Category: life lessons

written by Roy Hekekire
September 21, 2019 0

Namanya Hercules tetapi tentu bukan tokoh mitologi Yunani- anaknya Zeus. Entah kenapa dia lebih terkenal dengan panggilan itu. Konon karena wajah dan body nya mirip dengan penyanyi dangdut bernama panggung sama yang belum lama ini meninggal karena kanker, atau mungkin sebab lain aku tidak terlalu jelas.

Hercules yang ku kenal hari Kamis lalu adalah laki-laki sederhana, hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama di Sragen, sebuah kota kecil di Jawa Tengah.

Dengan bekal hampir tidak ada, Hercules merantau ke Jakarta pada tahun 1999 hanya karena terpukau oleh cerita teman-teman sedesanya setiap kali mereka bercerita tentang Jakarta.

Di Jakarta tanpa bekal pendidikan, keterampilan, koneksi dan uang membuatnya menjadi pengamen di bus kota. Tidak bisa main alat musik, tidak bisa menyanyi jadilah tugas meminta uang dari para penumpang bus menjadi bagiannya.

Selama 3 tahun itu lah pekerjaannya hanya untuk menyambung hidup dari hari ke hari, tidak lebih.

Perjalanan selanjutnya membuatnya melangkah menjadi buruh disebuah pabrik karung di kawasan Cimanggis, hanya beberapa kilometer jauhnya dari Jakarta. Rp. 75.000 / bulan upahnya, yang menurut cerita hanya habis untuk membayar hutang makanan sehari-hari dari warung di sekitar pabrik tempatnya bekerja.

Tak puas dengan kondisi hidup, Rudi demikian nama asli pemberian orang tuanya mulai melihat celah peluang untuk sedikit menambah isi kantong ……. berjualan rokok batangan ke teman-teman sesama buruh pabrik yang mayoritas laki-laki.

Satu bungkus rokok dia beli lalu dijual batangan. Rudi melihat ada hasilnya. Dari 1 bungkus menjadi beberapa bungkus. Pikirannya mulai makin terbuka.

Suatu kali, Hercules alias Rudi melihat peluang untuk berdagang kaki lima dengan ‘push cart’ di sebuah kawasan di Kabupaten Bogor. Dengan uang tabungan ala kadarnya ditambah hutang dari pabrik tempatnya bekerja Rudi mulai berdagang setelah selesai jam kerja pabrik.

Jadi gini Bos, tuturnya padaku …. setiap kali saya kulakan untuk keperluan dagang, saya ini kepengin belanjanya bisa seperti pedagang-pedagang yang lain. Mereka itu belinya kok bisa banyak ya, sementara saya hanya bisa 1 atau 2 bungkus setiap itemnya. Lalu itu jadi cita-cita, saya kepengin bisa belanja banyak seperti mereka.

Dengan tekun dijalaninya 2 pekerjaan itu sampai dia bertemu dengan seorang perempuan yang kemudian dipacarinya. Setelah mereka berpacaran Rudi fokus ke pekerjaannya sebagai buruh sementara Mbak Yanti berdagang di rombongnya.

Kemudian mereka menikah. Usaha mereka berdagang berlahan-lahan mulai menghasilkan dan Rudi berhenti bekerja sebagai buruh pabrik. Rudi dan Yanti bahu membahu membangun usaha kecil mereka.

Hasil memang tidak pernah mengkianati usaha. Perlahan uang terkumpul dan mereka membangun rumah dan tempat usaha yang lebih permanen.

Kamis lalu saat aku berkunjung ke tokonya, Hercules sedang sibuk dengan laptop dihadapan nya. Dia mempelototi setiap transaksi dari para pelanggan yang kebanyakan sudah dilakukan melalui sebuah aplikasi yang perusahaanku siapkan untuk membantu toko dan retailer.

Panjang lebar dengan antusias Hercules bercerita padaku, kebanyakan hal-hal yang menggelikan saat beberapa bulan lalu dia harus belajar menggunakan komputer dan aplikasi melalui telepon pintar.

Hercules, seorang pengamen lulusan SMP, bekas buruh pabrik karung, mantan pedagang rombong kaki lima ala kadarnya yang sekarang menjadi pemilik sebuah toko kategori tempat kulakan.

