Berharap tak berpisah

4 minutes, 30 seconds

dalam beberapa bulan terakhir ini hampir setiap kali aku pergi ketempat-tempat hang out, entah itu karena urusan makan bareng istri dan anak, entah itu bicara urusan pekerjaan dengan beberapa teman, atau hanya sekedar bersantai dan melepas penat sebuah lagu lama yang dipopulerkan oleh Reza Arthamevia awal tahun 2000 – hampir 20 tahun yang lalu, selalu saja dimainkan, dinyanyikan dan floor menjadi hiruk pikuk, hingar bingar karena hampir semua mulut bibir pengunjung sing along dengan suara ala kadarnya πŸ™‚ ….. pecah.

tentu tidak aneh jika pengunjung tempat-tempat itu berusia sepantaran denganku tetapi bagaimana jika anakku sendiri yang baru berumur awal 20 an juga paham dan tahu dengan lagu ini?

bahkan sebuah movement sekelompok anak muda yang memperdengarkan lagu-lagu lawas era 80 an dengan sentuhan disko selalu menarik pengunjung anak-anak 20 tahunan sampai meluber mengantri?

produk lama yang meng attract anak-anak muda hanya dengan membuatnya menjadi relevan hanya dengan  memainkannya dengan sedikit sentuhan aransemen masa kini.

awal tahun ini aku berdiskusi dengan salah seorang teman mengenai situasi dan kondisi terkini di organisasiku. sebuah data menunjukkan bahwa sudah lebih dari separo orang-orang di organisasiku adalah generasi yang beken dengan sebutan generasi milenial, sebuah generasi yang lahir bersamaan dengan kemunculan internet. mereka lahir di akhir era 90 an awal 2000……mudahnya anak-anak yang berbeda usia minimal 20 sampai 30 tahun dari umurku πŸ™‚

sebenarnya sudah kusadari situasi ini sejak beberapa tahun yang lalu tetapi melihat angkanya sudah lebih dari 50% tentu saja sedikit banyak ini cukup mengagetkan.

kuamati sejak si sulung memasuki jenjang junior high school, hampir setiap saat kulihat ditelinganya selalu tersumpal dengan head set, entah apa yang di dengarkan.

lama kelamaan tak tahan juga aku dibuatnya, lalu aku mulai ajak dia bicara untuk mencari tahu apa yang dia dengarkan melalui kupingnya yang selalu tersumpal itu πŸ™‚

rupanya anakku ini sedang mendengarkan music, menikmati lagu-lagu yang menarik minatnya – dan tidak menarik minatku.

suatu sore di hari minggu karena gabut nggak jelas, aku dan istriku mulai mengakses YouTube dan kami lihat dan mainkan sebuah lagu yang super ngetop pada jamannya.

karena Mac terletak di living room tentulah suara dari lagu tersebut mendominasi seisi rumah menginvasi kamar tidur ke dua anakku.

belum juga sampai chorus kedua anakku serempak keluar dari sarangnya dan semua bertanya dengan suara lantang : kalian sedang dengarin lagu apa sih?

istri ku dan aku saat itu sedang memutar sebuah lagu dari one of Indonesia legend : Chrisye ! πŸ™‚

ditambah beberapa kejadian dan hasil observasi sehari-hari aku menjadi makin sadar bahwa perbedaan generasi antara kami berdua dan anak-anak menjadi salah satu challenge untuk kami bisa berkomunikasi secara lebih efektif.

lalu mulailah aku secara sadar dan dengan tujuan mulia tertentu mencari tahu bagaimana caranya bisa mengetahui trend terkini yang sedang diperbincangkan dan disukai oleh kedua anakku.

thanks to teknologi informasi yang memungkinkan ku berselancar mencari informasi ini itu, membuka account social media mulai dari Twitter di jaman itu sampai denga IG. kumanfaatkan juga iTunes untuk mencari tahu lagu dan music yang sedang trending πŸ™‚

long story short akhirnya aku paling tidak mulai mengetahui dan belajar memahami hal-hal yang menjadi interest kedua anakku dan woila ….. kami mulai bisa bicara dengan lebih connect di hal-hal tertentu. atau paling tidak kedua anakku mengetahui Bapaknya tidak ketinggalan jaman, update dan bisa diajak ngobrol hal-hal even yang remeh temeh seperti lagu yang sedang happening, fashion trend, dll πŸ™‚

‘keberhasilan’ ini membuatku menjadi lebih percaya diri karena sudah mulai menemukan cara untuk bisa lebih connect ke generasi anakku. lalu kupraktekkan ini di kehidupan profesionalku.

aku mulai merubah caraku berbicara, caraku berinteraksi bahkan caraku berpakaian. tentu saja itu semua kulakukan purposely and intentionally πŸ™‚ eeeeaaaaaaaaaa πŸ™‚

cukup sering anak-anak muda di organisasiku ini ‘berkomunikasi’ denganku melalui social media, melalui direct message untuk beberapa hal atau melalui wall jika sekedar ha ha hi hi, atau bahkan saling berbalas komen sampah πŸ™‚

ketika masing-masing sudah mulai merasa nyaman maka jangan heran jika sometimes bercandaan mereka bisa masuk kualifikasi “less teach” jika diukur dari value dan tata cara sopan santun generasiku πŸ™‚

benar, menjadi relevan ada key word nya. menjadi relevan dengan siapa kita akan berinteraksi menjadi starting point supaya komunikasi bisa nyambung.

but easier said than done. ada harga yang harus dibayar untuk stay and keep relevan, bahkan harga nya bisa semahal harga diri πŸ™‚

suatu ketika kuajak beberapa area manager untuk makan siang bersama. begitu masuk ke mobilku secara otomatis play list di iPhoneku langsung terconnect dengan audio yang ada di mobil ….. dan terdengarlah Location Unknown dan Day 1 dari Honne πŸ™‚ ….. tak lama kemudian salah satu dari area manager ku berkata : serius Bapak dengerin Honne? ini Bapak tahu dari mana? πŸ™‚

“penghinaan” ini masih belum berhenti, di fotonya audioku dan diupload di social media area manager ku yang usil dan masuk kategori “less teach” ini…….Bapakku dengerin Honne demikian kira-kira tulisannya di IG storynya πŸ™‚

ah, rupanya dia mengumumkan ke suluruh dunia Bapaknya dengerin lagu yang tidak cocok dengan umurnya yang sudah separo abad πŸ™

jaman sudah berubah, tentu saja cara-cara lama sudah tidak relevan lagi, harus diganti dengan cara-cara baru.

sepanjang value atau nilai yang baik yang diyakini dari generasi sebelumnya masih bisa konsisten dipegang maka perubahan cara bukanlah hal besar.

generasi lama yang memegang kuat disiplin waktu misalnya tidak perlu lagi marah-marah, ngotot sampai urat leher keluar hanya untuk meminta generasi baru untuk on time.

kasih saja contoh….selesai!

jika generasi lama ingin disapa oleh generasi milenial ya sapa aja duluan…. simple!

kalau generasi lama ingin diajak ngobrol generasi milenial ya ajak aja ngrobrol duluan….mudah!

kalau nggak bisa juga menyapa atau ngobrol duluan mungkin kalian sedang sakit gigi……kalau benar begitu pergi aja ke dentist! πŸ™‚

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *