Category: leadership

written by Roy Hekekire
November 30, 2019 0

Air

sejak Sabtu 30/11/19 IG story bos ku dan teman2 kantor di penuhi dengan foto dan cerita tentang foto si boss dalam sebuah botol air minum mineral.

tentu saja ini bukan dalam rangka si boss yang promosi air minum dalam kemasan miliknya – walau saya berharap one day si boss akan punya his own brand πŸ™‚

air minum dalam kemasan bergambar foto keren si boss memang sengaja diproduksi dan didistribusikan se antero negeri sebanyak pasukannya yang tersebar di lebih dari 80 kota di Indonesia – jumlah ribuan !

suatu pertanyaan sekilas menggoda pikiranku menjelang Sabtu sore. mengapa si boss membagikan air minum dalam kemasan bergambar dirinya? apa nggak ada barang lain yang lebih atraktif. masak iya air minum? cuma sebotol pula? ongkos kirim ke hampir 90 kota bisa jadi lebih mahal dari ongkos produksi air minum itu sendiri? masak iya orang se logik dan maut hitungan2 angka seperti boss ku terlewat matematika sederhana seperti ini?

hampir 20 tahun hidup di kota besar seperti Jakarta memaksa ku tinggal di sebuah rumah yang sangat minim halamannya walau hanya sekedar untuk menanam ini itu. sisa tanah tidak lebih dari 6 meter persegi, sehingga setiap kali onggokan tanah harus dibeli dari penjual bunga yang sering mondar mandir di kampung tempat tinggal ku supaya beberapa tanaman yang ada mempunyai media yang cukup untuk tumbuh.

kondisi ini menjadikan tanaman dan sejenisnya tidak menjadi obyek yang aku amati sehari-hari sampai beberapa hari yang lalu untuk pertama kali aku menginap di rumah Bogor – tempat yang kumaksudkan untuk kami tinggali di masa tua nanti. tidak besar memang tapi mempunyai halaman yang lumayan untuk ditanami rumput dan beberapa tanaman hias, ada yang langsung ditanam di tanah dan ada beberapa yang ditanam di pot2.

karena halaman yang lebih besar dari rumah sehingga rumput dan tanaman2 yang ada kurasa menjadi salah satu objek yang mendominasi rumah kami sehingga ‘memaksa’ku untuk mengamati para geng hijau ini πŸ™‚

selama ini karena kami belum menghuni rumah tersebut ada seorang tukang taman yang memelihara supaya rumput dan tanaman terpelihara, pagi dan sore Furqon akan menyiram, mencabut rumput liar dan memangkas merapikan tanaman2 yang ada.

seminggu lalu Furqon sakit sehingga dia tidak bisa bekerja sehingga ketika aku datang kulihat beberapa tanaman mulai tidak sesegar seperti biasanya bahkan beberapa yang ditanam di pot2 terlihat layu. rumput2 mulai bersaing dengan rumput liar πŸ™‚

memang Bogor disebut orang kota hujan tapi siapa juga yang sanggup memaksa kalau hujan tidak mau turun seminggu itu?

segera kuambil selang air dan kusiram rumput dan tanaman2 itu. menjelang sore kulihat mereka sudah mulai segar, daun2 yang tadinya seperti kurang darah alias lemas mulai waras ….

riset singkat dengan Google kutemukan informasi bahwa antara 80% – 50% tubuh manusia terdiri dari air, tergantung tingkat usianya, semakin tua kandungan air dalam tubuh manusia semakin sedikit.

itu sebabnya semakin tua karena kandungan air relative berkurang tubuh manusia terlihat makin keriput dst dst πŸ™‚

air, ya air …. emang siapa yang tidak membutuhkan air? bahkan dalam sejarah cerita umat manusia banyak sekali peperangan dan saling bunuh yang disebabkan karena memperebutkan sumber air.

secara hiperbolik bahkan dikatakan air adalah sumber kehidupan.

walau tumbuhan tidak akan hidup tanpa air, manusia dan binatang akan mati tanpa air tapi wujud air sama sekali sekali tak kasat mata alias tidak bisa dilihat dengan mata telanjang di mahkluk hidup. kita hanya mampu melihat daun, bunga, batang, ranting, akar di tumbuhan. atau ekor, taring, telinga, wajah, kaki, tangan dll dll pada bintang dan manusia. sama sekali kita tidak bisa melihat air yang katanya 80% di tubuh manusia?

sama seperti air yang menghidupkan tanaman, binatang dan manusia. air tidak tampak terlihat di flora dan fauna tapi air ada di dalam mereka. air menghidupkan mereka.

demikian juga seorang pemimpin – siapapun dia, di layer apapun, organisasi apapun – dari level rumah tangga sampai level negara atau perusahaan2 yang rumit – pemimpin itu seperti air.

pemimpin itu menghidupkan dan menghidupi organisasinya walau seringkali pemimpin itu tidak tampak. bagaimana bisa tampak karena pemimpin itu tidak bicara tentang manusia nya tetapi tentang ide dan gagasan!