Hidup memang adil. Siapa yang ber cita-cita dan berusaha tentu hasil adalah urusan waktu.

Seorang temanku berbisik, pak …. kalo cuma 9 digit sekarang sudah ada di tabungannya πŸ™‚

Dari Hercules temanku ini aku belajar tidak perlu jadi anak Zeus untuk menjadi sukses.

written by Roy Hekekire
September 2, 2019 0

Orang mengenal sebagai Mak Item.

Karena segan bertanya kepada anak sekaligus penjaga warung makan itu maka kutanyakan kepada Chandra dan Dhimas yang menemaniku siang tadi mengapa namanya begitu.

Mungkin karena kulitnya yang memang benar2 hitam, atau istilah Dhimas eksotis jawab mereka berdua.

Warung Mak Item berlokasi di dekat area loading dock Electronic City – SCBD. Tidak begitu besar memang. Disana hanya ada 1 tempat display dari alumunium tempat segala macam lauk-pauk, sayur – mayur, rokok dan beberapa barang dagangan lain yang hanya dijejalkan disana dan disini.

Ada juga 2 buah meja tempat 2 container plastic bermuatan segala macam gorengan dan diujung sebelahnya lagi tempat bersemayam deretan gelas plastik siap untuk menampung apapun minuman pesanan dari para pengunjung warung itu yang sebagian besar para pekerja diseputaran SCBD.

Sungguh kontras antara warung Mak Item diantara segala “kemewahan” kawasan SCBD.

Siang tadi panas sekali, panas sekali. entah sudah berapa botol air mineral yang berusaha mendinginkan tubuhku yang sudah banjir keringat.

Sambil bertanya dan mencari informasi ini dan itu, tiba-tiba Chandra bilang : pak …. ini dalam sehari, rata-rata di warung ini terjual 1.000 gelas, campur ada es teh, kopi panas, kopi dingin.

Berapa? 1.000? kataku kurang sedikit paham. Iya pak …. 1.000 gelas sehari kata Chandra menegaskan.

Di sebelah luar etalase alumunium milik Mak Item terdapat 2 kertas putih yang sdh dilapis laminating. 1 buah berisi daftar rokok dan harganya, sedangkan 1 lainnya berisi daftar makanan dan minuman yang tersedia.

Dari daftar harga makanan dan minuman muncul lah Nasi Uduk sebagai peringkat pertama kemahalannya ….. Rp.6.000. Dan Es Teh Manis sebagai juru kunci dengan harga Rp. 3.000.

Langsung kalkulator Karce πŸ™‚ yang terinstal di otakku yang nggak seberapa ini mulai menghitung.

Taruhlah hanya Es Teh Manis yang terjual seharga Rp.3.000 x 1.000 gelas …… bukankah itu berarti Rp. 3.000.000 ……. hah Rp. 3.000.000 sehari…… yang benar aja, hanya untuk urusan Es Teh?

Untuk menghindari blog ini sebagai soal cerita ujian matematika, maka kusederhanakan saja. Anggap modal untuk beli teh, gula, gelas plastik dan es semahal-mahalnya separo dari harga jual yang Rp.3.000 itu, sehingga Mak Item menghasilkan Rp.1.500.000 setiap hari dari gelas-gelas minuman.

Jika dalam sebulan warung Mak Item buka 25 hari maka setiap bulannya dari urusan es teh manis beliau bisa menghasilkan Rp. 75.000.000 gross !!! atau paling tidak setelah potong modal, ongkos ini dan itu Mak Item bisa membawa penghasilan sebesar Rp. 37.500.000 / bulan !!!

Langsung jadi ingat yang sempat viral beberapa waktu yang lalu, saat seseorang berkicau tentang kepantasan “harga” fresh graduate jebolan universitas ternama πŸ™‚

Mak Item bisa jadi tidak lulus dari mana-mana tetapi dari kesederhanaan warung dan usahanya aku belajar …… bahwa kenyataan seringkali berbeda dibandingkan oleh apa yang tertangkap oleh mata.

written by Roy Hekekire
August 28, 2019 0

2 orang anak muda, keduanya berumur 22 tahun. keduanya adalah mahasiswa di salah satu institut teknik di kawasan Bekasi. mereka berdua duduk tepat didepanku. yg disebelah kiri dengan sedikit berewok tak rapi adalah seorang pengemudi ojek daring.

yang satunya, berperawakan kurus tinggi adalah buruh di salah satu pabrik minuman murah di sebuah kawasan industry ternama di Bekasi.

seorang pengemudi ojek daring yang mahasiswa dan seorang buruh yang mahasiswa. siang mereka bekerja, malam mereka belajar.

lalu aku bertemu dan berkenalan dengan seorang Ibu separoh baya, beranak 2 tetapi menjadi 5 karena 3 orang anak kakaknya sudah tinggal bersamanya sejak kecil. seorang janda, ditinggal mati suaminya dengan cicilan ini dan itu setiap bulannya Rp. 30.000.000.

dari kondisi sedih, putus asa karena beban cicilan peninggalan suami, Ibu ini bangkit dan mengembangkan usaha warungnya yang dengan cepat tadi kuhitung perputaran dan penghasilannya sudah cukup menarik bagi penarik pajak untuk melirik πŸ™‚

Ibu Siti tinggal di gang kecil di kawasan Pulogadung, saluran air beberapa meter dari warungnya luar biasa busuk baunya. beranak 3, bersuami. mereka tinggal di warung yang merangkap tempat tinggal mereka. 24 jam terus menerus warungnya buka.

dengan antusias Ibu yang sederhana ini bercerita awal perkenalannya dengan perusahaan tempatku bekerja dan bagaimana semua usaha yang dirintisnya berubah menjadi seperti saat ini sejak terlibat dan belajar dalam usaha pengembangan usaha kecil dan mikro yang digagas perusahaan kami.

Dalam bahasa Jawa yang aku mengerti Siti berarti tanah atau bumi.

2 orang anak muda dan 2 orang Ibu separoh baya yang benar2 menginjak tanah, sadar dan menerima kenyataan hidup tetapi kaki2 mereka tidak terpaku diam, kaku tak bergerak di tanah yang mereka injak masing2.

mereka bergerak, sedang melangkah ke tanah yang sedikit berumput, mungkin ada beberapa pohon tempat berlindung dari panas, dari hujan.

dari 4 manusia sederhana yang kutemui hari ini aku melihat mimpi2 yang sedang diperjuangkan.

written by Roy Hekekire
August 27, 2019 0

kira2 jam 2 siang, matahari Jakarta sedang panas2nya, membakarku dari ujung kepalaku yang tak berambut sampai ke ujung kaki yang tertutup rapat sepatu. basah kuyub pakaian sampai kedalam2.

sekumpulan para pengendara ojek daring berkumpul.

ada yang sekedar melepas lelah sambil memesan dan menikmati makan siang mereka yang terlambat, ala kadarnya hanya dengan telor dadar yang setipis helai kain dan sejumput terong dimasak cabai.

ada yang hanya duduk2 sambil mengisi kembali batere telepon selular masing2.

beberapa diantaranya ada yang mengantri menukar jaket warna hijau yang mulai pudar lusuh dengan yang baru.

disuatu sudut, stand kredit motor tampak sepi.

wajah2 kelelahan menguasai lokasi istirahat mereka, panas, tanpa AC, hanya beberapa kipas besar yang disediakan provider layanan ojek daring tersebut.

tak tampak terlihat obrolan apalagi senda gurau. masing2 sibuk melepaskan penat sejenak, mendinginkan diri dari ganasnya matahari Jakarta dan serbuan debu yang tak berhenti siang itu.

kira2 berumur sedikit lewat 30 tahun. berasal dari Sumenep – Madura. seorang ex perawat di salah satu rumah sakit di Jakarta Utara. seorang Bapak beranak 2. hari ini kutemui dia di warung kelontong miliknya yang baru dirintis sejak 3 tahun yang lalu.

kutanyai dia mengapa memilih berhenti menjadi perawat dan membuka usaha warung kelontong. lalu dia bercerita bahwa para perawat senior di rumah sakit tempatnya dulu bekerja kurang sukses hidupnya tatkala tua membuatnya berpikir.

