Bencoolen

3 minutes, 45 seconds

suatu pagi, hari Senin, bulan Agustus 1997. Dengan menumpang CN235 Sempati Air almarhum 🙂 untuk pertama kalinya kaki ku menginjak Bengkulu, ibu kota propinsi Bengkulu yang belum banyak dikenal kecuali bagi para penikmat sejarah.

Bagaimana tidak, dikota inilah salah satu founding father kita di “buang”. Di kota inilah Jenderal Raffles asal Inggris menemukan sebuah flora yang kemudian dikenal dengan nama Rafllesia Arnoldi.

Kota Bengkulu terletak tepat di pinggir pesisir Samudra Hindia dengan bibir pantainya yang panjang tetapi mematikan karena dalam dan curam. Melihat begitu strategis nya titik ini bagi Kerajaan Inggris, maka kemudian Raffles mendirikan sebuah Benteng yang dikenal dengan nama Marlborough – benteng ini masih ada dan terpelihara dengan baik hingga saat ini.

Tetapi kemudian Jenderal Raffles menemukan sebuah kenyataan baru bahwa titik strategis Bengkulu tidak akan berumur panjang mengingat hampir semua perjalanan laut kala itu melewati sebuah selat yang dikenal dengan Selat Malaka.

Dengan siasat ini dan itu, Raffles berhasil menukar guling Bengkulu dengan Kota Singa – Singapura yang kala itu dikuasai Kerajaan Belanda.

Perkiraan Raffles ternyata benar, Singapura menjelma menjadi salah satu negara paling kaya di dunia.

Dikota kecil Bengkulu inilah aku menghabiskan 2,5 tahun perjalanan karir dan hidupku.

Tidak banyak yang bisa aku, istriku dan anak sulungku yang berumur kurang dari 1 tahun lakukan. Pusat keramaian kota ini kala itu hanyalah sederet ruko sepanjang jalan Suprapto 🙂

Tidak ada mall, tetapi ada bisokop yang aku kurang mempunyai keberanian untuk masuk dan nonton disitu 🙂

Ke pantai hanya sesekali sambil mengajari anak sulungku berjalan, itupun sesekali berdisko di goyang gempa-gempa kecil yang memang sering terjadi disana.

Tracking ….. hanya sekali kulakukan. Menggendong anak sulungku dengan baby carrier mendaki salah bukit di Curup. Hanya sekali kulakukan karena aku kepayahan …. maklum saat itu berat badanku hanya 48 kilogram …. seperti tulang belulang berbalut kulit hitam, kucel tak terurus ….. dekil.

Sebagai anak muda, miskin pengalaman, pengertian dan kebijaksaan, Bengkulu memberiku, mengajarku dan melatihku banyak hal.

Challenge pertamaku saat itu adalah mengangkat kembali moral team yang hancur lebur karena suatu hal.

Dan karena moral team rendah demikian pun dengan disiplin. Demikian pula hubungan dengan pihak eksternal sampai dititik yang paling rendah.

Pusing 7 keliling aku dibuatnya 🙂

Pagi ini, saat aku memasuki ruangan kerjaku, diatas meja kerja kulihat sebuah paket. Kubuka dengan rasa tak sabar, isinya 3 packs kopi Bengkulu dan sebuah amplop putih yang saat kubuka berisi sebuah kartu ucapan yang bertuliskan : Sebagai ungkapan rasa syukur dan ikut bahagia nya kami, atas pencapaian 25 tahun masa kerja. Semoga Bapak selalu dilimpahkan berkat dari Tuhan dan terus memberikan inspirasi bagi kami semua. dari kami semua TEAM BENGKULU. 

Kuperkirakan hanya kurang dari 10 orang dari teman-teman di Bengkulu yang masih ada saat ini, selebihnya tentu teman-teman baru yang masuk bekerja setelah aku pindah dari kota itu. Aku nggak paham bagaimana mungkin ada kalimat di ucapan tersebut ……. dari kami semua TEAM BENGKULU.

Sebagian besar dari teman-teman di Bengkulu saat ini  tidak kukenal secara personal, bahkan mungkin belum pernah berjumpa tatap muka.

Merinding aku …. rasanya tidak ada hal besar yang aku lakukan. Rasanya aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Karena aku ini bukan siapa-siapa, hanya seorang anak muda sedikit naif, emosional, kurang berpengalaman, pengertian dan kebijaksanaan.

Entah apa yang mereka pikirkan tentang aku.

Kufoto kartu ucapan dan 3 packs kopi Bengkulu itu lalu ku posting di IG Story.

Tak lama kemudian kuterima sebuah pesan dari seorang bernama @Inasafria berbunyi  : Tahun 1997 saat masih jadi anak bocah kelas 1 SMP Bengkulu dan mengenal  pak Roy dan sudah mengidolakan bapak yang humble dengan semua orang 🙂 tetap jadi idola saya sampai sekarang pak.

Maaf @Inasafria, ingatan saya amat sangat terbatas, sehingga saya tidak lagi mengingat kapan dan dimana saya mengenalmu saat kamu kelas 1 SMP Bengkulu. Dan saya tidak tahu bagaimana semua cerita tentang saya kamu dengar, sampai kamu mengirimkan pesan seperti itu? 🙂

Tak lama kemudiam sebuah pesan WhatsApp dari Hadi Sustyo kuterima. Dia menuliskan begini : …. Moga berkenan Pak Roy. 3 Mantra : Learning, Challenge Status Quo, Show me the result, masih terus diingat dan dijalankan Pak

Lain lagi yang Evan kirimkan ke saya. Dia bilang begini : Pak Roy, nanti dikomen ya pak. Kopi nya hasil olahan anak-anak P2P Magnum. Makanya namanya Coffee Mag 🙂

Ini bukan cerita tentang saya. Ini cerita tentang semua manusia, bahwa yang kita lakukan, perkatakan akan selalu meninggalkan jejak, menjadi cerita dan menginspirasi orang atau mungkin sebaliknya.

Bahkan setelah 22 tahun jejak seorang anak muda kurang berpengalaman, pengertian dan kebijaksanaan masih tersimpan di sana.

Bencoolen terima kasih banyak.

note :

* matur nuwun Mas Hadi Susatyo, thanks a lot Evan Dewabrata

* Jajang, Buiston, Itraneldi, Reswan dan …… ah maaf maaf tak mampu lagi kuingat satu persatu nama kalian …… terima kasih banyak

There are 0 comments .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *