Month: September 2019

written by Roy Hekekire
September 26, 2019 0

istriku memang tidak terlalu bisa memasak dan tidak suka memasak :).

kerumitan urusan dapur ini sudah berlangsung sejak hari2 pertama kami menikah.

suatu hari di tahun 1997, kulihat istriku ini heboh mondar-mandir dapur dan posisi telepon rumah. awalnya aku tidak terlalu memperhatikan. tetapi karena aku makin dibuat resah dengan kesibukkan yang aku nggak terlalu jelas lalu kutajamkan indera pendengaran untuk menyelidiki apa yang sebenarnya sedang terjadi.

rupanya istriku sedang tutorial masak dengan mertuanya – ibuku πŸ™‚

lalu sup itu pun jadi, dia hidangkan dan kumakan. baru suap pertama, istriku tanya : gimana? πŸ™‚ …. tentu saja kujawab : wah enak sekali, sambil aku mengendalikan syaraf2 indera pengecapku yang memberontak karena memang rasanya tidak terlalu jelas πŸ™‚

urusan menjadi makin rumit setelah kami mempunyai 2 orang anak. si sulung begitu pemilih, lidahnya sangat tajam untuk mengenali balancing rasa dan ingredient dalam makanan, kritikus makanan nomor wahid sementara adiknya makan apa saja yang ada di depannya πŸ™‚

sementara aku, berusaha memainkan peran supaya keseimbangan urusan dapur ini tidak menjadi awal mula huru hara dalam rumah tangga.

jika kulihat istriku sedang enak hatinya aku akan merespon dengan jujur bagaimana kualitas rasa dan makanan yang disiapkan. tetapi jika kulihat sebaliknya maka aku akan mengatakan masakannya enak sekali dan kupaksa diriku untuk minta extra πŸ™‚

situasi menjadi berubah saat si bungsu sudah pergi jauh sejak sebulan lebih yang lalu.

sebelumnya istriku tidak terlalu cemas apa yang akan dimasak untuk dimakan setiap harinya – tentu saja karena ada si bungsu yang selalu makan apa yang ada.

sejak kembali dari beberapa minggu pergi mengantar si bungsu, istriku sudah mulai waspada dan mengatur rencana supaya rumah tangga aman tentram dalam urusan dapur dan meja makan. sebab si kritikus makanan nomor Wahid apalagi jenis seperti yang anak sulungku miliki cenderung membahayakan rumah tangga πŸ™‚

jika grocery shopping hanya si sulung fokus nya. masakan apa yang akan menjadi menu si sulung rujukannya.

semalam, sekitar jam 930 pm aku sampai dirumah. kulihat istriku sedang berjibaku di dapurnya. ini pemandangan super aneh, tidak pernah terjadi sebelumnya. aroma cookies mendominasi seisi rumah. hanya istriku ditemani si berisik Mikey dan Milo – kedua anjing milik kami – di dapur sementara si sulung entah sibuk apa dikamarnya.

istriku sedang sibuk dengan adonan dan memanggang cookies choco chips. aku tambah heran karena baru 2 hari sebelumnya dia melakukan hal yang sama, ada beberapa plastik container besar berisi hasil baking annya kulihat 2 hari lalu.

kok bikin lagi aku berbasi basi bertanya. sudah habis dimakan sama anakku jawabnya πŸ™‚ ….. bangga sekali dia rupanya πŸ™‚

emang minta lagi dia? aku meneruskan bertanya. tidak .. aku hanya mau siapkan saja, kan Esa suka πŸ™‚ jawab istriku.

aku langsung mandi, ke kamar dan langsung tertidur karena efek gin tonic yang kuminum sebelum pulang ke rumah :).

pagi saat aku bangun, berderet plastik container berisi penuh cookies buatan istriku berjajar di pantry :)…… siap untuk ‘dihajar’ si sulung

memang kuingat dalam 2 minggu terakhir ini, si sulung lebih sering makan masakan Ibu nya dibandingkan sebelumnya.

rupanya FOKUS juga bermanfaat tidak hanya di pekerjaan tetapi di rumah tangga. dan bahkan FOKUS menjadi salah satu kunci utama untuk mewujudkan perdamaian dunia di rumah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 πŸ™‚

written by Roy Hekekire
September 21, 2019 0

Namanya Hercules tetapi tentu bukan tokoh mitologi Yunani- anaknya Zeus. Entah kenapa dia lebih terkenal dengan panggilan itu. Konon karena wajah dan body nya mirip dengan penyanyi dangdut bernama panggung sama yang belum lama ini meninggal karena kanker, atau mungkin sebab lain aku tidak terlalu jelas.

Hercules yang ku kenal hari Kamis lalu adalah laki-laki sederhana, hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama di Sragen, sebuah kota kecil di Jawa Tengah.

Dengan bekal hampir tidak ada, Hercules merantau ke Jakarta pada tahun 1999 hanya karena terpukau oleh cerita teman-teman sedesanya setiap kali mereka bercerita tentang Jakarta.

Di Jakarta tanpa bekal pendidikan, keterampilan, koneksi dan uang membuatnya menjadi pengamen di bus kota. Tidak bisa main alat musik, tidak bisa menyanyi jadilah tugas meminta uang dari para penumpang bus menjadi bagiannya.

Selama 3 tahun itu lah pekerjaannya hanya untuk menyambung hidup dari hari ke hari, tidak lebih.

Perjalanan selanjutnya membuatnya melangkah menjadi buruh disebuah pabrik karung di kawasan Cimanggis, hanya beberapa kilometer jauhnya dari Jakarta. Rp. 75.000 / bulan upahnya, yang menurut cerita hanya habis untuk membayar hutang makanan sehari-hari dari warung di sekitar pabrik tempatnya bekerja.

Tak puas dengan kondisi hidup, Rudi demikian nama asli pemberian orang tuanya mulai melihat celah peluang untuk sedikit menambah isi kantong ……. berjualan rokok batangan ke teman-teman sesama buruh pabrik yang mayoritas laki-laki.

Satu bungkus rokok dia beli lalu dijual batangan. Rudi melihat ada hasilnya. Dari 1 bungkus menjadi beberapa bungkus. Pikirannya mulai makin terbuka.

Suatu kali, Hercules alias Rudi melihat peluang untuk berdagang kaki lima dengan ‘push cart’ di sebuah kawasan di Kabupaten Bogor. Dengan uang tabungan ala kadarnya ditambah hutang dari pabrik tempatnya bekerja Rudi mulai berdagang setelah selesai jam kerja pabrik.

Jadi gini Bos, tuturnya padaku …. setiap kali saya kulakan untuk keperluan dagang, saya ini kepengin belanjanya bisa seperti pedagang-pedagang yang lain. Mereka itu belinya kok bisa banyak ya, sementara saya hanya bisa 1 atau 2 bungkus setiap itemnya. Lalu itu jadi cita-cita, saya kepengin bisa belanja banyak seperti mereka.

Dengan tekun dijalaninya 2 pekerjaan itu sampai dia bertemu dengan seorang perempuan yang kemudian dipacarinya. Setelah mereka berpacaran Rudi fokus ke pekerjaannya sebagai buruh sementara Mbak Yanti berdagang di rombongnya.

Kemudian mereka menikah. Usaha mereka berdagang berlahan-lahan mulai menghasilkan dan Rudi berhenti bekerja sebagai buruh pabrik. Rudi dan Yanti bahu membahu membangun usaha kecil mereka.

Hasil memang tidak pernah mengkianati usaha. Perlahan uang terkumpul dan mereka membangun rumah dan tempat usaha yang lebih permanen.

Kamis lalu saat aku berkunjung ke tokonya, Hercules sedang sibuk dengan laptop dihadapan nya. Dia mempelototi setiap transaksi dari para pelanggan yang kebanyakan sudah dilakukan melalui sebuah aplikasi yang perusahaanku siapkan untuk membantu toko dan retailer.

Panjang lebar dengan antusias Hercules bercerita padaku, kebanyakan hal-hal yang menggelikan saat beberapa bulan lalu dia harus belajar menggunakan komputer dan aplikasi melalui telepon pintar.

Hercules, seorang pengamen lulusan SMP, bekas buruh pabrik karung, mantan pedagang rombong kaki lima ala kadarnya yang sekarang menjadi pemilik sebuah toko kategori tempat kulakan.

Hidup memang adil. Siapa yang ber cita-cita dan berusaha tentu hasil adalah urusan waktu.

Seorang temanku berbisik, pak …. kalo cuma 9 digit sekarang sudah ada di tabungannya πŸ™‚

Dari Hercules temanku ini aku belajar tidak perlu jadi anak Zeus untuk menjadi sukses.

written by Roy Hekekire
September 15, 2019 0

Setelah lulus sekolah dasar, dia sudah merantau ke ibukota propinsi untuk melanjutkan sekolah lanjutannya sebelum pindah lagi ke sebuah seminari di sebuah pulau yang berbeda. Karena satu dan lain hal yang menurutnya sangat prinsip membuatnya menolak beasiswa ke Manila. Jogja kemudian menjadi tujuan berikutnya. Disanalah bertemu dengan seorang perempuan, anak seorang perwira tentara. Lalu mereka berpacaran, menikah dan lahirlah 3 orang anak, aku lah si sulung.

Teman-teman sekolahku dulu selalu takut bertemu dengan bapak ku ini. wajahnya memang kurang ramah, sangar walau badannya kecil. tetapi boleh percaya atau tidak, jangan kan memukul, menjewer telingaku pun seumur hidup belum pernah aku dan ke dua adikku rasakan. Bapak ku tidak se sangar yang banyak orang kira.

Keras kepala … ya betul sekali, itu ciri khas nya πŸ™‚

Suatu ketika, anak-anakku berkata : Dad, ntar kalau you sudah tua jangan keras kepala seperti Opa ya…..nah kebayang kan? πŸ™‚

Sejak 7 tahun lalu bapakku ini tinggal sendiri sejak ibu ku, istrinya meninggal. Hanya seorang pembantu yang menolongnya untuk mencuci, setrika dan berbagai pekerjaan rumah tangga yang datang pagi dan siang sudah pulang.

Tinggal sendirian untuk orang setua bapakku tentu tidaklah mudah – bukan bagi nya tetapi bagi anak-anaknya, juga aku tentu saja.

Beberapa option sudah aku dan istriku sampaikan ke bapak. Tapi jawabnnya selalu sama……aku sanggup sendiri, nggak perlu kalian repot memikirkan apa dan bagaimana kehidupan bapak disini. Sudah kalian hidup saja baik-baik, kerja yang baik, jaga anak kalian baik-baik. ………tuh kan keras kepala πŸ™‚

Suatu kali, saat aku dan istriku serta anak-anak ke Semarang, istriku mengajukan suatu ide untuk menolong kehidupan bapak. Dengan logat daerah asalnya dia merespon : sudah kamu urus saja rumah tanggamu sendiri, bapak bisa urus hidup bapak sendiri :)…….. istriku ciut, aku juga πŸ™‚

Selain berkebun yang dilakukannya setiap pagi dan sore kesibukkannya adalah membaca Alkitab, rutin setiap pagi, berdoa ….. lama sekali, entah siapa saja yang dia doakan. Seminggu 2 kali ada pertemuan ini dan itu di gereja. Minggu pasti ke gereja. Itu saja kesibukkannya, lain tidak ada.

Sebulan lebih yang lalu, pagi-pagi bapakku telpon…..Roy, tadi malam bapak ditabrak sepeda motor. Lalu kutanya ini itu, bagaimana ceritanya dll dll. Singkatnya beliau langsung dibawa ke rumah sakit dan tidak boleh pulang alias harus menginap. Untung ada seorang adikku yang juga tinggal di kota yang sama dengan bapak.

Baru seminggu di rumah sakit, bapak sudah tidak betah, minta pulang. Jadi pulanglah.

Pulang ke rumah adalah soal mudah, buntutnya yang panjang. Tentu adikku karena sudah berumah tangga sendiri, harus urus kedua anaknya yang masih sekolah pastilah tidak mungkin menjaga bapak 24 jam sehari. Lalu siapa?

Aha….kami sewa perawat. Jadilah seorang perawat bernama Lukas menjaganya, membantunya fisioterapi setiap hari, dan ini serta itu.

Sore tadi kutelepon bapakku, Lukas yang angkat katanya bapak sedang menonton televisi dikamar. Beberapa saat kemudian bapak sudah bicara diujung telepon.

Halo Roy, bapak baik-baik saja. Ini tempat tidur seperti yang dirumah sakit yang disewa sudah bapak buang keluar :). Bapak sudah pindah ke tempat tidur bapak sendiri.

Bapak tadi juga ke gereja diantar Lukas. Ini baru makan bubur. Bapak sudah membaik walaupun harus pelan-pelan untuk posisi-posisi tertentu. Masih terus di fisioterapi dan pijat sama temannya Lukas …. bapakku menjelaskan πŸ™‚

Lalu kutanya, 2 hari lagi ulang tahun lo, umur 80 tahun, ada rencana apa untuk ulang tahun bapak?

Ah …. nggak perlu, biar bapak sehat dan pulih dulu. Tidak usah bikin acara ini itu. Semalam bapak juga bicara sama adik mu ….. begitu katanya.

Bapakku yang keras kepala ini emang beda dengan orang tua pada umumnya. Dia nggak mengomel atau caper kalau aku, adik-adikku atau cucu-cucunya tidak telepon atau mengunjunginya. Ah … bapak tahu kalian sibuk kerja dan berumah tangga, bapak tahu. Asal kalian sehat-sehat bapak sudah senang.

Betul, bapak memang tidak menuntut banyak dari kami anak-anak dan cucu-cucu. Kami telepon atau datang beliau akan senang tentu saja tapi kalau kami lama tidak telepon atau datang bapak tidak marah.

Terkadang aku membayangkan hidup sendiri dan benar-benar sendiri setiap hari untuk seseorang yang berumur 80 tahun tentu tidaklah mudah. Oh iya …. bapakku hanya melihat dengan 1 mata, karena mata yang satunya lagi sudah tidak bisa digunakan untuk melihat karena stroke mata yang menyerangnya kira-kira 1 tahun yang lalu.

Tua dan bermata satu πŸ™‚ tapi semua mau dia lakukan sendiri. Jarang sekali kudengar dia minta tolong ini dan itu.

Sebagian diriku bangga dengan kemandiriannya tapi sebagian diriku jengkel juga karena semua “pertolongan” yang kami tawarkan ditolaknya……ya keras kepala πŸ™‚

Bapak ku yang keras kepala ini 2 hari lagi akan berumur 80 tahun. Dan bapak belum mau mati katanya, bapak mau lihat cucu Opa menikah katanya, setelah itu kalau Tuhan mau panggil, ya panggil saja katanya πŸ™‚

Selamat ulang tahun ya pak …. mungkin bapak nggak baca tulisanku ini tapi bapak tahu aku seperti sekarang ini ya karena bapak begitu πŸ™‚

written by Roy Hekekire
September 10, 2019 0

Namanya Edwira, salah satu anggota team di organisasiku.

Sabtu lalu Edwira melakukan fisioterapi karena masalah lutut yang dideritanya. Selepas dari fisioterapi, Edwira mampir di kawasan Blok M untuk melepas lelah.

Dilihatnya sebuah warung semi permanen menjual aneka minuman dan beberapa produk. Dihampirinya warung tersebut, diajak bicaralah si pemilik dan woila ….. Edwira mendapatkan beberapa informasi berharga tentang sebuah produk yang baru saja kami luncurkan kepasar.

Edwira ini bukan siapa-siapa, bukan Presiden Perusahaan, bukan pula menduduki jabatan Direktur, Senior Manager dan seterusnya. Edwira adalah salah seorang field force yang bertanggung jawab di channel Wholesaler.

Hari itu, hari Sabtu – hari dimana field force beristirahat tidak bekerja. Sembari melepas penat sehabis fisioterapi Edwira menyempatkan dirinya ngobrol dengan pemilik warung kecil – yang tentu bukan merupakan tanggung jawabnya di pekerjaan dan digalinya informasi berharga.

Edwira tidak berhenti disitu, dia melanjutkan perbincangan di warung kedua yang dijumpainya masih dikawasan Blok M.

Aku mengetahui cerita ini dari postingannya di internal sosial media yang kami punyai.

Bagi kebanyakan mungkin ini cerita biasa, tidak ada istimewanya tetapi bagiku ini cerita besar karena beberapa alasan.

Seandainya saja ada makin banyak Edwira di organisasiku. Andaikata Edwira bisa di cloning, atau di foto kopi atau apapun yang mungkin bisa dilakukan, tentu saja aku mau.

Dihari liburnya, bukan channel yang merupakan tanggungjawabnya, ditengah kesakitannya, Edwira memberiku pelajaran berharga tentang sebuah komitmen, tanggungjawab dan kepedulian yang sangat besar jauh melampaui apa yang seharusnya Edwira kerjakan.

Edwira sampai berjumpa Kamis ini, berceritalah kepadaku mengapa engkau lakukan itu, aku mau tahu ……

written by Roy Hekekire
September 8, 2019 0

Olimpiade sudah diadakan sejak jaman Yunani kuno sampai kemudian pada tahun 393 dihentikan oleh Theodosius seorang Kaisar Romawi pada masa itu.

Ada banyak cerita tentang apa, mengapa dan bagaimana Olimpiade kuno ini diselenggarakan pada jamannya tetapi salah satu cerita yang menarik adalah bahwa Olimpiade diselenggarakan supaya terjadi gencatan senjata, berhenti sejenak dari peperangan antar kelompok di Yunani yang memang seringkali terjadi. Para prajurit ‘libur’ sejenak dari peperangan dan menikmati festival keagamaan dan atletik yang diperlombakan dalam Olimpiade tersebut.

Jumat, 6 September 2019 untuk ke 2 kalinya Olimpiade Jakarta Zone diselenggarakan. Mirip dengan alasan dan latar belakang Olimpiade kuno dahulu, Olimpiade Jakarta diselenggarakan untuk berhenti sejenak dari kesibukkan, ‘peperangan’ di area masing2, bergembira bersama sebagai suatu keluarga, menikmati dan merayakan kehidupan.

Melihat raut – raut wajah penuh expressi kesenangan, gembira tetapi tetap gigih berkompetisi membuatku berpikir dan merenung bahwa kehidupan setiap manusia pada dasarnya adalah kompetisi. Tetapi bukannya kompetisi mengakibatkan tekanan, stress tetapi malahan sebaliknya. Mengapa?

Satu hal yang sering terlupa bahwa manusia pada awalnya adalah mahluk yang gembira, selalu ingin merayakan sesuatu. Tetapi jaman berubah menjadikan kompetisi menjadi sesuatu yang menakutkan, mengalahkan, membunuh satu sama lain. Kompetisi tidak lagi dilihat dan dihargai sebagai bentuk perayaan dari eksistensi dasar manusia. Apa itu?

Jauh sebelum 6 September 2019, kulihat dari beberapa posting di berbagai platform social media, setiap area dengan cara nya mempersiapkan diri, membentuk team dan merancang strategy tetapi hanya wajah-wajah penuh tawa yang selalu kulihat dari posting-posting tersebut. Perayaan bahkan sudah dinikmati jauh sebelum hari Jumat itu.

Bagiku kompetisi adalah sebuah perayaan tentang hidup. Sebuah perayaan bahwa kehidupan masing-masing harusnya menjadi lebih baik setiap harinya, setiap waktunya.

Kompetisi bukanlah event untuk mengalahkan, membinasakan pihak lain. Kompetisi adalah proses untuk menjadi lebih baik dari diri sendiri setiap hari, setiap waktu.

Wajah-wajah gembira hari Jumat itu mengingatkan dan mengajarku tentang siapa kita sesungguhnya sebagai manusia.

written by Roy Hekekire
September 4, 2019 0

suatu pagi, hari Senin, bulan Agustus 1997. Dengan menumpang CN235 Sempati Air almarhum πŸ™‚ untuk pertama kalinya kaki ku menginjak Bengkulu, ibu kota propinsi Bengkulu yang belum banyak dikenal kecuali bagi para penikmat sejarah.