lalu laki2 ini memutuskan berhenti dan membuka warung kelontong di sebuah jalan tidak begitu besar di wilayah Jakarta Barat. saat ini warung kelontongnya sudah beranak 3 ….. ya 3!

didalam mobil, dalam perjalanan kembali ke kantor aku berpikir dan merenung betapa hidup manusia, membanting tulang, berupa segala daya.

ada yang hanya sekedar menyambung hidup, bertahan tak tergoda banyak pilihan pekerjaan yang bisa menghasilkan puluhan ratusan kali lipat dengan cara tak wajar tetapi ada pula yang sudah mulai menemukan jalan memperbaiki hidup seperti laki2 dari Sumenap yang kutemui siang tadi.

beberapa waktu yang lalu dari sebuah media aku membaca seorang perempuan muda yang segera setelah diwisuda dari universitas negeri ternama di Semarang Jawa Tengah berfoto dengan mengenakan jaket hijau salah satu ojek daring terkemuka. gadis muda ini rupanya sudah menekuni sebagai pengemudi ojek daring disela2 jadwal kuliah sekedar memastikan biaya pendidikannya tercukupi. foto dengan jaket hijaunya tepat setelah acara wisuda seperti hendak mengatakan sesuatu kepadaku.

namanya Sellha Purba, seorang gadis cantik yang kulihat fotonya dari media online yang beberapa waktu lalu menjadi viral karena pekerjaannya sebagai petugas penyapu jalan sekitar Kelapa Gading Jakarta. antara paras cantik dan penyapu jalan …. suatu kombinasi yang sulit dipahami saat ini, lalu jadilah viral.

masih banyak lagi cerita serupa yang tak akan habis dituliskan dan diceritakan.

hidup memang selalu menyediakan pilihan dan menuntut kegigihan. selalu ada pilihan. selalu ada pilihan.

hari ini aku belajar dari para ojek daring tentang arti kegigihan dan seorang laki2 dari Sumenep tentang menentukan sebuah pilihan.

di Daan Mogot jam 2 siang aku belajar tentang kegigihan dan menentukan sebuah pilihan.

written by Roy Hekekire
August 19, 2019 0

kembali ke sebuah gedung kantor tempat ku bekerja beberapa tahun yang lalu, tidak lama hanya 2 tahun disini. tetapi bukan sembarang gedung kerena tempat ini adalah salah satu tempat darimana salah satu perusahaan raksasa di negeri ini dibangun dan berkembang.

sudah banyak perubahan dari sisi design interiornya dibanding sebelumnya. lebih modern dengan warna warni disana sini, susunan meja kerja yang lebih terbuka dan woila ….. ada cukup banyak spot-spot untuk duduk lebih santai sambal berdiskusi dengan lebih rileks. kantor ini sudah berubah.

berusia 106 tahun dan berubah …. bukan hal yang mudah dilakukan tentunya mengingat sejarah yang panjang dengan segudang cerita dan peristiwa penuh nostalgia  menguras emosi dan cenderung membawa kita kembali ke masa itu.

tadi pagi berangkat dari hotel tempatku menginap menuju ke kantor legendaris ini aku menumpang sebuah taksi yang dikemudikan pak Hadi Ramono, kutaksir berusia mendekati 60 tahun. pak Hadi tidak banyak bicara sepanjang perjalanan, hanya fokus mengemudi, sangat cekatan dan cenderung mengebut πŸ™‚

tidak tahu bagaimana asal mulanya karena aku asyik memeriksa beberapa pesan masuk di cell phone ku, tiba2 mobil di rem dengan sangat mendadak, aku tersontak dan mobil zig zag beberapa saat dan terdengar derit ban yang lumayan kencang lalu kemudian pak Hadi membanting setir ke kiri untuk menghindari benturan dengan mobil didepan yang hanya beberapa meter jauhnya setelah sebelumnya dengan cepat beliau menengok ke kaca spion untuk melihat apakah ada mobil dari belakang yang melaju kencang.  selamat kami dari kecelakan pagi itu.

kaca spion yang kecil itu menjadi salah satu perangkat vital pagi itu.

sesekali melihat kebelakang untuk sejenak melihat apa yang sudah aku lewati, belajar dari peristiwa2 yang terjadi dan bersyukur untuk semua peristiwa baik dan buruk untuk selanjutnya melanjutnya perjalanan.

