Category: cerita

written by Roy Hekekire
May 16, 2020 2

Berbagai nama sebutan untuk cemilan yang satu ini : tahu isi, tahu brontak, tahu susur …. you name it. Tahu yang ditengahnya diisi beberapa macam sayuran dan terkadang udang. Rentang harga lumayan lebar tergantung presentasi dan dimana belinya πŸ™‚ tapi intinya tetap sama tahu berisi sayuran lalu digoreng …… krezzzzzz gigit cabe rawit πŸ™‚

Jaman now harga memang tidak selalu ditentukan oleh isi tetapi terkadang bungkus dan segala tetek bengek marketing gimmick. Atau bisa juga campur aduk antara isi dan gimmick, terkadang juga tuker posisi gimmick sebagai isi dan isi sebagai gimmick πŸ™‚ nah gimana tuh? πŸ™‚

Biscuit yang hanya seharga ribuan tiba-tiba setelah berwarna merah dan ada tulisan Supreme melonjak berlipat-lipat dan ada juga manusia-manusia kelebihan uang yang beli. Ntah mau dimakan atau segera dibawa ke tukang pigura untuk jadiin hiasan dinding πŸ™‚

Omongin tentang isi alias konten, dalam beberapa hari terakhir kehebohan muncul tatkala ada aksi prank nggak lucu dari sejumlah pemuda yang kemudian meminta maaf tapi boong πŸ™ semua dilakukan dengan alasan yang sungguh absurd dan semata dilakukan hanya untuk mengisi konten dari channel sebuah SosMed yang dimilikinya.

Pemuda-pemuda tadi lalu ditangkap polisi, ditahan dan mudah-mudahan segera disidang dan ada ketetapan hukum yang mengikat. Paling tidak supaya mereka belajar dan masyarakat umum belajar bahwa setiap tindakan mengandung sebuah konsekuensi.

Belum juga mereda, muncul kehebohan tak bermutu lain ketika seorang Youtuber terkenal dengan kecentilan artificial mengungkapkan masker dan personal hygiene tak pernah dia praktekan dimasa pandemic ini.

Masalah terbesarnya bukan karena dia tidak mengenakan masker dan jorok tidak cuci tangan, karena bisa jadi itu adalah cara hidup keseharian yang bersangkutan. Walau agak aneh juga karena katanya yang bersangkutan seorang beauty influencer tapi mengapa cara hidupnya jorok? πŸ™‚ masalah menjadi muncul ketika dirinya declare dan seakan menginfluence followernya.

Untuk apa dilakukan? Apalagi jika bukan karena konten?

Sebagai salah satu lahan baru yang sedang marak dan menarik minat banyak orang untuk mendapatkan aliran uang, mendorong para content creator berlomba-lomba menampilkan banyak hal beraneka ragam di social media. Mulai dari sekedar lenggak lenggok memamerkan sisi sexualitas, atau sekedar hiburan sehingga begitu banyak aksi prank, pamer mobil, pamer toilet, pamer ini dan itu tetapi banyak juga konten yang bermutu. Beberapa teman social mediaku bahkan termasuk papan atas penyaji konten bermutu tinggi, sebut saja IG : @ninaberthac dan https://www.zataligouw.com/

Benar sih masing-masing punya hak untuk menggunakan account social medianya. Ada yang sekedar untuk hiburan, untuk cari uang dan seribu satu argument lainnya. Semua nya sah.

Content creator yang bertanggungjawab tentu akan berusaha banting tulang, peras otak, gali cari ide untuk menyajikan hal-hal bermutu tinggi yang bermanfaat untuk banyak orang. Tetapi banyak juga yang semata hanya menangguk uang dari memuat konten-konten sampah tak bermutu.

written by Roy Hekekire
April 24, 2020 1

Cerita Pertama.

Tahun 2000, aku lupa bulannya apalagi tanggalnya. Seorang senior, teman dan kemudian menjadi seperti Abangku sendiri mengunjungi ku di Bandar Lampung kota tempat tinggal ku saat itu. Puas ngobrol disuatu tempat kami keliling kota yang nggak segitu besar, dimobil dia bertanya : β€œkamu tinggal dimana”. aku menjawab : β€œWay Halim”. β€œkamu beli atau bagaimana?” dia meneruskan. β€œmasih kontrak” jawabku. β€œyuk main kerumahmu” beliau meneruskan.

Sesampai dirumah, kami lanjut ngobrol lagi diruang tamu dan kali ini istriku ikutan ngobrol. Seru karena kami berdua memang sudah mengenalnya dengan baik. Lalu tiba-tiba dia meneruskan perbincangan tentang topik rumah tadi, kali ini didominasi oleh petuah-petuah, sedikit marah dan kotbah ini itu ini itu. menurutnya cara pandangku tentang rumah dan bagaimana cara kami merencanakan untuk membelinya salah dimata senior ini πŸ™ . β€œKamu nggak bakal punya rumah dan akan seumur hidup ngontrak kalau cara pikirmu begitu. Begitu uangmu terkumpul, rumah yang kamu inginkan sudah akan berubah lagi. Beli sekarang dengan uangmu yang ada”….. itu kalimat yang menusuk hatiku dan kupikirkan berhari-hari.

Kupikirkan masak-masak berhari-hari, dan akhirnya kusadari nasehat, petuah dan kotbah temanku ini benar. Singkat cerita dengan uang yang ada kami memutuskan membeli rumah, tahun itu juga di Bandar Lampung. Itulah rumah pertama kami.

Cerita Kedua.

Suatu ketika Nokia Communicator menjadi salah satu symbol self-esteem para pria – walau segede gaban dan bisa untuk nimpuk anjing πŸ™‚ aku tergoda untuk memilikinya. Kemudian dengan segala macam rasional dan argumen untuk membenarkan diri sendiri bahwa memang aku membutuhkan barang itu, aku akhirnya membelinya πŸ™‚

Serasa jadi manusia paling keren. Kutenteng kemana-mana πŸ™‚ Nokia Communicator di kota kecil Bandar Lampung πŸ™‚ Gubernur juga belum tentu pake tuh πŸ™‚

Suatu ketika Bos ku dari Jakarta berkunjung ke kantorku dan mengetahui aku menggunakan Nokia itu, lalu dengan gaya khasnya beliau berkata : β€œroy teleponnya bagus” …… mati nih kupikir dalam hati, dan sambil bingung mau merespon bagaimana aku hanya nyengir πŸ™ aku tahu bos ku sedang menyindir πŸ™

β€œroy, walaupun kamu punya uang untuk beli Mercedes tetapi jika yang kamu butuhkan hanya Toyota Kijang ya belilah Toyota Kijang. Tidak perlu beli sesuatu yang kamu tidak butuhkan. Hidup kita ini bukan hanya untuk hari ini, kamu harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya” begitu beliau menasehatiku disela-sela kami makan malam.