Bagaimana tidak, dikota inilah salah satu founding father kita di “buang”. Di kota inilah Jenderal Raffles asal Inggris menemukan sebuah flora yang kemudian dikenal dengan nama Rafllesia Arnoldi.

Kota Bengkulu terletak tepat di pinggir pesisir Samudra Hindia dengan bibir pantainya yang panjang tetapi mematikan karena dalam dan curam. Melihat begitu strategis nya titik ini bagi Kerajaan Inggris, maka kemudian Raffles mendirikan sebuah Benteng yang dikenal dengan nama Marlborough – benteng ini masih ada dan terpelihara dengan baik hingga saat ini.

Tetapi kemudian Jenderal Raffles menemukan sebuah kenyataan baru bahwa titik strategis Bengkulu tidak akan berumur panjang mengingat hampir semua perjalanan laut kala itu melewati sebuah selat yang dikenal dengan Selat Malaka.

Dengan siasat ini dan itu, Raffles berhasil menukar guling Bengkulu dengan Kota Singa – Singapura yang kala itu dikuasai Kerajaan Belanda.

Perkiraan Raffles ternyata benar, Singapura menjelma menjadi salah satu negara paling kaya di dunia.

Dikota kecil Bengkulu inilah aku menghabiskan 2,5 tahun perjalanan karir dan hidupku.

Tidak banyak yang bisa aku, istriku dan anak sulungku yang berumur kurang dari 1 tahun lakukan. Pusat keramaian kota ini kala itu hanyalah sederet ruko sepanjang jalan Suprapto πŸ™‚

Tidak ada mall, tetapi ada bisokop yang aku kurang mempunyai keberanian untuk masuk dan nonton disitu πŸ™‚

Ke pantai hanya sesekali sambil mengajari anak sulungku berjalan, itupun sesekali berdisko di goyang gempa-gempa kecil yang memang sering terjadi disana.

Tracking ….. hanya sekali kulakukan. Menggendong anak sulungku dengan baby carrier mendaki salah bukit di Curup. Hanya sekali kulakukan karena aku kepayahan …. maklum saat itu berat badanku hanya 48 kilogram …. seperti tulang belulang berbalut kulit hitam, kucel tak terurus ….. dekil.

Sebagai anak muda, miskin pengalaman, pengertian dan kebijaksaan, Bengkulu memberiku, mengajarku dan melatihku banyak hal.

Challenge pertamaku saat itu adalah mengangkat kembali moral team yang hancur lebur karena suatu hal.

Dan karena moral team rendah demikian pun dengan disiplin. Demikian pula hubungan dengan pihak eksternal sampai dititik yang paling rendah.

Pusing 7 keliling aku dibuatnya πŸ™‚

Pagi ini, saat aku memasuki ruangan kerjaku, diatas meja kerja kulihat sebuah paket. Kubuka dengan rasa tak sabar, isinya 3 packs kopi Bengkulu dan sebuah amplop putih yang saat kubuka berisi sebuah kartu ucapan yang bertuliskan : Sebagai ungkapan rasa syukur dan ikut bahagia nya kami, atas pencapaian 25 tahun masa kerja. Semoga Bapak selalu dilimpahkan berkat dari Tuhan dan terus memberikan inspirasi bagi kami semua. dari kami semua TEAM BENGKULU. 

Kuperkirakan hanya kurang dari 10 orang dari teman-teman di Bengkulu yang masih ada saat ini, selebihnya tentu teman-teman baru yang masuk bekerja setelah aku pindah dari kota itu. Aku nggak paham bagaimana mungkin ada kalimat di ucapan tersebut ……. dari kami semua TEAM BENGKULU.

Sebagian besar dari teman-teman di Bengkulu saat ini  tidak kukenal secara personal, bahkan mungkin belum pernah berjumpa tatap muka.

Merinding aku …. rasanya tidak ada hal besar yang aku lakukan. Rasanya aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Karena aku ini bukan siapa-siapa, hanya seorang anak muda sedikit naif, emosional, kurang berpengalaman, pengertian dan kebijaksanaan.

Entah apa yang mereka pikirkan tentang aku.

Kufoto kartu ucapan dan 3 packs kopi Bengkulu itu lalu ku posting di IG Story.

Tak lama kemudian kuterima sebuah pesan dari seorang bernama @Inasafria berbunyi  : Tahun 1997 saat masih jadi anak bocah kelas 1 SMP Bengkulu dan mengenal  pak Roy dan sudah mengidolakan bapak yang humble dengan semua orang πŸ™‚ tetap jadi idola saya sampai sekarang pak.

