Category: life style

written by Roy Hekekire
December 10, 2019 2

selesai makan siang dengan beberapa teman, kami pun ngobrol2 tentang bagaimana masing2 mengelola keuangan.

perbincangan menjadi sedikit riuh karena ada beberapa dari kami yang hanya mendapat “husband allowance” dari Finance Minister 🙂

lalu obrolan berganti topik ini dan itu.

dirumah, ketika jari2 tanganku scrolling IG dan Line, topik tentang mantan Direktur Utama salah satu BUMN besar masih mendominasi. kali ini beserta dengan orang2 yang terlibat dengannya dikuliti habis oleh para Netizen termasuk salah satunya adalah seorang awak kabin yang konon menjadi apanya dari pak Dirut.

di salah satu posting yang aku sendiri heran gimana bisa sampai didapat oleh sipemilik akun diunggahlah video si awak kabin sedang memamerkan ini itu termasuk segala macam operasi plastik yang dilakukannya di luar negeri. 

jujur sih agak gimana gitu melihat video itu …. tapi lucu juga melihat tingkah polah si embak menunjukkan segala harta karun dan semua benda berharga yang dengan matematika sederhana sangat tidak masuk akal jika hanya diperoleh dengan salary dan segala macam tunjangannya sebagai awak kabin.

lalu menyeruak berita dari Hongkong tentang seorang perempuan Indonesia bernama AL, yang konon seorang sosialita. masih menurut berita itu AL sedang diuber2 pihak berwewenang karena sang sosialita ternyata adalah seorang penipu. aktivitas yang dilakukannya untuk memenuhi gaya hidup. korbannya sudah banyak!

memang sih jaman sekarang godaan tentang gaya hidup sangat dasyat. gaya hidup sudah sedemikian jauh meninggalkan esensi dari hidup itu sendiri. manusia modern lebih cenderung melihat bungkus lebih berharga dari isinya.

suatu saat si Oom yang paling hobby bercelana pendek … Almarhum Bob Sadino berkata begini : “bergayalah sesuai isi dompetmu. yang beneran punya nggak akan banyak bicara seperti mereka yang berlagak sok punya”

Jay-Z si rapper kelas dunia mengatakan begini : “you can’t afford something unless you can buy it twice”

ya benar si Oom dan Jay-Z sedang bicara tentang fenomena Snob yang dengan begitu mudahnya dijumpai, dibaca dan dilihat melalui media apapun.

artis yang memamerkan saldo ATM misalkan ….. masih lumayan kalo itu hasil jerih payah si artis itu sendiri. gimana kalo bukan? 

atau si anu dan si anu yang memamerkan segala macam harta benda merk2 maut kelas dunia …… masih lumayan jika itu hasil keringat sendiri …. gimana kalo bukan?

atau cerita tentang Pemda DKI yang mengetahui bahwa ratusan pemilik super car telah menunggak pajak 🙂

aneh bukan? mobil berharga M mampu dibeli tetapi pajak paling hanya ratusan juta masih juga nggak mau bayar.

inilah fenomena ketika hasil – yang diukur dari kepemilikan terhadap sesuatu – meniadakan penghargaan terhadap proses. sehingga nowadays pamer menjadi sesuatu yang lumrah. pamer kepemilikan terhadap sesuatu dan bukan proses!

kepemilikan terhadap sesuatu akan menentukan termasuk golongan mana seseorang dalam kelas masyarakat.

pemilik dan pengguna barang2 dengan merk2 yang biasa dijumpai di London, Paris dan New York akan secara otomatis digolongkan dan mendapat stempel dan masuk dalam kelas atas, jet set, tajir dan kemudian mendapat “penghargaan” tersendiri dari society. 

sebaliknya pemilik dan pengguna barang2 bermerk juga tapi berjamaah penggunanya dianggap marginal alias kelas pinggiran :). nggak ngerti dech gimana yang hanya mampu beli di Manggu dan Tanah Abang y? dianggap apa y mereka?

kelas atas dan marginal. kaya dan miskin.

yang mau beli termasuk kaya, yang tidak mau beli langsung auto miskin 🙂

padahal kan belum tentu y? 🙂

sayup kudengar entah dari mana berkata : ah kamu cuma sirik aja …. kamu nggak bisa pamer karena kamu nggak punya dan kamu nggak punya karena kamu tidak lebih tajir dari mereka yang lain #automiskin

ah baiklah ….. maaf kan …. maafkan si miskin ini y 🙂

akhir minggu lalu dalam suatu pertemuan Boss ku bilang begini : value kita sebagai individu, sebagai pribadi tidak boleh diukur dari pencapaian terhadap angka2. jika angka kita rendah maka kita melihat diri kita sendiri less value dan begitu juga sebaliknya! jangan begitu!

ah si Boss tahu aja 🙂

supaya lebih intelek 🙂 closing dari cerita ini akan menggunakan salah satu rumus fisika yang terkenal.

