Category: life wisdom

written by Roy Hekekire
April 24, 2020 1

Cerita Pertama.

Tahun 2000, aku lupa bulannya apalagi tanggalnya. Seorang senior, teman dan kemudian menjadi seperti Abangku sendiri mengunjungi ku di Bandar Lampung kota tempat tinggal ku saat itu. Puas ngobrol disuatu tempat kami keliling kota yang nggak segitu besar, dimobil dia bertanya : “kamu tinggal dimana”. aku menjawab : “Way Halim”. “kamu beli atau bagaimana?” dia meneruskan. “masih kontrak” jawabku. “yuk main kerumahmu” beliau meneruskan.

Sesampai dirumah, kami lanjut ngobrol lagi diruang tamu dan kali ini istriku ikutan ngobrol. Seru karena kami berdua memang sudah mengenalnya dengan baik. Lalu tiba-tiba dia meneruskan perbincangan tentang topik rumah tadi, kali ini didominasi oleh petuah-petuah, sedikit marah dan kotbah ini itu ini itu. menurutnya cara pandangku tentang rumah dan bagaimana cara kami merencanakan untuk membelinya salah dimata senior ini 🙁 . “Kamu nggak bakal punya rumah dan akan seumur hidup ngontrak kalau cara pikirmu begitu. Begitu uangmu terkumpul, rumah yang kamu inginkan sudah akan berubah lagi. Beli sekarang dengan uangmu yang ada”….. itu kalimat yang menusuk hatiku dan kupikirkan berhari-hari.

Kupikirkan masak-masak berhari-hari, dan akhirnya kusadari nasehat, petuah dan kotbah temanku ini benar. Singkat cerita dengan uang yang ada kami memutuskan membeli rumah, tahun itu juga di Bandar Lampung. Itulah rumah pertama kami.

Cerita Kedua.

Suatu ketika Nokia Communicator menjadi salah satu symbol self-esteem para pria – walau segede gaban dan bisa untuk nimpuk anjing 🙂 aku tergoda untuk memilikinya. Kemudian dengan segala macam rasional dan argumen untuk membenarkan diri sendiri bahwa memang aku membutuhkan barang itu, aku akhirnya membelinya 🙂

Serasa jadi manusia paling keren. Kutenteng kemana-mana 🙂 Nokia Communicator di kota kecil Bandar Lampung 🙂 Gubernur juga belum tentu pake tuh 🙂

Suatu ketika Bos ku dari Jakarta berkunjung ke kantorku dan mengetahui aku menggunakan Nokia itu, lalu dengan gaya khasnya beliau berkata : “roy teleponnya bagus” …… mati nih kupikir dalam hati, dan sambil bingung mau merespon bagaimana aku hanya nyengir 🙁 aku tahu bos ku sedang menyindir 🙁

“roy, walaupun kamu punya uang untuk beli Mercedes tetapi jika yang kamu butuhkan hanya Toyota Kijang ya belilah Toyota Kijang. Tidak perlu beli sesuatu yang kamu tidak butuhkan. Hidup kita ini bukan hanya untuk hari ini, kamu harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya” begitu beliau menasehatiku disela-sela kami makan malam.

Cerita Ketiga.

Hari ini dunia berkicau Twitter dihebohkan dengan  sebuah postingan.

Yang lebih heboh lagi adalah semua komen yang mengikuti postingan tersebut. Tetapi aku tidak tertarik mengomentarinya mengingat ketidak tahuanku mengenai sebab musababnya. Daripada akhirnya menghakimi dan sotoy, akhirnya aku memutuskan memikirkannya seorang diri ….sambil membawa jalan-jalan sore bersama Mike dan Milo aku memikirkan postingan itu sampai akhirnya aku teringat kedua peristiwa yang kuceritakan diatas.

( Alm ) Elvis Selawa ….. terima kasih banyak atas nasehat-nasehatnya. Terima kasih sudah mendukung ku di awal karir dan rumah tanggaku. I missed you Bro ….

Teng Beniarto …. Terima kasih banyak sudah mengajariku tentang hidup apa adanya, sederhana, harus punya cita-cita tetapi tetap bersahaja, serta tidak ngoyo.

Aku begitu bersyukur bertemu dengan orang-orang baik, yang sudi menginvestasikan diri mereka untuk membangunku dan mengawasiku disaat aku mulai belajar bertumbuh menjadi dewasa.

written by Roy Hekekire
April 19, 2020 0

selesai makan malam home made spaghetti made by istriku, kami duduk-duduk diruang tengah yang hanya geser 1 meter dari meja makan 🙂 lalu anak gadisku memperhatikan lengan tanganku sambil komentar : dad, tanganmu kenapa jadi tambah hitam kayak ayam goreng 🙂

memang bener, aku yang sudah hitam berubah lebih legam sejak kami tinggal di Bogor. bahkan karena selalu mengenakan celana pendek maka kentara sekali kulihat sewaktu mandi, betapa paha kebawah menjadi jelaga sementara paha keatas lumayan sedikit ada terang 🙂

padahal jujur aku hanya seminggu sanggup mengikuti saran istriku untuk berjemur, selebihnya selama jam kerja WFH dengan online meeting ini itu aku hanya berpindah dari kursi dihalaman belakang lalu pindah ke gazebo saat matahari sudah mulai garang. tapi entah mengapa kulitku menjadi lebih legam dari sebelumnya.

mungkin karena sinar UV matahari yang seperti jalan tol menembus atmosfir lalu kekulitku. berbeda dengan Jakarta sebelum pandemic, sinar matahari harus berjuang menembus pekatnya polusi udara untuk bisa singgah ke kulitku. belum lagi hampir saban hari terkurung diruang kantor yang ber AC.

tapi jika itu persoalannya mengapa banyak sekali penduduk Bogor yang berkulit putih ya? 🙂

tapi siapa yang peduli juga dengan kulit yang seperti ayam goreng? bahkan untuk bercukurpun tidak lagi kulakukan setiap hari seperti biasanya. tapi siapa pula yang peduli, toh nggak kemana-mana juga, nggak ada orang lain yang lihat kan? 🙂

kupikir lucu juga ya … jadi selama ini kalau aku setiap pagi bercukur, pakai lotion ini itu setelah mandi, semprot wangi-wangian ini itu setelah berpakaian, mematut diri dengan ikat pinggang, sepatu dan jam tangan sebenarnya untuk apa dan untuk siapa ya? 🙂 untuk diri sendiri atau untuk orang lain?

written by Roy Hekekire
April 4, 2020 3

namanya juga tinggal di Kota Hujan, Buitenzorg istilah masa penjajahan dulu atau sekarang dikenal dengan nama Bogor. hampir tidak ada hari tanpa tidak hujan. beberapa hari terakhir ini kira-kira sore hari ketika pintu dan jendela rumah dibuka dinginnya angin yang menyerbu rumah hanya sanggup kami tahan tidak lebih selama 15 menit ….. bbbrrrrrrr dingin ….23- 24 derajat celcius menurut pengukuran suhu di iPhoneku.