Cerita Ketiga.

Hari ini dunia berkicau Twitter dihebohkan dengan  sebuah postingan.

Yang lebih heboh lagi adalah semua komen yang mengikuti postingan tersebut. Tetapi aku tidak tertarik mengomentarinya mengingat ketidak tahuanku mengenai sebab musababnya. Daripada akhirnya menghakimi dan sotoy, akhirnya aku memutuskan memikirkannya seorang diri ….sambil membawa jalan-jalan sore bersama Mike dan Milo aku memikirkan postingan itu sampai akhirnya aku teringat kedua peristiwa yang kuceritakan diatas.

( Alm ) Elvis Selawa ….. terima kasih banyak atas nasehat-nasehatnya. Terima kasih sudah mendukung ku di awal karir dan rumah tanggaku. I missed you Bro ….

Teng Beniarto …. Terima kasih banyak sudah mengajariku tentang hidup apa adanya, sederhana, harus punya cita-cita tetapi tetap bersahaja, serta tidak ngoyo.

Aku begitu bersyukur bertemu dengan orang-orang baik, yang sudi menginvestasikan diri mereka untuk membangunku dan mengawasiku disaat aku mulai belajar bertumbuh menjadi dewasa.

written by Roy Hekekire
April 20, 2020 2

mengenalnya sejak tahun pertamanya di Universitas dan Fakultas yang sama. kami berteman, tidak lebih. 3 tahun waktu yang cukup untuk menyadarkanku bahwa pertemanan saja tidak cukup. lalu aku melangkah lebih. kami berpacaran. sayang waktu tidak terlalu berpihak banyak. hanya selang 6 bulan setelah kami menapak lebih dari sekedar pertemanan kami harus berpisah kota. aku lulus dan mulai bekerja, dari satu kota ke kota lain. tak lama dia juga lulus lalu kembali ke Jakarta.

hubungan kami terus berlanjut 4,5 tahun sebelum kami memutuskan untuk menikah.

tidak mudah melalui waktu-waktu berpacaran jarak jauh dijaman itu. tidak ada email, tidak ada WhatsApp, tidak ada SosMed. hanya ada telepon kartu yang paling beken saat itu. sesekali berkirim surat.

apalagi perbedaan suku diantara kami ternyata tidak semudah yang kubayangkan sebelumnya. tetapi karena keputusan kami sudah bulat maka semua perbedaan, rintangan yang potensial akan terjadi sudah siap kami hadapi πŸ™‚

hari ini kami merayakan 24 tahun pernikahan kami. belum begitu panjang memang, tapi juga bukan waktu yang pendek.

ada waktu-waktu yang manis tetapi juga ada waktu-waktu kami berjuang untuk tidak hanya mempertahankan tetapi memastikan perkawinan kami berjalan seperti yang kami inginkan.

dia tidak hanya memberikanku seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. tidak juga hanya ‘memberikan’ Mike dan Milo πŸ™‚ bagi keluarga kami. diatas semua itu dia sudah memberikan hidupnya bagiku, bagi anak-anak kami, bagi keluarga kami.

Ar, terima kasih sudah memilihku dan tetap memutuskan bersamaku dimasa-masa sulit kita dulu. terima kasih untuk tetap setia disaat aku salah memilih jalan. terima kasih untuk terus mendukung semua cita-cita dan angan-anganku untuk anak-anak dan keluarga kita. terima kasih untuk tidak menuntut semua hal yang aku nggak bisa provide.

Ar, terima kasih banyak.

I love you

written by Roy Hekekire
April 19, 2020 0

selesai makan malam home made spaghetti made by istriku, kami duduk-duduk diruang tengah yang hanya geser 1 meter dari meja makan πŸ™‚ lalu anak gadisku memperhatikan lengan tanganku sambil komentar : dad, tanganmu kenapa jadi tambah hitam kayak ayam goreng πŸ™‚

memang bener, aku yang sudah hitam berubah lebih legam sejak kami tinggal di Bogor. bahkan karena selalu mengenakan celana pendek maka kentara sekali kulihat sewaktu mandi, betapa paha kebawah menjadi jelaga sementara paha keatas lumayan sedikit ada terang πŸ™‚

padahal jujur aku hanya seminggu sanggup mengikuti saran istriku untuk berjemur, selebihnya selama jam kerja WFH dengan online meeting ini itu aku hanya berpindah dari kursi dihalaman belakang lalu pindah ke gazebo saat matahari sudah mulai garang. tapi entah mengapa kulitku menjadi lebih legam dari sebelumnya.

mungkin karena sinar UV matahari yang seperti jalan tol menembus atmosfir lalu kekulitku. berbeda dengan Jakarta sebelum pandemic, sinar matahari harus berjuang menembus pekatnya polusi udara untuk bisa singgah ke kulitku. belum lagi hampir saban hari terkurung diruang kantor yang ber AC.

tapi jika itu persoalannya mengapa banyak sekali penduduk Bogor yang berkulit putih ya? πŸ™‚

tapi siapa yang peduli juga dengan kulit yang seperti ayam goreng? bahkan untuk bercukurpun tidak lagi kulakukan setiap hari seperti biasanya. tapi siapa pula yang peduli, toh nggak kemana-mana juga, nggak ada orang lain yang lihat kan? πŸ™‚

kupikir lucu juga ya … jadi selama ini kalau aku setiap pagi bercukur, pakai lotion ini itu setelah mandi, semprot wangi-wangian ini itu setelah berpakaian, mematut diri dengan ikat pinggang, sepatu dan jam tangan sebenarnya untuk apa dan untuk siapa ya? πŸ™‚ untuk diri sendiri atau untuk orang lain?

written by Roy Hekekire
April 17, 2020 1

informasi mendadak bahwa aku bisa mengambil liburan singkat di awal tahun menyebabkan kami sekeluarga memutuskan akan mengunjungi Vietnam. selain dekat juga eksotis karena sejarah, alam dan makanannya. tiket sudah dbeli, hotel sudah dipesan dan tanpa visa pula …. easy.

tgl 31 Desember 2018 subuh setelah acara di rumah orangtua istriku selesai, kami memutuskan pulang ke rumah untuk bisa beristirahat barang beberapa jam.

jam 8 pagi dengan mengendarai taxi kami ber-empat melesat ke airport. langsung ke counter Vietnam Airlines. lancar ……

sewaktu kami masih bergurau tiba-tiba namaku disebut oleh petugas ticket counter : pak, ini passportnya tinggal beberapa minggu validitasnya sehingga lebih baik diperpanjang dulu sebelum berangkat supaya bapak tidak mendapatkan masalah di negara tujuan. duer ……… πŸ™

istriku langsung ribut khas ibu-ibu :), anak laki-laki ku seperti biasa cool and calm, anak gadisku langsung nangis sambil berkata : y udah kita nggak usah pergi semua, nggak enak nggak ada Papa πŸ™‚ πŸ™

setelah shock teratasi, kewarasan mulai take control, aku memutuskan supaya mereka bertiga tetap berangkat dan aku akan menyusul setelah beres urusan passport. setelah dibujuk-bujuk akhirnya anak gadisku dengan terpaksa mengikuti keputusanku dan didukung oleh anak laki-laki ku yang memang selalu rasional.

long story short mereka ber-tiga berangkat dan aku pulang.

rupanya perpanjangan passport tidak semudah yang kubayangkan, apalagi saat itu adalah awal-awal pembuatan passport online. kuubek-ubek semua kantor imigrasi di Jakarta untuk mencari jadwal tetapi ternyata yang tercepat hanya tersisa seminggu kedepan πŸ™

akhirnya aku menyerah untuk memperpanjang passport. hanya diam dirumah, bener-bener diam dirumah sendirian sambil sesekali melihat kiriman foto-foto istri dan anak-anakku seminggu disana.

sendiri seminggu dirumah πŸ™

tadi malam kira-kira pukul 10 malam, istriku mendapat kabar salah seorang Udanya masuk ke rumah sakit. dan karena tinggal sendiri sehingga tetangga rumah mengantarkan ke rumah sakit. Uda ini memang tinggal sendiri setelah istrinya meninggal beberapa tahun lalu dan anak semata wayangnya menetap di Canberra.

singkat kami berdiskusi apakah akan mengengok dan mengurus ini itu? tetapi kami juga kuatir saat-saat seperti ini kerumah sakit apakah merupakan keputusan yang tepat? belum lagi kesimpang siuran mengapa Uda sampai harus kerumah sakit. apakah karena penyakit ginjal yang memang sudah lama diidapnya atau karena sebab lain?

sejam kemudian kami mendapat kabar bahwa Uda sudah meninggal, sendirian tanpa ada satupun sanak saudara yang berada disisinya saat nafasnya berhenti. kemudian kami mendapat kabar bahwa protocol yang dipakai rumah sakit adalah protocol penanganan jenazah korban Covid-19.

suasana menjadi tidak karu-karuan. kami semua tidak tahu harus bagaimana.

ternyata protokol nya memang ketat, semua dihandle oleh petugas rumah sakit dan pemerintah daerah setempat.

ada salah seorang saudara sepasang suami istri dan seorang anaknya yang tinggal paling dekat dari lokasi rumah sakit yang datang pagi ini dan melihat dari jarak jauh sambil merekam video bagaimana peti jenasah dibawa dari kamar mayat ke ambulance, bagaimana peti yang terbungkus plastik dan ambulance di semprot di disinfectant dan kemudian ambulance berjalan menuju pemakaman.

video yang lain yang diterima istriku melalui whatsapps nya menunjukkan Uda sudah dikubur, dilokasi khusus korban pandemic.

sejak semalam sampai pagi ini istriku terus menangis, terisak-isak. menerima panggilan telpon atau text lalu menangis lagi …. begitu berulang-ulang.

memang sih setiap orang pasti akan mati. tapi membayangkan sendirian di rumah sakit, sendirian menghadapi maut tanpa seorangpun yang dikenal berada didekat bukan perkara mudah.

sendirian dirumah karena passport mati dan sendirian menghadapi maut tentu beda sekali. nggak bisa dibandingkan. itu sebabnya #dirumahaja itu bukan main-main, harus disiplin diikuti. jauh lebih mudah sendirian terisolasi dirumah daripada mati sendirian di rumah sakit karena memang protokolnya tidak memungkinkan sanak saudara menemani bahkan mengurus jenasah sekalipun.

written by Roy Hekekire
April 4, 2020 3

namanya juga tinggal di Kota Hujan, Buitenzorg istilah masa penjajahan dulu atau sekarang dikenal dengan nama Bogor. hampir tidak ada hari tanpa tidak hujan. beberapa hari terakhir ini kira-kira sore hari ketika pintu dan jendela rumah dibuka dinginnya angin yang menyerbu rumah hanya sanggup kami tahan tidak lebih selama 15 menit ….. bbbrrrrrrr dingin ….23- 24 derajat celcius menurut pengukuran suhu di iPhoneku.

beberapa hari yang lalu salah seorang anakku berkata : kok hujan terus ya sampai nggak bisa ngapa-ngapain di halaman πŸ™‚ dan memang benar-benar kami terkurung didalam rumah, bukan saja karena self isolation tetapi juga karena hujan!

beda sangat dengan Jakarta tempat tinggal kami sehari-hari, berdebu, panas, hanya ada langit yang seakan mendung walau itu sebenarnya adalah selimut tebal polusi yang menutupi sinar panas matahari.

pada saat di Jakarta aku menantikan suasana Bogor. pada saat di Bogor aku merindukan panasnya Jakarta.

beberapa hari yang lalu aku mendapatkan sebuah video berdurasi 59 detik. tentu tidak akan ada kata yang kurangkai menjadi kalimat untuk menceritakan kembali isi video yang membuatku terjaga semalaman karena memikirkan dan merenungkan isinya yang mengkoreksi isi pikiran dan hatiku itu. aku akan membiarkan teman-teman semua menontonnya.

Apa yang terbaik dalam hidup ini? ???

Dikirim oleh Dhamma kehidupan pada Jumat, 16 Agustus 2019

#dirumahsaja membuat populasi dunia dipaksa untuk kembali kepada hal-hal yang paling esensial tanpa atribut-atribut lain yang selama ini membuat kehidupan menjadi ribet, kompleks, dan mahal.

tidak ada lagi ngopi di cafΓ© – kalau mau minum kopi seduh sendiri. tidak ada lagi lunch, dinner di restaurant atau ditempat-tempat favorite – kalau lapar y masak sendiri, atau order dan dikirim ke rumah. tidak ada lagi bioskop – kalau mau nonton y melalui tv cable. tidak ada lagi fitness centre – kalau mau exercise y sambil sekalian menyapu, mengepel atau mencuci baju. tidak ada lagi hang out bersama teman-teman – kalau mau mengobrol y bersama pasangan dan anak-anak. tidak ada lagi rekreasi ketempat-tempat eksotis – kalau mau resfreshing y cukup dihalaman atau didalam rumah. tidak ada lagi keruwetan memilih sneaker, tshirt atau baju dan celana apa yang mau dikenakan. tidak ada lagi matching tas apa, sepatu apa dan gaun apa karena percuma juga kerepotan itu jika tidak ada orang lain yang melihat. semua benar-benar kembali kepada hal-hal yang paling mendasar dari kehidupan manusia.