sebagai kumpulan ide dan gagasan tentu saja perlu didistribusikan, disebarkan sampai semua orang dalam organisasi sama memahaminya seperti sipemilik ide dan gagasan awal. seperti air yang harus terdistribusi dari mulai akar sampai daun bahkan daun terkecil di ranting terluar, seperti itu pula ide dan gagasan seorang pemimpin harus tersebar sampai ke layer yang paling bawah.

organisasi yang hidup adalah jikalau ide dan gagasan pemimpin bisa terdistribusi sama baiknya di layer manapun dan dipahami sama baiknya oleh siapapun orang dalam organisasi.

dalam konteks itulah aku memahami mengapa si boss bersusah payah mempertaruhkan harga diri dengan memajang foto nya di air minum dalam kemasan dan didistribusikan ke seluruh organisasi.

walau tentu saja tubuhnya nggak mungkin bisa di slicing sehingga memungkinkan 1 di Jakarta, 1 lagi di Surabaya, 1 lagi di Medan …. tentu nggak mungkin, tapi beliau sedang mengatakan walau dirinya hanya bisa ada di satu tempat dan di satu waktu tapi ide dan gagasannya tetap harus ada dimanapun di dalam organisasi. karena dengan itulah organisasi akan hidup.

written by Roy Hekekire
October 30, 2019 0

setiap kira-kira jam 5 pagi si krucil bawel Milo – toy poddle jantan milik kami – memulai aktivitasnya dengan bertingkah menjengkelkan dengan menggigit dan menarik telapak kaki, menggapai wajah istriku dan jika tetap tidak ada respon maka dia akan merengek-rengek memecah kedamaian pagi hari di kamar tidur kami sampai istriku terbangun.

sederhana saja keinginannya, dia ingin keluar dari kamar. setelah pintu terbuka lalu dia akan memastikan istriku tidur di sofa lalu Milo melanjutkan tidurnya di bawah sofa.

sesekali istriku pura-pura keluar dan setelah memastikan si krucil nyempil di bawah sofa, istriku kembali kekamar. belum juga semenit berlalu dia sudah mulai merengek-rengek tepat di depan pintu kamar tidur. Milo selalu ingin ditemani, dia dibawah sofa, istriku melanjutkan tidurnya di sofa.

beberapa kali aku mencoba mengambil alih tanggungjawab itu. aku yang bangun dan mengajak Milo keluar. bukannya dia segera keluar, Milo malah sibuk berlari memutari kamar tidur kami menunggu istriku terbangun πŸ™‚

sewaktu ke 2 anak kami beranjak remaja, aku memperhatikan komunikasi kami berjalan menjadi tidak efektif. setiap perbincangan – kemudian hari aku menyadari bahwa itu bukan perbincangan tetapi komunikasi 1 arah, aku bicara, anak-anak mendengarkan :), setiap kali keluar nasehat petuah petatah petitih hanya debat nggak jelas sebagai akhirnya.

lalu aku mencari tahu sebab ini dan itunya, mencoba teknik-teknik baru siapa tahu ada cara yang efektif dalam kami berkomunikasi. sampai akhirnya kutemukan cara tertentu yaitu : datangi kamarnya setelah memastikan mereka santai dan nyaman, ajak bicara, tanyakan ini dan itu lalu kemudian sampaikan concern kita sebagai orang tua. done !

ya, benar ada pola tertentu dalam segala sesuatu. pola atau bentuk/struktur yang tetap sebagai hasil dari perilaku yang dilakukan terus menerus.

dalam dunia digital urusan pola ini menjadi sumber utama dalam memprediksi perilaku manusia.

karena ada yang bilang : past behavior predict future behavior πŸ™‚

tindakan tertentu yang sudah ter pola atau terstruktur secara tetap sebagai respons terhadap sebuah peristiwa akan dengan mudah digunakan untuk memperkirakan tindakan apa yang akan diberikan sebagai respon jika peristiwa tersebut terjadi lagi di kemudian hari.

contoh sederhana, seseorang yang kecewa dengan sesuatu akan mempunyai pola yang berbeda-beda untuk merespon nya. ada yang ngambek, tidak mau diajak bicara, memblock applikasi komunikasi di telepon pintar. ada pula yang langsung marah, bicara dengan nada tinggi. ada pula yang secara frontal mengajak adu argument. dan tentu saja ada banyak sekali pola yang terjadi.

dengan mengobservasi dan mempelajari pola-pola ini tentu akan sangat membantu untuk memperbaiki komunikasi dan memperbaiki diri.

jika pola si Milo tidak baik dan mengganggu kami tentu kami akan memberikan respon yang berbeda. misal kami mengabaikan ulah tengilnya di pagi subuh tersebut. setelah beberapa saat pasti keributan di pagi hari akan berhenti. pola yang Milo miliki disebabkan karena dilakukan berulang-ulang dan respon kami selalu sama.

karena kami anggap Milo adalah alarm pagi kami sehingga kami melihat ini pola yang baik yang terus harus di pelihara πŸ™‚

bagaimana dengan pola yang negatif misalkan? contoh : setiap kali makan ayam geprek level neraka selalu mules dipagi hari. mudah saja stop makan ayam geprek.