Maaf @Inasafria, ingatan saya amat sangat terbatas, sehingga saya tidak lagi mengingat kapan dan dimana saya mengenalmu saat kamu kelas 1 SMP Bengkulu. Dan saya tidak tahu bagaimana semua cerita tentang saya kamu dengar, sampai kamu mengirimkan pesan seperti itu? πŸ™‚

Tak lama kemudiam sebuah pesan WhatsApp dari Hadi Sustyo kuterima. Dia menuliskan begini : …. Moga berkenan Pak Roy. 3 Mantra : Learning, Challenge Status Quo, Show me the result, masih terus diingat dan dijalankan Pak

Lain lagi yang Evan kirimkan ke saya. Dia bilang begini : Pak Roy, nanti dikomen ya pak. Kopi nya hasil olahan anak-anak P2P Magnum. Makanya namanya Coffee Mag πŸ™‚

Ini bukan cerita tentang saya. Ini cerita tentang semua manusia, bahwa yang kita lakukan, perkatakan akan selalu meninggalkan jejak, menjadi cerita dan menginspirasi orang atau mungkin sebaliknya.

Bahkan setelah 22 tahun jejak seorang anak muda kurang berpengalaman, pengertian dan kebijaksanaan masih tersimpan di sana.

Bencoolen terima kasih banyak.

note :

* matur nuwun Mas Hadi Susatyo, thanks a lot Evan Dewabrata

* Jajang, Buiston, Itraneldi, Reswan dan …… ah maaf maaf tak mampu lagi kuingat satu persatu nama kalian …… terima kasih banyak

written by Roy Hekekire
September 2, 2019 0

Orang mengenal sebagai Mak Item.

Karena segan bertanya kepada anak sekaligus penjaga warung makan itu maka kutanyakan kepada Chandra dan Dhimas yang menemaniku siang tadi mengapa namanya begitu.

Mungkin karena kulitnya yang memang benar2 hitam, atau istilah Dhimas eksotis jawab mereka berdua.

Warung Mak Item berlokasi di dekat area loading dock Electronic City – SCBD. Tidak begitu besar memang. Disana hanya ada 1 tempat display dari alumunium tempat segala macam lauk-pauk, sayur – mayur, rokok dan beberapa barang dagangan lain yang hanya dijejalkan disana dan disini.

Ada juga 2 buah meja tempat 2 container plastic bermuatan segala macam gorengan dan diujung sebelahnya lagi tempat bersemayam deretan gelas plastik siap untuk menampung apapun minuman pesanan dari para pengunjung warung itu yang sebagian besar para pekerja diseputaran SCBD.

Sungguh kontras antara warung Mak Item diantara segala “kemewahan” kawasan SCBD.

Siang tadi panas sekali, panas sekali. entah sudah berapa botol air mineral yang berusaha mendinginkan tubuhku yang sudah banjir keringat.

Sambil bertanya dan mencari informasi ini dan itu, tiba-tiba Chandra bilang : pak …. ini dalam sehari, rata-rata di warung ini terjual 1.000 gelas, campur ada es teh, kopi panas, kopi dingin.

Berapa? 1.000? kataku kurang sedikit paham. Iya pak …. 1.000 gelas sehari kata Chandra menegaskan.

Di sebelah luar etalase alumunium milik Mak Item terdapat 2 kertas putih yang sdh dilapis laminating. 1 buah berisi daftar rokok dan harganya, sedangkan 1 lainnya berisi daftar makanan dan minuman yang tersedia.

Dari daftar harga makanan dan minuman muncul lah Nasi Uduk sebagai peringkat pertama kemahalannya ….. Rp.6.000. Dan Es Teh Manis sebagai juru kunci dengan harga Rp. 3.000.

Langsung kalkulator Karce πŸ™‚ yang terinstal di otakku yang nggak seberapa ini mulai menghitung.

Taruhlah hanya Es Teh Manis yang terjual seharga Rp.3.000 x 1.000 gelas …… bukankah itu berarti Rp. 3.000.000 ……. hah Rp. 3.000.000 sehari…… yang benar aja, hanya untuk urusan Es Teh?

Untuk menghindari blog ini sebagai soal cerita ujian matematika, maka kusederhanakan saja. Anggap modal untuk beli teh, gula, gelas plastik dan es semahal-mahalnya separo dari harga jual yang Rp.3.000 itu, sehingga Mak Item menghasilkan Rp.1.500.000 setiap hari dari gelas-gelas minuman.

Jika dalam sebulan warung Mak Item buka 25 hari maka setiap bulannya dari urusan es teh manis beliau bisa menghasilkan Rp. 75.000.000 gross !!! atau paling tidak setelah potong modal, ongkos ini dan itu Mak Item bisa membawa penghasilan sebesar Rp. 37.500.000 / bulan !!!