#dirumahsaja mengajarkan dan mengingatkan manusia arti sebuah kata CUKUP.

#dirumahsaja mengajarkan dan mengingatkan kembali banyak hal mendasar manusia yang selama ini terlupakan.

written by Roy Hekekire
March 28, 2020 0

sudah seminggu ini aku fully kerja dari rumah, minggu sebelumnya masih sesekali dirumah tapi lebih sering dikantor. Ini semua karena urusan Covid-19 ….btw sudah eneg atau belum dengar Mr. C ini?

tadinya kupikir lumayan enak bisa kerja dari rumah, bisa dikit nyantai, sesekali bisa nyolong-nyolong nonton tv atau dengerin music dan mulut nggak berhenti mengunyah macam sapi yang memamah biak πŸ™‚

tapi kenyataan tak seindah rembulan πŸ™‚ …. Online meeting tak henti-hentinya, sambung menyambung seperti gugusan pulau di Indonesia, notifikasi Whatsapp dan Telegram tang ting tung bikin pekak telinga.

Ribet … super ribet, sesekali frustasi kapan semua ini akan berakhir.

Bicara produktivitas walau sudah jungkir balik menggunakan teknologi yang tersedia tetap saja karena most of our bisnis masih didesign dengan cara lama tentu saja menghambat. Mau tetap kerja takut tertular lalu mati …. serba repot πŸ™

Jadi pilihannya tetap produktif alias kerja seperti biasa dengan resiko tertular lalu mati ATAU diem dirumah, stay away from the crowd, cuci tangan lebih sering dengan resiko bisnis mati, nggak bisa kerja, lapar karena nggak ada uang buat belanja dst dst, lalu mati kelaparan ….. iya bener jangan protes dulu ini juga dramatisasi ah …. tapi lihat logic nya aja y πŸ™‚

Tapi masak iya pilihannya cuma 2 itu? nggak ada pilihan ke 3 kah? misal : tetap produktif walau diem dirumah? Ah ini dia ……. Gimana itu?

Setelah 3 jam online meeting, semalaman aku berpikir begini : ini situasi yang unknown, kita semua nggak ngerti, belum pernah ada sebelumnya, situasi yang tidak biasa makanya kita semua harus berpikir mencari cara-cara baru yang tidak biasa yang bahkan nggak pernah terpikir sebelumnya. Mengapa kita perlu mencari cara-cara baru, ya karena bisnis tetap harus berjalan. Mengapa bisnis harus tetap berjalan? Ya supaya tidak terjadi efek domino lanjutan.

Berpikir bukan saja untuk survive dari Mr. C tapi setelah semua kehebohan ini selesai akan seperti apa bisnis, akan seperti apa hidup setiap individu?

Mungkin akan ada yang survive – and trust me most of us will survive from this BUT the question is : apakah kita masih punya kerja setelah huru hara ini, apakah penghasilan tidak berubah turun setelah semua mereda? Atau hal-hal baru apa yang bisa dipelajari atau dilakukan untuk menambah produktifitas selama work from home? Coba pikirkan itu, seperti bermain catur kita semua harus berpikir dan mempunyai pemahaman untuk beberapa langkah kedepan! Karena hidup masih akan terus berjalan bahkan setelah pandemic ini!

Situasi ini memang serius, jaman perang dulu cerita kakek saya almarhum yang tentara, kita tahu siapa lawan kita karena kelihatan. Urusan Covid-19 ini runyam urusannya karena kita nggak ngerti siapa yang dalam tubuhnya sudah bermukim si C atau siapa pula yang menjadi transporter πŸ™ Karena serius maka study para expert ya didengerin baik-baik dan dijalankan, bukannya malah bikin teori-teori baru yang nggak jelas. Pagi ini kubaca di twitter : setelah semua ini berakhir akan banyak ahli virus lulusan universitas Whatspps πŸ™‚

Dengerin juga otoritas alias pemerintah, bukannya bikin aturan masing-masing. Belajar juga dari negara-negara lain – apa yang sudah terjadi dinegara lain dipelajari. Hal-hal baik ditiru, yang jelek buang jauh-jauh. Jangan dibalik-balik πŸ™‚

Bukan mau kasih kuliah atau kotbah blab la bla …. But this is serius : work from home IS NOT a holiday. Justru sebaliknya ini adalah extra work yang harus kita pikul sama-sama. Supaya makin banyak orang yang selamat, makan cepat ini berlalu dan bisnis juga bisa berjalan se” normal β€œ mungkin. Sehingga saat ini semua berlalu kehidupan setiap individu tidak perlu lagi start from Zero!

Dengan mengisi pikiran dan waktu dengan hal-hal yang baik dan produktif maka cara memahami situasi hari ini juga akan berubah. Dijamin nggak ada waktu lagi untuk baca-baca berita-berita bohong dan menyebarkan ketakutan di populasi yang lebih besar.

#Be_safe

#Be_productive

written by Roy Hekekire
March 19, 2020 0

Pagi tadi kulihat sebuah posting dari akun IG seperti ini ….

Tindakan yang sederhana, sangat sederhana bahkan, tidak ada inteleknya sama sekali. Seorang Ibu yang mengorder makanan secara online dan langsung diberikan kepada pengemudi ojol yang merespon ordernya.

Sepintas terpikir olehku tindakan Ibu ini yang lumayan naif. Memberi makan hanya kepada 1 orang driver ojol yang memang dalam beberapa hari ini sudah sepi order karena situasi dan kondisi kota Jakarta.

Lalu aku bandingkan dengan banyak postingan hari-hari ini dari ahli-ahli musiman, komentator-komentator kelas social media di beberapa platform tentang situasi terkini dan bagaimana otoritas menanganinya.

Coba tengok …. saran tata cara ibadah dari lembaga yang berasal dari para alim ulama dan para ahli agama dikomentari, otoritas di desak untuk lock down, shut down atau apapun namanya …. padahal aku lebih suka sundown πŸ™‚ Lalu saran dan encouragement dari otoritas untuk bekerja dari rumah dan social distancing pun di puter kiri kanan. Disarankan tidak berjabat tangan dipandang sebagai cara baru untuk menghilangkan tata cara tertentu yang selama ini menjadi budaya πŸ™ are you kidding …. Gerakan bekerja dari rumah diboost sedemikian rupa sehingga menimbulkan praduga dan men discourage bagi para pekerja yang masih belum bisa bekerja dari rumah baik karena nature pekerjaannya atau karena sebab lain.