masalahnya masih suka ayam geprek level neraka tapi nggak mau mules dipagi hari. ada sih caranya : ganti perut dengan gallon air minum πŸ™‚

written by Roy Hekekire
October 27, 2019 0

suatu malam, dengan kebijaksaan seorang bapak yang mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk membantu ke dua anak nya tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang utuh, mulailah aku bercerita tentang bagaimana dulu bapaknya hidup, dibesarkan dan menjalani hari-harinya. tentu saja ini hal yang lumrah dilakukan oleh para orang tua kepada anak-anaknya.

siapa tahu dengan cerita-cerita masa lalu anak-anak mendapatkan inspirasi atau motivasi yang membantu mereka menjadi dewasa.

lalu mulailah aku bercerita …… dulu kalau Papa harus berangkat sekolah, Papa harus berjalan kaki dulu sekian kilometer ke terminal Bus Kota. dengan Bus Kota itu Papa baru bisa sampai ke sekolah. karena kalau Papa naik angkutan dari rumah sampai ke terminal Bus berarti Papa tidak bisa jajan.

coba bandingkan dengan kalian berdua, dari rumah cuma perlu jalan 5 langkah, masuk mobil, di mobil kalian sibuk dengan head set masing-masing, mobil jalan sendiri karena kalau bukan sama pak sopir ya Mama yang antar. hidup kalian jauh lebih enak dibanding Papa dulu.

jadi kalian harus lebih semangat sekolah, cari pengetahuan yang banyak, bla bla bla bla πŸ™‚

setelah mulutku berhenti bicara aku berharap ke dua anakku akan terdiam, berpikir mungkin sedikit terharu karena perjuangan Papa nya yang tidak mudah untuk bisa sampai sekolah πŸ™‚

tetapi sekonyong-konyong si sulung pun menyambar : o….jadi dulu Opa miskin sekali ya? si bungsu menambahkan : iya Pa, Opa miskin y? πŸ™‚

aku terdiam dan lalu aku tertawa … lalu kami semua tertawa. nggak jelas ini cerita motivasi atau stand up comedy πŸ™‚

dunia kerjaku memungkinkan dan memberikan aku kesempatan untuk bisa berbicara, membagi cerita, berbincang dengan banyak orang. terkadang dalam format yang lumayan besar tapi terkadang juga lumayan private.

aku amati ada beragam respon, ada yang serius mendengarkan, dahinya berkerut, ada yang kepalanya mengangguk-angguk tapi ada juga yang bersandar santai di kursi masing-masing dengan mata seperti bola lampu 5 watt πŸ™‚

tentu saja aku bukan dukun yang mampu mendeteksi isi pikiran tetapi aku juga bukan bodoh-bodoh amat untuk memperkirakan isi pikiran dari bahasa tubuh masing-masing bukan?

tentu saja itu bukan soal, apakah respon diberikan negatif, netral atau positif itu urusan masing-masing orang.

cerita tertentu akan ditangkap, dipahami dan diresponse sebagai cerita yang bermutu, menginspirasi, memotivasi dan memberikan dorongan untuk berubah menjadi lebih baik.

tetapi cerita yang sama akan dipahami orang yang berbeda hanya sebagai bla bla bla, seperti angin, sebentar berhembus lalu hilang tak berbekas.

memang masing-masing orang mempunyai cara belajarnya sendiri-sendiri. ada yang mau belajar dari cerita pengalaman orang lain, tetapi banyak pula yang tidak.

itu juga tidak jadi soal sepanjang manusia terus menerus belajar untuk menjadi lebih baik itu sudah lebih dari cukup, tidak perlu risau dengan caranya.

yang jadi masalah adalah, tidak mau belajar tetapi mau menjadi lebih baik πŸ™‚

written by Roy Hekekire
October 24, 2019 0

dalam beberapa bulan terakhir ini hampir setiap kali aku pergi ketempat-tempat hang out, entah itu karena urusan makan bareng istri dan anak, entah itu bicara urusan pekerjaan dengan beberapa teman, atau hanya sekedar bersantai dan melepas penat sebuah lagu lama yang dipopulerkan oleh Reza Arthamevia awal tahun 2000 – hampir 20 tahun yang lalu, selalu saja dimainkan, dinyanyikan dan floor menjadi hiruk pikuk, hingar bingar karena hampir semua mulut bibir pengunjung sing along dengan suara ala kadarnya πŸ™‚ ….. pecah.

tentu tidak aneh jika pengunjung tempat-tempat itu berusia sepantaran denganku tetapi bagaimana jika anakku sendiri yang baru berumur awal 20 an juga paham dan tahu dengan lagu ini?

bahkan sebuah movement sekelompok anak muda yang memperdengarkan lagu-lagu lawas era 80 an dengan sentuhan disko selalu menarik pengunjung anak-anak 20 tahunan sampai meluber mengantri?

produk lama yang meng attract anak-anak muda hanya dengan membuatnya menjadi relevan hanya dengan  memainkannya dengan sedikit sentuhan aransemen masa kini.

awal tahun ini aku berdiskusi dengan salah seorang teman mengenai situasi dan kondisi terkini di organisasiku. sebuah data menunjukkan bahwa sudah lebih dari separo orang-orang di organisasiku adalah generasi yang beken dengan sebutan generasi milenial, sebuah generasi yang lahir bersamaan dengan kemunculan internet. mereka lahir di akhir era 90 an awal 2000……mudahnya anak-anak yang berbeda usia minimal 20 sampai 30 tahun dari umurku πŸ™‚

sebenarnya sudah kusadari situasi ini sejak beberapa tahun yang lalu tetapi melihat angkanya sudah lebih dari 50% tentu saja sedikit banyak ini cukup mengagetkan.

kuamati sejak si sulung memasuki jenjang junior high school, hampir setiap saat kulihat ditelinganya selalu tersumpal dengan head set, entah apa yang di dengarkan.

lama kelamaan tak tahan juga aku dibuatnya, lalu aku mulai ajak dia bicara untuk mencari tahu apa yang dia dengarkan melalui kupingnya yang selalu tersumpal itu πŸ™‚

rupanya anakku ini sedang mendengarkan music, menikmati lagu-lagu yang menarik minatnya – dan tidak menarik minatku.

suatu sore di hari minggu karena gabut nggak jelas, aku dan istriku mulai mengakses YouTube dan kami lihat dan mainkan sebuah lagu yang super ngetop pada jamannya.

karena Mac terletak di living room tentulah suara dari lagu tersebut mendominasi seisi rumah menginvasi kamar tidur ke dua anakku.

belum juga sampai chorus kedua anakku serempak keluar dari sarangnya dan semua bertanya dengan suara lantang : kalian sedang dengarin lagu apa sih?

istri ku dan aku saat itu sedang memutar sebuah lagu dari one of Indonesia legend : Chrisye ! πŸ™‚

ditambah beberapa kejadian dan hasil observasi sehari-hari aku menjadi makin sadar bahwa perbedaan generasi antara kami berdua dan anak-anak menjadi salah satu challenge untuk kami bisa berkomunikasi secara lebih efektif.

lalu mulailah aku secara sadar dan dengan tujuan mulia tertentu mencari tahu bagaimana caranya bisa mengetahui trend terkini yang sedang diperbincangkan dan disukai oleh kedua anakku.

thanks to teknologi informasi yang memungkinkan ku berselancar mencari informasi ini itu, membuka account social media mulai dari Twitter di jaman itu sampai denga IG. kumanfaatkan juga iTunes untuk mencari tahu lagu dan music yang sedang trending πŸ™‚

long story short akhirnya aku paling tidak mulai mengetahui dan belajar memahami hal-hal yang menjadi interest kedua anakku dan woila ….. kami mulai bisa bicara dengan lebih connect di hal-hal tertentu. atau paling tidak kedua anakku mengetahui Bapaknya tidak ketinggalan jaman, update dan bisa diajak ngobrol hal-hal even yang remeh temeh seperti lagu yang sedang happening, fashion trend, dll πŸ™‚

‘keberhasilan’ ini membuatku menjadi lebih percaya diri karena sudah mulai menemukan cara untuk bisa lebih connect ke generasi anakku. lalu kupraktekkan ini di kehidupan profesionalku.

aku mulai merubah caraku berbicara, caraku berinteraksi bahkan caraku berpakaian. tentu saja itu semua kulakukan purposely and intentionally πŸ™‚ eeeeaaaaaaaaaa πŸ™‚

cukup sering anak-anak muda di organisasiku ini ‘berkomunikasi’ denganku melalui social media, melalui direct message untuk beberapa hal atau melalui wall jika sekedar ha ha hi hi, atau bahkan saling berbalas komen sampah πŸ™‚

ketika masing-masing sudah mulai merasa nyaman maka jangan heran jika sometimes bercandaan mereka bisa masuk kualifikasi “less teach” jika diukur dari value dan tata cara sopan santun generasiku πŸ™‚

benar, menjadi relevan ada key word nya. menjadi relevan dengan siapa kita akan berinteraksi menjadi starting point supaya komunikasi bisa nyambung.

but easier said than done. ada harga yang harus dibayar untuk stay and keep relevan, bahkan harga nya bisa semahal harga diri πŸ™‚

suatu ketika kuajak beberapa area manager untuk makan siang bersama. begitu masuk ke mobilku secara otomatis play list di iPhoneku langsung terconnect dengan audio yang ada di mobil ….. dan terdengarlah Location Unknown dan Day 1 dari Honne πŸ™‚ ….. tak lama kemudian salah satu dari area manager ku berkata : serius Bapak dengerin Honne? ini Bapak tahu dari mana? πŸ™‚

“penghinaan” ini masih belum berhenti, di fotonya audioku dan diupload di social media area manager ku yang usil dan masuk kategori “less teach” ini…….Bapakku dengerin Honne demikian kira-kira tulisannya di IG storynya πŸ™‚

ah, rupanya dia mengumumkan ke suluruh dunia Bapaknya dengerin lagu yang tidak cocok dengan umurnya yang sudah separo abad πŸ™

jaman sudah berubah, tentu saja cara-cara lama sudah tidak relevan lagi, harus diganti dengan cara-cara baru.