benar, melanjutkan perjalanan, berpikir kedepan dan melangkah maju, terus maju.

karena terus menerus menoleh kebelakang hanya akan menjebak diriku sendiri pada semua peristiwa nostalgia.

easier said than done ….. untuk berubah memang jauh lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. itu sebabnya seringkali aku berkeinginan untuk berubah tetapi tetap saja diam ditempat atau bahkan terus kembali dalam kehidupan masa lalu.

aku belajar bahwa komitmen saja tidak cukup TETAPI perlu melangkah untuk melakukan sesuatu yang benar2 baru. doing my first step over and over again until become my habit.

kalimat bijak berkata : melakukan hal yang sama tetapi mengharapkan sesuatu hasil yang berbeda sejatinya adalah sebuah kebodohan besar.

lalu aku bertanya pada diriku sendiri : aku sudah banyak melakukan kesalahan, banyak sekali jalan salah yang ku pilih dan rasanya tak bisa lagi kuhapus semua kesalahan itu. lalu aku harus bagaimana?

tentu saja masa lalu tak mungkin bisa dihapus. justru dari masa lalu lah aku bisa berkaca untuk menentukan langkah kedepan selanjutnya bukan? lagipula bukankah setiap orang mempunyai masa lalu dan kesalahannya masing2?

seperti kaca spion yang selalu lebih kecil dibanding kaca depan pada sebuah mobil tentu ada maksudnya.

pertanyaan utamanya adalah : apakah ingin maju, diam ditempat atau bahkan mungkin kembali kemasa lalu? tidak ada pilihan lain kurasa.

jika ingin maju kedepan tak ada pilihan lain selain melihat kaca depan lebih fokus dan lebih sering dibanding melihat kaca spion.

gimana kalo kaca spion nya rusak karena disenggol atau ditabrak kendaraan lain? πŸ™‚

(1) tentu perlu ku review bagaimana caraku mengemudi? teledor kah, ugal2an kah? tidak disiplinkah? jika jawabannya ya tentu saja aku harus merubah caraku mengemudi dengan lebih baik dan hati2.

(2) segera ganti kaca spion. dan memastikan kaca spionku tidak lebih besar dari kaca depan

bagaimana menurutmu?

written by Roy Hekekire
August 1, 2019 0

25

selesai makan siang, sebuah email masuk ke Inbox. kubuka dan ternyata sebuah undangan untuk datang dan menerima Peniti Emas – sebuah penghargaan bagi setiap karyawan dengan masa kerja 25 tahun yang diberikan setiap kali perusahaanku memperingati hari jadinya di bulan Agustus.

lumayan kaget, campur aduk perasaan, nggak jelas mana yang lebih dominan karena setiap tahun aku pun juga menerima undangan serupa tetapi biasanya salah satu atau beberapa anggota team ku yang menerima penghargaan ini, tetapi kali ini aku harus datang sendiri karena salah satu penerimanya adalah aku.

25 tahun? really? selama itukah sudah aku di company ini?

rasanya baru kemarin di recruit, ditraining, dikirim kesana kemari. tahun ini sudah 25 tahun? ah yang bener? salah hitung kali ya? – denial mode on πŸ™‚

karena bingung nggak tahu bagaimana harus bereaksi langsung kukirim message ke istriku dan salah satu group yang berisi 3 orang teman – kami menyebutnya Boy Band – nggak jelas kapan juga kami main band :), boy? tambah nggak jelas lagi …. πŸ™‚

ada yang menarik dari salah satu response yang kuterima ….. jadi separo umur di company ya? ….. u la la …… benar juga ya separo dari umurku ada di company ini. dan itu juga berarti aku tumbuh menjadi dewasa di company ini.

langsung ingatan terlempar January 1994, tanggal 17, hari Senin, hari dimana aku sign contract dalam program Management Trainee.

sejak saat itu bersama company ini aku merasakan pahit dan manis, suka dan duka, dari satu perubahan ke perubahan lainnya ….. sebuah company yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, yang mengajariku banyak hal, yang memberiku ruang dan kesempatan untuk berbuat salah dan memperbaikinya, sebuah company yang memberiku kebebasan untuk berkembang sesuai dengan potensiku, sebuah company yang membuatku bertemu dengan orang-orang yang kemudian menjadi keluarga ke 2 ku.

