Category: friendship

written by Roy Hekekire
October 21, 2019 0

jaman kuliah dulu aku punya beberapa kawan karib – ada 7 jumlahnya, delapan termasuk aku. nggak tahu bagaimana awal mula kisahnya sampai kami ber 8 hampir selalu dijumpai dalam formasi lengkap.

namanya juga mahasiswa, anak kuliahan, uang terbatas, semua terbatas sehingga urusan makanpun bisa jadi urusan yang rumit bin pelik.

tentu saja hanya ada 3 hal yang harus dipenuhi sebelum kami memutuskan akan makan dimana. ya benar : murah, banyak dan enak πŸ™‚

suatu ketika, hari Jumat saat itu, sepulang kuliah pagi kami memutuskan makan soto di daerah Semarang Barat, enak katanya dan murah :). lalu sampailah kami kesana.

bagi yang pernah makan soto ala Semarang pastilah paham bahwa jenis soto ini disajikan dalam mangkok kecil, nasi sudah langsung dicampur dengan soto di mangkok kecil itu.

aku lupa siapa yang berinisiatif sampai kami semua bertaruh : siapa yang makan soto paling sedikit dia yang harus bayar πŸ™‚

edan, sadis, tak berperi kemanusiaan! tapi untung hanya dengan 3 mangkok yang kutelan dengan susah payah membebaskanku dari urusan jadi juru bayar siang itu.

urusan-urusan konyol begini ditambah cita-cita kami untuk membawa pengaruh baru di lingkungan kampus membuat kami begitu akrab dan karib.

suatu ketika teman-teman ku ini mendukungku untuk running sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa dan dengan segala daya upaya, bahu membahu aku dan teman-teman ku ini yang sama sekali tidak terafiliasi dengan warna-warna balonku ada lima – paham maksudku kan πŸ™‚ berhasil membawaku ke kursi itu. teman-temanku berhasil membawaku sebagai orang pertama yang nggak suka warna balon menjadi Ketua BPM πŸ™‚

suatu ketika salah satu rumah teman kami kebanjiran – salah satu banjir terbesar yang pernah terjadi dikotaku gara-gara ada bendungan yang jebol. kami ber 7 berangkat menerjang lautan lumpur dan menjumpai rumah salah satu teman kami sudah porak poranda. seketika kami berinisiatif untuk mengangkut semua pakaian bersih yang sudah jadi kotor, sebisanya kami bawa lalu kami cuci disalah satu rumah teman yang lain. kami cuci kami bersihkan supaya ada pakaian ganti yang bisa digunakan teman kami yang terkena musibah.

beberapa dari kami menyukai bermain basket, yang tidak suka pun ikut datang hanya untuk mendrible bola walau nggak ada beda dengan orang main bola bekel πŸ™‚

beberapa yang lain suka mendaki gunung, yang kemudian membawaku mendaki Gunung Merapi yang gersang, panas dan lumayan berbahaya. jujur sampai sekarang aku nggak paham dimana nikmatnya mendaki gunung πŸ™‚

tapi bukan berarti kami nggak pernah ribut dan bertengkar. perdebatan tentang salah satu topik kuliah bahkan acapkali membawa kami saling tidak enak hati karena debat yang terlalu panas di teras perpustakaan.

tetapi selalu juga kami menemukan cara untuk berkumpul kembali, ribut lagi, berkumpul lagi, ribut lagi …..

namanya juga teman, seribut apapun selalu ingin kembali.

sampai saat ini pertemanan kami masih terjalin akrab walau kami sudah terpencar, 2 di Jakarta, 1 di Tegal, 3 di Semarang dan 2 lainnya sudah di sorga …. Hananto alias Koh Han dan Yudi.

namanya juga teman, saat pulang ke Semarang sesekali kami berkumpul, atau hanya sekedar say hi dan komen-komen sampah di medsos masing-masing. saat ketemu sesekali kami cerita nostalgia lalu ribut lagi…..:)

ya kalo sudah jadi teman memang urusan ribut-ribut akan mudah dan cepat terselesaikan dan damai dengan sendirinya.

kalo bukan teman urusan kecil juga bisa jadi rame. urusan mudah dipersulit ini itu ini itu. begitu ada masalah pada kabur sambil nunjuk-nunjuk πŸ™‚

namanya juga teman, pastilah kesuksesan 1 orang berarti kesuksesan yang lain. jangan juga dibalik kesuksesan 1 orang karena penderitaan teman-teman yang lain πŸ™‚

namanya juga teman, makanya saling tolong menolong.

orang bijak pernah bilang : 1 musuh terlalu banyak 1000 teman terasa kurang.

tapi mana ada sih yang cari musuh? atau menempatkan diri sebagai musuh? nggak ada kan?

tapi jarang senyum, potongan muka jutek, ketus sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang memposisikan dirinya sebagai bukan teman πŸ™‚

lagian mana ada sih teman yang saling jutek, mana ada teman yang saling ketus?

written by Roy Hekekire
September 8, 2019 0

Olimpiade sudah diadakan sejak jaman Yunani kuno sampai kemudian pada tahun 393 dihentikan oleh Theodosius seorang Kaisar Romawi pada masa itu.