Bagiku itu sebuah kontras …. tindakan β€œnaif” si Ibu dibandingkan dengan para komentator serta para ahli kelas social media yang bertebaran yang disupport dengan teori dan konsep kelas apa adanya.

Sebagai bagian dari komunitas sosial di kota dan bangsa ini tentu wajar jika aku miris. Bagaimana mungkin sebuah bangsa besar yang mengaku beragama, bahkan Tuhan dipanggil dimana-mana, bahkan juga Tuhan dipanggil-panggil kapanpun, mempunyai sikap dan perilaku sedemikian dalam menghadapi situasi yang begitu sulit serta dampaknya yang akan luar biasa super besar ini? …….. sebuah Twit dari seseorang jauh di Eropa seperti ini : Most of the world have no idea what’s going to happen with this situation!

Ini situasi dan kondisi yang serius …. siapapun didunia belum mempunyai jawaban untuk mengatasi virus yang sudah menjadi pandemic ini, demikian juga beserta dampak yang ditimbulkannya baik secara social, ekonomi dst.

Bukankah dalam situasi sulit seperti yang dunia alami saat ini akan lebih berguna jika semua saling mensupport, saling mengencourage, memberi semangat dibandingkan berdebat, membiarkan jemari merangkai kata liar lalu mempostingnya dan kemudian menimbulkan perdebatan dst?

Senin menjelang siang sekitar pukul 11.30, sebuah text dari Senior Pastor di sebuah gereja tempat kami sekeluarga menjadi bagian muncul : pagi pak Roy. kami doa buat perlindungan Tuhan buat bapak dan keluarga. Bgm dg Jasmine pak? stay di US atau balik Jkt?

yakin, text itu dibuat tidak lebih dari 1 menit, tetapi begitu besar artinya buat istri ku dan aku sendiri yang selama seminggu penuh kami gelisah memikirkan anak perempuan kami yang kuatir dan takut menghadapi situasi ini di kota tempatnya belajar.

Kemarin sekitar jam 7 malam saat mengambil kunci mobil dari pos security, kulihat 2 orang petugas piket sedang duduk bersampingan hampir tidak ada jarak. Lalu sambil kuterima kunci dari salah satu pak security aku berkata : pak, sebaiknya ambil jarak antara 2-3 meter y, ini untuk menjaga bapak-bapak sendiri dan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kita semua.

Tadi siang kulihat salah posting di whatsapp group kantor, seorang Area Manager yang melakukan video call dengan semua teamnya yang sedang di lapangan sekedar untuk memastikan apakah mereka mengenakan masker dan secara rutin membersihkan tangan dengan hand sanitizer. Sebuah tindakan sangat sederhana tetapi sangat menyentuh hatiku.

Belum lagi Bossku, sampe pegel jempolku meladeni text beliau menanyakan ini dan itu kondisi teamku dilapangan. Apakah mereka nervous, apakah mereka sudah diprovide oleh extra tools untuk menghambat penyebaran, apalagi yang kantor pusat bisa bantu, dll dll? …. Jempol boleh pegel tapi aku menjadi bersemangat dan besar hati mengetahui pak Boss selalu memperhatikan dan ada untuk kami semua.

Beberapa teman di kantor pusat yang karena nature pekerjaannya memungkinkan work from home juga banting tulang dipepet deadline super ketat untuk mempersiapkan ini dan itu supaya team field mendapat support yang baik dan segera dapat meminimalkan resiko dilapangan.

Tadi siang iseng aku memposting di IG story situasi lantai 3 di gedung tempat aku berkantor yang lengang, hanya aku seorang diri …. benar-benar seorang diri – dan mungkin beberapa hantu πŸ™‚ – di seluruh lantai. Tidak lama kemudian puluhan teman yang bekerja dari rumah mengirimkan pesan : semangat pak!

Bayangkan jika apa yang kualami juga terjadi di komunitas kita masing-masing, bahkan di laman social media kita masing-masing? Saling memberikan semangat dan memberikan jalan keluar bagi orang lain?

Jika masing-masing dari kita telah menerima encouragement dari orang lain, mengapa kita tidak memberikan encouragement kepada orang lain?

Tindakan sederhana dan naif kita memang tidak akan mengubah dunia … tetapi paling tidak mengubah diri kita masing-masing.

Together we are stronger!

Indonesia kamu Bisa!

written by Roy Hekekire
March 17, 2020 0

Sepulang dari Boston mengantar anak gadisnya, tentu saja ada banyak cerita yang istriku ceritakan padaku. Tentang taman-taman kota yang besar, hijau dan banyak pohon. Tentang bangunan-bangunan tua dan masih banyak lagi tentunya. Aku ingat suatu cerita darinya tentang orang-orang yang saling memberikan salam β€œselamat pagi” dijalan-jalan walaupun tidak saling kenal dan beberapa cerita lagi yang menggambarkan community di sebuah kota yang modern, sangat western tentu saja, individualis tetapi keramah tamahannya membuat istriku terpesona.

Suatu ketika kami sekeluarga sedikit kebingungan dalam mementukan sebuah lokasi yang akan kami kunjungi, kereta apa yang harus kami gunakan setelah ini, di station mana harus berhenti dan seterusnya. Dikereta itu kami sibuk membuka peta sambal meyakinkan diri satu dengan yang lain. Saat itu kereta lumayan padat di Metro Tokyo maklum jam pulang kerja.

Tiba-tiba seorang laki-laki bermasker dengan bahasa Inggrisnya yang terpatah-patah berusaha menanyakan kepada kami ada problem apa? Kalian mau kemana? dst dst πŸ™‚

Beberapa kali juga kujumpai peristiwa serupa di Jakarta. Seseorang yang memberikan pertolongan kepada orang lain yang tidak dikenal.

Ketika aku asyik dengan iPhoneku di suatu malam, saat aku sedang menunggu istriku di terminal kedatangan international Soetta, seorang solo traveler yang kemudian kuketahui berasal dari Munich – Jerman menghampiriku dan menanyakan cara termurah untuk bisa sampai di sebuah hotel di kawasan Jakarta Kota. Tentu saja dengan kereta bandara. Aku mempunyai pilihan tentu saja, menyarankannya bertanya ke Information Desk terdekat atau kubantu dia. Nah, masalahnya aku belum pernah sekalipun menggunakan kereta bandara. Singkat cerita sambil kujelaskan beberapa must to do supaya survive dan tdk mengalami hal yang aneh di Jakarta yang ganas aku membawanya berjalan kaki bersama ke terminal kereta bandara, dan setelah kubaca peta perjalanan yang ada disana, kujelaskan padanya, memastikan dia paham dengan semua penjelasanku lalu kuantar dia masuk menunggu kereta datang.

