Month: November 2019

written by Roy Hekekire
November 30, 2019 0

Air

sejak Sabtu 30/11/19 IG story bos ku dan teman2 kantor di penuhi dengan foto dan cerita tentang foto si boss dalam sebuah botol air minum mineral.

tentu saja ini bukan dalam rangka si boss yang promosi air minum dalam kemasan miliknya – walau saya berharap one day si boss akan punya his own brand 🙂

air minum dalam kemasan bergambar foto keren si boss memang sengaja diproduksi dan didistribusikan se antero negeri sebanyak pasukannya yang tersebar di lebih dari 80 kota di Indonesia – jumlah ribuan !

suatu pertanyaan sekilas menggoda pikiranku menjelang Sabtu sore. mengapa si boss membagikan air minum dalam kemasan bergambar dirinya? apa nggak ada barang lain yang lebih atraktif. masak iya air minum? cuma sebotol pula? ongkos kirim ke hampir 90 kota bisa jadi lebih mahal dari ongkos produksi air minum itu sendiri? masak iya orang se logik dan maut hitungan2 angka seperti boss ku terlewat matematika sederhana seperti ini?

hampir 20 tahun hidup di kota besar seperti Jakarta memaksa ku tinggal di sebuah rumah yang sangat minim halamannya walau hanya sekedar untuk menanam ini itu. sisa tanah tidak lebih dari 6 meter persegi, sehingga setiap kali onggokan tanah harus dibeli dari penjual bunga yang sering mondar mandir di kampung tempat tinggal ku supaya beberapa tanaman yang ada mempunyai media yang cukup untuk tumbuh.

kondisi ini menjadikan tanaman dan sejenisnya tidak menjadi obyek yang aku amati sehari-hari sampai beberapa hari yang lalu untuk pertama kali aku menginap di rumah Bogor – tempat yang kumaksudkan untuk kami tinggali di masa tua nanti. tidak besar memang tapi mempunyai halaman yang lumayan untuk ditanami rumput dan beberapa tanaman hias, ada yang langsung ditanam di tanah dan ada beberapa yang ditanam di pot2.

karena halaman yang lebih besar dari rumah sehingga rumput dan tanaman2 yang ada kurasa menjadi salah satu objek yang mendominasi rumah kami sehingga ‘memaksa’ku untuk mengamati para geng hijau ini 🙂

selama ini karena kami belum menghuni rumah tersebut ada seorang tukang taman yang memelihara supaya rumput dan tanaman terpelihara, pagi dan sore Furqon akan menyiram, mencabut rumput liar dan memangkas merapikan tanaman2 yang ada.

seminggu lalu Furqon sakit sehingga dia tidak bisa bekerja sehingga ketika aku datang kulihat beberapa tanaman mulai tidak sesegar seperti biasanya bahkan beberapa yang ditanam di pot2 terlihat layu. rumput2 mulai bersaing dengan rumput liar 🙂

memang Bogor disebut orang kota hujan tapi siapa juga yang sanggup memaksa kalau hujan tidak mau turun seminggu itu?

segera kuambil selang air dan kusiram rumput dan tanaman2 itu. menjelang sore kulihat mereka sudah mulai segar, daun2 yang tadinya seperti kurang darah alias lemas mulai waras ….

riset singkat dengan Google kutemukan informasi bahwa antara 80% – 50% tubuh manusia terdiri dari air, tergantung tingkat usianya, semakin tua kandungan air dalam tubuh manusia semakin sedikit.

itu sebabnya semakin tua karena kandungan air relative berkurang tubuh manusia terlihat makin keriput dst dst 🙂

air, ya air …. emang siapa yang tidak membutuhkan air? bahkan dalam sejarah cerita umat manusia banyak sekali peperangan dan saling bunuh yang disebabkan karena memperebutkan sumber air.

secara hiperbolik bahkan dikatakan air adalah sumber kehidupan.

walau tumbuhan tidak akan hidup tanpa air, manusia dan binatang akan mati tanpa air tapi wujud air sama sekali sekali tak kasat mata alias tidak bisa dilihat dengan mata telanjang di mahkluk hidup. kita hanya mampu melihat daun, bunga, batang, ranting, akar di tumbuhan. atau ekor, taring, telinga, wajah, kaki, tangan dll dll pada bintang dan manusia. sama sekali kita tidak bisa melihat air yang katanya 80% di tubuh manusia?

sama seperti air yang menghidupkan tanaman, binatang dan manusia. air tidak tampak terlihat di flora dan fauna tapi air ada di dalam mereka. air menghidupkan mereka.

demikian juga seorang pemimpin – siapapun dia, di layer apapun, organisasi apapun – dari level rumah tangga sampai level negara atau perusahaan2 yang rumit – pemimpin itu seperti air.

pemimpin itu menghidupkan dan menghidupi organisasinya walau seringkali pemimpin itu tidak tampak. bagaimana bisa tampak karena pemimpin itu tidak bicara tentang manusia nya tetapi tentang ide dan gagasan!

sebagai kumpulan ide dan gagasan tentu saja perlu didistribusikan, disebarkan sampai semua orang dalam organisasi sama memahaminya seperti sipemilik ide dan gagasan awal. seperti air yang harus terdistribusi dari mulai akar sampai daun bahkan daun terkecil di ranting terluar, seperti itu pula ide dan gagasan seorang pemimpin harus tersebar sampai ke layer yang paling bawah.

organisasi yang hidup adalah jikalau ide dan gagasan pemimpin bisa terdistribusi sama baiknya di layer manapun dan dipahami sama baiknya oleh siapapun orang dalam organisasi.

dalam konteks itulah aku memahami mengapa si boss bersusah payah mempertaruhkan harga diri dengan memajang foto nya di air minum dalam kemasan dan didistribusikan ke seluruh organisasi.

walau tentu saja tubuhnya nggak mungkin bisa di slicing sehingga memungkinkan 1 di Jakarta, 1 lagi di Surabaya, 1 lagi di Medan …. tentu nggak mungkin, tapi beliau sedang mengatakan walau dirinya hanya bisa ada di satu tempat dan di satu waktu tapi ide dan gagasannya tetap harus ada dimanapun di dalam organisasi. karena dengan itulah organisasi akan hidup.

written by Roy Hekekire
November 20, 2019 0

suatu pagi, begitu sampai dikantor aku terlibat dalam sebuah perbincangan menarik dengan 2 orang teman mengenai sebuah never ending topik dalam kehidupan pekerjaan di korporasi … turn over karyawan 🙂

ceritanya, salah satu dari anggota team temanku tadi mengajukan permintaan pengunduran diri karena ini dan itu. lalu temanku dan salah satu anggota team yang kusebut saja Bunga 🙂 berbincang cukup lama. selidik punya selidik, Bunga belum lama pulang dari berlibur bersama teman2 nya, dan Bunga merasa kehidupan teman2 nya begitu mengasyikkan. dari berlibur ke suatu tempat lalu tidak lama kemudian berlibur lagi ketempat lain, tanpa memikirkan kerja, berbisnis atau kegiatan produktif lain.

Lalu Bunga berfikir enak sekali y kehidupan mereka? mengapa aku tidak berusaha menikmati kehidupan masa muda ku seperti mereka?

Bunga bukan tidak berprestasi di pekerjaan. aku tahu berapa ratingnya, bagaimana attitude dan behavior nya di kantor. singkatnya Bunga punya kapabilitas yang lebih dari cukup untuk terus berkontribusi dan perform.

setiap kali kembali ke rumah dari bepergian, aku selalu melewati sebuah jalan dan setiap kali pula kujumpai seorang Ibu berumur 60 tahunan sedang duduk bersantai, kakinya diangkat sambil menikmati sebatang rokok.

suatu ketika aku berpikir, apa ya pekerjaan Ibu itu? pensiunankah? investorkah? orang kaya kah? masak iya tidak ada kegiatan lain sehingga pemandangan serupa selalu kulihat setiap kali aku melewati depan rumahnya?

enak sekali ya hidupnya, nikmat sekali 🙂

di spot yang berbeda menuju rumah, sekumpulan ojek daring berkumpul, bukan ngobrol tapi semua sibuk dengan telepon pintar masing2, kemungkinan besar mereka sedang mabar game online 🙂

jam berapapun ku lewati spot tersebut hanya pemandangan itu yang mendominasi. enak sekali ya hidupnya bisa main game online bersama di pagi hari, siang bolong atau malam hari?

ditengah gempuran kesibukkan, tekanan hidup, dan ketidak pastian menghadapi masa depan, tema tentang “Menikmati Hidup” muncul mendominasi laman social media.

lihat saja posting2 tentang travelling dan tempat2 indah nan eksostis di seluruh penjuru dunia, hotel2 mewah dan villa2 romantik di daerah tropis yang sexy, makanan2 yang tersaji indah, Fisrt Class atau bahkan private jet  menjadi ‘jualan’ pengguna media social dewasa ini.

beberapa account bahkan dikhususkan oleh pemiliknya untuk mengunggah “Kenikmatan Hidup” yang dijalani nya keseluruh dunia 🙂

tapi apakah sebenarnya “Kenikmatan Hidup” itu ya?

apakah travelling terus menerus, keluar masuk tempat2 eksotis, makanana mewah atau se sederhana bermain game online berjam-jam adalah manifestasi dari “Menikmati Hidup” ?

ah tentu masing2 orang mempunyai caranya sendiri2 tapi kalau kubaca dari beberapa artikel orang2 super kaya dunia mendonasikan sebagian besar kekayaannya untuk orang lain.

lalu aku bertanya apakah mereka menjadi filantropis karena sudah terlalu kaya atau karena mengetahui bahwa menjadi berarti untuk orang lain adalah sejatinya kemanusian manusia?

apakah untuk menjadi berarti bagi orang lain adalah hak istimewa orang2 super kaya?

para bapak yang seumur hidup dimasa produktifnya mendedikasikan hidup untuk istri dan anak2 atau para ibu walau bukan jenis sosialita yang berderma kesana kemari diliput media tetapi sampai akhir hidup memberikan dirinya untuk membesarkan anak2 dan mendampingi suami dan bahkan ada banyak ibu yang merangkap tugas sebagai pencari nafkah.

bukankah itu cerita biasa tentang menjadi berarti untuk orang lain?

saking biasanya cerita tersebut sampai sering terlewat dan terlupakan hingga membuat kita cenderung hidup untuk diri sendiri dan mengabaikan contoh sehari-hari.

menjadi berarti untuk orang lain adalah hak istimewa setiap manusia, it’s just a matter of choice!

sehingga “Menikmati Hidup” dengan menjadi berarti untuk manusia lain adalah the ultimate of human achievement.

bagaimana menurutmu?

written by Roy Hekekire
November 13, 2019 0

2 kali sehari, pagi sewaktu dimobil perjalan ke kantor dan malam hari, kami – aku dan anakku yang sekolah jauh selalu berkirim kabar – eh bukan … tepatnya aku bertanya kabar dan beberapa pertanyaan lain dan reminder membosankan seorang bapak ke anaknya :). malam kulakukan lewat WhatsApp text dan malam aku Video Call 🙂

malam ini – atau pagi waktu sana, anakku berkabar bahwa temperature sudah – 7 derajat dan dia ada kelas jam 8 pagi 🙂 komplit penderitaan mu y nak? 🙂

tentu bukan hal yang mudah bagi seseorang yang lahir dan dibesarkan didaerah tropis hanya dengan 1 musim 🙂 beradaptasi di daerah dengan 4 musim apalagi di kota tempat anakku belajar.