sepanjang value atau nilai yang baik yang diyakini dari generasi sebelumnya masih bisa konsisten dipegang maka perubahan cara bukanlah hal besar.

generasi lama yang memegang kuat disiplin waktu misalnya tidak perlu lagi marah-marah, ngotot sampai urat leher keluar hanya untuk meminta generasi baru untuk on time.

kasih saja contoh….selesai!

jika generasi lama ingin disapa oleh generasi milenial ya sapa aja duluan…. simple!

kalau generasi lama ingin diajak ngobrol generasi milenial ya ajak aja ngrobrol duluan….mudah!

kalau nggak bisa juga menyapa atau ngobrol duluan mungkin kalian sedang sakit gigi……kalau benar begitu pergi aja ke dentist! πŸ™‚

written by Roy Hekekire
October 21, 2019 0

jaman kuliah dulu aku punya beberapa kawan karib – ada 7 jumlahnya, delapan termasuk aku. nggak tahu bagaimana awal mula kisahnya sampai kami ber 8 hampir selalu dijumpai dalam formasi lengkap.

namanya juga mahasiswa, anak kuliahan, uang terbatas, semua terbatas sehingga urusan makanpun bisa jadi urusan yang rumit bin pelik.

tentu saja hanya ada 3 hal yang harus dipenuhi sebelum kami memutuskan akan makan dimana. ya benar : murah, banyak dan enak πŸ™‚

suatu ketika, hari Jumat saat itu, sepulang kuliah pagi kami memutuskan makan soto di daerah Semarang Barat, enak katanya dan murah :). lalu sampailah kami kesana.

bagi yang pernah makan soto ala Semarang pastilah paham bahwa jenis soto ini disajikan dalam mangkok kecil, nasi sudah langsung dicampur dengan soto di mangkok kecil itu.

aku lupa siapa yang berinisiatif sampai kami semua bertaruh : siapa yang makan soto paling sedikit dia yang harus bayar πŸ™‚

edan, sadis, tak berperi kemanusiaan! tapi untung hanya dengan 3 mangkok yang kutelan dengan susah payah membebaskanku dari urusan jadi juru bayar siang itu.

urusan-urusan konyol begini ditambah cita-cita kami untuk membawa pengaruh baru di lingkungan kampus membuat kami begitu akrab dan karib.

suatu ketika teman-teman ku ini mendukungku untuk running sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa dan dengan segala daya upaya, bahu membahu aku dan teman-teman ku ini yang sama sekali tidak terafiliasi dengan warna-warna balonku ada lima – paham maksudku kan πŸ™‚ berhasil membawaku ke kursi itu. teman-temanku berhasil membawaku sebagai orang pertama yang nggak suka warna balon menjadi Ketua BPM πŸ™‚

suatu ketika salah satu rumah teman kami kebanjiran – salah satu banjir terbesar yang pernah terjadi dikotaku gara-gara ada bendungan yang jebol. kami ber 7 berangkat menerjang lautan lumpur dan menjumpai rumah salah satu teman kami sudah porak poranda. seketika kami berinisiatif untuk mengangkut semua pakaian bersih yang sudah jadi kotor, sebisanya kami bawa lalu kami cuci disalah satu rumah teman yang lain. kami cuci kami bersihkan supaya ada pakaian ganti yang bisa digunakan teman kami yang terkena musibah.

beberapa dari kami menyukai bermain basket, yang tidak suka pun ikut datang hanya untuk mendrible bola walau nggak ada beda dengan orang main bola bekel πŸ™‚

beberapa yang lain suka mendaki gunung, yang kemudian membawaku mendaki Gunung Merapi yang gersang, panas dan lumayan berbahaya. jujur sampai sekarang aku nggak paham dimana nikmatnya mendaki gunung πŸ™‚

tapi bukan berarti kami nggak pernah ribut dan bertengkar. perdebatan tentang salah satu topik kuliah bahkan acapkali membawa kami saling tidak enak hati karena debat yang terlalu panas di teras perpustakaan.

tetapi selalu juga kami menemukan cara untuk berkumpul kembali, ribut lagi, berkumpul lagi, ribut lagi …..

namanya juga teman, seribut apapun selalu ingin kembali.

sampai saat ini pertemanan kami masih terjalin akrab walau kami sudah terpencar, 2 di Jakarta, 1 di Tegal, 3 di Semarang dan 2 lainnya sudah di sorga …. Hananto alias Koh Han dan Yudi.

namanya juga teman, saat pulang ke Semarang sesekali kami berkumpul, atau hanya sekedar say hi dan komen-komen sampah di medsos masing-masing. saat ketemu sesekali kami cerita nostalgia lalu ribut lagi…..:)

ya kalo sudah jadi teman memang urusan ribut-ribut akan mudah dan cepat terselesaikan dan damai dengan sendirinya.

kalo bukan teman urusan kecil juga bisa jadi rame. urusan mudah dipersulit ini itu ini itu. begitu ada masalah pada kabur sambil nunjuk-nunjuk πŸ™‚

namanya juga teman, pastilah kesuksesan 1 orang berarti kesuksesan yang lain. jangan juga dibalik kesuksesan 1 orang karena penderitaan teman-teman yang lain πŸ™‚

namanya juga teman, makanya saling tolong menolong.