Ada banyak cerita tentang apa, mengapa dan bagaimana Olimpiade kuno ini diselenggarakan pada jamannya tetapi salah satu cerita yang menarik adalah bahwa Olimpiade diselenggarakan supaya terjadi gencatan senjata, berhenti sejenak dari peperangan antar kelompok di Yunani yang memang seringkali terjadi. Para prajurit ‘libur’ sejenak dari peperangan dan menikmati festival keagamaan dan atletik yang diperlombakan dalam Olimpiade tersebut.

Jumat, 6 September 2019 untuk ke 2 kalinya Olimpiade Jakarta Zone diselenggarakan. Mirip dengan alasan dan latar belakang Olimpiade kuno dahulu, Olimpiade Jakarta diselenggarakan untuk berhenti sejenak dari kesibukkan, ‘peperangan’ di area masing2, bergembira bersama sebagai suatu keluarga, menikmati dan merayakan kehidupan.

Melihat raut – raut wajah penuh expressi kesenangan, gembira tetapi tetap gigih berkompetisi membuatku berpikir dan merenung bahwa kehidupan setiap manusia pada dasarnya adalah kompetisi. Tetapi bukannya kompetisi mengakibatkan tekanan, stress tetapi malahan sebaliknya. Mengapa?

Satu hal yang sering terlupa bahwa manusia pada awalnya adalah mahluk yang gembira, selalu ingin merayakan sesuatu. Tetapi jaman berubah menjadikan kompetisi menjadi sesuatu yang menakutkan, mengalahkan, membunuh satu sama lain. Kompetisi tidak lagi dilihat dan dihargai sebagai bentuk perayaan dari eksistensi dasar manusia. Apa itu?

Jauh sebelum 6 September 2019, kulihat dari beberapa posting di berbagai platform social media, setiap area dengan cara nya mempersiapkan diri, membentuk team dan merancang strategy tetapi hanya wajah-wajah penuh tawa yang selalu kulihat dari posting-posting tersebut. Perayaan bahkan sudah dinikmati jauh sebelum hari Jumat itu.

Bagiku kompetisi adalah sebuah perayaan tentang hidup. Sebuah perayaan bahwa kehidupan masing-masing harusnya menjadi lebih baik setiap harinya, setiap waktunya.

Kompetisi bukanlah event untuk mengalahkan, membinasakan pihak lain. Kompetisi adalah proses untuk menjadi lebih baik dari diri sendiri setiap hari, setiap waktu.

Wajah-wajah gembira hari Jumat itu mengingatkan dan mengajarku tentang siapa kita sesungguhnya sebagai manusia.

written by Roy Hekekire
September 4, 2019 0

suatu pagi, hari Senin, bulan Agustus 1997. Dengan menumpang CN235 Sempati Air almarhum πŸ™‚ untuk pertama kalinya kaki ku menginjak Bengkulu, ibu kota propinsi Bengkulu yang belum banyak dikenal kecuali bagi para penikmat sejarah.

Bagaimana tidak, dikota inilah salah satu founding father kita di “buang”. Di kota inilah Jenderal Raffles asal Inggris menemukan sebuah flora yang kemudian dikenal dengan nama Rafllesia Arnoldi.

Kota Bengkulu terletak tepat di pinggir pesisir Samudra Hindia dengan bibir pantainya yang panjang tetapi mematikan karena dalam dan curam. Melihat begitu strategis nya titik ini bagi Kerajaan Inggris, maka kemudian Raffles mendirikan sebuah Benteng yang dikenal dengan nama Marlborough – benteng ini masih ada dan terpelihara dengan baik hingga saat ini.

Tetapi kemudian Jenderal Raffles menemukan sebuah kenyataan baru bahwa titik strategis Bengkulu tidak akan berumur panjang mengingat hampir semua perjalanan laut kala itu melewati sebuah selat yang dikenal dengan Selat Malaka.

Dengan siasat ini dan itu, Raffles berhasil menukar guling Bengkulu dengan Kota Singa – Singapura yang kala itu dikuasai Kerajaan Belanda.

Perkiraan Raffles ternyata benar, Singapura menjelma menjadi salah satu negara paling kaya di dunia.

Dikota kecil Bengkulu inilah aku menghabiskan 2,5 tahun perjalanan karir dan hidupku.