Sedikit nambahin kerjaan dimalam itu sih but aku merasa lega membantu seseorang yang mungkin juga cuma sekali itu kutemui seumur hidup.

Aku yakin masih banyak sikap-sikap saling peduli satu dengan yang lain bahkan untuk orang-orang yang tidak kita kenal sekalipun tetapi sayangnya ungkapan : emang gue pikirin, cuekin aja, I don’t even *ucking care dan semacamnya jauh lebih popular dan akrab ditelinga kita sehari-hari.

Serasa makin kesini setiap orang hanya hidup untuk dirinya masing-masing. Padahal kalo dipikirkan sedikit saja lebih jauh mana ada sih manusia yang bisa hidup tanpa orang lain?

Udah pernah nonton Cast Away? Yang belum nonton buruan gih ….. biar ngerti gimana rasanya hidup sendiri …. bener-benar sendiri ………. Eits no offense bagi para jomblo y πŸ™‚ maaf maaf πŸ™‚

Atau kalo punya saudara atau teman yang sudah ngerasain lock down seperti di Wuhan atau Italy …. bentar lagi Malaysia nih …. mending tanyain gih ….. gimana rasanya dikurung dalam rumah …. Yang parah lagi udh jomblo dikurung pula nggak bisa pergi-pergi πŸ™‚

Intinya nggak mungkin dan nggak akan bisa lah manusia hidup untuk dirinya sendiri, selalu membutuhkan manusia lain. Tapi sayangnya sudah tahu gitu kenapa juga y masih banyak yang cuek dengan orang lain?

Semalam terpaksa harus mampir ke apotik untuk membeli vitamin, di sebuah Mall guede di Satrio. Masuk mall nggak ada Temp Check, di lift nggak ada hand sanitizer. Begitu masuk kulihat Mall yang sepi itu dimanfaatkan para pegawai dengan berkerumun 4-5 orang berdekatan mengobrol πŸ™ seakan dunia sedang baik-baik saja. gosh …..

Belum lama rame di sosmed bagaimana penduduk Wuhan saling mendukung satu dengan yang lain selama masa lock down … muncul Wuhan Jiayou, penduduk Italy serempak mengibarkan bendera di balkon apartemen mereka masing-masing, ada juga seorang peniup terompet memainkan alat tersebut di balkon sehingga suara menggelegar si terompet sedikit mengusir rasa jenuh akibat dikurung.

Nggak ngerti darimana ide mereka itu tapi sangat yakin dilandasi untuk saling menguatkan dan mendukung satu dengan yang lain melewati masa sulit ini.

Better mulai dari diri sendiri, jangan cuek dengan diri sendiri setelah itu barulah tengok kiri kanan, gunakan rasa dan hati selain pikiran – apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain. Jika diminta mengurangi kegiatan social – Social Distancing – ya jangan malah sok gaya sok jago kelayapan ngider kesono kesini. Mending kalo diri kita sendiri yang kena tapi gimana kalo kita jadi penyebab orang lain dan community tertular?

Dengarkan dan ikuti saja bagaimana Pemerintah bekerja. kalau nggak setuju y nggak usah ribut-ribut …. Bikin negara sendiri aja gimana? πŸ™‚

Daripada saling ribut, debat nggak ada ujung pangkalnya gimana kalo diganti saling dukung saja. support satu dengan yang lain. Caranya mudah saja : mulai dari diri sendiri : jangan cuek dengan diri sendiri. Kemudian ulurkan bantuan kepada orang lain – tidak melulu materi bahkan sekedar nasehat dan reminder seringkali lebih dari cukup …….

Be safe

written by Roy Hekekire
March 16, 2020 1

Beberapa tahun lalu, dengan ditemani salah satu petinggi di perusahaan tempatku bekerja, aku mendapat kesempatan untuk presentasi di depan salah satu konglomerat Indonesia beserta teamnya.

Mendapat kesempatan tersebut tentu saja aku mempersiapkan diri sebaik-baiknya, materi dan termasuk penampilanku. Aku nggak mau gagal, harus sukses. Bukan hanya takut malu kalau gagal tapi juga takut di ”gantung” πŸ™‚

Hari itu tiba, kami sampai di salah satu gedung pencakar langit di jalan Jend. Sudirman Jakarta. Sesampainya disana dengan menggunakan lift khusus kami diantar ke suatu lantai tempat pak Konglomerat berkantor.

Di meeting room tampak sudah hadir beberapa orang yang kemudian diperkenalkan sebagai bos ini, petinggi itu πŸ™‚ Dan tak lama kemudian dengan ditemani sekretaris, pak Konglomerat datang, menyapa kami semua, sang sekretaris memberikan kartu nama dan tak lama kemudian aku mulai presentasi …. bla..bla…bla.

Sambil aku presentasi tentu saja tatapan mataku menyapu keseluruh ruangan …. Tak lama kemudian aku sadar bahwa ada sesuatu yang janggal dimeeting room tersebut. apa itu?

Pak Konglomerat ini sederhana sekali. Mengenakan kemeja batik lengan panjang yang digulung yang warnanya sudah tidak lagi cerah, tanpa arloji sebagai asesoris, tanpa cincin besar seperti bayanganku sebelumnya tentang penampakan orang tajir sekelas konglomerat! Dan u la la … rambutnya juga disisir kebelakang ala kadarnya, tanpa potongan khusus dan pomade πŸ™‚ sederhana sekali.

Kubandingkan dengan orang-orang dekatnya yang bos ini dan petinggi itu pak Konglomerat ini lewat jauh lah … serius…..pasukannya jauh lebih keren dan lebih bos dari si bos πŸ™‚

Sambil mendengarkan presentasiku yang dilanjutkan dengan diskusi ini itu, beberapa orang diruangan meeting sibuk menulis di laptop tetapi pak Konglomerat ini menulis di kertas putih yang ada setumpuk yang aku yakin sengaja disiapkan disitu. Lembar berikutnya beliau ambil lalu menuliskan hal-hal lain dan begitu seterusnya. Sang sekretaris sibuk mengumpulkan lembaran-lembaran kertas putih yang sudah ditulis dan dicoret-coret pak Konglomerat πŸ™‚

Beberapa tahun kemudian kembali aku berkempatan bertemu dengan pak Konglomerat tersebut masih di ruang meeting di gedung yang sama, hanya kali ini untuk project yang berbeda tetapi pak Konglomerat masih dengan penampilan yang sama ….. sederhana …..amat sangat sederhana.