beberapa hari yang lalu salah seorang anakku berkata : kok hujan terus ya sampai nggak bisa ngapa-ngapain di halaman 🙂 dan memang benar-benar kami terkurung didalam rumah, bukan saja karena self isolation tetapi juga karena hujan!

beda sangat dengan Jakarta tempat tinggal kami sehari-hari, berdebu, panas, hanya ada langit yang seakan mendung walau itu sebenarnya adalah selimut tebal polusi yang menutupi sinar panas matahari.

pada saat di Jakarta aku menantikan suasana Bogor. pada saat di Bogor aku merindukan panasnya Jakarta.

beberapa hari yang lalu aku mendapatkan sebuah video berdurasi 59 detik. tentu tidak akan ada kata yang kurangkai menjadi kalimat untuk menceritakan kembali isi video yang membuatku terjaga semalaman karena memikirkan dan merenungkan isinya yang mengkoreksi isi pikiran dan hatiku itu. aku akan membiarkan teman-teman semua menontonnya.

Apa yang terbaik dalam hidup ini? ???

Dikirim oleh Dhamma kehidupan pada Jumat, 16 Agustus 2019

#dirumahsaja membuat populasi dunia dipaksa untuk kembali kepada hal-hal yang paling esensial tanpa atribut-atribut lain yang selama ini membuat kehidupan menjadi ribet, kompleks, dan mahal.

tidak ada lagi ngopi di café – kalau mau minum kopi seduh sendiri. tidak ada lagi lunch, dinner di restaurant atau ditempat-tempat favorite – kalau lapar y masak sendiri, atau order dan dikirim ke rumah. tidak ada lagi bioskop – kalau mau nonton y melalui tv cable. tidak ada lagi fitness centre – kalau mau exercise y sambil sekalian menyapu, mengepel atau mencuci baju. tidak ada lagi hang out bersama teman-teman – kalau mau mengobrol y bersama pasangan dan anak-anak. tidak ada lagi rekreasi ketempat-tempat eksotis – kalau mau resfreshing y cukup dihalaman atau didalam rumah. tidak ada lagi keruwetan memilih sneaker, tshirt atau baju dan celana apa yang mau dikenakan. tidak ada lagi matching tas apa, sepatu apa dan gaun apa karena percuma juga kerepotan itu jika tidak ada orang lain yang melihat. semua benar-benar kembali kepada hal-hal yang paling mendasar dari kehidupan manusia.

#dirumahsaja mengajarkan dan mengingatkan manusia arti sebuah kata CUKUP.

#dirumahsaja mengajarkan dan mengingatkan kembali banyak hal mendasar manusia yang selama ini terlupakan.

written by Roy Hekekire
March 19, 2020 0

Pagi tadi kulihat sebuah posting dari akun IG seperti ini ….

Tindakan yang sederhana, sangat sederhana bahkan, tidak ada inteleknya sama sekali. Seorang Ibu yang mengorder makanan secara online dan langsung diberikan kepada pengemudi ojol yang merespon ordernya.

Sepintas terpikir olehku tindakan Ibu ini yang lumayan naif. Memberi makan hanya kepada 1 orang driver ojol yang memang dalam beberapa hari ini sudah sepi order karena situasi dan kondisi kota Jakarta.

Lalu aku bandingkan dengan banyak postingan hari-hari ini dari ahli-ahli musiman, komentator-komentator kelas social media di beberapa platform tentang situasi terkini dan bagaimana otoritas menanganinya.

Coba tengok …. saran tata cara ibadah dari lembaga yang berasal dari para alim ulama dan para ahli agama dikomentari, otoritas di desak untuk lock down, shut down atau apapun namanya …. padahal aku lebih suka sundown 🙂 Lalu saran dan encouragement dari otoritas untuk bekerja dari rumah dan social distancing pun di puter kiri kanan. Disarankan tidak berjabat tangan dipandang sebagai cara baru untuk menghilangkan tata cara tertentu yang selama ini menjadi budaya 🙁 are you kidding …. Gerakan bekerja dari rumah diboost sedemikian rupa sehingga menimbulkan praduga dan men discourage bagi para pekerja yang masih belum bisa bekerja dari rumah baik karena nature pekerjaannya atau karena sebab lain.

Bagiku itu sebuah kontras …. tindakan “naif” si Ibu dibandingkan dengan para komentator serta para ahli kelas social media yang bertebaran yang disupport dengan teori dan konsep kelas apa adanya.

Sebagai bagian dari komunitas sosial di kota dan bangsa ini tentu wajar jika aku miris. Bagaimana mungkin sebuah bangsa besar yang mengaku beragama, bahkan Tuhan dipanggil dimana-mana, bahkan juga Tuhan dipanggil-panggil kapanpun, mempunyai sikap dan perilaku sedemikian dalam menghadapi situasi yang begitu sulit serta dampaknya yang akan luar biasa super besar ini? …….. sebuah Twit dari seseorang jauh di Eropa seperti ini : Most of the world have no idea what’s going to happen with this situation!

Ini situasi dan kondisi yang serius …. siapapun didunia belum mempunyai jawaban untuk mengatasi virus yang sudah menjadi pandemic ini, demikian juga beserta dampak yang ditimbulkannya baik secara social, ekonomi dst.

Bukankah dalam situasi sulit seperti yang dunia alami saat ini akan lebih berguna jika semua saling mensupport, saling mengencourage, memberi semangat dibandingkan berdebat, membiarkan jemari merangkai kata liar lalu mempostingnya dan kemudian menimbulkan perdebatan dst?

Senin menjelang siang sekitar pukul 11.30, sebuah text dari Senior Pastor di sebuah gereja tempat kami sekeluarga menjadi bagian muncul : pagi pak Roy. kami doa buat perlindungan Tuhan buat bapak dan keluarga. Bgm dg Jasmine pak? stay di US atau balik Jkt?

yakin, text itu dibuat tidak lebih dari 1 menit, tetapi begitu besar artinya buat istri ku dan aku sendiri yang selama seminggu penuh kami gelisah memikirkan anak perempuan kami yang kuatir dan takut menghadapi situasi ini di kota tempatnya belajar.

Kemarin sekitar jam 7 malam saat mengambil kunci mobil dari pos security, kulihat 2 orang petugas piket sedang duduk bersampingan hampir tidak ada jarak. Lalu sambil kuterima kunci dari salah satu pak security aku berkata : pak, sebaiknya ambil jarak antara 2-3 meter y, ini untuk menjaga bapak-bapak sendiri dan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kita semua.

Tadi siang kulihat salah posting di whatsapp group kantor, seorang Area Manager yang melakukan video call dengan semua teamnya yang sedang di lapangan sekedar untuk memastikan apakah mereka mengenakan masker dan secara rutin membersihkan tangan dengan hand sanitizer. Sebuah tindakan sangat sederhana tetapi sangat menyentuh hatiku.