Langsung jadi ingat yang sempat viral beberapa waktu yang lalu, saat seseorang berkicau tentang kepantasan “harga” fresh graduate jebolan universitas ternama πŸ™‚

Mak Item bisa jadi tidak lulus dari mana-mana tetapi dari kesederhanaan warung dan usahanya aku belajar …… bahwa kenyataan seringkali berbeda dibandingkan oleh apa yang tertangkap oleh mata.

written by Roy Hekekire
September 1, 2019 0

sehari-hari terutama dimalam hari ketika aku sedang terbangun dari tidur untuk toilet, aku selalu melihat anak sulungku sibuk dengan iPhone ditangannya.

rasanya hampir setiap malam aku melihatnya begitu. entah apa yang membuat begitu setia dengan gadget ditangannya.

sampai suatu ketika aku menegur dia. Bang …. apakah ada gunanya malam-malammu kau habiskan dengan scroll social media dan main games? bukankah lebih baik kamu tidur supaya besok pagi kamu bangun segar dan bisa produktif?

bukannya merespon dengan positif seperti harapanku tetapi dia malah berkata : Dad, don’t judge me … you kan nggak tahu aku ngapain dengan iPhone ku? benar aku sesekali main games, benar aku sesekali scroll social media, tapi you tahu kan nggak aku sedang baca dan belajar dari beberapa artikel dan ebook tentang beberapa hal yang aku perlukan untuk melengkapi pengetahuanku tentang usaha yang sedang aku mulai. aku sudah baca ini, itu, ini, itu, ini dan itu …….you kan nggak tahu kan Dad?

duer …. merah mukaku, bukan karena marah tetapi malu.

suatu foto yang menarik kulihat di sebuah social media, yang menampakkan seorang pangeran Inggris turun dari mobil dan tampak dari angle si pewarta foto sang pangeran menunjukkan jari tengah nya kepada para kerumunan yang menyambutnya.

dari social media yang sama pula akhirnya aku mengetahui bahwa dari angle pewarta foto yang lain ternyata sang pangeran sedang melambaikan tanggannya dan bukan sedang menunjukkan jari tengahnya πŸ™‚

seorang bijak mengatakan 1 fakta yang kita ketahui tidak bisa menjelaskan secara keseluruhan dari sebuah kebenaran cerita yang sesunguhnya.

praduga, atau presumption dalam bahasa Inggris juga diartikan sebagai anggapan, dugaan, kesombongan, sangkaan, kepongahan.

itulah yang kualami dengan anak sulungku yang selalu ada iPhone ditangannya. dengan kesombongan seorang bapak, dugaan bahwa aku mengetahui semua tentang anakku lalu dengan mudahnya menegur bahwa dia hanya main games dan scroll social media.

kebenaran fakta yang kuketahui ternyata bukan satu-satunya fakta, masih ada fakta lain yang tak kuketahui.

sang pangeran Inggris ternyata benar-benar sedang melambaikan tangannya dan bukan sedang menunjukkan jari tengahnya.

praduga memang sungguh berbahaya. asumsi itu menjerumuskan. 1 fakta yang kita ketahui mempunyai banyak sekali keterbatasan untuk ditarik menjadi sebuah kesimpulan.

kata bijak yang kubaca berkata : don’t assume – just ask ! jangan berasumsi – tanya.

asumsi atau dugaan adalah awal mula segala “drama” yang terjadi. banyak hubungan rusak karena nya.

sebuah “like” dengan symbol jempol di sebuah platform social media mungkin terlihat netral, tetapi bagaimana dengan “like” dengan symbol “cinta” ….. apakah bisa diartikan apresiasi yang diberikan adalah ungkapan dari cinta? konyol bukan? kalau memang benar begitu berapa kali sekali kita jatuh cinta hanya karena memberikan “like” di sebuah platform social media. Konyol dan bahkan mungkin terlihat bodoh bukan? πŸ™‚

lebih gawatnya lagi keterbatasan fakta yang mampu diperoleh tetap tidak menyurutkan nyali untuk men judge atau menghakimi.

karena malas bertanya, gengsi bertanya, malu bertanya, segan bertanya atau segudang alasan lain pertanyaan tak juga kunjung disampaikan. dikombinasikan dengan rasa kesombongan diri : aku sudah tahu, biasanya juga begitu, dulu juga begitu … langsung menyimpulkan, melemparkan tuduhan dan makin runyam rusaklah hubungan.

bahkan seandainyapun semua fakta sudah terkumpul dan kesimpulan sudah dihasilkan apakah tuduhan tetap akan di suarakan?

sebuah kata bijak berkata : judge others ONLY if you are perfect.

written by Roy Hekekire
September 1, 2019 0

Beberapa tahun setelah kami menunggu cukup lama, akhirnya seorang anak perempuan datang melengkapi anggota keluarga kami.

Memiliki anak perempuan sontak membuat saya dan istri – seperti keluarga lain juga rasaya πŸ™‚ – lupa diri dan lapar mata membeli ini dan itu untuk mempercantik anak perempuan kami. Baju berwarna ini dan itu, sepatu model ini dan itu, pita, jepit rambut, kaos kaki motif ini dan itu dan juga perhiasan.