Pressure = Force/Area atau Tekanan = Gaya/Area

Tekanan berbanding lurus dengan Gaya, tetapi berbanding terbalik dengan Area.

berdasarkan rumus tersebut maka : jika hidupmu penuh tekanan, berarti kamu kebanyakan gaya.

ngawur y? 🙂 kan aku sedang pamer masih ingat pelajaran Fisika 🙂

written by Roy Hekekire
November 20, 2019 0

suatu pagi, begitu sampai dikantor aku terlibat dalam sebuah perbincangan menarik dengan 2 orang teman mengenai sebuah never ending topik dalam kehidupan pekerjaan di korporasi … turn over karyawan 🙂

ceritanya, salah satu dari anggota team temanku tadi mengajukan permintaan pengunduran diri karena ini dan itu. lalu temanku dan salah satu anggota team yang kusebut saja Bunga 🙂 berbincang cukup lama. selidik punya selidik, Bunga belum lama pulang dari berlibur bersama teman2 nya, dan Bunga merasa kehidupan teman2 nya begitu mengasyikkan. dari berlibur ke suatu tempat lalu tidak lama kemudian berlibur lagi ketempat lain, tanpa memikirkan kerja, berbisnis atau kegiatan produktif lain.

Lalu Bunga berfikir enak sekali y kehidupan mereka? mengapa aku tidak berusaha menikmati kehidupan masa muda ku seperti mereka?

Bunga bukan tidak berprestasi di pekerjaan. aku tahu berapa ratingnya, bagaimana attitude dan behavior nya di kantor. singkatnya Bunga punya kapabilitas yang lebih dari cukup untuk terus berkontribusi dan perform.

setiap kali kembali ke rumah dari bepergian, aku selalu melewati sebuah jalan dan setiap kali pula kujumpai seorang Ibu berumur 60 tahunan sedang duduk bersantai, kakinya diangkat sambil menikmati sebatang rokok.

suatu ketika aku berpikir, apa ya pekerjaan Ibu itu? pensiunankah? investorkah? orang kaya kah? masak iya tidak ada kegiatan lain sehingga pemandangan serupa selalu kulihat setiap kali aku melewati depan rumahnya?

enak sekali ya hidupnya, nikmat sekali 🙂

di spot yang berbeda menuju rumah, sekumpulan ojek daring berkumpul, bukan ngobrol tapi semua sibuk dengan telepon pintar masing2, kemungkinan besar mereka sedang mabar game online 🙂

jam berapapun ku lewati spot tersebut hanya pemandangan itu yang mendominasi. enak sekali ya hidupnya bisa main game online bersama di pagi hari, siang bolong atau malam hari?

ditengah gempuran kesibukkan, tekanan hidup, dan ketidak pastian menghadapi masa depan, tema tentang “Menikmati Hidup” muncul mendominasi laman social media.

lihat saja posting2 tentang travelling dan tempat2 indah nan eksostis di seluruh penjuru dunia, hotel2 mewah dan villa2 romantik di daerah tropis yang sexy, makanan2 yang tersaji indah, Fisrt Class atau bahkan private jet  menjadi ‘jualan’ pengguna media social dewasa ini.

beberapa account bahkan dikhususkan oleh pemiliknya untuk mengunggah “Kenikmatan Hidup” yang dijalani nya keseluruh dunia 🙂

tapi apakah sebenarnya “Kenikmatan Hidup” itu ya?

apakah travelling terus menerus, keluar masuk tempat2 eksotis, makanana mewah atau se sederhana bermain game online berjam-jam adalah manifestasi dari “Menikmati Hidup” ?

ah tentu masing2 orang mempunyai caranya sendiri2 tapi kalau kubaca dari beberapa artikel orang2 super kaya dunia mendonasikan sebagian besar kekayaannya untuk orang lain.

lalu aku bertanya apakah mereka menjadi filantropis karena sudah terlalu kaya atau karena mengetahui bahwa menjadi berarti untuk orang lain adalah sejatinya kemanusian manusia?

apakah untuk menjadi berarti bagi orang lain adalah hak istimewa orang2 super kaya?

para bapak yang seumur hidup dimasa produktifnya mendedikasikan hidup untuk istri dan anak2 atau para ibu walau bukan jenis sosialita yang berderma kesana kemari diliput media tetapi sampai akhir hidup memberikan dirinya untuk membesarkan anak2 dan mendampingi suami dan bahkan ada banyak ibu yang merangkap tugas sebagai pencari nafkah.

bukankah itu cerita biasa tentang menjadi berarti untuk orang lain?

saking biasanya cerita tersebut sampai sering terlewat dan terlupakan hingga membuat kita cenderung hidup untuk diri sendiri dan mengabaikan contoh sehari-hari.

menjadi berarti untuk orang lain adalah hak istimewa setiap manusia, it’s just a matter of choice!