orang bijak pernah bilang : 1 musuh terlalu banyak 1000 teman terasa kurang.

tapi mana ada sih yang cari musuh? atau menempatkan diri sebagai musuh? nggak ada kan?

tapi jarang senyum, potongan muka jutek, ketus sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang memposisikan dirinya sebagai bukan teman πŸ™‚

lagian mana ada sih teman yang saling jutek, mana ada teman yang saling ketus?

written by Roy Hekekire
October 18, 2019 0

waktu pertama kali kudengar hastag ini terdengar lucu, aneh dan naif πŸ™‚ bagaimana tidak salah satu orang penting dalam dunia profesionalku sampai harus mengingatkan tentang salah satu hal yang paling fundamental dalam hidup manusia ….. berkomunikasi.

otakku langsung berpikir bukankah berkomunikasi adalah kebutuhan hidup manusia sebagai Homo Homini Socius atau manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya. dan bahkan Adam Smith salah seorang bapak ekonomi modern mengatakan manusia adalah sebagai mahkluk sosial.

bagaimana mungkin persahabatan terjadi dan dijalin tanpa komunikasi? bagaimana caranya sebagai mahkluk sosial manusia mengabaikan komunikasi? ….. tentu tidak mungkin!

sebuah film yang dibintangi Kevin Costner berjudul The Postman menggambarkan betapa komunikasi di jaman lampau yang begitu sangat terbatas hanya dengan surat yang ditulis tangan, dikirimkan ke kantor pos terdekat kemudian dikirimkan oleh the postman yang mengendarai kuda menempuh berbagai macam resiko – bahkan kematian sipengirim – menjadikan si tukang pos begitu dinantikan walau sebenarnya bukan sipengirim yang ditunggu-tunggu tetapi surat yang dibawa si pembawa surat.

waktu aku masih berumur awal belasan tahun, pak pos yang mengendari sepeda motor warna oranye yang setiap hari selalu berkeliaran di perumahan sekitar rumahku membuatnya menjadi popular. setiap ada kiriman pos surat atau apapun pak pos yang aku sudah lupa namanya itu selalu minimal mendapatkan minum gratis dari penghuni alamat rumah penerima surat.

surat sebagai salah satu bentuk komunikasi begitu dinanti saat itu, mengapa?

lalu jaman berubah dengan begitu cepatnya. kecepatan komunikasi tidak lagi dihitung dengan hari tetapi detik!

saat seseorang menekan tombol ‘send’ maka saat itu juga pesan terkirim.

kecepatan komunikasi kemudian juga dibantu oleh beberapa platform. jika mau pesan pendek tersedia beberapa platform aplikasi yang dengan mudah bisa diakses melalui telepon pintar.

tetapi jika diamati kecepatan komunikasi tidak dibarengi dengan intensi, esensi dan substansi komunikasi manusia dengan sesamanya sebagai cara untuk menjadi sahabat bagi sesama manusia sebagai perwujudan manusia sebagai mahkluk sosial.

mari kita lihat beberapa contoh faktual yang begitu mudah ditemui :

seberapa sering kita berkomunikasi dengan orang tua masing-masing? bukankah hanya perlu beberapa klik dari telepon pintar saja kesulitannya?

seberapa intens kita berkomunikasi dengan istri, suami, pacar, pasangan, anak? bukankah hanya beberapa tombol di telepon selular yang perlu di sentuh?

dalam konteks inilah aku mencoba memahami mengapa hastag itu di create untuk mengingatkan bahwa berkomunikasi atau ngobrol itu hakiki πŸ™‚

tanyakan, bicarakan, diskusikan.

sebuah quote yang kubaca mengatakan : assumption and lack of communication are the number one relationship killers. we all perceive differently. we’re lived different lives, we have different views. understand that before getting angry at someone for not believing what you believe.

written by Roy Hekekire
September 10, 2019 0

Namanya Edwira, salah satu anggota team di organisasiku.

Sabtu lalu Edwira melakukan fisioterapi karena masalah lutut yang dideritanya. Selepas dari fisioterapi, Edwira mampir di kawasan Blok M untuk melepas lelah.

Dilihatnya sebuah warung semi permanen menjual aneka minuman dan beberapa produk. Dihampirinya warung tersebut, diajak bicaralah si pemilik dan woila ….. Edwira mendapatkan beberapa informasi berharga tentang sebuah produk yang baru saja kami luncurkan kepasar.

Edwira ini bukan siapa-siapa, bukan Presiden Perusahaan, bukan pula menduduki jabatan Direktur, Senior Manager dan seterusnya. Edwira adalah salah seorang field force yang bertanggung jawab di channel Wholesaler.

Hari itu, hari Sabtu – hari dimana field force beristirahat tidak bekerja. Sembari melepas penat sehabis fisioterapi Edwira menyempatkan dirinya ngobrol dengan pemilik warung kecil – yang tentu bukan merupakan tanggung jawabnya di pekerjaan dan digalinya informasi berharga.