Memang kupikir berlebihan, tetapi tetap saja godaan itu sedemkian besar nya …. Teman2 yang mempunyai anak perempuan pasti paham situasi ini πŸ™‚

Sampai suatu ketika bahkan bahkan saat anak ini belum becus jalan sendiri di kedua daun telinga terselip sepasang anting keluaran merk dunia ternama yang amat sangat berlebihan dipakai seorang anak balita. Dan benar suatu ketika kami berlibur di sebuah pantai di Bali salah satu antingnya lenyap entah kemana. Suster perawatnya kalang kabut dibuatnya, Ibunya sewot nggak tahu sama siapa πŸ™‚

Beberapa saat anak kami hanya menggunakan 1 anting disalah satu daun telinganya dan …….. lagi-lagi godaan datang menghampiri ….. ganti anting. Rupanya lagi kami berdua tidak cukup belajar dari peristiwa sebelumnya, anting pengganti dibeli, serupa tidak wajarnya untuk dikenakan untuk seorang anak perempuan yang masih mengompol πŸ™‚

Beberapa saat di kedua daun telinganya bertengger indah sepasang anting dengan kilau, semakin mempercantik anak perempuan kami tentu saja πŸ™‚

Tetapi benar peristwa Bali terulang kembali tetapi kali ini kami bahkan tidak tahu dimana hilangnya.

Akhirnya kami menyerah dan mengganti dengan anting ala kadarnya.

Suatu ketika, Jasmine – demikian kami memanggil gadis kecil kami – panas dan makin panas saja tampaknya. Tidak pilek, tidak batuk, tidak jatuh, tidak salah makan tetapi badannya panas, panas tinggi. Setelah kami teliti perlahan-lahan kami melihat antingnya hanya tinggal 1 yang menempel di telinganya. Kami periksa lagi dengan lebih teliti ternyata di daun telinga yang tidak ada antingnya terlihat memerah dan dia menjerit kesakitan saat disentuh. Ya ampun rupanya entah bagaimana anting yang model tusuk tersebut masuk terbenam di cuping daun telinganya.

Kami kalang kabut dan segera membawa Jasmine ke dokter untuk β€œmenyelesaikan” dengan cara adat urusan anting yang terus menerus menteror kami berdua πŸ™‚ And done ….. selesai, infeksi disembuhkan, beres seberes beresnya tetapi ……. anak kami ini jadi kapok memakai anting.

Sejak saat itu bahkan sampai menyelesaikan high school di kedua daun telinga tidak pernah terlihat ada anting yang dipakainya -apalagi segala macam perhiasan seperti kalung dan gelang. Anak gadis kami bertumbuh menjadi remaja dan masuk ke usia 17 tahun tanpa embel-embel perhiasan yang sewajarnya digunakan remaja seusianya.

Karena semakin remaja dan suatu ketika tentu akan menjadi dewasa – kami sering mengingatkan nya …. dek nggak mau pakai anting? Belum juga kering bibirku bicara dia sudah menjawab … nggak πŸ™‚ dia menjawab galak – mirip gayaku kalo sedang sebel πŸ™‚

Suatu ketika dimalam yang kudus πŸ™‚ istriku memeriksa beberapa gelintir perhiasannya, mana yang akan disimpan dirumah dan mana yang akan disimpan di SDB. Aku melihat ada gelang dan kalung, ku ambil kedua benda itu dan langsung kabur ke kamar anak gadisku.

Dek…coba pakai ini, kutunjukkan sebuah gelang dan langsung kupakaikan di tangannya. Bagus dad, katanya. Aku tersenyum.

Kalo ini bagaimana, sambil kutunjukkan sebuah kalung. Lalu aku bercerita, dek ini kalung dulu dibeli almarhum Oma buat Papa supaya dipakai sebelum Papa pergi merantau dari kota ke kota. Oma bilang supaya dengan kalung ini Papa ingat dari mana Papa berasal. Kamu mau pakai kalung ini? Dia mengangguk dan segera kubantu dia memasang kalung itu dilehernya.

Woila ….. gadisku sudah memakai perhiasan sederhana – sebuah tanda umum dari seorang gadis remaja.

Tetapi tetap saja sewaktu kusinggung tentang anting, Jasmine masih juga menggelengkan kepalanya tanda belum berminat πŸ™‚

Sekitar bulan April, anakku ini – hanya bersama Ibunya dan beberapa sepupu yang semuanya perempuan – jalan-jalan ke beberapa kota di Korea Selatan. Tidak lama sejak dia pulang dari negaranya BTS dan Black Pink, anakku ini tanpa didahului dengan tanda-tanda semacam angin keras, mendung dan geledek halilintar tiba-tiba saja bilang ….. aku mau pakai anting πŸ™‚ Tentu saja aku bertanya ada cerita apa rupanya? Dan Jasmine cerita bahwa Tania, Gabby dan Audrey ke 3 sepupunya heboh berburu anting dll selama jalan-jalan tersebut tetapi Jasmine hanya bengong nggak tahu harus ngapain dan dia berpikir coba masih ada lobang tindik di telinganya? πŸ™‚

Hanya beberapa hari sebelum Jasmine pergi ke Boston untuk masuk ke universitas pilihannya, untuk kedua kalinya Jasmine di piercing dan mulailah dia mengenakan anting sederhana melengkapi sebuah gelang dan kalung.

Saat kupandangi dia lekat-lekat di airport sewaktu aku mengantarnya pergi ke Amerika aku baru menyadari gadis kecilku sudah tumbuh sempurna menjadi gadis remaja. Cantik, periang, bersahaja tetapi pemikir dan sesekali galak. Kombinasi sempurna antara Ibu nya dan aku πŸ™‚