Tidak banyak yang bisa aku, istriku dan anak sulungku yang berumur kurang dari 1 tahun lakukan. Pusat keramaian kota ini kala itu hanyalah sederet ruko sepanjang jalan Suprapto πŸ™‚

Tidak ada mall, tetapi ada bisokop yang aku kurang mempunyai keberanian untuk masuk dan nonton disitu πŸ™‚

Ke pantai hanya sesekali sambil mengajari anak sulungku berjalan, itupun sesekali berdisko di goyang gempa-gempa kecil yang memang sering terjadi disana.

Tracking ….. hanya sekali kulakukan. Menggendong anak sulungku dengan baby carrier mendaki salah bukit di Curup. Hanya sekali kulakukan karena aku kepayahan …. maklum saat itu berat badanku hanya 48 kilogram …. seperti tulang belulang berbalut kulit hitam, kucel tak terurus ….. dekil.

Sebagai anak muda, miskin pengalaman, pengertian dan kebijaksaan, Bengkulu memberiku, mengajarku dan melatihku banyak hal.

Challenge pertamaku saat itu adalah mengangkat kembali moral team yang hancur lebur karena suatu hal.

Dan karena moral team rendah demikian pun dengan disiplin. Demikian pula hubungan dengan pihak eksternal sampai dititik yang paling rendah.

Pusing 7 keliling aku dibuatnya πŸ™‚

Pagi ini, saat aku memasuki ruangan kerjaku, diatas meja kerja kulihat sebuah paket. Kubuka dengan rasa tak sabar, isinya 3 packs kopi Bengkulu dan sebuah amplop putih yang saat kubuka berisi sebuah kartu ucapan yang bertuliskan : Sebagai ungkapan rasa syukur dan ikut bahagia nya kami, atas pencapaian 25 tahun masa kerja. Semoga Bapak selalu dilimpahkan berkat dari Tuhan dan terus memberikan inspirasi bagi kami semua. dari kami semua TEAM BENGKULU. 

Kuperkirakan hanya kurang dari 10 orang dari teman-teman di Bengkulu yang masih ada saat ini, selebihnya tentu teman-teman baru yang masuk bekerja setelah aku pindah dari kota itu. Aku nggak paham bagaimana mungkin ada kalimat di ucapan tersebut ……. dari kami semua TEAM BENGKULU.

Sebagian besar dari teman-teman di Bengkulu saat ini  tidak kukenal secara personal, bahkan mungkin belum pernah berjumpa tatap muka.

Merinding aku …. rasanya tidak ada hal besar yang aku lakukan. Rasanya aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Karena aku ini bukan siapa-siapa, hanya seorang anak muda sedikit naif, emosional, kurang berpengalaman, pengertian dan kebijaksanaan.

Entah apa yang mereka pikirkan tentang aku.

Kufoto kartu ucapan dan 3 packs kopi Bengkulu itu lalu ku posting di IG Story.

Tak lama kemudian kuterima sebuah pesan dari seorang bernama @Inasafria berbunyi  : Tahun 1997 saat masih jadi anak bocah kelas 1 SMP Bengkulu dan mengenal  pak Roy dan sudah mengidolakan bapak yang humble dengan semua orang πŸ™‚ tetap jadi idola saya sampai sekarang pak.

Maaf @Inasafria, ingatan saya amat sangat terbatas, sehingga saya tidak lagi mengingat kapan dan dimana saya mengenalmu saat kamu kelas 1 SMP Bengkulu. Dan saya tidak tahu bagaimana semua cerita tentang saya kamu dengar, sampai kamu mengirimkan pesan seperti itu? πŸ™‚

Tak lama kemudiam sebuah pesan WhatsApp dari Hadi Sustyo kuterima. Dia menuliskan begini : …. Moga berkenan Pak Roy. 3 Mantra : Learning, Challenge Status Quo, Show me the result, masih terus diingat dan dijalankan Pak

Lain lagi yang Evan kirimkan ke saya. Dia bilang begini : Pak Roy, nanti dikomen ya pak. Kopi nya hasil olahan anak-anak P2P Magnum. Makanya namanya Coffee Mag πŸ™‚

Ini bukan cerita tentang saya. Ini cerita tentang semua manusia, bahwa yang kita lakukan, perkatakan akan selalu meninggalkan jejak, menjadi cerita dan menginspirasi orang atau mungkin sebaliknya.

Bahkan setelah 22 tahun jejak seorang anak muda kurang berpengalaman, pengertian dan kebijaksanaan masih tersimpan di sana.

Bencoolen terima kasih banyak.

note :

* matur nuwun Mas Hadi Susatyo, thanks a lot Evan Dewabrata

* Jajang, Buiston, Itraneldi, Reswan dan …… ah maaf maaf tak mampu lagi kuingat satu persatu nama kalian …… terima kasih banyak