apakah hanya itu? tentu saja tidak!

ada kalanya frustasi, putus asa dan berpikir untuk keluar bahkan sudah sampai tahap serius. but again family is family ….. sometimes we argue, bahkan bertengkar, marah, dll dll …. but in the end family stick together to face and solve our problem.

company ini memang bukan yang paling sempurna tetapi sudah menjadi DNA kami untuk Striving for Excellence …. bukankah itu lebih menarik dan menantang?

ditengah proses transformasi yang sedang terjadi di company ini baik di level global atau local Indonesia, tentu saja aku menjadi penasaran apa yang akan terjadi, proses apa yang akan dilalui dan akhirnya akan menjadi seperti apa kelak … disaat itulah aku disadarkan bahwa 25 tahun sudah aku disini!

memang pengalaman bukanlah segala BUT dengan jam terbang segitu lama, pengetahuan tentang market, bisnis, organisasi dan orang2 yang ada disini masak iya tidak ada yang bisa aku lakukan lagi untuk terlibat aktif dalam proses perubahan ini? masak iya cuma jadi penonton dan jadi objek dari perubahan?

yang ada dipikiranku saat ini cuma 1 yaitu : aku ingin melihat akan seperti apa company ini 5 tahun dari sekarang? akan seberapa transform dibandingkan tahun 1994 tahun aku bergabung disini?

lebih dari sekedar penasaran karena keterlibatanku tentu sedikit banyak akan juga mempengaruhi bagaimana organisasi ini akan berjalan dan berubah.

25 tahun hanyalah sekedar angka karena aku #menolaktua πŸ™‚

Sampoerna terima kasih!

written by Roy Hekekire
July 26, 2019 0

namanya Dewi Febriyanti, seorang gadis siswi sebuah SMP di Tangerang yang berjualan bakpao di Pompa Bensin sebelah Perubahan Ubud, Tangerang, sepulang sekolah hingga tengah malam. bahkan apabila ada pekerjaan rumah dari sekolahnya maka Dewi akan mengerjakannya sambil berjualan.

kisah Dewi mengetuk hati banyak pihak hingga muncul sebuah gerakan untuk menggalang dana untuk mensupport gadis remaja ini untuk meneruskan sekolahnya.

namanya pak Catur, driver yang menemaniku setiap hari menempuh macetnya jalanan Jakarta. rumah pak Catur berjarak 40 km dari tempat tinggal ku. yang artinya beliau harus menempuh 80 km setiap hari pergi dan pulang dengan menaiki sepeda motornya yang sederhana.

jam 5 pagi pak Catur sdh harus berangkat dari rumah dan kembali lagi sampai ke rumahnya di Cileungsi jam 10 malam. tentu saja dengan keadaan capek luar biasa.

beliau mempunyai 3 orang anak, yang terkecil baru di level PAUD. sehingga saban hari beliau hanya mempunyai beberapa jam saja bertemu, berbincang, bermain dengan ketiga orang anaknya.

tidak ada yang aneh dengan kedua ceritaku tadi. hal sangat biasa yang terjadi dalam kehidupan sebagian kita.

kisah inspiratif Dewi tentu bukan satu2nya cerita. terlalu banyak cerita seperti ini. seseorang yang mengorbankan masa kecil, masa remajanya untuk mendukung cita2 yg mereka miliki masing2.

masa bermain dan berexplorasi dengan sengaja dilepaskan untuk mendapatkan sesuatu yang lain – uang, yang kemudian uang tersebut akan juga mereka lepaskan supaya  mendapatkan pendidikan, kesehatan atau sesuatu yang lain.

pak Catur melepaskan waktu yang dimiliki untuk mendapatkan sesuatu supaya ke tiga orang anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik, termasuk sekolah dan pendidikan mereka.

kehidupan memang aneh. kehidupan pada hakekatnya adalah sebuah proses untuk melepaskan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang pada waktu nya akan dilepaskan juga.

tidak satupun yang diperoleh dalam hidup yang tidak akan dilepaskan.

itu lah hidup