Belum lagi Bossku, sampe pegel jempolku meladeni text beliau menanyakan ini dan itu kondisi teamku dilapangan. Apakah mereka nervous, apakah mereka sudah diprovide oleh extra tools untuk menghambat penyebaran, apalagi yang kantor pusat bisa bantu, dll dll? …. Jempol boleh pegel tapi aku menjadi bersemangat dan besar hati mengetahui pak Boss selalu memperhatikan dan ada untuk kami semua.

Beberapa teman di kantor pusat yang karena nature pekerjaannya memungkinkan work from home juga banting tulang dipepet deadline super ketat untuk mempersiapkan ini dan itu supaya team field mendapat support yang baik dan segera dapat meminimalkan resiko dilapangan.

Tadi siang iseng aku memposting di IG story situasi lantai 3 di gedung tempat aku berkantor yang lengang, hanya aku seorang diri …. benar-benar seorang diri – dan mungkin beberapa hantu 🙂 – di seluruh lantai. Tidak lama kemudian puluhan teman yang bekerja dari rumah mengirimkan pesan : semangat pak!

Bayangkan jika apa yang kualami juga terjadi di komunitas kita masing-masing, bahkan di laman social media kita masing-masing? Saling memberikan semangat dan memberikan jalan keluar bagi orang lain?

Jika masing-masing dari kita telah menerima encouragement dari orang lain, mengapa kita tidak memberikan encouragement kepada orang lain?

Tindakan sederhana dan naif kita memang tidak akan mengubah dunia … tetapi paling tidak mengubah diri kita masing-masing.

Together we are stronger!

Indonesia kamu Bisa!

written by Roy Hekekire
December 31, 2019 3

pernah nggak sih berpikir atau merasa seakan semua still stay the same walaupun semalam bahkan sampai subuh berpesta merayakan tahun baru? katanya tahun baru? tapi mengapa kok semua terasa sama? masih terbangun dikamar yang sama, matras yang sama, bau kamar yang sama … semua masih sama persis nggak ada yang berubah. lalu apanya dong yang baru yang menjadikan sebagian besar orang di dunia merayakan tahun baru?

waktu memang socially constructed. masyarakat secara kolektif meng create arti dari waktu. waktu sejatinya adalah sebuah ilusi tetapi karena konstruksi social sehingga kita mengenal waktu seperti saat ini. konsep waktu seperti yang kita kenal saat ini karena masyarakat memberikan arti tertentu dari konsep tersebut.

berangkat dari teori konstruksi social tersebut rasanya akan lebih meaningful jika perayaan tahun baru tidak dibatasi sekedar akibat pergantian tanggal 31 Desember ke 1 Januari tetapi setiap saat bisa dimanfaatkan sebagai day1.

bukankah inti dari kehidupan adalah terus menerus berusaha menjadi lebih baik? meninggalkan hal-hal yang sudah lewat, belajar darinya dan self improve menjadi manusia baru ….. setiap saat?

sayup kudengar Day1 dari Honne ……..

You’ll always be my day one
Day zero when I was no one
I’m nothing by myself, you and no one else
Thankful you’re my day one
Thankful you’re my

I got lucky finding you
I won big the day that I came across you
‘Cause when you’re with me, I don’t feel blue
Not a day goes by that I would not redo .……………………………………………………………………

happy new day. happy new year.

written by Roy Hekekire
December 31, 2019 0

seperti kebiasaan yang sudah-sudah, setiap pergantian tahun kami selalu berkumpul keluarga besar. ada acara yang selalu diadakan. nggak pernah berubah formatnya, jujur menjemukan tetapi supaya tidak ada keributan yang tidak perlu ya kami jalani saja.

nggak tahu bagaimana asal mulanya tetapi selain berdoa semua orang yang ada dalam acara itu harus bicara satu persatu. walau bermacam-macam cara bicara dan seterusnya mayoritas isinya adalah review tahun yang sudah berjalan – ditambah dengan segala curhat dan keluh kesah 🙂 dan tentu saja harapan – atau mungkin juga tuntutan harus begini dan begono.

walau jaman sudah berubah dan umur masing-masing keluarga juga berubah tetapi entah mengapa cara yang digunakan tetap saja sama dari tahun ke tahun. aku membayangkan bagi anak-anakku betapa waktu berjalan begitu lambat di acara itu, detik bagaikan menit, menit laksana jam, dan jam serasa tahun 🙂

berubah menjadi relevan memang bukan perkara mudah.

pergantian tahun memang sering digunakan untuk refleksi diri, melihat kebelakang sejenak lalu resolusi. seberapa efektif resolusi itu, seberapa disiplin resolusi itu dilakukan dan ditepati tentu masing-masing punya jawabannya. tetapi seperti itulah siklusnya. resolusi tahun baru setelah refleksi tahun yang sudah lewat.

beberapa orang mempunyai masa lalu yang indah, saking eloknya sehingga layak di ceritakan kembali dengan berbagai tujuan. tetapi tidak sedikit orang yang mempunyai masa lalu yang hanya bisa diceritakan pada diri sendiri.

bukan untuk membandingkan, tetapi saat kupikir masa laluku tidak seindah seperti yang kuharapkan, nyatanya ada lebih banyak lagi yang mempunyai masa lalu tidak seindah masa laluku. saat kukira perjuangan hidupku keras, ternyata ada yang jauh lebih keras menempuh hidup dimasa lalunya. saat kurasa tahun ini adalah tahun paling menantang dalam hidup, ternyata bagi banyak orang kesulitanku bukanlah apa-apa.

saat aku mencapai angka 1 dan kulihat seseorang dititik -2 bukan berarti aku lebih baik dan seseorang itu lebih buruk.

kita tidak sebaik yang kita pikir – orang lain tidak seburuk yang kita kira. each of us have our own problems and mistakes.

orang bijak berkata : never judge someone without knowing the whole story. you may think you understand. but you don’t.

thanks a lot 2019 for the lessons. and welcome 2020, I see 365 opportunities in you.

written by Roy Hekekire
December 30, 2019 0

ITC

karena beberapa alasan, Natal dan akhir tahun ini kami tidak berlibur kemana-mana. hanya 3 malam mengunjungi Bapak di Semarang lalu tinggal di rumah yang kira-kira hanya 50 km jaraknya dari rumah kami di Jakarta.

praktis kami hanya menghabiskan waktu di kota hujan ini. selain karena masih harus berbenah ini itu juga karena kami benar-benar ingin menikmati waktu dengan tidak melakukan apa-apa.

sesekali saja kami keluar komplek sekedar mencari makan dan berbelanja keperluan rumah seperti sapu, alat pel dan sejenisnya 🙂