Edwira tidak berhenti disitu, dia melanjutkan perbincangan di warung kedua yang dijumpainya masih dikawasan Blok M.

Aku mengetahui cerita ini dari postingannya di internal sosial media yang kami punyai.

Bagi kebanyakan mungkin ini cerita biasa, tidak ada istimewanya tetapi bagiku ini cerita besar karena beberapa alasan.

Seandainya saja ada makin banyak Edwira di organisasiku. Andaikata Edwira bisa di cloning, atau di foto kopi atau apapun yang mungkin bisa dilakukan, tentu saja aku mau.

Dihari liburnya, bukan channel yang merupakan tanggungjawabnya, ditengah kesakitannya, Edwira memberiku pelajaran berharga tentang sebuah komitmen, tanggungjawab dan kepedulian yang sangat besar jauh melampaui apa yang seharusnya Edwira kerjakan.

Edwira sampai berjumpa Kamis ini, berceritalah kepadaku mengapa engkau lakukan itu, aku mau tahu ……

written by Roy Hekekire
September 8, 2019 0

Olimpiade sudah diadakan sejak jaman Yunani kuno sampai kemudian pada tahun 393 dihentikan oleh Theodosius seorang Kaisar Romawi pada masa itu.

Ada banyak cerita tentang apa, mengapa dan bagaimana Olimpiade kuno ini diselenggarakan pada jamannya tetapi salah satu cerita yang menarik adalah bahwa Olimpiade diselenggarakan supaya terjadi gencatan senjata, berhenti sejenak dari peperangan antar kelompok di Yunani yang memang seringkali terjadi. Para prajurit ‘libur’ sejenak dari peperangan dan menikmati festival keagamaan dan atletik yang diperlombakan dalam Olimpiade tersebut.

Jumat, 6 September 2019 untuk ke 2 kalinya Olimpiade Jakarta Zone diselenggarakan. Mirip dengan alasan dan latar belakang Olimpiade kuno dahulu, Olimpiade Jakarta diselenggarakan untuk berhenti sejenak dari kesibukkan, ‘peperangan’ di area masing2, bergembira bersama sebagai suatu keluarga, menikmati dan merayakan kehidupan.

Melihat raut – raut wajah penuh expressi kesenangan, gembira tetapi tetap gigih berkompetisi membuatku berpikir dan merenung bahwa kehidupan setiap manusia pada dasarnya adalah kompetisi. Tetapi bukannya kompetisi mengakibatkan tekanan, stress tetapi malahan sebaliknya. Mengapa?

Satu hal yang sering terlupa bahwa manusia pada awalnya adalah mahluk yang gembira, selalu ingin merayakan sesuatu. Tetapi jaman berubah menjadikan kompetisi menjadi sesuatu yang menakutkan, mengalahkan, membunuh satu sama lain. Kompetisi tidak lagi dilihat dan dihargai sebagai bentuk perayaan dari eksistensi dasar manusia. Apa itu?

Jauh sebelum 6 September 2019, kulihat dari beberapa posting di berbagai platform social media, setiap area dengan cara nya mempersiapkan diri, membentuk team dan merancang strategy tetapi hanya wajah-wajah penuh tawa yang selalu kulihat dari posting-posting tersebut. Perayaan bahkan sudah dinikmati jauh sebelum hari Jumat itu.

Bagiku kompetisi adalah sebuah perayaan tentang hidup. Sebuah perayaan bahwa kehidupan masing-masing harusnya menjadi lebih baik setiap harinya, setiap waktunya.

Kompetisi bukanlah event untuk mengalahkan, membinasakan pihak lain. Kompetisi adalah proses untuk menjadi lebih baik dari diri sendiri setiap hari, setiap waktu.

Wajah-wajah gembira hari Jumat itu mengingatkan dan mengajarku tentang siapa kita sesungguhnya sebagai manusia.

written by Roy Hekekire
September 4, 2019 0

suatu pagi, hari Senin, bulan Agustus 1997. Dengan menumpang CN235 Sempati Air almarhum πŸ™‚ untuk pertama kalinya kaki ku menginjak Bengkulu, ibu kota propinsi Bengkulu yang belum banyak dikenal kecuali bagi para penikmat sejarah.

Bagaimana tidak, dikota inilah salah satu founding father kita di “buang”. Di kota inilah Jenderal Raffles asal Inggris menemukan sebuah flora yang kemudian dikenal dengan nama Rafllesia Arnoldi.

Kota Bengkulu terletak tepat di pinggir pesisir Samudra Hindia dengan bibir pantainya yang panjang tetapi mematikan karena dalam dan curam. Melihat begitu strategis nya titik ini bagi Kerajaan Inggris, maka kemudian Raffles mendirikan sebuah Benteng yang dikenal dengan nama Marlborough – benteng ini masih ada dan terpelihara dengan baik hingga saat ini.

Tetapi kemudian Jenderal Raffles menemukan sebuah kenyataan baru bahwa titik strategis Bengkulu tidak akan berumur panjang mengingat hampir semua perjalanan laut kala itu melewati sebuah selat yang dikenal dengan Selat Malaka.

Dengan siasat ini dan itu, Raffles berhasil menukar guling Bengkulu dengan Kota Singa – Singapura yang kala itu dikuasai Kerajaan Belanda.