Dalam pertemuanku yang kedua ini pak Konglomerat lebih banyak berbicara, mengulas dan menyampaikan opini, analisa disertai data-data yang sudah lengkap dipersiapkan dihadapannya. Benar-benar bermutu, kualitas tinggi, mewah, ….. perlu beberapa tahun buatku memahami apa yang disampaikan pak Konglomerat dimeeting itu πŸ™‚

Kontras antara penampilan fisik dan kualitas isi pembicaraan beliau …. Aku kagum, luar biasa kagum dan malu.

Berbicara tentang taste, anak sulungku boleh dibilang diatas lumayan lah. Referensi makan dia paham, mode tentu saja. Seleranya lumayan, cenderung mengerikan buatku sebagai bapaknya πŸ™‚ hanya barang berkualitas yang dia mau beli dan gunakan. Memang bukan sekedar merk tapi merk yang seperti apa.

Suatu ketika kami sekeluarga berlibur ke salah satu negara di Asia Timur. Seperti kebiasaan kami jika berlibur yang benar-benar untuk mengeksplore tempat-tempat baru maka kami sangat minimal mengalokasikan waktu khusus untuk berbelanja. Tetapi kali itu anakku sejak dari Jakarta sudah merencanakan untuk membeli suatu barang dengan merk X karena alasan ini itu. Seperti kebiasaan anak muda semua details tentang barang tersebut sudah ada diotaknya termasuk dimana harus dibeli – thanks to internet for that πŸ™‚

Tentu saja setelah beberapa hari disana dan sehari sebelum pulang ke Jakarta kami menyempatkan diri mencari barang tersebut. Sesampai di tempat dimana seharusnya barang tersebut ada ternyata hasilnya nihil ….lalu browsing lagi dimana yang ada, lalu kami samperin, ada barangnya tetapi beda model L tempat berikutnya kami cari dan barulah ketemu, bayar, bungkus dan finish πŸ™‚

You know what …. ini cuma urusan dompet πŸ™‚ …. Harus merk yg itu dan model yang itu. yang lain nggak mau πŸ™‚

Begitulah untuk sedikit menggambarkan segala keribetan jika si sulung sudah mengincar sesuatu!

Tetapi dalam 2 tahun ini aku perhatikan, anak sulungku ini berubah. Nggak lagi peduli dengan segala macam urusan tetek bengek yang tadinya membuat ibunya, adiknya dan aku bapaknya bisa bengek πŸ™‚

Sudah 2 tahun benar-benar 2 tahun, sepotong tshirt pun tidak ada yang dibelinya. Hanya sepotong sweater yang kubeli sebagai hadiah natalnya dan sepotong tshirt dari seniman siapa aku nggak jelas oleh-oleh adiknya dari Boston. Selebihnya pakaian buluk lama yang dia pake πŸ™‚

Semua memang perlu waktu, termasuk merubah pandangan seseorang terhadap sesuatu pun memerlukan waktu, membuat si A mempunyai prioritas berbeda dibanding yang lain.

Ini bukan tentang benar dan salah. Masing-masing mempunyai dasar dan alasannya sendiri.

Sepanjang setiap masing-masing bertanggungjawab terhadap keputusannya itu sudah lebih dari sekedar cukup.

written by Roy Hekekire
March 4, 2020 0

dari sebuah kota kecil di pesisir selatan pulau Sumatera, dari saluran TV dan surat kabar kami mendengar bahwa situasi Jakarta makin mencekam, penjarahan, dan konon berbagai bentuk kejahatan massa terjadi seantero kota dan kemudian puncaknya Presiden dipaksa turun. Ibukota chaos!

walau cukup jauh tapi suasana mencekam di kota kecil tempat kami tinggal juga terjadi. Mahasiswa yang tentu saja tidak sebanyak Jakarta turun kejalan, beberapa kali terdengar suara senjata api meletus yang terdengar dari kantor tempatku bekerja. toko-toko dan supermarket yang tidak seberapa jumlahnya di serbu pembeli. kacau ……

si Abang anak sulungku baru juga berumur kurang dari setahun yang sangat tergantung dengan sebuah merk susu. istriku panik, β€œsembako pada habis” katanya, β€œrak-rak supermarket pada kosong” dia menimpali lagi ….. aku ikut panik. β€œgini saja, kita beli susu buat Abang aja, berapa uang yang ada?” kataku ….. ternyata nggak banyak πŸ™

lalu kami ke ATM yang juga cuma beberapa gelintir dan kami ambil semua saldo yang dimungkinkan untuk diambil. untung 1998 belum banyak pengguna ATM di kota itu sehingga rush hanya terjadi kantor-kantor bank. 1 juta rupiah kurang sedikit yang bisa kami ambil dari ATM dan kami ke supermarket yang terdekat dari mesin uang tersebut. dan benar rak-rak pada kosong tapi untungnya deretan susu merk yang si Abang minum masih ada disana, kami beli sebanyak yang uang cash kami bisa beli, lalu kami pulang kerumah. kami berpikir paling tidak urusan untuk si Abang sudah aman dulu.

beberapa hari lalu, tidak lama setelah Presiden mengkonfirmasi bahwa sudah ada 2 orang SUSPECT Corona tiba-tiba saja dibeberapa titik di ibukota terjadi rush alias panic buying di supermarket dan sejenisnya. nggak ngerti bagaimana awal mulanya, apa sebabnya dll dll …. tiba-tiba saja timeline di semua platform social media dipenuhi foto-foto para shopper yang berbelanja kebutuhan pribadi laksana akan membuka toko serba ada πŸ™ dan apotik …. masker yang seharga puluhan ribu menjadi ratusan bahkan jutaan rupiah – kecuali masker bengkoang πŸ™‚ , hand sanitizer stock out πŸ™

baru juga 2 orang SUSPECT sudah begini riuhnya …. bagaimana misal, jika, seandainya POSITIVE …… waduh ngeri membayangkan situasi yang mungkin terjadi.

bener juga sih semua tentu dengan pertimbangan Preventive …. bagaimana jika benar dari SUSPECT menjadi POSITIVE ….. lalu orang-orang diisolasi dirumah masing-masing seperti Wuhan, lalu orang-orang nggak bisa kerja, lalu produksi berhenti, lalu stock dipasar habis, lalu lapar, lalu kelaparan, lalu saling bunuh berebut makanan, lalu pada mati lapar atau terbunuh berebut makanan πŸ™‚

berpikir dan bertindak sesuatu sebagai Preventive Action atau antisipatif memang tidak salah, bahkan harus dilakukan BUT semakin banyak LALU yang mampu dipikirkan seseorang akan menentukan sebuah action dikategorikan sebagai antisipatif atau panik.