3 malam yang lalu, kami berbelanja makanan kecil, beberapa minuman, susu, candy dan sejenisnya di sebuah mall yang rasanya paling mentereng di kota ini. setelah memutari deretan rak dan gondola dan tak juga kutemukan minuman yang kucari lalu kupaksakan diriku bertanya ke salah seorang karyawan yang kutemui : “Mas, beer dimana ya?” si karyawan segera menjawab : “kami tidak menjual beer disini pak, mohon maaf” 🙂

tadi sore kami keluar bertiga untuk membeli 3M hook, itu lo cantelan/hook yang ditempel ke dinding untuk menggantung serbet dll 🙂 kami mengunjungi sebuah toko peralatan rumah yang terkenal. tapi toko yang berlantai 5 tersebut kebetulan atau memang begitu ternyata lift nya tidak aktif alias pengunjung harus melalui tangga.

mana lutut ku masih ada masalah demikian pula istriku, maka kami memutuskan mencarinya ditempat lain 🙂 lalu masuklah kami ke sebuah toserba yang lumayan besar, ramai orang disana. tapi tak kutemukan barang yang kucari.

dimobil, anak gadisku bilang begini : “Dad, I think mall disini semua like ITC ya 🙂 tinggal disini max 3 days OK lah selebihnya aku lebih cocok di Jakarta 🙂 jadi kalau kalian mau tinggal disini rumah Jakarta jangan diapa-apain karena next year kalau aku pulang aku mau tinggal di Jakarta aja 🙂

memang benar selama disini kedua anak ku nyaris gabut, sibuk dikamar masing-masing. si Abang sesekali keluar kamar dan mondar-mandir dia taman kecil di lantai 2, sesekali di turun kebawah memeriksa isi kulkas dan membawa beberapa yang dia maui. demikian juga si gadis, hanya turun ketika dia akan berbicara : “Jasmine laper” 🙂 selebihnya mereka berdua bertapa di goa mereka masing-masing.

tinggal ditempat baru memang tidak mudah, perlu adjustment beberapa hal, perlu beradaptasi. sometimes penyesuaian yang dilakukan perlu radikal tapi kadangkala hanya penyesuaian kecil tapi besar ….. seperti mall rasa ITC 🙂

adjustment atau beradaptasi memang bukan semata karena pindah tempat tinggal. bahkan kupikir adjustment adalah hal lumrah dalam keseharian.

lidah pengen makan tempe goreng tetapi si mbak masak tahu. pengen bangun siangan dikit, tapi duo berandal ngajak jalan pagi. maunya jalan-jalan lunch out semua tapi ada yang mager yang hanya minta dibungkusin. bukankah itu semua perlu adjustment?

yang lebih serius misalnya, pengen punya bos baik tapi dapetnya bos yang cranky setiap Senin pagi. maunya punya tempat kerja yang tinggal ngesot dari rumah tapi faktanya harus drive sejam dari rumah atau harus naik kereta.

tapi supaya hidup berjalan damai, seiring sejalan tidak konflik karena hal-hal remeh tentu perlu adjustment.

Eleanor Roosevelt said : be flexible, but stick to your principles.

written by Roy Hekekire
December 25, 2019 0

entah mengapa tiba-tiba istriku berbelanja pernak pernik Natal dan suatu malam dirangkailah pohon buatan lengkap dengan hiasan dan lampu-lampu berdiri mentereng diruang tengah. Ini adalah dekorasi Natal pertama sejak 4 tahun terakhir.

semua gara-gara ada anggota baru dikeluarga kami, Mikey dan Milo 🙂 takut dan kuatir dekorasi diacak-acak mereka berdua sehingga semua simpanan hiasan dan pohon buatan diberikan ke orang lain.

tetapi ada yang aneh dari pohon Natal yang terpasang dirumah. rangkaian yang indah harus terganggu dengan deretan kursi yang terpasang seperti layaknya sebuah benteng …… pohon Natal berbenteng 🙂 ini semua terpaksa dilakukan untuk menghambat serangan iseng kedua anjing peliharaan kami. walaupun demikian beberapa hiasan sudah sukses berhasil dicopet dan menjadi mainan mereka berdua.

walau keindahan pohon Natal tereduksi karena kursi-kursi yang membentuk benteng tapi tetap saja paling tidak kerlap kerlip lampunya membuat suasana khas Natal lebih terasa.

beberapa minggu terakhir topik lama tentang “memberikan ucapan Natal” kembali muncul. bener topik lama yang hanya muncul diawal Desember lalu menghilang dan akan muncul lagi Desember tahun depan 🙂 diskursus, perdebatan dari pihak-pihak bahkan sudah menginvasi time line platform social media apapun.

perdebatan tahunan yang selalu terulang, muter saja tak pernah maju seperti tidak ada topik lain yang lebih bermutu 🙂

sore tadi aku memposting ucapan Selamat Natal di semua platform social media ku. tidak lama kemudian dan bahkan saat aku menulis cerita ini respon dan ucapan selamat dari tman-teman terus bermunculan.

seperti pohon Natal dirumah, yang walau harus dibentengi dengan deretan kursi tetapi tetap saja terpasang, keindahannya kerlip lampunya hiasannya membuat suasana rumah menjadi berbeda.

demikian juga tampaknya walaupun perdebatan tak henti tentang ucapan tertentu tidak akan menghilangkan arti Natal yang sesungguhnya. Natal tetap saja berlangsung – dirayakan atau bahkan tidak dirayakan, diselamati atau tidak diselamati sekalipun. karena Natal tak lebih dari pertemuan seorang individu dengan penciptaNya.

bagiku jalinan pertemanan jauh lebih penting dibandingkan ‘memaksa’ teman-teman yang tidak hendak menyelamati untuk memberikan ucapan selamat.

terima kasih untuk teman-teman semua.

selamat Natal.

written by Roy Hekekire
December 17, 2019 0
written by Roy Hekekire
December 17, 2019 0

saat sedang menikmati makan malam yang sudah larut … orang bule bilang supper, sebuah pesan di WhatsApp masuk begini isinya : “selamat malam pak”. cepat saja aku berpikir ada apa ini? tidak mungkin hanya sekedar menyapa dimalam yang sudah menjelang larut. 

lalu aku membalas : “y Bang”. lalu muncullah jawaban, begini bunyinya : “anakku kondisi nggak stabil pak, nggak sadar”

singkat cerita, selesai makan malam bersama istriku aku menuju ke lantai 29 sebuah rumah sakit di daerah Semanggi, jam sudah menunjukkan sekitar pukul 11 malam. kutemui salah satu teman kerjaku yang sudah berkumpul bersama istri, anak2 dan saudara2.

namanya Dinda, seorang anak perempuan, aku lupa bertanya kepada bapaknya berapa umur anak ini, seorang anak perempuan yang sudah beberapa bulan terakhir berjuang melawan kanker darah yang diidapnya.