Perkiraan Raffles ternyata benar, Singapura menjelma menjadi salah satu negara paling kaya di dunia.

Dikota kecil Bengkulu inilah aku menghabiskan 2,5 tahun perjalanan karir dan hidupku.

Tidak banyak yang bisa aku, istriku dan anak sulungku yang berumur kurang dari 1 tahun lakukan. Pusat keramaian kota ini kala itu hanyalah sederet ruko sepanjang jalan Suprapto πŸ™‚

Tidak ada mall, tetapi ada bisokop yang aku kurang mempunyai keberanian untuk masuk dan nonton disitu πŸ™‚

Ke pantai hanya sesekali sambil mengajari anak sulungku berjalan, itupun sesekali berdisko di goyang gempa-gempa kecil yang memang sering terjadi disana.

Tracking ….. hanya sekali kulakukan. Menggendong anak sulungku dengan baby carrier mendaki salah bukit di Curup. Hanya sekali kulakukan karena aku kepayahan …. maklum saat itu berat badanku hanya 48 kilogram …. seperti tulang belulang berbalut kulit hitam, kucel tak terurus ….. dekil.

Sebagai anak muda, miskin pengalaman, pengertian dan kebijaksaan, Bengkulu memberiku, mengajarku dan melatihku banyak hal.

Challenge pertamaku saat itu adalah mengangkat kembali moral team yang hancur lebur karena suatu hal.

Dan karena moral team rendah demikian pun dengan disiplin. Demikian pula hubungan dengan pihak eksternal sampai dititik yang paling rendah.

Pusing 7 keliling aku dibuatnya πŸ™‚

Pagi ini, saat aku memasuki ruangan kerjaku, diatas meja kerja kulihat sebuah paket. Kubuka dengan rasa tak sabar, isinya 3 packs kopi Bengkulu dan sebuah amplop putih yang saat kubuka berisi sebuah kartu ucapan yang bertuliskan : Sebagai ungkapan rasa syukur dan ikut bahagia nya kami, atas pencapaian 25 tahun masa kerja. Semoga Bapak selalu dilimpahkan berkat dari Tuhan dan terus memberikan inspirasi bagi kami semua. dari kami semua TEAM BENGKULU. 

Kuperkirakan hanya kurang dari 10 orang dari teman-teman di Bengkulu yang masih ada saat ini, selebihnya tentu teman-teman baru yang masuk bekerja setelah aku pindah dari kota itu. Aku nggak paham bagaimana mungkin ada kalimat di ucapan tersebut ……. dari kami semua TEAM BENGKULU.

Sebagian besar dari teman-teman di Bengkulu saat ini  tidak kukenal secara personal, bahkan mungkin belum pernah berjumpa tatap muka.

Merinding aku …. rasanya tidak ada hal besar yang aku lakukan. Rasanya aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Karena aku ini bukan siapa-siapa, hanya seorang anak muda sedikit naif, emosional, kurang berpengalaman, pengertian dan kebijaksanaan.

Entah apa yang mereka pikirkan tentang aku.

Kufoto kartu ucapan dan 3 packs kopi Bengkulu itu lalu ku posting di IG Story.

Tak lama kemudian kuterima sebuah pesan dari seorang bernama @Inasafria berbunyi  : Tahun 1997 saat masih jadi anak bocah kelas 1 SMP Bengkulu dan mengenal  pak Roy dan sudah mengidolakan bapak yang humble dengan semua orang πŸ™‚ tetap jadi idola saya sampai sekarang pak.

Maaf @Inasafria, ingatan saya amat sangat terbatas, sehingga saya tidak lagi mengingat kapan dan dimana saya mengenalmu saat kamu kelas 1 SMP Bengkulu. Dan saya tidak tahu bagaimana semua cerita tentang saya kamu dengar, sampai kamu mengirimkan pesan seperti itu? πŸ™‚

Tak lama kemudiam sebuah pesan WhatsApp dari Hadi Sustyo kuterima. Dia menuliskan begini : …. Moga berkenan Pak Roy. 3 Mantra : Learning, Challenge Status Quo, Show me the result, masih terus diingat dan dijalankan Pak

Lain lagi yang Evan kirimkan ke saya. Dia bilang begini : Pak Roy, nanti dikomen ya pak. Kopi nya hasil olahan anak-anak P2P Magnum. Makanya namanya Coffee Mag πŸ™‚

Ini bukan cerita tentang saya. Ini cerita tentang semua manusia, bahwa yang kita lakukan, perkatakan akan selalu meninggalkan jejak, menjadi cerita dan menginspirasi orang atau mungkin sebaliknya.

Bahkan setelah 22 tahun jejak seorang anak muda kurang berpengalaman, pengertian dan kebijaksanaan masih tersimpan di sana.

Bencoolen terima kasih banyak.

note :

* matur nuwun Mas Hadi Susatyo, thanks a lot Evan Dewabrata

* Jajang, Buiston, Itraneldi, Reswan dan …… ah maaf maaf tak mampu lagi kuingat satu persatu nama kalian …… terima kasih banyak