itu sebabnya beberapa minggu Ibunya disana sewaktu mengantarnya berangkat, anakku berbelanja beberapa items yang dibutuhkan sehari2 di dorm dan tentu saja untuk keperluan winter yang sudah mulai dijual sejak awal bulan September.

setahun yang lalu kira2, si Bos mengajakku bersama beberapa orang untuk berkunjung ke beberapa negara Scandinavia. Memang sedikit cari penyakit kupikir, ke Scandinavia di awal bulan Desember – awal winter pula untuk manusia tropis seperti aku 🙂

dinginnya memang super …. minus puluhan derajat dibawah Nol ! bahkan ada suatu daerah yang kami datangi hanya mengalami siang – jangan bayangkan siang seperti di Indonesia – selama 3 jam, selebihnya gelap lap gelap 🙁

suatu kali dalam perjalanan di bus yang membawa kami over land, sang pemandu yang orang local berkata begini : jangan salahkan temperatur tapi salahkan mengapa tidak mengenakan pakaian yang sesuai dengannya ! Nah lo ….. 🙂

bagi yang tinggal di Jakarta pasti sudah paham sepaham pahamnya jika hari hujan pengendara mobil dilarang keras melewati jalan-jalan yang melalui under pass. mengapa? karena pasti macet parah stadium akut karena pengendara sepeda motor dengan mudah dan seenaknya berteduh sampai meluap ke tengah jalan.

ulah para pemotor yang tidak mempersipkan mantel hujan acapkali menambah ruwet lalu lintas Jakarta yang memang sudah ruwet. atau mereka sudah mempersiapkan tetapi tidak mau menggunakannya 🙂

cuaca, temperatur sulit ditebak saat-saat ini, harusnya musim kering – malah hujan atau sebaliknya sehingga sulit untuk memperkirakan pakaian dan semua perlengkapan lain supaya tidak disalahkan pemandu wisata dari Scandinavia tadi 🙂

tetapi justru karena sulit ditebak itulah makanya persiapan perlu dilakukan bukan?

seperti hidup, ada saat naik tentu ada saat turun. ada masanya menanam dan ada masanya menuai. selalu ada musim dalam hidup setiap manusia.

persiapan perlu dilakukan untuk menghadapi perubahan setiap musim dalam hidup.

menikmati hidup tentu tidak serta merta mengabaikan masa depan. sebaliknya mempersiapkan masa depan tentu tidak berarti menjalani kehidupan sekarang dengan ketidak pastian dan kecemasan.

dengan menjaga keseimbangan menikmati kehidupan saat ini dan mempersiapkan masa depan akan makin memungkinkan kita tidak salah kostum dan disalahkan si pemandu wisata atau setidaknya tidak membuat susah orang lain seperti ulah pemotor yang menguasai area under pass.

bagaimana menurutmu?

written by Roy Hekekire
November 11, 2019 0

minggu siang sepulang gereja 21 tahun yang lalu di ibukota sebuah propinsi di Sumatera bagian Selatan aku menghabiskan waktu ku dengan berjalan-jalan di seputar pertokoan paling hits saat itu.

mataku terpukau ke sebuah jam tangan dan seketika itu pula aku masuk dan melihat, bertanya ini itu mengenainya.

setelah puas melihat dan bertanya, mata nakalku terhipnotis ke sebuah jam dilemari display yang lain dan seketika aku bertanya : boleh lihat yang itu?

tanpa gerakan sama sekali untuk mengambil jam yang aku maksud, si penjaga yang kemungkinan besar sipemilik malah menjawab : Mas, yang itu harganya mahal …… hahaahahahahaha tampang kucelku, badan cungkring 48 kg, gelap tak terurus seketika diidentifikasi sebagai calon pembeli yang tidak potensial sama sekali 🙂

sekitar tahun 2003 seorang teman kantorku berkunjung ke sebuah rumah sakit mata paling top di Jakarta karena merasa ada ini dan itu dimatanya. sesampai di lobby ditemuilah Mbak receptionist meladeni pertanyaan mengenai : siapa dokter yang paling bagus dll dll. setelah berusaha menjawab, diujung kalimat si Mbak mengeluarkan kalimat sakti : Mas, tapi disini mahal …… hahahahaha padahal yakin teman ku ini tidak termasuk cungkring … malah sedikit overweight, tidak kucel …. lalu hal apa yang mendasari si Mbak receptionist untuk menilai temanku ini sebagai calon pasien yang tidak potensial? 🙂

belum lama, disela break meeting aku dan beberapa teman berbagai cerita kesana dan kemari. lalu seorang teman bercerita bahwa suatu pagi dia menabrak mobil didepannya secara tidak disengaja. temanku ini mengendarai sendiri Toyota Alphardnya. si pengemudi mobil yang ditabrak seketika turun dari mobilnya menghampiri Alphard si biang rusuh. lalu terjadinya perbincangan sedikit ngotot khas Jakarta 🙂

“saya minta ganti, dimana bos mu?” tanya si korban

“bos saya di kantor pak” : kata si pemilik Alphard temanku ini

“telpon bos mu sekarang juga, saya minta ganti” : lanjut sang korban

“buat apa saya harus telpon bos saya pak?” : tanya temanku berlagak bego

“y kamu harus jelaskan sama bosmu dan bilang saya mau kerusakan ini diganti” : masih juga ngotot si korban Alphard pagi itu

“saya akan ganti pak, bapak bawa saja kebengkel dan ini KTP saya, saya akan ganti penuh berapa biaya untuk memperbaiki mobil bapak, tapi saya nggak perlu telpon bos saya karena ini mobil saya sendiri”…….. hahahahahahahaha disangka sopir rupanya teman ku ini 🙂

mungkin itu sebabnya sekarang ini segala daya di upayakan untuk memperbaiki, memoles dan mengupgrade penampilan diri, dari ujung kepala sampai ujung kaki bahkan sampai kedalam-dalam …. entah sedalam apa 🙂

urusan telpon genggam bermerk buah misalkan …. seberapa sering orang melakukan hal-hal dramatis hanya untuk memperolehnya? jual ginjal lah, jual ini lah itu lah

sehigga pekerjaan – apapun pekerjaan itu – yang kemudian ditukar dengan upah dilakukan lebih banyak untuk ditukar lagi dengan bungkus dibandingkan isi atau esensi.

lucu rasanya kita hanya dipuaskan dengan bungkus dan bukan isi.

beberapa saat yang lalu semua ribut karena pemerintah berencana menaikkan iuran BPJS. asuransi kesehatan versi pemerintah dan pemerintah sebagai regulator dimaki2 tidak becuslah inilah itulah.

setahuku iuran tertinggi akan bergerak dari 90 ribu menjadi 180 ribu.

mungkin angka tersebut memang besar. tetapi dengan kepala yang rasional mari sedikit saja berpikir dan membandingkan berapa rata2 spending untuk pulsa telepon? berapa rata2 pengeluaran untuk minum kopi dan café, nge bir, nonton bioskop, beli parfum ber juta-juta, sneakers, tas ini itu kulit sapi sapi kulit buaya dll dll.

langsung teringat foto2 nya Mark Facebook, Opa Warren Buffet, Oom Bill Gates yang hanya pake tshirt, sneakers dan jeans.

yang bener2 tajir, covernya biasa cenderung nyampah. eh kok  yang biasa2 aja covernya terlihat tajir.

tapi nggak apa2 jugalah toh masing2 mempunyai cara hidup dan prioritasnya sendiri. kenapa aku resek? 🙂

maaf kan …. maaf kan