2 minggu sekali Dinda harus menjalani kemoterapi.

karena satu dan lain hal, Jumat lalu Dinda harus masuk ke rumah sakit lalu ke ICU dan sampai saat ini belum sadarkan diri.

malam sebelumnya, karena tuntutan pekerjaan aku mendatangi sebuah event besar di kawasan JIEXPO Kemayoran. puluhan ribu crowd datang bahkan dari berbagai negara, berpesta selama 3 malam berturut-turut.

hanya ada wajah gembira, senyum lebar bahkan tawa gelak mudah dijumpai dimana-mana.

tadi malam, bersama istriku, kami memenuhi sebuah undangan sakramen dan pesta perkawinan seorang kenalan lama. semua bergembira terlebih kedua mempelai. dengan janji perkawinan yang luar biasa indah sebuah keluarga baru terbentuk malam itu.

malamnya aku berpikir dan merenung, hanya dalam 2 hari terakhir aku berkesempatan menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri 3 peristiwa yang berbeda satu dengan yang lain. 

peristiwa seorang anak yang sedang berjuang untuk hidup, perjuangan orang tua dan handai taulan yang sedang berharap mendapat kesembuhan bagi sang anak. 

peristiwa yang lain, diwaktu yang sama, hanya terpisah beberapa kilometer jaraknya semua orang sedang berpesta diringi musik berkekuatan hampir 100 decibel.

lalu sebuah peristiwa perayaan terbentuknya sebuah keluarga baru.

memang tidak ada yang aneh. memang dunia dibentuk dari peristiwa yang bermacam2.

tetapi menyaksikan ke 3 peristiwa tersebut hanya dalam hitungan hari tentu tidak begitu lazim.

kemudian aku teringat sebuah nasehat lama dari almarhum kakek berkata begini : jangan terlalu gembira dan jangan terlalu sedih. sekedarnya saja kata beliau.

memang benar juga kupikir, 3 peristiwa sepanjang akhir minggu lalu mengajar aku bahwa ketika aku bergembira harus selalu menyadari bahwa dibagian tempat yang lain ada yang sedang bersusah dan bersedih hati.

belajar bukan saja dari peristiwa2 yang aku alami sendiri tetapi juga dari peristiwa2 yang sedang orang lain hadapi akan mengasah empati dan membuat aku menjadi tahu diri.

written by Roy Hekekire
December 10, 2019 2

selesai makan siang dengan beberapa teman, kami pun ngobrol2 tentang bagaimana masing2 mengelola keuangan.

perbincangan menjadi sedikit riuh karena ada beberapa dari kami yang hanya mendapat “husband allowance” dari Finance Minister 🙂

lalu obrolan berganti topik ini dan itu.

dirumah, ketika jari2 tanganku scrolling IG dan Line, topik tentang mantan Direktur Utama salah satu BUMN besar masih mendominasi. kali ini beserta dengan orang2 yang terlibat dengannya dikuliti habis oleh para Netizen termasuk salah satunya adalah seorang awak kabin yang konon menjadi apanya dari pak Dirut.

di salah satu posting yang aku sendiri heran gimana bisa sampai didapat oleh sipemilik akun diunggahlah video si awak kabin sedang memamerkan ini itu termasuk segala macam operasi plastik yang dilakukannya di luar negeri. 

jujur sih agak gimana gitu melihat video itu …. tapi lucu juga melihat tingkah polah si embak menunjukkan segala harta karun dan semua benda berharga yang dengan matematika sederhana sangat tidak masuk akal jika hanya diperoleh dengan salary dan segala macam tunjangannya sebagai awak kabin.

lalu menyeruak berita dari Hongkong tentang seorang perempuan Indonesia bernama AL, yang konon seorang sosialita. masih menurut berita itu AL sedang diuber2 pihak berwewenang karena sang sosialita ternyata adalah seorang penipu. aktivitas yang dilakukannya untuk memenuhi gaya hidup. korbannya sudah banyak!

memang sih jaman sekarang godaan tentang gaya hidup sangat dasyat. gaya hidup sudah sedemikian jauh meninggalkan esensi dari hidup itu sendiri. manusia modern lebih cenderung melihat bungkus lebih berharga dari isinya.

suatu saat si Oom yang paling hobby bercelana pendek … Almarhum Bob Sadino berkata begini : “bergayalah sesuai isi dompetmu. yang beneran punya nggak akan banyak bicara seperti mereka yang berlagak sok punya”

Jay-Z si rapper kelas dunia mengatakan begini : “you can’t afford something unless you can buy it twice”

ya benar si Oom dan Jay-Z sedang bicara tentang fenomena Snob yang dengan begitu mudahnya dijumpai, dibaca dan dilihat melalui media apapun.

artis yang memamerkan saldo ATM misalkan ….. masih lumayan kalo itu hasil jerih payah si artis itu sendiri. gimana kalo bukan? 

atau si anu dan si anu yang memamerkan segala macam harta benda merk2 maut kelas dunia …… masih lumayan jika itu hasil keringat sendiri …. gimana kalo bukan?

atau cerita tentang Pemda DKI yang mengetahui bahwa ratusan pemilik super car telah menunggak pajak 🙂

aneh bukan? mobil berharga M mampu dibeli tetapi pajak paling hanya ratusan juta masih juga nggak mau bayar.

inilah fenomena ketika hasil – yang diukur dari kepemilikan terhadap sesuatu – meniadakan penghargaan terhadap proses. sehingga nowadays pamer menjadi sesuatu yang lumrah. pamer kepemilikan terhadap sesuatu dan bukan proses!

kepemilikan terhadap sesuatu akan menentukan termasuk golongan mana seseorang dalam kelas masyarakat.

pemilik dan pengguna barang2 dengan merk2 yang biasa dijumpai di London, Paris dan New York akan secara otomatis digolongkan dan mendapat stempel dan masuk dalam kelas atas, jet set, tajir dan kemudian mendapat “penghargaan” tersendiri dari society. 

sebaliknya pemilik dan pengguna barang2 bermerk juga tapi berjamaah penggunanya dianggap marginal alias kelas pinggiran :). nggak ngerti dech gimana yang hanya mampu beli di Manggu dan Tanah Abang y? dianggap apa y mereka?

kelas atas dan marginal. kaya dan miskin.

yang mau beli termasuk kaya, yang tidak mau beli langsung auto miskin 🙂

padahal kan belum tentu y? 🙂

sayup kudengar entah dari mana berkata : ah kamu cuma sirik aja …. kamu nggak bisa pamer karena kamu nggak punya dan kamu nggak punya karena kamu tidak lebih tajir dari mereka yang lain #automiskin

ah baiklah ….. maaf kan …. maafkan si miskin ini y 🙂

akhir minggu lalu dalam suatu pertemuan Boss ku bilang begini : value kita sebagai individu, sebagai pribadi tidak boleh diukur dari pencapaian terhadap angka2. jika angka kita rendah maka kita melihat diri kita sendiri less value dan begitu juga sebaliknya! jangan begitu!

ah si Boss tahu aja 🙂

supaya lebih intelek 🙂 closing dari cerita ini akan menggunakan salah satu rumus fisika yang terkenal.