sehingga “Menikmati Hidup” dengan menjadi berarti untuk manusia lain adalah the ultimate of human achievement.

bagaimana menurutmu?

written by Roy Hekekire
November 11, 2019 0

minggu siang sepulang gereja 21 tahun yang lalu di ibukota sebuah propinsi di Sumatera bagian Selatan aku menghabiskan waktu ku dengan berjalan-jalan di seputar pertokoan paling hits saat itu.

mataku terpukau ke sebuah jam tangan dan seketika itu pula aku masuk dan melihat, bertanya ini itu mengenainya.

setelah puas melihat dan bertanya, mata nakalku terhipnotis ke sebuah jam dilemari display yang lain dan seketika aku bertanya : boleh lihat yang itu?

tanpa gerakan sama sekali untuk mengambil jam yang aku maksud, si penjaga yang kemungkinan besar sipemilik malah menjawab : Mas, yang itu harganya mahal …… hahaahahahahaha tampang kucelku, badan cungkring 48 kg, gelap tak terurus seketika diidentifikasi sebagai calon pembeli yang tidak potensial sama sekali 🙂

sekitar tahun 2003 seorang teman kantorku berkunjung ke sebuah rumah sakit mata paling top di Jakarta karena merasa ada ini dan itu dimatanya. sesampai di lobby ditemuilah Mbak receptionist meladeni pertanyaan mengenai : siapa dokter yang paling bagus dll dll. setelah berusaha menjawab, diujung kalimat si Mbak mengeluarkan kalimat sakti : Mas, tapi disini mahal …… hahahahaha padahal yakin teman ku ini tidak termasuk cungkring … malah sedikit overweight, tidak kucel …. lalu hal apa yang mendasari si Mbak receptionist untuk menilai temanku ini sebagai calon pasien yang tidak potensial? 🙂

belum lama, disela break meeting aku dan beberapa teman berbagai cerita kesana dan kemari. lalu seorang teman bercerita bahwa suatu pagi dia menabrak mobil didepannya secara tidak disengaja. temanku ini mengendarai sendiri Toyota Alphardnya. si pengemudi mobil yang ditabrak seketika turun dari mobilnya menghampiri Alphard si biang rusuh. lalu terjadinya perbincangan sedikit ngotot khas Jakarta 🙂

“saya minta ganti, dimana bos mu?” tanya si korban

“bos saya di kantor pak” : kata si pemilik Alphard temanku ini

“telpon bos mu sekarang juga, saya minta ganti” : lanjut sang korban

“buat apa saya harus telpon bos saya pak?” : tanya temanku berlagak bego

“y kamu harus jelaskan sama bosmu dan bilang saya mau kerusakan ini diganti” : masih juga ngotot si korban Alphard pagi itu

“saya akan ganti pak, bapak bawa saja kebengkel dan ini KTP saya, saya akan ganti penuh berapa biaya untuk memperbaiki mobil bapak, tapi saya nggak perlu telpon bos saya karena ini mobil saya sendiri”…….. hahahahahahahaha disangka sopir rupanya teman ku ini 🙂

mungkin itu sebabnya sekarang ini segala daya di upayakan untuk memperbaiki, memoles dan mengupgrade penampilan diri, dari ujung kepala sampai ujung kaki bahkan sampai kedalam-dalam …. entah sedalam apa 🙂

urusan telpon genggam bermerk buah misalkan …. seberapa sering orang melakukan hal-hal dramatis hanya untuk memperolehnya? jual ginjal lah, jual ini lah itu lah

sehigga pekerjaan – apapun pekerjaan itu – yang kemudian ditukar dengan upah dilakukan lebih banyak untuk ditukar lagi dengan bungkus dibandingkan isi atau esensi.

lucu rasanya kita hanya dipuaskan dengan bungkus dan bukan isi.

beberapa saat yang lalu semua ribut karena pemerintah berencana menaikkan iuran BPJS. asuransi kesehatan versi pemerintah dan pemerintah sebagai regulator dimaki2 tidak becuslah inilah itulah.

setahuku iuran tertinggi akan bergerak dari 90 ribu menjadi 180 ribu.

mungkin angka tersebut memang besar. tetapi dengan kepala yang rasional mari sedikit saja berpikir dan membandingkan berapa rata2 spending untuk pulsa telepon? berapa rata2 pengeluaran untuk minum kopi dan café, nge bir, nonton bioskop, beli parfum ber juta-juta, sneakers, tas ini itu kulit sapi sapi kulit buaya dll dll.

langsung teringat foto2 nya Mark Facebook, Opa Warren Buffet, Oom Bill Gates yang hanya pake tshirt, sneakers dan jeans.

yang bener2 tajir, covernya biasa cenderung nyampah. eh kok  yang biasa2 aja covernya terlihat tajir.

tapi nggak apa2 jugalah toh masing2 mempunyai cara hidup dan prioritasnya sendiri. kenapa aku resek? 🙂

maaf kan …. maaf kan