sebuah rumah yang diberi pagar, pintu rumah dikunci, mungkin juga diberi kunci tambahan dan beberapa CCTV adalah sebuah langkah antisipatif pemilik rumah untuk berjaga-jaga dari bahaya pencurian, perampokan dan sejenisnya.

tapi coba bayangkan jika pemilik rumah melanjutkan pemikiran preventifnya dengan beberapa kata lalu …. halaman rumah dimasuki maling ( bikin pagar ), lalu maling membobol pintu rumah ( tambahan pintu besi dan ekstra gembok ), lalu maling masuk pintu kamar ( tambahan pintu besi dikamar dan ekstra gembok ), lalu malingnya keluarin pistol atau senjata tajam dan membunuh …… gimana dong antisipasinya? masak iya bikin kotak besi diatas tempat tidur dan penghuninya tidur didalam kotak? πŸ™‚

sebuah rumah yang dengan mudah bisa terlihat dari tol arah flyover dalam kota kearah Kebon Jeruk ada tulisan besar berbunyi : pagar ini dialiri listrik πŸ™‚ …… waduh ….. ini preventif atau gimana ya?

virus yang satu ini memang sedang menggoncang dunia. negara setajir China pun mulai gemetaran memikirkan dan mencari jalan keluar AKIBAT dari virus ini ke multi aspek terlebih ekonomi. berapa besar negara tersebut menggelontorkan uang untuk menahan atau paling tidak mengatur pelambatan ekonomi dan pasar saham. jadi memang ini masalah serius bukan hanya karena virusnya tetapi dampak yang diakibatkan karenanya bahkan jauh lebih serius.

dari sebuah artikel yang kubaca fatality rate dari virus ini 2% …. coba bandingkan dengan fatality rate kecelakaan lalu lintas? Data WHO bilang setiap 25 DETIK 1 orang mati karena kecelakan lalu lintas…..serem kan? tapi lihat aja berapa banyak yang drive sambal texting, drive right after consume alcohol, riding tanpa helm πŸ™‚ atau sign kiri tapi belok ke kanan πŸ™‚

dari CNN kubaca juga sebuah artikel bahkan SARS mempunyai fatality rate yang hampir 5 kali lebih tinggi ( 9,6% SARS Fatality Rate ) dari Corona ini. tapi yang membedakan jaman SARS social media belum sebanyak seperti hari ini.

waspada memang harus, ada Corona atau tidak bukankah harus selalu waspada tapi rasanya nggak perlu terlalu berlebihan.

preventif harus tapi jangan kebanyak lalu πŸ™‚ …. ntar malah lucu πŸ™‚

#alertbutdontbestupid

written by Roy Hekekire
November 13, 2019 0

2 kali sehari, pagi sewaktu dimobil perjalan ke kantor dan malam hari, kami – aku dan anakku yang sekolah jauh selalu berkirim kabar – eh bukan … tepatnya aku bertanya kabar dan beberapa pertanyaan lain dan reminder membosankan seorang bapak ke anaknya :). malam kulakukan lewat WhatsApp text dan malam aku Video Call πŸ™‚

malam ini – atau pagi waktu sana, anakku berkabar bahwa temperature sudah – 7 derajat dan dia ada kelas jam 8 pagi πŸ™‚ komplit penderitaan mu y nak? πŸ™‚

tentu bukan hal yang mudah bagi seseorang yang lahir dan dibesarkan didaerah tropis hanya dengan 1 musim πŸ™‚ beradaptasi di daerah dengan 4 musim apalagi di kota tempat anakku belajar.

itu sebabnya beberapa minggu Ibunya disana sewaktu mengantarnya berangkat, anakku berbelanja beberapa items yang dibutuhkan sehari2 di dorm dan tentu saja untuk keperluan winter yang sudah mulai dijual sejak awal bulan September.

setahun yang lalu kira2, si Bos mengajakku bersama beberapa orang untuk berkunjung ke beberapa negara Scandinavia. Memang sedikit cari penyakit kupikir, ke Scandinavia di awal bulan Desember – awal winter pula untuk manusia tropis seperti aku πŸ™‚

dinginnya memang super …. minus puluhan derajat dibawah Nol ! bahkan ada suatu daerah yang kami datangi hanya mengalami siang – jangan bayangkan siang seperti di Indonesia – selama 3 jam, selebihnya gelap lap gelap πŸ™

suatu kali dalam perjalanan di bus yang membawa kami over land, sang pemandu yang orang local berkata begini : jangan salahkan temperatur tapi salahkan mengapa tidak mengenakan pakaian yang sesuai dengannya ! Nah lo ….. πŸ™‚

bagi yang tinggal di Jakarta pasti sudah paham sepaham pahamnya jika hari hujan pengendara mobil dilarang keras melewati jalan-jalan yang melalui under pass. mengapa? karena pasti macet parah stadium akut karena pengendara sepeda motor dengan mudah dan seenaknya berteduh sampai meluap ke tengah jalan.

ulah para pemotor yang tidak mempersipkan mantel hujan acapkali menambah ruwet lalu lintas Jakarta yang memang sudah ruwet. atau mereka sudah mempersiapkan tetapi tidak mau menggunakannya πŸ™‚

cuaca, temperatur sulit ditebak saat-saat ini, harusnya musim kering – malah hujan atau sebaliknya sehingga sulit untuk memperkirakan pakaian dan semua perlengkapan lain supaya tidak disalahkan pemandu wisata dari Scandinavia tadi πŸ™‚

tetapi justru karena sulit ditebak itulah makanya persiapan perlu dilakukan bukan?

seperti hidup, ada saat naik tentu ada saat turun. ada masanya menanam dan ada masanya menuai. selalu ada musim dalam hidup setiap manusia.

persiapan perlu dilakukan untuk menghadapi perubahan setiap musim dalam hidup.

menikmati hidup tentu tidak serta merta mengabaikan masa depan. sebaliknya mempersiapkan masa depan tentu tidak berarti menjalani kehidupan sekarang dengan ketidak pastian dan kecemasan.

dengan menjaga keseimbangan menikmati kehidupan saat ini dan mempersiapkan masa depan akan makin memungkinkan kita tidak salah kostum dan disalahkan si pemandu wisata atau setidaknya tidak membuat susah orang lain seperti ulah pemotor yang menguasai area under pass.

bagaimana menurutmu?