Pressure = Force/Area atau Tekanan = Gaya/Area

Tekanan berbanding lurus dengan Gaya, tetapi berbanding terbalik dengan Area.

berdasarkan rumus tersebut maka : jika hidupmu penuh tekanan, berarti kamu kebanyakan gaya.

ngawur y? 🙂 kan aku sedang pamer masih ingat pelajaran Fisika 🙂

written by Roy Hekekire
November 20, 2019 0

suatu pagi, begitu sampai dikantor aku terlibat dalam sebuah perbincangan menarik dengan 2 orang teman mengenai sebuah never ending topik dalam kehidupan pekerjaan di korporasi … turn over karyawan 🙂

ceritanya, salah satu dari anggota team temanku tadi mengajukan permintaan pengunduran diri karena ini dan itu. lalu temanku dan salah satu anggota team yang kusebut saja Bunga 🙂 berbincang cukup lama. selidik punya selidik, Bunga belum lama pulang dari berlibur bersama teman2 nya, dan Bunga merasa kehidupan teman2 nya begitu mengasyikkan. dari berlibur ke suatu tempat lalu tidak lama kemudian berlibur lagi ketempat lain, tanpa memikirkan kerja, berbisnis atau kegiatan produktif lain.

Lalu Bunga berfikir enak sekali y kehidupan mereka? mengapa aku tidak berusaha menikmati kehidupan masa muda ku seperti mereka?

Bunga bukan tidak berprestasi di pekerjaan. aku tahu berapa ratingnya, bagaimana attitude dan behavior nya di kantor. singkatnya Bunga punya kapabilitas yang lebih dari cukup untuk terus berkontribusi dan perform.

setiap kali kembali ke rumah dari bepergian, aku selalu melewati sebuah jalan dan setiap kali pula kujumpai seorang Ibu berumur 60 tahunan sedang duduk bersantai, kakinya diangkat sambil menikmati sebatang rokok.

suatu ketika aku berpikir, apa ya pekerjaan Ibu itu? pensiunankah? investorkah? orang kaya kah? masak iya tidak ada kegiatan lain sehingga pemandangan serupa selalu kulihat setiap kali aku melewati depan rumahnya?

enak sekali ya hidupnya, nikmat sekali 🙂

di spot yang berbeda menuju rumah, sekumpulan ojek daring berkumpul, bukan ngobrol tapi semua sibuk dengan telepon pintar masing2, kemungkinan besar mereka sedang mabar game online 🙂

jam berapapun ku lewati spot tersebut hanya pemandangan itu yang mendominasi. enak sekali ya hidupnya bisa main game online bersama di pagi hari, siang bolong atau malam hari?

ditengah gempuran kesibukkan, tekanan hidup, dan ketidak pastian menghadapi masa depan, tema tentang “Menikmati Hidup” muncul mendominasi laman social media.

lihat saja posting2 tentang travelling dan tempat2 indah nan eksostis di seluruh penjuru dunia, hotel2 mewah dan villa2 romantik di daerah tropis yang sexy, makanan2 yang tersaji indah, Fisrt Class atau bahkan private jet  menjadi ‘jualan’ pengguna media social dewasa ini.

beberapa account bahkan dikhususkan oleh pemiliknya untuk mengunggah “Kenikmatan Hidup” yang dijalani nya keseluruh dunia 🙂

tapi apakah sebenarnya “Kenikmatan Hidup” itu ya?

apakah travelling terus menerus, keluar masuk tempat2 eksotis, makanana mewah atau se sederhana bermain game online berjam-jam adalah manifestasi dari “Menikmati Hidup” ?

ah tentu masing2 orang mempunyai caranya sendiri2 tapi kalau kubaca dari beberapa artikel orang2 super kaya dunia mendonasikan sebagian besar kekayaannya untuk orang lain.

lalu aku bertanya apakah mereka menjadi filantropis karena sudah terlalu kaya atau karena mengetahui bahwa menjadi berarti untuk orang lain adalah sejatinya kemanusian manusia?

apakah untuk menjadi berarti bagi orang lain adalah hak istimewa orang2 super kaya?

para bapak yang seumur hidup dimasa produktifnya mendedikasikan hidup untuk istri dan anak2 atau para ibu walau bukan jenis sosialita yang berderma kesana kemari diliput media tetapi sampai akhir hidup memberikan dirinya untuk membesarkan anak2 dan mendampingi suami dan bahkan ada banyak ibu yang merangkap tugas sebagai pencari nafkah.

bukankah itu cerita biasa tentang menjadi berarti untuk orang lain?

saking biasanya cerita tersebut sampai sering terlewat dan terlupakan hingga membuat kita cenderung hidup untuk diri sendiri dan mengabaikan contoh sehari-hari.

menjadi berarti untuk orang lain adalah hak istimewa setiap manusia, it’s just a matter of choice!

sehingga “Menikmati Hidup” dengan menjadi berarti untuk manusia lain adalah the ultimate of human achievement.

bagaimana menurutmu?

written by Roy Hekekire
November 11, 2019 0

minggu siang sepulang gereja 21 tahun yang lalu di ibukota sebuah propinsi di Sumatera bagian Selatan aku menghabiskan waktu ku dengan berjalan-jalan di seputar pertokoan paling hits saat itu.

mataku terpukau ke sebuah jam tangan dan seketika itu pula aku masuk dan melihat, bertanya ini itu mengenainya.

setelah puas melihat dan bertanya, mata nakalku terhipnotis ke sebuah jam dilemari display yang lain dan seketika aku bertanya : boleh lihat yang itu?

tanpa gerakan sama sekali untuk mengambil jam yang aku maksud, si penjaga yang kemungkinan besar sipemilik malah menjawab : Mas, yang itu harganya mahal …… hahaahahahahaha tampang kucelku, badan cungkring 48 kg, gelap tak terurus seketika diidentifikasi sebagai calon pembeli yang tidak potensial sama sekali 🙂

sekitar tahun 2003 seorang teman kantorku berkunjung ke sebuah rumah sakit mata paling top di Jakarta karena merasa ada ini dan itu dimatanya. sesampai di lobby ditemuilah Mbak receptionist meladeni pertanyaan mengenai : siapa dokter yang paling bagus dll dll. setelah berusaha menjawab, diujung kalimat si Mbak mengeluarkan kalimat sakti : Mas, tapi disini mahal …… hahahahaha padahal yakin teman ku ini tidak termasuk cungkring … malah sedikit overweight, tidak kucel …. lalu hal apa yang mendasari si Mbak receptionist untuk menilai temanku ini sebagai calon pasien yang tidak potensial? 🙂

belum lama, disela break meeting aku dan beberapa teman berbagai cerita kesana dan kemari. lalu seorang teman bercerita bahwa suatu pagi dia menabrak mobil didepannya secara tidak disengaja. temanku ini mengendarai sendiri Toyota Alphardnya. si pengemudi mobil yang ditabrak seketika turun dari mobilnya menghampiri Alphard si biang rusuh. lalu terjadinya perbincangan sedikit ngotot khas Jakarta 🙂

“saya minta ganti, dimana bos mu?” tanya si korban

“bos saya di kantor pak” : kata si pemilik Alphard temanku ini

“telpon bos mu sekarang juga, saya minta ganti” : lanjut sang korban

“buat apa saya harus telpon bos saya pak?” : tanya temanku berlagak bego

“y kamu harus jelaskan sama bosmu dan bilang saya mau kerusakan ini diganti” : masih juga ngotot si korban Alphard pagi itu

“saya akan ganti pak, bapak bawa saja kebengkel dan ini KTP saya, saya akan ganti penuh berapa biaya untuk memperbaiki mobil bapak, tapi saya nggak perlu telpon bos saya karena ini mobil saya sendiri”…….. hahahahahahahaha disangka sopir rupanya teman ku ini 🙂

mungkin itu sebabnya sekarang ini segala daya di upayakan untuk memperbaiki, memoles dan mengupgrade penampilan diri, dari ujung kepala sampai ujung kaki bahkan sampai kedalam-dalam …. entah sedalam apa 🙂

urusan telpon genggam bermerk buah misalkan …. seberapa sering orang melakukan hal-hal dramatis hanya untuk memperolehnya? jual ginjal lah, jual ini lah itu lah

sehigga pekerjaan – apapun pekerjaan itu – yang kemudian ditukar dengan upah dilakukan lebih banyak untuk ditukar lagi dengan bungkus dibandingkan isi atau esensi.

lucu rasanya kita hanya dipuaskan dengan bungkus dan bukan isi.

beberapa saat yang lalu semua ribut karena pemerintah berencana menaikkan iuran BPJS. asuransi kesehatan versi pemerintah dan pemerintah sebagai regulator dimaki2 tidak becuslah inilah itulah.

setahuku iuran tertinggi akan bergerak dari 90 ribu menjadi 180 ribu.

mungkin angka tersebut memang besar. tetapi dengan kepala yang rasional mari sedikit saja berpikir dan membandingkan berapa rata2 spending untuk pulsa telepon? berapa rata2 pengeluaran untuk minum kopi dan café, nge bir, nonton bioskop, beli parfum ber juta-juta, sneakers, tas ini itu kulit sapi sapi kulit buaya dll dll.

langsung teringat foto2 nya Mark Facebook, Opa Warren Buffet, Oom Bill Gates yang hanya pake tshirt, sneakers dan jeans.

yang bener2 tajir, covernya biasa cenderung nyampah. eh kok  yang biasa2 aja covernya terlihat tajir.

tapi nggak apa2 jugalah toh masing2 mempunyai cara hidup dan prioritasnya sendiri. kenapa aku resek? 🙂

maaf kan …. maaf kan

written by Roy Hekekire
October 22, 2019 0

sebuah kisah entah fiksi atau beneran yang kubaca beberapa tahun lalu.

seorang petani miskin berkaki pincang bertetangga dengan seorang muda, gagah, kaya raya. si kaya berkata dalam hatinya : beruntung sekali aku, hidup berkelebihan, fisikku sempurna dan aku masih muda. betapa menyedihkannya hidup tetanggaku, sudah miskin, tua, pincang pula.

pada suatu hari desa yang dihuni keduanya kedatangan gerombolan perampok, membabi buta menggasak segala macam harta benda. ludes, habis tak bersisa harta si pemuda yang gagah perkasa.

malam hari setelah peristiwa perampokan didesa itu, sang pemuda berkata dalam hatinya : sungguh alangkah malangnya nasibku, habis sudah harta yang kukumpulkan dengan susah payah.

sementara si miskin pincang berpikir : betapa mujurnya nasibku, bebas dari perampokan karena tak ada hartaku yang bisa mereka bawa.

beberapa waktu kemudian, sampailah di desa tersebut sepasukan tentara yang menyampaikan maklumat sang raja : barang siapa yang yang cacat dan tidak mampu bertani dan beternak dengan baik harus dibunuh. kerajaan sedang menghadapi masa sulit. lalu dibunuhlah si miskin pincang.

lalu pemuda yang gagah tadipun berkata lagi dalam hatinya : kasihan sekali nasib si pincang. masih lebih baik nasibku, walaupun aku sekarang kembali miskin tetapi karena badan dan tubuhku yang sehat aku tidak dibunuh oleh raja.

tak lama berselang, kerajaan tersebut diserang oleh kerajaan lain dan sang raja memerlukan pasukan tambahan sehingga barang siapa yang muda, gagah harus menjadi tentara untuk ikut maju ke medan pertempuran. kemudian pemuda gagah tadipun menjadi tentara, maju berperang dan mati terpenggal kepalanya oleh musuh.

setelah hiruk pikuk rivalitas pemilihan pemimpin tertinggi di negeri ini, begitu dasyatnya sehingga membuat polarisasi sampai membuat simpul-simpul kehidupan bermasyarakat menjadi longgar bahkan terlepas disana-sini.

hanya ada aku atau kamu. aku dan kelompokku yang paling benar. kelompokmu pasti salah. dan begitu pula sebaliknya.

ide dari kelompok tertentu betapapun baiknya selalu salah dimata kelompok lainnya. menjengkelkan mengamatinya sampai hubungan pertemanan rusak, persaudaran menjadi permusuhan. padahal kenal juga tidak dengan para calon yang berkontestasi itu.

lalu sang pemenangpun diumumkan, sorak sorai berkumandang seantero negeri dari para pendukung. ejekan, ledekan kepada pendukung lawan bertaburan di laman media sosial.

si pecundang tak kalah sengit, dengan para pendukungnya mulai menebar ancaman ini dan itu, keriuhan menjadi liar selama berminggu-minggu lalu kerusuhan.

tak lama kemudian, sang pemenang berpadu dengan bekas lawan menyusun rencana untuk langkah negeri kedepan. kompak, berseri-seri dengan hidangan nasi goreng istimewa.

para pendukungpun geleng-geleng kepala tanda tak paham. apa yang sedang terjadi?

aku belajar bahwa segala sesuatu selalu dibatasi oleh berbagai dimensi sehingga tak ada hal yang final adalah final.

menginsyafi pengertian ini bukankah sebaiknya kita tidak terlalu mudah bahagia atau bersedih, tidak cepat tertawa atau menangis, tidak cepat mengatakan salah atau benar.

bukankah akhir dari setiap peristiwa sesungguhnya hanya sebuah koma, bukan titik.

written by Roy Hekekire
October 18, 2019 0

waktu pertama kali kudengar hastag ini terdengar lucu, aneh dan naif 🙂 bagaimana tidak salah satu orang penting dalam dunia profesionalku sampai harus mengingatkan tentang salah satu hal yang paling fundamental dalam hidup manusia ….. berkomunikasi.

otakku langsung berpikir bukankah berkomunikasi adalah kebutuhan hidup manusia sebagai Homo Homini Socius atau manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya. dan bahkan Adam Smith salah seorang bapak ekonomi modern mengatakan manusia adalah sebagai mahkluk sosial.

bagaimana mungkin persahabatan terjadi dan dijalin tanpa komunikasi? bagaimana caranya sebagai mahkluk sosial manusia mengabaikan komunikasi? ….. tentu tidak mungkin!

sebuah film yang dibintangi Kevin Costner berjudul The Postman menggambarkan betapa komunikasi di jaman lampau yang begitu sangat terbatas hanya dengan surat yang ditulis tangan, dikirimkan ke kantor pos terdekat kemudian dikirimkan oleh the postman yang mengendarai kuda menempuh berbagai macam resiko – bahkan kematian sipengirim – menjadikan si tukang pos begitu dinantikan walau sebenarnya bukan sipengirim yang ditunggu-tunggu tetapi surat yang dibawa si pembawa surat.

waktu aku masih berumur awal belasan tahun, pak pos yang mengendari sepeda motor warna oranye yang setiap hari selalu berkeliaran di perumahan sekitar rumahku membuatnya menjadi popular. setiap ada kiriman pos surat atau apapun pak pos yang aku sudah lupa namanya itu selalu minimal mendapatkan minum gratis dari penghuni alamat rumah penerima surat.

surat sebagai salah satu bentuk komunikasi begitu dinanti saat itu, mengapa?

lalu jaman berubah dengan begitu cepatnya. kecepatan komunikasi tidak lagi dihitung dengan hari tetapi detik!

saat seseorang menekan tombol ‘send’ maka saat itu juga pesan terkirim.

kecepatan komunikasi kemudian juga dibantu oleh beberapa platform. jika mau pesan pendek tersedia beberapa platform aplikasi yang dengan mudah bisa diakses melalui telepon pintar.

tetapi jika diamati kecepatan komunikasi tidak dibarengi dengan intensi, esensi dan substansi komunikasi manusia dengan sesamanya sebagai cara untuk menjadi sahabat bagi sesama manusia sebagai perwujudan manusia sebagai mahkluk sosial.

mari kita lihat beberapa contoh faktual yang begitu mudah ditemui :

seberapa sering kita berkomunikasi dengan orang tua masing-masing? bukankah hanya perlu beberapa klik dari telepon pintar saja kesulitannya?

seberapa intens kita berkomunikasi dengan istri, suami, pacar, pasangan, anak? bukankah hanya beberapa tombol di telepon selular yang perlu di sentuh?

dalam konteks inilah aku mencoba memahami mengapa hastag itu di create untuk mengingatkan bahwa berkomunikasi atau ngobrol itu hakiki 🙂

tanyakan, bicarakan, diskusikan.

sebuah quote yang kubaca mengatakan : assumption and lack of communication are the number one relationship killers. we all perceive differently. we’re lived different lives, we have different views. understand that before getting angry at someone for not believing what you believe.

written by Roy Hekekire
October 9, 2019 0

kami memelihara 2 ekor  anjing. yg berbadan besar jenis Golden Retriever bernama Mikey dan si kecil berjenis Toy Poodle bernama Milo. Mikey berumur 4 tahun dan Milo 3 tahun. mereka berdua menjadi bagian keluarga kami sejak masing-masing berusia 3 bulan.

sebagai anjing rumahan – mereka dilepas berkeliaran didalam rumah dan bukan dikandang dan tentu saja rumah adalah tempat mereka bermain sehari2nya.

Mikey si bongsor cenderung diam, tenang tetapi sebaliknya Milo cerewet dan tukang cari gara-gara.

salah satu kelakuan tengil Milo adalah suka mengganggu Mikey jika dia sedang tidur atau sekedar berbaring. Milo segera mendekati dan mulai menggeram-geram dan menggigit-gigit moncong si bongsor. Mikey marah lalu dikejarnya si kecil. tapi si kriwil Milo ini lumayan cerdas. mengetahui tak ada kemungkinan menang melawan Mikey setiap kali tidak ada tempat bersembunyi dari kejaran Mikey, Milo selalu menempatkan dirinya tepat dibawah perut Mikey 🙂

kehebohan lain yang hampir tiap hari terjadi adalah berebut keset kaki. Siapa lagi biangnya kalau bukan si kriwil cerewet ini. mulai dia gigit, dia bawa lari keset kaki sambil menggeram tak jelas dan berlari mondar mandir kesana kemari.

menyadari Milo menguasai panggung permainan, Mikey mulai terpengaruh, bangun dari posisi leyeh-leyeh dan segera berusaha merebut keset dari Milo. dan terjadilah rebutan keset, hampir setiap hari. entah sudah berapa banyak keset kaki menjadi korban kebrandalan mereka berdua.

menyadari keributan mulai tidak terkendali, suara istriku mulai meninggi ….. Mike …. Milo ngapain kalian? ayo ngapain kalian?

entah bagaimana kedua ekor anjing kami ini bisa membedakan suara marah atau bukan. sehingga setiap kali suara istriku mulai meninggi mereka akan kabur ke posisi persembunyian favorit masing-masing…..Mikey lari masuk kamar kami dan meringkuk dibawah meja rias istriku, sementara Milo selalu masuk ke kolong sofa di ruang tengah 🙂

aku lumayan suka lari. tidak jauh-jauh amat, kira-kira 5 km sekali lari. salah satu hal mengapa aku suka lari adalah karena pada saat itulah aku merasa bebas, lepas dari tekanan-tekanan dan one of the best me time 🙂 . pada saat kakiku mengayun langkah demi langkah entah mengapa aku merasa aman.

salah seorang temanku lain lagi, dia selalu pergi ke café yang sama, pesan kopi yang sama dan duduk tepat di tempat yang sama setiap kali ingin menyendiri ….. entah siapa yang mengejarnya 🙂 mungkin debt collector 🙂

tentu masing-masing mempunyai cara dan tempat favorit untuk sekedar “bersembunyi” sejenak dari tekanan, kesibukkan, rutinitas atau hal-hal lain.

bersembunyi bukan berarti menghindar atau menolak menghadapi tekanan, kesibukkan atau rutinitas tetapi sebagai cara untuk berhenti sejenak bahkan mundur beberapa langkah, mengkonsolidasikan segala macam yang diperlukan untuk segera maju kembali.

aku belajar dari Mikey dan Milo, mereka berdua segera kabur, sejenak kabur ke tempat favorit mereka masing-masing setiap kali ada suara tinggi tanda mengancam, sejenak mereka bersembunyi untuk sesaat kemudian keluar dari lobang masing-masing dan membuat keonaran berikutnya.