yang bos ini dan petinggi itu pak Konglomerat ini lewat jauh lah … serius…..pasukannya jauh lebih keren dan lebih bos dari si bos 🙂

Sambil mendengarkan presentasiku yang dilanjutkan dengan diskusi ini itu, beberapa orang diruangan meeting sibuk menulis di laptop tetapi pak Konglomerat ini menulis di kertas putih yang ada setumpuk yang aku yakin sengaja disiapkan disitu. Lembar berikutnya beliau ambil lalu menuliskan hal-hal lain dan begitu seterusnya. Sang sekretaris sibuk mengumpulkan lembaran-lembaran kertas putih yang sudah ditulis dan dicoret-coret pak Konglomerat 🙂

Beberapa tahun kemudian kembali aku berkempatan bertemu dengan pak Konglomerat tersebut masih di ruang meeting di gedung yang sama, hanya kali ini untuk project yang berbeda tetapi pak Konglomerat masih dengan penampilan yang sama ….. sederhana …..amat sangat sederhana.

Dalam pertemuanku yang kedua ini pak Konglomerat lebih banyak berbicara, mengulas dan menyampaikan opini, analisa disertai data-data yang sudah lengkap dipersiapkan dihadapannya. Benar-benar bermutu, kualitas tinggi, mewah, ….. perlu beberapa tahun buatku memahami apa yang disampaikan pak Konglomerat dimeeting itu 🙂

Kontras antara penampilan fisik dan kualitas isi pembicaraan beliau …. Aku kagum, luar biasa kagum dan malu.

Berbicara tentang taste, anak sulungku boleh dibilang diatas lumayan lah. Referensi makan dia paham, mode tentu saja. Seleranya lumayan, cenderung mengerikan buatku sebagai bapaknya 🙂 hanya barang berkualitas yang dia mau beli dan gunakan. Memang bukan sekedar merk tapi merk yang seperti apa.

Suatu ketika kami sekeluarga berlibur ke salah satu negara di Asia Timur. Seperti kebiasaan kami jika berlibur yang benar-benar untuk mengeksplore tempat-tempat baru maka kami sangat minimal mengalokasikan waktu khusus untuk berbelanja. Tetapi kali itu anakku sejak dari Jakarta sudah merencanakan untuk membeli suatu barang dengan merk X karena alasan ini itu. Seperti kebiasaan anak muda semua details tentang barang tersebut sudah ada diotaknya termasuk dimana harus dibeli – thanks to internet for that 🙂

Tentu saja setelah beberapa hari disana dan sehari sebelum pulang ke Jakarta kami menyempatkan diri mencari barang tersebut. Sesampai di tempat dimana seharusnya barang tersebut ada ternyata hasilnya nihil ….lalu browsing lagi dimana yang ada, lalu kami samperin, ada barangnya tetapi beda model L tempat berikutnya kami cari dan barulah ketemu, bayar, bungkus dan finish 🙂

You know what …. ini cuma urusan dompet 🙂 …. Harus merk yg itu dan model yang itu. yang lain nggak mau 🙂

Begitulah untuk sedikit menggambarkan segala keribetan jika si sulung sudah mengincar sesuatu!

Tetapi dalam 2 tahun ini aku perhatikan, anak sulungku ini berubah. Nggak lagi peduli dengan segala macam urusan tetek bengek yang tadinya membuat ibunya, adiknya dan aku bapaknya bisa bengek 🙂

Sudah 2 tahun benar-benar 2 tahun, sepotong tshirt pun tidak ada yang dibelinya. Hanya sepotong sweater yang kubeli sebagai hadiah natalnya dan sepotong tshirt dari seniman siapa aku nggak jelas oleh-oleh adiknya dari Boston. Selebihnya pakaian buluk lama yang dia pake 🙂

Semua memang perlu waktu, termasuk merubah pandangan seseorang terhadap sesuatu pun memerlukan waktu, membuat si A mempunyai prioritas berbeda dibanding yang lain.

Ini bukan tentang benar dan salah. Masing-masing mempunyai dasar dan alasannya sendiri.

Sepanjang setiap masing-masing bertanggungjawab terhadap keputusannya itu sudah lebih dari sekedar cukup.

written by Roy Hekekire
August 18, 2019 0

dari lantai 2 dia turun ketika dilihatnya aku duduk sendiri di ruang tengah.

seketika dia bertanya : you ngapain Dad? ….. beberapa saat aku hanya diam dan kujawab : Papa sedih.

dia menghampiriku, ikut duduk bersamaku. dia diam, aku diam. dan dia terus diam.

cukup lama kami berdua duduk dalam diam……sunyi, tidak ada yang berbicara.

anak sulungku memang irit bicara – kecuali saat ada ide besar yang dia akan diskusikan, bahkan kami pernah bicara berdua, berdiskusi berjam2 diteras rumah tepat dimalam tahun baru :).

dalam diamnya, dalam perasaan sedih yang pasti dirasakannya juga, anakku ini berusaha menolongku, menolong bapaknya….hanya dengan duduk disampingku dan diam tak bersuara.

begitu juga Mikey dan Milo….tak seperti biasanya  yang selalu ribut berebut botol plastik kosong atau keset rumah….malam itu mereka juga diam, tidak ada yang berisik.

2 orang laki2 dan 2 ekor anjing jantan …… semua terdiam dengan pikiran dan perasaan masing2.

laki2 memang punya caranya sendiri mengatasi perasan. tidak dengan bicara, tetapi dalam diam.